Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeoulus
Tasya terus memandang wajah Devin. Tanpa disadari dia menjadi tersenyum, mengingat Devin menciumnya.
'Tasya sadar, apa kamu sudah gila mencintai dia. Tidak boleh ada perasaan, bagaimana bila dia meninggalkan kamu. Pasti bakalan patah hati, bila sudah cinta.' Batin Tasya.
"Ngapain kamu senyum sendiri?" Tanya Devin, dengan datar.
"Aku lucu saja, kenapa tuan memasang dasi kerja untuk sekolah." Jawab Tasya.
"Yang paling penting, kamu tidak dihukum." Ucap Devin.
"Lambang sekolahnya tidak ada." Protes Tasya.
Dia mengambil peniti, hiasan kupu-kupu. Devin segera menusuk peniti itu, pada bagian lambang menjadi tertutup.
Mereka berdua keluar dari kamar. Ternyata sudah ada Argan dan Nadin berdiri di depan pintu.
"Papa, Mama, ada apa?" Tanya Devin penasaran.
"Seperti ini Devin, kamu harus mau pindah kamar." Ujar Argan.
"Memangnya kamar aku kenapa Pa?" Tanya Devin.
"Kamar kamu mau direnovasi." Jawab Argan.
"Hah, kenapa renovasi dadakan?" Devin bingung.
"Biar lebih bagus Devin. Kamu harus menurut, dengan yang Papa mau." Jawab Argan.
"Kamu akan tidur di kamar Tasya." Ucap Nadin.
"Hah, yang benar saja Ma." Jawab Devin.
"Mama tahu, Tasya hanya pengantin pengganti di matamu. Tapi, apa salahnya untuk sementara juga." Ucap Nadin.
"Baiklah." Jawab Devin pasrah.
Mereka segera pergi setelah berpamitan. Argan dan Nadin menepuk tangan masing-masing, di atas udara.
"Misi menyatukan pasangan berhasil." Ucap Argan.
"Benar, kita harus membuat mereka sering bersama." Jawab Nadin.
Tasya sudah sampai ke sekolah, dia turun dari mobilnya. Ferdian menghampiri Tasya, dia tersenyum ceria.
"Tasya, apa kamu suka dengan boneka pokemon yang aku beri?" Tanya Ferdian.
"Aku suka sih, dengan boneka yang kamu kasih. Apalagi, boneka pokemon adalah kesukaanku." Jawab Tasya.
Ferdian hendak merangkul pundak Tasya, namun Tasya mengelak. Devin masih melihat dari kaca mobil, dia segera turun.
"Hei, tolong jauhi dia." Ujar Devin, dengan tatapan tidak suka.
"Haha, kamu hanya atasan di tempat kerjanya. Apa hak mu mengatur urusan pribadi." Jawab Ferdian sambil tertawa.
Bugh!
Sebuah pukulan mengenai bibir Ferdian. Tasya merasa heran, karena melihat Devin semarah itu.
"Hei, kau benar-benar gila." Teriak Ferdian.
Tasya segera menarik tubuh Devin, supaya dia menghentikan perkelahian itu.
"Sudahlah tuan Devin, jangan membuang tenaga. Nanti, tampan tuan Devin terkikis." Rayu Tasya. Dia membuka resleting tas, mengeluarkan tisunya.
Tasya mengelap keringat, pada wajah Devin. Ferdian mengepalkan kedua tangannya.
'Kamu hanya asisten di kantornya. Aku akan menjemput kamu besok pagi. Kita akan pergi ke sekolah bersama.' Batin Ferdian.
'Ada apa denganku, aku menjadi deg degan seperti ini. Kenapa aku meninju pria bocah itu, apa aku cemburu.' Batin Devin.
"Tasya, aku pergi dulu. Hati-hati iya, banyak buaya di sekolahmu." Devin menepuk lengan Tasya tiga kali.
Tasya memajukan bibirnya, sambil bergerak-gerak. Pikirannya teringat Devin yang menciumnya, di depan pintu kamar.
"Tasya, kamu kenapa?" Tanya Devin heran.
"Tidak, ini adalah latihan berenang terbaru. Namanya teknik ikan ****** berenang." Alibi Tasya.
Devin menjadi tersenyum, sungguh lucu ekspresi Tasya.
'Aku tidak salah melihatnya tersenyum, bukankah dia wajah es. Apa bekunya mulai meleleh, karena tersambet jin jalanan. Semoga dia tidak tahu, apa yang aku pikirkan.' Batin Tasya.
Devin segera melangkahkan kakinya, masuk ke dalam mobil. Dia mulai melaju dengan kencang, meninggalkan sekolah Tasya.
"Tasya, tolongin dong." Ujar Ferdian.
"Kamu kok kayak keong sih, lambat sekali. Kenapa tidak berdiri sendiri, padahal sudah daritadi terjatuh." Jawab Tasya, dengan menggerutu.
Dia segera pergi ke kelasnya. Ternyata tiga sahabat karibnya, sudah ada di dalam kelas.
"Hai Sya!" Sapa Tera.
Okta asyik memoles bedak pada wajahnya. Tidak lupa memberi lipstik.
"Tante, kamu sudah cantik." Ledek Tasya.
"Cie, si cuek tumben ikut ledekin aku." Jawab Okta.
"Kamu kelihatan bahagia sekali Sya." Sahut Jelita.
"Masak sih, bukankah biasanya seperti ini." Jawab Tasya.
Shiit!
Devin mengerem mobilnya secara mendadak, karena hampir saja menabrak seorang perempuan.
"Aaa!"
Rubis berteriak karena dia terjatuh, benar-benar merasa kaget. Mobil tadi melaju dengan kencang, membuat bukunya jatuh berserakan.
"Maaf, aku tidak sengaja." Devin membantu, mengambil buku yang berserakan.
"Iya, tidak apa-apa." Jawab Rubis, terus tersenyum memandang Devin.
'Tampan sekali dia, aku harus mendapatkan pria ini.' Batin Rubis.
"Tidak apa-apa bagaimana, lihatlah betis kamu terluka." Ucap Devin.
"Aku sungguh tidak apa-apa. Bisakah bantu aku berdiri." Jawab Rubis, sambil meminta pertolongan.
Devin membantu Rubis berdiri, eh dia malah memeluk Devin dengan erat. Dari kejauhan, ada yang sengaja mengambil gambar momen tersebut.
"Aku sakit, tolong antar aku." Ucap Rubis dengan manja.
"Aku akan mengantarkan kamu ke sekolah SMA Pelita Raya." Ucap Devin, dia melihat baju seragam yang dikenakan oleh Rubis.
"Iya, aku bersekolah di sana. Apa kamu juga sedang menempuh pendidikan?" Tanya Rubis penasaran.
"Iya, aku berkuliah sekarang." Jawab Devin.
Rubis melihat jas yang dikenakan Devin, ada lambang kampus elite melekat.
'Pasti dia orang kaya, dia anak dari pengusaha yang terkenal itu 'kan.' Batin Rubis.
Dia sengaja semakin mempererat pelukannya. Dasar modal dusta si Rubis. Devin merasa risih, namun tidak mungkin juga mendorongnya. Devin melepaskan pelukan Rubis dengan perlahan, menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Kamu kenapa siang sekali datang ke sekolah?" Tanya Devin.
"Aku harus membantu ibu, lalu mengantar kue di pasar dulu." Jawab Rubis berbohong, sengaja mencari simpati.
Beberapa menit kemudian, Rubis turun dari mobil karena sudah sampai di sekolah. Devin melajukan mobilnya kembali, menuju ke kampus.
"Ibu mau memberitahu kalian semua, bahwa pada acara PBAK banyak mahasiswa dan mahasiswi baru. Rektor kampus memberi tugas pada Devin. Selaku ketua BEM dan mahasiswa terbaik, hendaknya memberikan contoh." Ucap ibu dosen.
"Iya Bu, mudah-mudahan saya bisa." Jawab Devin.
"Ibu percaya padamu, kamu pasti bisa. Berdasarkan kemampuan yang Ibu lihat, kamu pantas menjadi ketua BEM (Badan Eksklusif Mahasiswa)." Ucap ibu dosen.
"Devin itu idola kampus Bu." Sahut siswi perempuan.
"Iya, pasti karena dia tampan." Jawab ibu dosen bercanda.
Mahasiswa dan mahasiswi riuh saling berbisik. Mereka senang, karena ada perwakilan dari kelasnya yang populer. Kampus tempat Devin menimba ilmu, ternyata kampus paling elite di kota tersebut. Kampus mewah dengan fasilitas lengkap, tidak semua orang bisa masuk ke sana. Kecuali mereka yang dari kalangan atas, atau yang memiliki biaya siswa karena prestasi.
Argan dan Nadin sibuk berdiskusi. Mereka ingin bila Devin dan Tasya, bisa menjalin hubungan lebih dekat.
"Tuan Argan, barang-barang tuan Devin sudah dipindahkan." Ujar Fendi.
"Bagus, jangan lupa disusun yang rapi." Jawab Argan.
Fendi mengangguk, lalu membungkukkan badannya untuk segera pergi.