[JANGAN LUPA LIKE SETIAP MEMBACA]
Setelah bertahun-tahun hancur akibat dicampakkan tanpa alasan oleh sang istri, akhirnya Nevandra Ardiona kembali menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru.
Namun, rupanya takdir masih belum bosan bercanda dengannya karena sang masa lalu justru kembali menyapa dan membuat perasaan yang susah payah ditata Nevan kembali jungkir balik.
Gantari Dihyan Irawan, seorang gadis manis yang pernah mati-matian dicintai Nevan hadir kembali dengan sikap berbeda. Begitu dingin dan ... galak.
Akankah Nevan kembali dengan kisah lamanya? Atau tetap melanjutkan kisah yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
Pagi-pagi Nevan sudah berkutat dengan laptop di kantornya. Jam makan siang ia habiskan sambil melobi klien dan mengajak mereka ke beberapa unit yang berhasil ia akuisisi. Setelah kembali ke kantor, ia memanggil beberapa kepala divisi sembari menganalisis profit perusahaan. Setelah selesai, giliran sekretarisnya masuk dengan beberapa dokumen yang perlu ditandatangani. Sorenya, ia memimpin briefing dadakan, sibuk sekali.
Nevan merasakan kepalanya berdenyut. Ponselnya sejak tadi berdering, namun tidak ia acuhkan. Ia hanya menerima panggilan dari telepon kantor. Alya, sekretaris Nevan mengetuk pintu dan kembali memasuki ruangan tersebut. Kali ini tujuannya untuk mengingatkan Nevan tentang undangan pernikahan anak salah satu dewan direksi nanti malam. Nevan mengangguk, lalu mengintruksikan sang sekretaris agar mencari hadiah yang pantas. Alya balas mengangguk, kemudian pamit dari sana.
Diliriknya ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja, berkedip tanpa suara. Mode silent sudah diaktifkan. Nevan pulang ke rumah, mandi dan berganti pakaian. Ia bersiap akan menghadiri pesta anak sang dewan direksi sekaligus membangun relasi. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat banyak Miss called serta beberapa pesan.
Satu persatu pesan mulai ia periksa dan pesan dari Shanessa menjadi rekor.
Shanessa Ardiwinata : Kamu sibuk?
09.15 AM
Shanessa Ardiwinata : Kalau udah nggak sibuk kabarin aku ya 😊
09.20 AM
Shanessa Ardiwinata : Kamu sibuk atau marah? 🤧
10.25 AM
Shanessa Ardiwinata : Aku sama sekali nggak bermasud untuk memprioritaskan Gantari. Aku sama sekali nggak ada niat untuk bikin kamu nggak nyaman.
13.05 PM
Shanessa Ardiwinata : Sejak kecil aku selalu sendiri. Sendirian main boneka, sendirian ngerjain PR, sendirian makan di meja makan, semuanya sendiri. Semenjak ada Gantari aku merasa ada tempat berbagi. Aku menemukan orang yang ingin aku lindungi dan pasti melindungiku. Aku merasa punya saudara. Maaf kalau sikapku pada Gantari berlebihan, Nevan.
13.08 PM
Shanessa Ardiwinata : Hubungi aku kalau kamu sudah memaafkan aku ya 😉
13.10 PM
Mau tidak mau Nevan mengulas senyumnya juga. Shanessa sama sekali tidak salah. Dia saja yang terlalu berlebihan dan mudah terusik jika dirinya dikaitkan dengan ... Dihyan.
Nevan menyentuh tombol panggil pada ponselnya dan dari seberang sana terdengar suara parau yang menerima panggilannya.
"Halo?"
"Lagi ngapain?"
"Kamu nggak marah lagi?" terdengar isakan di sela pertanyaan Shanessa.
Nevan tersenyum. "Mana mungkin bisa marah lama kalau sama kamu."
"Jadi kamu beneran marah?"
Nevan gelagapan, kemudian mengutuki dirinya sendiri. "Aku nggak suka jadi nomor dua," jawabnya asal.
Terdengar suara Shanessa cekikikan.
"Ya, sudah. Cepat ganti baju. Temani aku ke pesta. Setengah jam lagi aku jemput."
Mendengar itu, Shanessa langsung kalang kabut. Ia melempar asal ponselnya dan berlari meja rias.
30 menit buat dandan? Mana bisa!
***
Seperti yang tadi sudah ia katakan, Nevan muncul 30 menit kemudian. Dengan tuxedo silver, lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
Shanessa berlari menuruni tangga dengan mengepit handbag dan high heels yang dijinjing. Ia menarik napas di belakang pintu utama, memasang heels dan memakai handbag-nya, baru kemudian keluar menemui Nevan.
"Hehehe," cengirnya malu-malu.
Nevan balas tersenyum, lalu memuji penampilan Shanessa yang memang selalu luar biasa.
"Yuk, berangkat."
Lagi, Shanessa mengangguk malu-malu.
"Shaness!"
Langkah mereka terhenti ketika seseorang memanggil nama Shanessa. Shanessa berbalik, sedangkan Nevan tetap pada posisinya karena ia hafal sekali dengan suara itu.
"Hp kamu ketinggalan," ucap Gantari sembari menyodorkan ponsel tersebut.
Shanessa menepuk keningnya dan membisikkan terimakasih pada Gantari, kemudian melambaikan tangan untuk pamit pada sang sepupu.
"Hati-hati, ya ... Nevan."
Deg.
Shanessa kaget. Ia menoleh pada Nevan yang rupanya sudah berbalik badan.
"Tentu ... Gantari," balasnya tajam.
***
Seperti kebiasaannya, jika tidur terlalu awal maka Gantari akan terbangun di tengah malam. Ia membuka pintu dan keluar kamar untuk membuat kopi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Shanessa duduk di bersila di atas karpet ruang keluarga dan sibuk dengan laptop.
"Loh, udah pulang?"
Shanessa menoleh, "Jam berapa ini coba? Bisa digantung kakek aku nanti kalau jam dua malam belum pulang," kekeh Shanessa.
Gantari sontak menoleh pada jam besar yang terpasang di atas televisi. Benar, jam dua dini hari. Ia lalu melanjutkan niatnya ke pantry dan mengambil cangkir. Tangannya terulur pada toples bening berisi kopi Aceh yang dibawa Om Ardi dua hari yang lalu, namun ia urungkan dan beralih membuat kopi rasa moccha saja, lantas membawanya ke dekat Shanessa. Gantari memilih duduk di atas sofa dan memperhatikan isi laptop Shanessa dalam diam. Rupanya Shanessa sedang mengerjakan skripsi.
"Tumben nggak kopi hitam?"
Lamunan Gantari terintrupsi. Ia menoleh pada Shanessa yang rupanya sedang menatap cangkir di tangannya.
"Bosan. Mau nyoba rasa lain," balas Gantari bohong.
"Lima tahun minum kopi hitam nggak pernah bosan, kok sekarang bosan?" cecar Shanessa.
Gantari menyeruput kopinya tak menjawab.
"Kamu dengar ucapan Nevan, kan?" tebak Shanessa yang memang sudah curiga.
Gantari mengangkat bahunya ringan. "Aku memang sedang mencoba rasa baru, Shaness."
"Mungkin Nevan belum terbiasa saja dengan kehadiran kamu," jelas Shanessa merasa bersalah. "Terimakasih sudah mencoba menyapa Nevan," lanjutnya, kemudian memeluk Gantari erat.
Gantari tertegun. Hanya dengan menyapa Nevan saja sudah membuat Shanessa bahagia. Dia baru menyadari jika selama ini ia belum pernah berbuat apa-apa untuk Shanessa.
***
Mulai sejak itu, Gantari makin aneh saja. Dia kerap berbasa-basi yang memang basi pada Nevan.
"Nevan, kamu nyari Shaness, ya?"
"Wah, Nevan. Kamu baru pulang kerja juga, ya?"
"Ban belakang mobil kamu kayaknya kurang angin, tuh, Nevan."
"Nada dering Hp kamu unik juga, ya, Nevan."
"Dasi kamu miring, tuh, Nevan."
Sejujurnya lidah Gantari juga gatal ketika basa-basi seperti itu, tapi apalah daya, mereka memang sering bersisian di halaman dan mau tak mau harus bertegur sapa. Untuk pertama kalinya Gantari tidak menyukai taman keluarga Ardiwinata.
"Kamu kenapa, sih?" lama-lama Nevan jengah juga. Ia mencegat Gantari yang lagi-lagi berpas-pasan di halaman dengannya.
"Dasi kamu memang miring, kok," balas Gantari cuek.
Nevan memejamkan matanya sebentar, lantas menarik napas dalam.
"Bukan itu! Kamu aneh."
Gantari mendecih. "Kamu tuh yang aneh. Yang bilang 'kita harus akrab, kita kan calon saudara' siapa?"
Mendengarnya membuat Nevan tertawa hambar.
"Tapi nggak harus buat telingaku geli juga kan?"
"Kamu kira terlingamu aja? Lidahku juga geli!" balas Gantari sengit.
Shanessa keluar dan melongo melihat Nevan dan Gantari yang berdiri berhadapan.
"Kalian kenapa?"
Gantari menoleh dan tersenyum simpul. "Nungguin Pak Sarif."
Yang disebut namanya rupanya sudah berdiri di belakang Gantari. "Saya disini, Non."
Gantari terkekeh garing, lalu menepuk pundak Pak Sarif. "Ayo, Pak. Berangkat."
"Pergi dulu, ya, Nevan."
Oh, Tuhan. Gantari galak lebih cocok dengannya ketimbang Gantari setengah gila.
lanjutttt bau bau Clbk ini sih 🤭
menarik nihh
lanjut baca deh
cerita loe ga ke detack...😎