18+🔥
Sekuel dari suamiku anak SMA 1.
disarankan membaca suamiku anak SMA 1 dulu ya, biar nggak bingung😊
Menikah diusia muda, bukanlah sebuah keinginan atau bahkan cita-citanya.
Namun, pertemuannya dengan seorang sahabat dari neneknya, membuat Kinar mau tidak mau harus menikah dengan cucunya yang masih berstatus pelajar SMA.
Bagai mana kedua insan muda itu menjalani kehidupan rumah tangganya.
Simak kisahnya ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan bos lagi
"Lho El, kok tumben udah kesini lagi?" ujar bu Sandra, setelah di beri tahu Mia bahwa saat ini El sedang berada didepan Cafe.
"Lagi pengen mampir aja bu, sekalian mau meriksa beberapa pembukuan dari Cafe yang di ujung jalan." sedangkan matanya berkeliling, seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Yasudah kalau begitu." balas bu Sandra, meski masih merasa keheranan dengan El yang tidak seperti biasanya, namun bu Sandra tetap berlaku sopan, pada bos mudanya tersebut.
"Ibu mau keluar dulu sebentar, kalau butuh apa-apa kamu panggil anak-anak aja ya!"
"Ok!"
..
El menoleh, saat samar-samar mendengar nama Kinar di sebut-sebut.
"Mi, Kinar nya kemana nih, kok elo yang ngelayanin sih?" ujar 6 orang anak laki-laki yang masih berseragam sekolah, dengan letak bangku yang tidak begitu jauh darinya.
"Kinar lagi sibuk dibelakang, udah ini pesenan nya segini doang, nggak mau nambah lagi?" lanjut Mia, yang sedang memegangi catatan yang berisi pesanan ke 6 anak sekolahan tersebut.
"Kalau bisa Kinar yang bawain kesini ya Mi!"
"Iya bawel."
..
"Nar, nanti bawain pesanan ini ke si kamvret Vino sama temen-temennya ya,"
"Aku paling males deh kalau udah ada mereka."
"Tapi mereka mintanya kamu yang layanin, nggak apa-apa nanti aku suruh si Arkan aja buat bantuin."
"Iya deh!" jawab Kinar lesu.
..
Beberapa menit kemudian, Kinar datang membawa nampan yang berisi makanan pesanan mereka, dan di bantu oleh Arkan.
"Hallo cantik, beuuhh makin manis aja lo Nar, sini dong duduk temenin kita!" Vino mengedipkan sebelah matanya, sembari menepeuk kursi yang ia duduki, sedangkan 5 temannya yang lain, terus tersenyum kearahnya.
"Saya banyak kerjaan!" ketus Kinar.
"Ah, jutek aja cakep, gimana kalau senyum, bisa diabetes gue!" lanjut Vino, yang di sambut gelak tawa oleh teman-temannya.
Sedangkan El, ia sudah uring-uringan tidak jelas ditempatnya.
Hingga kembali seorang pelayan laki-laki lewat, mengantar pesanan untuk meja disebelah anak sekolahan tadi.
"Hei kamu?"
"I-iya bos, bos manggil saya," ujar laki-laki tersebut lalu menghampirinya.
"Tolong panggilkan anak baru yang bernama Kinar, saya mau memberikan tugas lain, buat dia!" menunjuk setumpuk berkas yang berada diatas meja di hadapannya.
"Euhm, B-baik bos!"
"Bilang sama dia, saya dilantai 2, diruangan pribadi saya!"
"Dan satu lagi, jangan panggil saya bos, panggil El aja!" ucapnya dan berlalu pergi.
Sedangkan laki-laki itu diam mematung, menatap punggung El yang semakin menjauh.
"Kin, lo di panggi bos tuh, katanya suruh bantuin ngecek apa gitu?" ujar Agung, anak laki-laki yang ditemui El tadi.
"Kok aku sih?"
"Ya mana gue tahu, orang dia minta elo yang bantuin!"
"Buruan gih, dilantai 2 katanya, diruang pribadinya si bos!"
Kinar mendesah, ia sadar, ini bukanlah dirumahnya, batinnya. ia tetap harus profesional saat berada ditempat kerja, terlebih El adalah bosnya.
Kinar pun melangkahkan kakinya dengan perasaan berat, seandainya bisa ia tukar, mungkin ia sudah meminta tolong pada Mia, Vika, maupun Merry, yang jelas-jelas mengidolakan El, pasti mereka akan senang pikirnya. berduaan didalam ruangan yang sama, tanpa memiliki perasaan canggung seperti dirinya.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" sahut El dari dalam.
Hal yang pertama Kinar lihat adalah El yang sedang duduk santai di atas sofa dengan tangan bersidakep.
"Bapak manggil saya?" ujar Kinar sopan.
El Mendesis, apa-apan dia itu manggil gue bapak lagi, batinnya menggerutu.
"Sini!" El menggerakan telunjuknya, agar Kinar mendekat.
"Duduk!" titahnya.
"Duduk gue bilang!" lanjut El, karena Kinar masih saja berdiri dengan wajah masam.
"Apa tugas saya disini?"
"Duduk aja, dan jangan berani-berani keluar, sebelum gue yang nyuruh."
"T-tapi?"
"Elo itu suka banget ngebantah gue sih,?" El mencondongkan wajahnya kearah Kinar, membuat ia mengerjap gugup, hingga menampilkan rona merah di wajahnya.
"Kenapa muka lo merah gitu, takut sama gue?" lanjutnya, sembari memegangi dagu Kinar agar menatapnya.
"Lo betah kerja disini?"
Kinar mengangguk.
"Lo betah, karena banyak cowok yang naksir sama elo kan, atau lo emang udah punya pacar disini tanpa sepengetahuan gue?" ucap El tersenyum sinis.
Kinar menepis kasar tangan El, hingga ia tersentak kaget, "Maksud kamu apa sih?" ucap Kinar yang sudah berdiri dari duduknya, dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu boleh bentak saya kapanpun yang kamu mau, tapi kamu nggak berhak menilai saya seperti itu," lanjut Kinar dengan mata yang sudah mengeluarkan cairan bening, persetan dengan status El sebagai bosnya, ia hanya ingin membela diri.
"Maaf, tempat saya bukan disini, saya harus kembali bekerja!" Kinar melangkah dengan sedikit tergesa, membuka pintu lalu membantingnya dengan keras.
Sedangkan El, ia menatap nanar kearah pintu berwarna coklat terang di hadapannya, memikirkan kembali ucapan yang ia lontarkan pada Kinar tadi.
Apa yang salah? batinnya, lalu mengacak rambutnya Frustasi.
"Itu si Kinar kenapa nangis ya?" Ujar Mia pada Fahmi, ketika melihat dari kejauhan Kinar menyusut kasar air matanya berulang kali.
"Mana gue tahu, tapi si Agung bilang tadi sih dia lagi disuruh si bos bantuin nge cek pembukuan Cafe cabang."
"Kok gue nggak tahu sih?" pekik Mia.
"Elo gimana sih, Cs lo sendiri malah kagak tahu, payah!"
"Tadi kan gue lagi sibuk di depan, jadi mana gue tahu, tapi kok si Kinar bisa nangis gitu ya, masa si bos marahin dia?"
"Udah deh, dari pada lo ngira-ngira yang nggak-nggak, mendingan samperin tuh si Kinar, hibur kek, bujuk kek, biar dia kagak sedih lagi, lo tahu sendiri kan, seminggu yang lalu dia abis kena musibah!"
"Iya iya, gue kesana deh, tapi gue minta tolong anterin pesanan ini ke meja nomor 17 ya!" menyerahkan nampan ditangannya ketangan Fahmi.
"Ok gampang."
Mia pun berlari kecil menghampiri sahabatnya, "Nar, kamu nggak apa-apa, kok nangis gitu sih, diapain sama si bos?" tanyanya.
Kinar menoleh, masih terus menyusut sisa-sisa air matanya yang meleleh mengenai pipinya.
"Aku nggak apa-apa Mi, tadi cuma kelilipan aja." balasnya dengan suara serak.
"Bohong banget, mana ada kelilipan sampai dua-duanya, keluar isak gitu lagi, cerita sama aku, kamu di apain sama si bos?"
"Kalau emang dia salah, meskipun ganteng, aku nggak akan belain dia kok, aku pasti dukung kamu!" lanjut Mia.
"Nggak kok beneran, aku nggak ada masalah apa-apa sama dia, aku cuma lagi ke inget aja sama ibu Mi."
"Yaampun Nar, aku jadi ikut sedih nih!" Mia merangkul tubuhnya.
Kemudian keduanya berpelukan.
.
.
Sedangkan El, dari siang hingga sore ini, ia menghabiskan waktunya dengan rebahan di atas sofa didalam ruangannya, tanpa berniat melakukan apapun, sesekali ia membolak-balikan berkas yang sebenarnya sudah ia periksa keseluruhannya, sewaktu di Cafe cabang, dan tidak menemukan kesalahan apapun.
Kini isi kepala nya, di penuhi oleh bayangan Kinar yang bicara dengan Nada tinggi, disertai mata yang berlinang, membuatnya kini dihantui rasa bersalah.
.
.
mampir Thor 🙋
Langgeng selamanya ya El dan Kinar
Gerem banget sama sikap EL
Lagian masih bocah ingusan udah kepengen jadi ayah di kira gampang banget kali jadi sosok ayah wkwkka
Kinar belum siap hamil dan kamu EL jangan memaksakan kehendak kamu yg dimana kamu menginginkan Kinar hamil
Kalo Kinar belum siap ya udah tunggu dia siap hamil
Nada cuma bisa marahin anak anak doang tapi masak kaga tau 🤣🤣🤣🤣🤣
Like Father like son wkwkwk
Ando masih SMA udah menikah lalu EL masih SMA pun malah menikah wkwkwk kocak
Kinar kaga siap jadi ibu muda nich
Jangan bilang kalo Andra suka sama Kinar
Kinar harus bisa jadi nyonya bos okeh
Bos muda wkqkwkkq
Gawat Agung bisa di pecat EL kalo suka Kinar wkwkkqkw
Kasian banget ya Kinar harus di tinggal ayah kandungnya dan kini Kinar di sayang sama Ando