Aurel Luvenia, takdirnya begitu konyol mendapati kekasihnya sedang bercumbu dengan sahabat dekatnya. Ternyata kecerdasannya selama ini masih bisa di bodohi oleh kedua makhluk yang sangat ia percayai.
Karena sangat prustasi dan lelah, Aurel meminum Bir dan membuatnya mabuk. Hingga terbangun di sebuah hotel. Tentunya, ia sangat menyesali perbuatan bodohnya, lalu meninggalkan Sang pria.
Aurel, pergi meninggalkan negaranya dan terbang ke Inggris karena ia merasa sangat tidak sanggup untuk berada di negara yang penuh dengan kenangan buruk.
Hingga kenyataan konyol lainnya muncul, ia hamil. Mengandung anak pria yang sama sekali tidak ia kenali. Merawat, menjaga dan melindungi kedua bocah kembar itu, hingga tumbuhlah mereka menjadi anak yang sangat aktif, cerdas dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Karena kedua anaknya terus bertanya tentang Ayah kadung mereka.
Akhirnya Aurel memutuskan untuk kembali.
Bagaimana dengan Arga? Apakah bisa menerima mereka? atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ☆Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Rencana Ferrell dan Ferlin
...~Mohon dukungannya, Like dan Komentar yah~...
...♡Like♡...
Jam pulang kantor tiba, dengan was-was
Aurel pergi menuju sekolah Ferrell dan Ferlin. Ia merasa cemas pada anaknya itu, ia tau ikatan batin seorang Ibu dan Anaknya sangat kuat.
Semua murid terlihat meninggalkan ruangan kelasnya masing-masing, menuju pulang bersama orang tua masing-masing. Tapi, Aurel tidak melihat kedua anaknya, Aurel yang panik langsung berlari mencari kelas Ferrell dan Ferlin.
"Ferrell! Ferlin!" teriak Aurel, melihat mereka yang berada di luar kelas dengan keadaan yang membuat hatinya sakit.
"Mommy!" teriak Ferlin, langsung memeluk erat tubuh kecil anaknya.
"Tidak apa-apa, sayang. Tidak apa-apa," gumam Aurel, menepuk-nepuk punggung Ferlin, menenangkannya.
"Hiks ... Temen-temen Ferlin, hiks ... jahat," lirih Ferlin, terisak.
"Maafin Mommy sayang. Maaf..."
"Ini bukan salah Mommy!" Ferrell tiba-tiba berbicara dengan nada dingin, menatap tajam Aurel.
Aurel tersenyum, ia tau Ferrell menyayangi dirinya. Maka berkata demi kian, tapi ia sebenarnya salah.
"Kenapa? Sini, ceritain sama Mommy," ajak Aurel, lalu menduduki kursi di depan kelas mereka.
"Eh, Bu makasih sudah menjaga anak-anak saya. Ibu boleh pulang, biar saya saja yang mengurus mereka," ujar Aurel ramah.
"Baiklah, saya pamit."
Akhirnya, Ferlin menceritakan semua kejadian. Bagaimana Ferrell marah, dan membeli Aurel didepan semua teman-temannya yang mengejek Aurel. Aurel langsung menatap Ferrell, yang membuat Ferrell langsung mengalihkan pandangannya.
'Maafin Mommy. Mommy belum bisa kasih kalian, keluarga yang lengkap,' lirih Aurel, sedih.
"Sudah. Jangan dipikirkan, ayo sekarang kita pulang. Nanti Mommy beliin es krim, mau?" tanya Aurel.
"Mau!"
...----------------...
Keesokannya, Aurel meliburkan dulu kedua anaknya. Guru pun mengerti kenapa Aurel bertindak begitu, lalu mengizinkan Ferrell dan Ferlin libur untuk dua hari.
"Sekretaris Aurel! Sekretaris!"
Bruk!
Tangan Aurel yang tadinya menopa dagunya tiba-tiba tergeser, membuat Aurel terjatuh.
"Aw!"
"Apa saya tidak memberikanmu tugas! Kenapa di jam kerja Anda tidak mengerjakan laporan tapi malah asik bengong!" celoteh Seseorang dengan sombongnya, Aurel yang tidak sadar langsung ikut memarahinya.
"Hey, emangnya kenapa rese banget sih jadi orang. Namanya juga bengong, kita enggak sadarlah," balas Aurel, lalu berdiri.
Deg!
Jantung Aurel serasa ingin copot, saat melihat siapa orang di belakangnya itu. Orang itu tampak tertegun.
"Eh, Ba-bapak Presdir. Ke-kenapa enggak bilang kalo da-datang?" tanya Aurel, sambil tersenyum canggung.
Iya! Seseorang itu adalah, Arga.
'Mati gue,' batin Aurel.
"Gimana saya mau bilang! kalo anda saja bengong di jam kerja! Dan lagi, Anda berani menjawab saya berbicara," ujar Arga, marah.
"Maaf Pak. En-enggak lagi deh!"
"Cepat kerjakan!"
Setelah itu, Arga pergi memasuki ruangannya. Aurel menghela nafas panjang, bisa-bisa ia jantungan jika terus seperti ini.
Arga menatap Aurel, yang terlihat lega setelah kepergiannya. Hanya tersenyum kecil. Sebab, tidak ada orang yang berani menjawabnya dengan perkataan seperti tadi. Itu membuatnya semakin menyukai Aurel.
"Cih! Siapa juga yang menyukainya!" gumam Arga, lalu membuang jauh-jauh pikirannya, lalu fokus pada komputernya.
Jam pulang kantorpun tiba. Tapi, saat ini Aurel harus lembur karena mendadak ada tugas proyek yang harus ia selesaikan hari ini. Semua karyawan sudah pulang, hanya tinggal dirinya dan mungkin Bosnya yang memang sering lembur kerja. Aurel, menatap ruangan Arga, pasti Arga capek setiap hari harus lembur terus sampe rumah enggak ada yang siapin makan. Yah, Aurel dengar dari gosip Arga tinggal sendiri, tidak bersama orang tuanya.
"Ugh ... Akhirnya, selesai juga nih laporan. Besok tinggal di kasih deh," gumam Aurel, merenggangkan ototnya.
Aurel berjalan di koridor kantor, rasanya sangat sepi hanya tinggal dirinya. Tapi, tiba-tiba hujan deras terdengar.
"Yah ... pakek hujan segala lagi," gumam Aurel, berdiri di depan kantor.
'Gimana mau pulang kalo gini? pasti mereka sudah cemas menungguku,' batin Aurel, khawatir.
Tin! Tin!
Bunyi klakson membuat Aurel terkejut, dengan cepat langsung menoleh. Aurel sempat heran, kenapa sepertinya mobil itu memanggil dirinya. Apa ia saja yang kepedean, Aurel berusaha cuek.
"Hey! Cepat masuk! Apa harus saya menjemput kesana!" teriak Seseorang, Aurel benar-benar sudah hafal suara ini, suara yang akan memarahinya jika salah.
"Pak Presdir!"
"Eng-enggak perlu, Pak!" teriak Aurel, menolak. Bisa-bisa ia jantungan dengan sikap Arga, yang moodian.
"Masuk! Atau saya----."
Brak!
Aurel tersenyum, konyol. Ia benar-benar tau apa yang dimaksud Arga. Pasti menambah pekerjaan, kalau bukan karena gaji yang besar Aurel enggan menjadi sekretaris dari orang gila sepertinya.
Aurel langsung menjelaskan dimana letak rumahnya. Saat sampai, Aurel berterimakasih pada Arga lalu berlari secepat kilat.
Ferrell dan Ferlin, melihat kejadian itu. Mereka tersenyum girang, tapi Ferlin lebih girang. Mereka tidak menyangka Mommy dan Papinya akan secepat ini dekat. Tapi, ini adalah pemulaan yang bagus.
"Kita harus susun rencana, supaya Mommy dan Papi bisa bersama," ujar Ferrell, Ferlin mengangguk riang.
...****************...
Hari Minggu tiba, hari dimana Aurel sangat sukai. Bisa bebas dari bosnya yang dingin dan menyebalkan itu. Tapi, ketenangan terusik mendengar suara cempreng Ferlin, yang membangunkan dirinya dari kasur empuknya.
"Mommy! Ayo Mi, jalan-jalan!" teriak Ferlin, menarik-narik Aurel. Tapi, Aurel masih kekeh dan lengket pada kasurnya.
"Ish, Mommy ya sudah. Aku pergi sendiri, sama Kakak," ancam Ferlin, ingin pergi tapi di cegah oleh Aurel.
"Oh. Sekarang udah bisa ngacem yah?" tanya Aurel, langsung menggelitik Ferlin.
"Haha ... Ha, su-sudah. Haaa..." Ferlin menghela nafasnya panjang, saat Aurel melepaskannya.
Aurel segera mandi, dan menggunakan jins selutut hingga terlihat ia sangat cantik dan muda. Tidak terlihat sedikitpun bahwa ia sudah memiliki dua anak.
"Wah ... Mommy, sangat cantik," puji Ferlin.
"Makasih sayang. Kamu juga cantik kok."
Setelah sarapan, Aurel di ajak Ferrell dan Ferlin. Entah kemana mereka mengajak Aurel, tapi ia dengan patuh mengikuti kehendak kedua anaknya.
"Haah?"
Mata Aurel, melebar.
"Ke Mall ngapain?" tanya Aurel, ia benar-benar tidak punya banyak uang jika harus membeli mainan.
Best juga cerita ini
tp kalau boleh nk tahu tentang anak dia. lagi lagi yg laki tu. dia sampai ada trauma and nk tahu dia jadi mafia ke atau apa saja