Seorang gadis yatim piatu tinggal dengan neneknya, bertemu dengan CEO tampan. Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka mereka terikat di sebuah pernikahan.
"Tuan Alex yang terhormat, jangan coba-coba menyentuhku atau kau harus ganti rugi." jari telunjuk Arie menegak tepat di wajah Alex, Arie merasa itu akal akalan Alex agar bisa menyentuhnya.
"Cih.. kau bahkan bukan levelku."
Alex menatap tak kalah mengintimidasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cash
Mobil sport hitam melaju di kemacetan kota Surabaya, jam segini memang macet-macetnya apa lagi di akhir pekan seperti hari ini semua orang ingin menikmati libur kerja dengan keluarga, teman, atau pasangannya, sekedar jalan-jalan, makan angin atau dengan tujuan tertentu. Arie terus menatap keluar jendela mobil sejak mobil melaju ke jalan aspal dan Alex fokus dengan jalanan di depannya.
aku ga duwe klambi ya, hmm..., duwe daster mek loro, sing siji embuh nang endi, ya opo Iki, (aku ga punya baju ya, hmm...punya daster dua, yang satu entah kemana) gumam Arie dalam hati,Arie mengigit bibir bawahnya. Arie merasa tak nyaman memakai bajunya sekarang bukan karena bahannya yang halus karena 100% kain terbaik melainkan harganya yang mencekik urat misqueen nya.
"Alex, kau masih punya hutang padaku bukan" mulut Arie nyeletuk begitu saja.
"kenapa kau tidak sopan sejak tadi memanggil Alex...Alex..."
"lalu aku panggil apa suamiku, manis ku,.... sorry ya, sudahlah mana uangku"
"cih...telinga sakit mendengarnya. dan hutang......hutang apa hah?" Alex mengerutkan keningnya.
"jangan pura pura amnesia, kau membeliku untuk menikah dengan mu dengan harga 500 juta di potong hutang ku padamu 350 juta sisa 150 juta, lalu kemarin waktu kau mabuk, kau memelukku dan menciumku 175 juta, jadi totalnya 325 juta, nama uangnya" Arie menyodorkan tangan kanannya.
"Apa kau pikir aku ATM berjalan apa sekali pencet keluar uang dasar lintah darat.. a bukan bukan kau lebih mirip Vakum cleaner, selain menyedot uangku kau juga berisik" rasanya tekanan darah Alex naik seketika.
"terserah, kau mau bilang apa yang penting mana uangku"
Alex menepikan mobilnya, mengambil dompet di saku celana pendek biru yang ia pakai, mengeluarkan kartu berwarna emas dari dalamnya.
"nich... ambil di situ ada lebih dari jumlah yang kau mau" Alex menyodorkan kartu tersebut pada Arie.
"Maaf Tuan Alex saya tidak menerima kartu, aku cuma mau cash"
Alex memasukkan kartu kembali kedalam dompet lalu mengambil lembaran warna merah dari dalamnya.
"ini hanya....hanya itu yang aku punya" Alex melemparkan uangnya dengan kasar ke muka Arie, bukannya marah Arie malah tergelak.
"apa yang kau tertawakan," Alex melotot kesal matanya hampir keluar.
"karena kau lucu..hahaha....aku hanya minta uangku dan kau marah seperti dunia akan berakhir ah sungguh lucu" Arie terus tertawa sambil memunguti uang yang berceceran di pangkuannya.
"sekarang tolong antar aku membeli baju hehehe" ujar Arie sambil menyengir kuda tanpa rasa bersalah.
"aku bukan supir mu" Alex melipat tangannya dan membuang muka.
"ayolah..aku mohon, atau....."
kalimat Arie menggantung begitu saja, dengan senyum yang tak bisa di artikan.
"CK... ok ok, aku tau apa yang ingin kau katakan" dengan kesal Alex menghidupkan mesin mobilnya, dia tidak habis pikir kenapa kakeknya begitu menjaga dan menyayangi wanita yang belum jelas merah putihnya ini.
Flashback.
tok...tok..tok..
"permisi Tuan muda" pak Darwis membungkuk hormat setelah pintu kamar hotel di buka.
"ada apa pak Darwis kemari, bukankan pak Darwis menemani kakek ke Seoul hari ini"
"penerbangan Tuan masih sore nanti Tuan muda, Tuan Wu menyuruh saya memberikan ini untuk nona Arie" pak Darwis memberikan sebuah paperbag pada Alex.
Drt...drrt...
"dan ini Tuan wu ingin berbicara dengan Anda" Pak Darwis menyodorkan ponselnya yang masih berdering.
Alex segera mengambilnya dan menggeser kan ujung jarinya di benda pipih itu.
"Hallo,..... Kek"
"Alex selama aku pergi aku tidak ingin ada apapun yang terjadi pada cucu kesayangan, kalau sampai sesuatu terjadi maka kau tanggung sendiri akibatnya"
Tut...Tut...
Sambungan telepon terputus secara sepihak, Alex hanya bisa menghela nafasnya mendengar perkataan Kakeknya.
"kalau begitu, saya permisi Tuan"
"hemn" Alex menyodorkan kembali ponsel milik pak Darwis.
flashback off
******
"kau tau kau seperti perempuan yang sedang PMS, hahahaha" Arie tertawa melihat Alex yang megerutu tak jelas.
Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah butik, Arie pun turun dari mobil tanpa menunggu Alex membuka pintu untuknya, ia pun terlebih dahulu masuk ke dalam butik.
"selamat datang Nona ada yang bisa kami bantu"
"bolehkah saya lihat lihat dulu" Arie tersenyum ramah lalu berjalan menuju jajaran dress yang terpajang di sana, beberapa karyawan nampak berbisik bisik satu sama lain saat Alex turut masuk kedalam butik, nampak tampan dengan kaos santai dan celana pendeknya, serta kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"tebar pesona....cih" Arie melirik ke arah Alex yang duduk di sofa.
Arie mengambil sebuah dress warna nude dengan lengan sabrina dan aksen pita kecil di bagian dadanya, dia menempel baju itu di badannya, mematut kan dirinya di kaca besar yang terpajang di salah satu tembok.
"Anda terlihat cantik Nona" ujar salah satu karyawan yang menghampiri nya, Arie hanya membalas dengan senyuman manisnya sambil tersipu.
Tangan Arie merogoh ke bagian leher dress, terletak dua Kartu yang bertuliskan merk dan harga dress tersebut, mata Arie membulat sempurna dia langsung memberikan dress itu kepada Karyawan yang ada di sampingnya, melangkah dengan cepat keluar dari butik. Karyawan tersebut pun hanya melongo melihat Arie pergi. Alex yang melihat Arie keluar pun segera menyusulnya.
Braaak...
pintu mobil di tutup dengan keras, lebih tepatnya di banting.
"kau ini kenapa, katanya mau beli baju...ayo.." ujar Alex yang kini sudah berada di dalam mobil.
Tak ada kata yang keluar hanya pipi yang mengembung dan tatapan tajam yang di arahkan ke pada pria di depannya, melihat mata yang siap menelannya Alex hanya bisa menelan ludahnya kasar.
cewek lain km perhatikan sedangkan istri sendiri km abaikan dasar gob**k