NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sore itu, langit mulai dihiasi semburat jingga. Di taman belakang rumah, Aira tampak sibuk menyiram tanaman kesayangannya.

Andara berdiri beberapa saat di ambang pintu. Dadanya dipenuhi rasa bersalah. Ia tau, tadi ia telah berbicara dengan nada tinggi kepada bundanya. Padahal, Aira hanya mengkhawatirkannya.

Ia menghela napas pelan, Andara melangkah menghampiri sang bunda. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung memeluk Aira dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggang wanita itu.

"Bunda..."

Aira yang sedang menyiram tanaman sontak terkejut. "Ya Allah, Dara... Bunda kaget."

Andara terkekeh kecil di tengah rasa bersalahnya. "Maaf, Bun."

"Enggak apa-apa." Aira mematikan aliran air dari selang, lalu menoleh ke arah putrinya. "Bunda cuma gak nyangka kamu datang diam-diam."

Andara menundukkan kepala. "Bukan cuma itu yang mau aku minta maaf."

Aira menatapnya lembut.

"Tadi... aku sempat ninggiin suara ke Bunda. Aku nggak bermaksud begitu. Dara benar-benar minta maaf."

Senyum hangat langsung terukir di wajah Aira. Tanpa berkata apa-apa, ia mengusap lembut pipi putrinya.

"Ayo." Aira menggandeng tangan Andara menuju gazebo kecil di sudut taman belakang.

Semilir angin sore berembus pelan, menemani keduanya yang kini duduk berdampingan.

Aira menggenggam salah satu tangan Andara dengan hangat.

"Sayang..."

Andara mengangkat wajahnya.

"Bunda sama sekali gak marah sama kamu."

"Benar?"

"Iya." Aira tersenyum tipis. "Bunda tau kamu lagi capek. Capek sama keadaan, capek sama perasaan yang belum menemukan jawaban."

Mata Andara mulai berkaca-kaca.

"Dan... kalau tadi kata-kata Bunda terdengar seperti nggak mengerti kamu, Bunda minta maaf. Bunda bukan nggak percaya sama perasaan kamu. Bunda hanya takut..."

Aira mengusap punggung tangan putrinya perlahan. "...takut kamu terlalu mencintai seseorang yang belum tentu bisa membalas perasaanmu dengan cara yang sama."

Andara menunduk.

"Bunda pernah muda, Dara. Bunda tau rasanya mencintai seseorang. Bunda juga tau rasanya berharap."

Aira menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Harapan itu indah, Nak. Tapi kalau kita menggantungkan seluruh kebahagiaan pada seseorang, saat harapan itu tidak terwujud, yang paling terluka adalah hati kita sendiri."

Air mata Andara akhirnya jatuh. "Aku cuma... nggak bisa berhenti mencintai Kak Kafa, Bun."

Aira mengusap air mata putrinya dengan ibu jari. "Bunda gak akan menyuruh kamu berhenti mencintainya. Tapi Bunda ingin kamu tetap menjaga dirimu. Jangan sampai karena terlalu mengejar seseorang, kamu lupa mencintai dirimu sendiri."

Andara mengangguk pelan. "Aku akan berusaha, Bun."

Aira tersenyum, lalu memeluk putrinya erat. "Apa pun yang terjadi nanti, Bunda akan selalu ada di pihakmu. Bunda mungkin tidak selalu setuju dengan keputusanmu. Tapi Bunda akan selalu menjadi tempatmu pulang."

Andara membalas pelukan itu sambil terisak pelan. "Terima kasih, Bunda."

Aira mengecup puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Sekarang... boleh Bunda minta satu hal?"

"Apa?"

"Jangan bohong lagi cuma buat ketemu Kafa. Apalagi sampai mengada-ada bahwa kamu lagi sakit, nak."

Andara langsung tersenyum malu. "Iya, Bun."

"Janji?"

Andara menganggukkan kepala mantap. "Janji."

Mendengar jawaban itu, Aira tersenyum lega. Baginya, tak ada yang lebih penting selain melihat putrinya kembali tersenyum, meski ia tau perjalanan hati Andara masih akan panjang.

***

Jam dinding hampir menunjukkan pukul enam sore ketika sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah keluarga Malik yang megah.

Perjalanan pulang hari itu terasa begitu melelahkan. Kemacetan yang panjang membuat Azzam dan putra keduanya, Azra, baru tiba menjelang waktu Magrib.

Azra memang mulai ikut sang ayah ke perusahaan untuk belajar mengelola Malik Group. Selama ini ia lebih fokus mengejar mimpinya sebagai seorang penyanyi. Azzam tidak pernah memaksanya.

Baginya, setiap anak memiliki waktunya masing-masing. Perusahaan yang telah berdiri puluhan tahun itu memang kelak akan diwariskan kepada anak-anaknya. Sebuah perusahaan keluarga yang dibangun sejak masa kakek buyut Azzam dan terus berkembang hingga sekarang. Begitu turun dari mobil, keduanya disambut senyum hangat Aira yang telah menunggu di ambang pintu.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Belum sempat Azzam melangkah masuk, ia sudah lebih dulu merangkul pinggang istrinya.

"Mas, capek ya?"

"Iya. Tapi capeknya langsung hilang begitu lihat kamu."

Aira hanya menggeleng geli. "Mas ini ada-ada aja."

Azzam terkekeh, lalu memeluk istrinya sebentar dengan penuh kasih sayang.

Di belakang mereka, Azra hanya bisa menghela napas panjang. "Halo... ada jomblo di sini, lho."

Azzam menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Abi kira tadi patung selamat datang."

"Abi..."

"Lagian kamu udah 24 tahun. Kapan cari jodoh?"

Azra mendengus pelan. "Biar Kak Kafa dulu, deh."

"Kok Kafa?"

"Ya masa aku duluan? Abi aja nikah umur dua puluh enam tahun."

Azzam mengangguk santai. "Iya, soalnya Abi nunggu Bunda kamu."

Ia menoleh pada Aira sambil tersenyum tipis. "Harus dipisahin lima tahun dulu baru dipertemuin lagi."

(Kisah Azzam dan Aira bisa kalian baca di buku aku yang berjudul: Penawar Luka Aira)

Pip!

Sebuah cubitan mendarat telak di lengan Azzam. "Aduh... sakit, Sayang."

"Rasain."

"Padahal lagi nostalgia."

"Makanya jangan godain terus."

Azra memijat pelipisnya sendiri. "Ya Allah... tiap hari begini terus."

Azzam malah tertawa. "Makanya cepet cari istri. Biar nanti nggak iri lihat Abi sama Bunda."

"Yang ada aku trauma."

"Trauma kenapa?"

"Setiap pulang rumah isinya pamer kemesraan."

Aira tak kuasa menahan tawanya. "Udah, jangan dikerjain terus anaknya."

Azzam masih tersenyum jahil. "Baik, Tuan Putri."

Aira kemudian mengingatkan suaminya. "Mas, udah mau Magrib. Mandi dulu, ya? Air hangatnya udah aku siapin."

Azzam mengangguk. "Iya, Sayang. Terima kasih."

Sebelum masuk ke dalam rumah, ia sempat mengecup singkat pipi Aira.

Cup!

Azra yang melihatnya langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. "Astaghfirullah... nasib jomblo."

Azzam terkekeh.

"Ya gimana ya, Abi punya tiga anak eh, tiga-tiganya masih jomblo."

Azra langsung menyahut cepat. "Ralat, Bi. Kak Kafa mah calon istrinya udah ada."

Azzam dan Aira saling berpandangan.

"Kok bisa?" tanya Azzam heran.

Azra menyeringai jahil. "Soalnya ada yang tiap hari ngejar-ngejar Kak Kafa."

Mendengar kalimat itu, Aira hanya menghela napas pelan.

Sementara Azzam mengernyit, merasa ada sesuatu yang belum ia ketahui. "Ada apa ini sebenarnya?"

"Andara, Bi."

Mendengar nama itu disebut, senyum di wajah Azzam perlahan memudar. Ia menggeleng pelan.

"Azra, jangan bicara seperti itu."

"Memang kenapa, Bi?"

"Mereka itu kakak dan adik."

Azra mengembuskan napas pelan.

"Tapi Andara memang suka sama Kak Kafa."

"Azra..." Nada suara Azzam terdengar lebih tegas dari sebelumnya. "Cukup."

Aira segera menengahi sebelum pembicaraan itu semakin panjang.

"Sudah, nanti saja ngobrolnya. Ini sudah mau Magrib."

Azra mengangguk. "Iya, Bun."

Tak ada lagi yang melanjutkan percakapan itu. Masing-masing memilih masuk ke dalam rumah untuk bersiap menunaikan salat Magrib.

Sebenarnya, Azra bukan satu-satunya yang mengetahui perasaan Andara kepada Kafa. Hampir seluruh anggota keluarga menyadarinya.

Andara tidak pernah pandai menyembunyikan perasaannya. Cara gadis itu memandang Kafa, mencari keberadaannya, hingga berbagai alasan yang ia buat hanya untuk bisa bertemu dengannya, sudah cukup menjadi jawaban.

Kalau mengikuti istilah anak muda sekarang, Andara benar-benar seorang cegil—cewek gila karena cinta.

Ia tidak malu mengakui perasaannya. Tidak gengsi mengejar laki-laki yang ia cintai. Bahkan sudah berkali-kali ditolak pun, Andara tetap datang dengan senyum yang sama, seolah yakin suatu hari nanti hati Kafa akan berubah.

Kadang sikapnya membuat semua orang gemas. Kadang juga membuat mereka khawatir. Karena cinta yang terlalu besar sering kali membuat seseorang lupa menjaga hatinya sendiri. Dan itulah yang paling ditakutkan keluarga mereka.

Bukan karena mereka membenci perasaan Andara. Melainkan karena mereka takut, jika pada akhirnya hati Kafa benar-benar tidak pernah berubah, maka Andara lah yang akan menanggung luka paling dalam.

***

Usai menunaikan salat Magrib berjamaah di musala rumah, keluarga itu berkumpul di ruang makan.

Aroma masakan yang telah disiapkan sejak sore memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat yang selalu mereka rindukan di tengah kesibukan masing-masing.

Seperti biasa, Azzam duduk di ujung meja makan. Di sebelahnya Aira, sementara Azra dan Andara duduk saling berhadapan.

Sebelum mulai makan, Azzam memimpin doa bersama.

"Selamat makan."

"Selamat makan, Bi."

Suasana makan malam berlangsung santai. Sesekali Azra menceritakan kegiatannya di kantor, sementara Aira menambahkan beberapa cerita tentang aktivitasnya di rumah.

Tak lama kemudian, Azzam menoleh kepada putri bungsunya.

"Gimana kuliah kamu hari ini, Sayang?"

Andara yang sedang menyendok nasi mengangkat wajahnya. "Alhamdulillah, lancar kok, Bi."

"Alhamdulillah." Azzam tersenyum bangga. "Semangat terus, ya. Jangan lupa putri Abi harus jaga kesehatan.

"Iya, Abiku sayang."

Beberapa detik suasana kembali dipenuhi suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

Hingga akhirnya...

"Abi."

"Hm?"

Andara meletakkan sendoknya perlahan. "Tolong lamarin aku buat Kak Kafa."

Krek.

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!