Leukemia atau kanker darah adalah salah satu penyakit mematikan yang paling di takuti banyak orang di dunia ini. Leukemia juga bukan sekedar penyakit sepele, karena jika seseorang terlambat mengatasinya bisa - bisa akan sulit untuk disembuhkan. Proses pengobatannya pun cukup menguras kantong karena harus rutin melakukan kemoterapi sampai waktu yang telah ditentukan oleh seorang dokter.
Laura Shalsabila adalah seorang siswi cantik dan berprestasi yang harus mengalami nasib malang ini. Laura di vonis mengidap penyakit leukemia ini sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun disaat Laura di vonis mengidap penyakit leukemia secara bersamaan masalah besar datang menghampiri Laura, dimana Laura harus menyimpan perasaan sakit hatinya terhadap Chika sahabatnya sendiri berpacaran dengan seseorang yang ia sayangi.
Akankah Laura mampu melawati hari - hari tersulitnya ini?🤔
Author : Febi Ayeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febi Ayeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Laura yang baru memasuki kamarnya, dengan suasana hatinya yang saat ini benar - benar hancur melemparkan tas sekolahnya ke atas tempat tidurnya.
"GUE BENCIII!! GUE BENCI SAMA LU RAN!!! " Ucap Laura dengan isak tangisnya yang semakin menjadi - jadi.
"Dan kenapa harus sahabat gue yang harus jadi pacar lu sekarang!" Lanjut Laura yang sudah berada di atas tempat tidurnya, sambil memukul - mukul tempat tidurnya.
Seharian Laura tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Echa Mama Laura pun mengetuk - ngetuk pintu kamar Laura karena tak biasanya Laura mengurung diri seperti ini kecuali kalau ada masalah.
Tuuk tuk tuk....
"Laura, kamu di dalam kan sayang?" Tanya Echa yang berada di depan pintu kamar Laura dengan membawakan nampan berisi makanan dan segelas susu.
"Laura, Mama masuk ya, Mama bawain makan nih buat kamu!" Ucap Echa namun tidak ada jawaban sama sekali.
Kleek..
Echa membuka pintu kamar Laura. Saat Echa masuk ke dalam kamar Laura yang sangat berantakan tisu bekas berserakan di lantai, tas dan juga bantal - bantal juga ikut berserakan di lantai. Echa terkejut saat melihat kamar Laura yang seperti kapal pecah begini. Kemudian Echa berjalan menuju tempat tidur Laura melihat anak perempuannya tertidur sangat nyenyak. Echa pun mendekati Laura dan meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja dekat tempat tidur Laura. Echa kini telah duduk disamping Laura dan mengelus - ngelus kepala Laura. Saat Echa melihat sebuah foto yang dipegang Laura, Echa segera mengambil foto itu pelan - pelan dari tangan Laura agar Laura tak terbangun. Seketika air mata Echa menetes melihat foto Randy dan Laura sewaktu mereka masih memiliki hubungan yang masih baik - baik.
"Laura, andai saja waktu itu Papa kamu ga bergantung sama keluarga Randy, mungkin kamu sampai saat ini masih sama - sama Randy." Ucap Echa sambil menghapus air matanya.
Suara tangis Echa ternyata membuat Laura terbangun.
"MAMA?" Ucap Laura sambil mengucek - ngucek matanya.
"Mama, kok ada di kamar aku?" Tanya Laura. Echa terkejut karena Laura tiba - tiba terbangun.
Laura yang penasaran langsung melihat wajah Mamanya yang dari tadi membelakanginya karena Echa tak mau kelihatan sedih di depan anaknya.
"Mama kenapa?" Tanya Laura.
"Mama kok nangis?" Tanya Laura lagi.
"Mama ga kenapa - kenapa kok, cuma kelilipan aja kok." Jawab Echa tersenyum ke arah Laura.
"Ma, itu kan foto Laura!" Ucap Laura yang melihat Echa memegang fotonya yang sedang bersama Randy.
"Laura, lupakan Randy ya!" Ucap Echa sambil memegang kedua tangan Laura. Seketika mata Laura berkaca - kaca.
"Ma, Laura udah coba Ma, tapii..." Jawab Laura yang kini sudah tak sanggup membendung air matanya lagi.
"Tapi apa Ra?" Tanya Echa sambil menggenggam erat tangan anaknya.
"Tapiii, tapi dia datang lagi Ma!"Jawab Laura.
"Bahkan dia datang dengan status pacarnya Chika,Ma. SAHABAT LAURA!" Ucap Laura yang menahan sakit yang ia rasakan. Echa langsung memeluk erat tubuh anaknya.
"Laura, Maafin Mama sama Papa ya, gara - gara Mama sama Papa kamu juga jadi kena imbasnya!" Ucap Echa yang kini ikutan menangis seperti Laura.
"Mama sama Papa itu ga salah!" Jawab Laura sambil melepaskan pelukan Echa, kemudian Laura memegang kedua tangan Echa.
"Laura yang salah Ma, harusnya Laura sadar bahwa keluarga Randy dan keluarga kita ga sederajat Ma!" Lanjut Laura yang berusaha tegar dihadapan Echa.
"Ma, Laura yakin Laura pasti bisa lupain Randy!" Ucap Laura lagi.
"Laura, Mama ga maksa kamu mau lupain Randy atau ga, yang Mama minta sekarang cuma satu Ra. Please, berhenti menyakiti diri kamu sendiri Laura. Mama ngerti berat buat kamu melupakan kenangan yang begitu banyak bersama Randy, tapi kamu harus bisa merelakan Randy!" Ucap Echa, Laura hanya dapat terdiam dan menangis mendengar kata - kata yang Echa lontarkan.
"Mama tinggal dulu ya, itu makanan udah Mama bawain untuk kamu, di makan ya nak!" Lanjut Echa sambil tersenyum kemudian mencium kening Laura dan pergi meninggalkan Laura ya masih menangis. Echa menutup pintu kamar Laura perlahan kemudian sejenak Echa bersandar di depan pintu kamar Laura sambil berbisik pelan.
"Mama tau nak, pasti berat buat kamu, maafin Mama, nak!" Bisik Echa yang sedang menangis di depan pintu kamar Laura. Echa menghapus air matanya dan segera pergi dari depan kamar Laura tak ingin tau oleh Laura bahwa ia menagis.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membacanya ya guys. 😉
Terimakasih buat yang udah dukung, like dan komentnya. 😊