NovelToon NovelToon
Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:74.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.

Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.

Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.

"Tolong jangan lakukan itu!"

"Tolong..."

"Tolong...."

Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.

"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.

Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.

Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.

Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 Ada Apa Dengan Tempat Itu

"Zena bagaimana pertemuan kemarin dengan kedua orang tua angkatmu dan juga laki-laki itu?" Anggi seperti biasa begitu penasaran dengan Zena.

"Sudahlah Anggi, aku malas membahas kemarin," sahut Zena.

"Isss, kamu benar-benar payah dan padahal aku ingin sekali mendengar kamu mengatakan bahwa laki-laki itu disalahkan,.di marahi, dan bahkan sampai dikutuk oleh ibu kandungnya," sahut Anggi.

"Ya, memang sudah pasti disalahkan, tapi begitu sampai di rumah beliau melampiaskan kemarahannya kepadaku dan menyalahkanku," sahut Zena menghela nafas.

"Lalu dia melukaimu? dia bermain fisik atau kdrt?" tanya Anggi terlihat begitu semangat.

"Aku sangat mengenal Kak Samudra, dia tidak mungkin melakukan hal itu, dia tidak menyakitiku secara fisik, tetapi kata-kata yang terus dia lontarkan kepadaku lebih sakit dibandingkan luka fisik," ucap Zena terlihat tersenyum di balik cadarnya.

"Benarkah kamu sangat mengenalnya, lalu bagaimana jika suatu saat nanti emosinya semakin tidak terkendali, berubah menjadi laki-laki tempramental karena merasa ada pria yang mendahuluinya, lalu ujung-ujungnya dia akan menyakiti kamu dengan luka fisik?" tanya Anggi ngeri-ngeri sedap dengan semua pemikirannya.

"Tidak akan, beliau tidak akan melakukan hal itu," ucap Zena dengan yakin.

"Zena, meski kamu sudah disakiti, kamu mengalah dan tetap bertahan, padahal kamu adalah korban dari orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi kamu tetap masih menganggap bahwa pria itu tidak mungkin menyakiti kamu secara fisik, cara kamu berbicara seolah-olah ada kekaguman kepadanya, Zena aku benar-benar takut jika sebelumnya kamu mulai jatuh hati kepada kakak angkatmu dan pada akhirnya kamu kecewa karena orang seperti dia tidak menerima masa lalu," ucap Anggi apa seketika menjadi mewek.

Zena lagi-lagi tampak tersenyum di balik cadarnya dari sorot matanya yang indah.

"Wajar saja dengan adanya pernikahan yang menikah tanpa adanya cinta dan tiba-tiba jatuh cinta, dan wajar saja jika ada yang terluka. Anggi ketika kamu sedang menjalani rumah tangga sepertiku dan kamu akan memahaminya, kamu jangan khawatir, aku masih bisa mengendalikan perasaan dan jika memang ada cinta yang sudah mulai tumbuh di hatiku kepadanya, lalu kemudian ada kekecewaan karena beliau tidak bisa menerima masa lalu, maka itu adalah resiko dan aku pasti bisa mengendalikan hati agar tidak terlalu terluka," ucap Zena mencoba untuk meyakinkan sahabatnya membuat Anggi hanya terdiam yang menatap sahabatnya penuh dengan luka dari matanya.

"Hmmmm, bye the way aku hari ini ada janji sama bunda dan juga ayah, mereka akan menemaniku untuk melihat tanah yang rencananya akan kita bangun perusahaan untuk lebih besar lagi," ucap Zena.

"Tetapi tetap bukan pakai duit orang tua angkat kamu. Kan?" tanya Anggi.

"Seperti janji kita sama-sama, kita akan membangun karir ini dengan secara mandiri dan uang kita masing-masing, memutarkan hasil penjualan untuk modal dan juga tempat produksi yang lebih besar. Ayah dan bunda hanya memberikan tempatnya saja, kita akan merenovasi tempat tersebut, agar memiliki tempat produksi lebih besar dan lebih layak," ucap Zena.

"Baiklah kalau begitu good luck, aku tidak bisa ikut karena harus bertemu dengan klien," ucap Anggi.

"Oke," sahut Zena menganggukkan kepala.

*****

Samudra saat ini sedang menyetir mobil, dengan Faisal berada di sebelahnya dan Amelia duduk di belakang.

"Zena sebentar lagi akan menyusul, karena tadi masih bertemu dengan klien," ucap Amelia baru saja menelpon menantunya.

"Mama kirim saja lokasinya kepada Zena," sahut Faisal.

"Baik. Pa," sahut Amelia menganggukkan kepala.

"Sebelah sana Samudra!" titah Faisal membuat Samudra menganggukkan kepala dan mengikuti arah petunjuk jalan yang diberikan sang ayah.

Setelah menempuh perjalanan akhirnya mobil tersebut sampai juga, yang terparkir di salah satu gedung tua beberapa lantai yang tampak terbengkalai, dengan pepohonan yang besar dan juga rumput-rumput liar yang merambat pada gedung yang sudah tidak layak huni.

"Ini tempatnya?" tanya Samudra.

"Benar!" sahut Faisal membuka sabuk pengaman dan kemudian keluar dari mobil diikuti oleh istrinya dan sementara Samudra memperhatikan gedung tersebut, melihat begitu aneh, seperti ada sesuatu yang tidak asing di kepalanya.

Samudra menghela nafas dan kemudian keluar dari mobil menyusul kedua orang tuanya melangkah memasuki gedung yang tua renta dan bahkan bagian atapnya juga sudah banyak yang terlepas sehingga cahaya matahari masuk dan menerangi isi gedung itu.

"Kamu ingat tidak Samudra, dulu gedung ini pernah menjadi pusat perbelanjaan, waktu itu menjadi usaha satu-satunya Papa, tetapi kemudian Papa memasuki dunia bisnis yang lebih besar lagi dan membuat pusat perbelanjaan ini pada akhirnya terkendala dan akhirnya tutup, gedungnya sudah tidak terawat seperti ini," ucap Faisal melihat-lihat di sekitar gedung.

"Ya, seandainya kita tidak sibuk dan bisa meluangkan waktu sedikit, gedung ini pasti akan terawat meski sudah ditinggalkan selama puluhan tahun," sahut Amelia.

"Semoga saja setelah direnovasi dan dijadikan tempat produksi perhiasan Zena dan dengan begitu tidak ada tanah yang sayang, tidak ada yang mubazir," sahut Faisal.

Sementara Samudra ternyata tidak terlalu mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya, Samudra dengan ekspresi wajahnya yang tampak tegang seperti ada sesuatu yang membuatnya sangat dekat dengan gedung itu terus memperhatikan tempat tersebut.

Bayangan -bayangan malam dengan hujan deras tiba-tiba saja muncul di dalam pikiran Samudra yang juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya yang tiba-tiba merasa gelisah, panas dingin.

"Aaaaaaaaaa!" mereka seketika terkejut mendengar suara teriakan yang membuat mereka menoleh ke belakang.

Zena ternyata juga sudah sampai di sana terlihat terduduk di lantai dengan menutup kedua telinganya, berteriak histeris.

"Zena!" ucap Samudra.

"Astagfirullah Zena kenapa Pa?" tanya Amelia.

"Tidak!"

"Tidak!"

Zena berteriak sekencang-kencangnya seperti orang kesurupan, mereka panik dan kemudian menghampiri Zena

"Zena kamu kenapa?" tanya Amelia sudah berjongkok di hadapan Zena dan melihat ketakutan dari sorot matanya.

"Tidak...."

"Tidak...."

Zena tidak mampu mengendalikan dirinya dengan nafas naik turun. Ternyata di dalam ingatannya telah kembali malam yang kelam bagaimana dirinya di lecehkan tanpa ampunan, kehormatannya telah dicuri dan ternyata tempat itu adalah tempat dimana dia diperkosa.

Zena mengingat semuanya, saat turun dari mobil dan pertama kali menginjakkan kaki di gedung itu, perasannya sudah mulai tidak enak, tubuhnya bergetar dan pada akhirnya semua lintasan ingatan memilukan di masa lalunya kembali timbul.

"Zena kamu kenapa? Pa ada apa ini? Apa Zena kesurupan?" tanya Amelia yang merasa Putri angkatnya itu mungkin melamun sehingga ada roh jahat yang memasuki itu tubuhnya.

"Mama jangan berpikiran buruk seperti itu," ucap Faisal

Zena semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, sudah menangis dengan nafas turun dan perlahan tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas dan hampir saja tergeletak di tanah untung saja ditahan oleh Samudra.

"Zena!"

"Zena!"

Samudra dan kedua orang tuanya panik ketika melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri. Samudra membuka cadar itu agar tidak terlalu pengap. Wajah Zena dipenuhi dengan air mata dengan wajahnya tampak memerah dan terlihat pucat.

"Ya ampun Zena," Amelia semakin khawatir kepada putri angkatnya.

"Ayo sebaiknya kita bawa ke rumah sakit!" ucap Faisal.

Samudra mengangguk dan kemudian menggendong Zena ala bridal style dan membawa istrinya buru-buru keluar dari gedung tersebut yang mungkin saja terdapat aura negatif di sana.

Bersambung.....

1
falea sezi
lahh kok meninggal
falea sezi
cerai zena
Si Memeh
bagus cerita nya thor ❤ tp sedih banget 😭😭😭
LIANI LA BUNGA YANI
mampir thor🥹
Tamirah
Dengan meninggalnya Khaira wanita ular itu sdh bisa membalas dendam ada rasa puas Zena dan Samudra menderita, apakah wanita ular itu masih hidup...?
Uthie
Yaaa... koq udahan nya gtu thor 😭😭😭

semoga masih terus bisa menyimak untuk next kebahagiaan nya Zena 🙏🙏😢
Herman Lim
kau kira bakalan pulang dgn selamat dan bisa bahagia dgn anak yg baru 😔😔
Tamirah
Memang selalu ada wanita luar didalam sebuah novel, karena kehadiran wanita ular atau Mak Lampir menjadi bumbu dalam alur cerita, tanpa mereka cerita akan monoton hambar bak sayur kurang garam dan bikin emosi si pembaca.
Marini Suhendar
Ya allah...Aku g bisa bayangin klo d posisi zena...
Semoga d season W samudea masih hidup
Ariany Sudjana
waduh, kok gini terakhirnya? samudra hilang dan tidak bisa ditemukan /Sob/,
Cica Aretha
ya Alloh kasian zena thor..d tinggal sama or terkasih nya..😭😭
Ariany Sudjana
semoga samudra dan anak buahnya bisa mengatasi gangguan dalam tugasnya, tetap fokus yah samudra
Tamirah
Ini yg ditunggu tunggu para readers memohon menghiba dan merangkak untuk sebuah kata maafkan, keren Thor alur cerita nya 👍👍👍
Tamirah
Thor betapa serunya bila Samudra menyadari bahwa dialah yg memperkosa Zena dan Zena tetap pada keputusan nya bila sdh bertemu dgn laki laki yg memperkosanya dia tetap minta cerai walau pun yg memperkosa nya adalah suaminya sendiri.
Tamirah
Seharusnya nya Samudra pun mencari bukti digudang tua itu biar sadar siapa yg diperkosa waktu itu kan bisa mencari bukti entah itu sesuatu benda yg terlepas dari tubuh Zena biar sama sama punya bukti.
Uthie
Wahhh.. itu aga serem kalau perang
Tamirah
Kalau Samudera sdh sadar dan ingat bahwa ialah yg memperkosa istrinya sendiri sblm menikah terbalik lah untuk balas dendam karena sdh menghina dan selingkuh.Buat Samudra untuk merangkak dan berlutut meminta maaf itupun kamu hrs bersikap cuek biar tahu rasanya nya dihina dan diselingkuhi.
Tamirah
Masak Thor pernikahan selama bbrp bln belummm ada kesempatan untuk menjelaskan kejadian yg sebenarnya nya, percaya tdk percaya paling tdk Zena ada kesempatan untuk mengatakan,dasar emang dibuat begitu ceritanya biar readers penasaran.
Tamirah
, wajar lah seorang suami marah ketika sebelum malam pertama dilakukan Zena buka kartu bahwa sdh tida perawan, Samudra kecewa perempuan yg alim gak bisa menjaga kehormatannya.dia tidak mendengar penjelasan dari zena,yg ada hanya rasa emosi.
Tamirah
Kenapaa Zena merasa keberatan untuk menikah tentu masa lalu kertika masih putih abu abu malam' itu perawan nya sdh diambil paksa namun gak tahu siapa yg menggagahinya... tentu menyakitkan bagi gadis yg berhijab dan bercadar,musibah yg dialami benar benar membuat trauma.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!