Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pai Apel di Malam Mendung
Liora masih berdiri di lorong lantai dua, menatap pintu kamar Alex yang sudah tertutup rapat. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan pikiran yang masih dipenuhi kebingungan.
"Bagaimana bisa aku tertidur di kamar Alex?" gumamnya pelan. "Aku yakin aku tidur di sofa. Apa aku berjalan dalam tidur? Tapi aku tidak pernah melakukannya sebelumnya..."
Ia menggelengkan kepalanya, mencoba membuang pikiran itu. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Mungkin ia tanpa sadar berjalan ke kamar Alex saat tidur. Itu satu-satunya penjelasan logis.
Liora menarik napas panjang, lalu berjalan menuruni tangga. Ia tidak bisa berdiam diri terlalu lama. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan langit di luar mulai berubah warna. Awan kelabu tebal mulai bergerombol di atas desa, menutupi sinar matahari yang tadinya cerah. Angin mulai berembus lebih kencang, menggoyang dedaunan di halaman.
Liora menatap langit melalui jendela dapur. "Sepertinya malam ini akan hujan besar," bisiknya.
Ia memiliki firasat kuat bahwa hujan deras akan turun dalam beberapa jam ke depan. Dan saat cuaca seperti ini, tidak ada yang lebih nyaman daripada makanan hangat di dalam rumah.
Liora membuka kulkas dan mulai mengeluarkan bahan-bahan. Ia memutuskan untuk membuat sesuatu yang spesial untuk makan malam. Di dalam kulkas, ia menemukan dua potong daging sapi yang masih segar—mungkin sisa kiriman dari Emi beberapa hari lalu. Ia juga menemukan kentang, mentega, susu, dan beberapa bumbu dapur.
"Steak dengan mashed potato," putusnya. "Dan untuk pencuci mulut..."
Matanya tertumbuk pada keranjang apel merah yang masih terisi penuh. Apel-apel itu dipetik oleh Alex pagi tadi dari kebun. Liora tersenyum. Ia teringat pada ibunya.
Dulu, saat hujan turun dan mereka tidak bisa pergi ke mana-mana, ibunya sering membuat pai apel. Aroma kayu manis dan apel panggang yang memenuhi seluruh rumah adalah salah satu kenangan terindah yang dimiliki Liora. Pai apel buatan ibunya selalu hangat, manis, dan membuat segalanya terasa lebih baik.
Liora mengambil beberapa apel, lalu mulai mengupasnya dengan hati-hati. Kulit apel yang merah dan segar terkelupas dengan sempurna, memperlihatkan daging buah yang putih dan berair. Ia memotong apel menjadi irisan tipis, lalu mencampurnya dengan gula, kayu manis, dan sedikit perasan lemon.
Ia menyiapkan adonan pai dengan mencampurkan tepung, mentega dingin, dan sedikit air. Tangannya yang terampil menguleni adonan hingga kalis, lalu menipiskannya dengan penggiling kayu. Adonan itu ia letakkan di atas loyang, lalu ia menuangkan campuran apel di atasnya. Ia menutupnya dengan lapisan adonan lagi, lalu membuat beberapa lubang kecil di permukaannya agar uap bisa keluar.
Sebelum memasukkan pai ke dalam oven, Liora mengolesi permukaannya dengan kuning telur agar berwarna keemasan saat matang. Lalu ia memasukkan loyang itu ke dalam oven yang sudah dipanaskan.
Setelah itu, Liora mulai mengerjakan steak dan mashed potato. Ia membersihkan daging sapi, membumbuinya dengan garam dan merica, lalu memanggangnya di atas wajan panas dengan sedikit mentega. Suara desisan daging yang bertemu dengan wajan panas memenuhi dapur, menciptakan aroma yang menggugah selera.
Ia juga merebus kentang hingga empuk, lalu menumbuknya dengan mentega dan susu hangat hingga menjadi halus dan lembut. Mashed potato itu ia bumbui dengan sedikit garam dan pala, menciptakan rasa yang gurih dan creamy.
Aroma masakan mulai memenuhi seluruh rumah. Bau steak panggang, bau mentega, dan bau kayu manis dari pai apel di oven, semuanya bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman.
Liora baru saja selesai menata steak dan mashed potato di atas dua piring besar ketika ia mendengar suara langkah kaki dari arah tangga.
Alex turun. Wajahnya sudah segar, rambutnya masih sedikit basah—sepertinya ia baru saja mandi setelah bangun tidur. Ia mengenakan kemeja flanel berwarna hijau tua dan celana panjang berwarna krem. Matanya yang biasanya polos, kini berbinar-binar karena mencium aroma masakan yang begitu kuat.
"Liora! Liora masak apa? Wanginya enak banget!" seru Alex sambil berlari kecil ke arah dapur.
Liora tersenyum melihat antusiasme Alex. "Makan malam, Alex. Aku membuat steak dan mashed potato."
Alex mendekati meja makan, menatap dua piring besar yang sudah tertata rapi. Steak yang masih mengepul, dengan saus cokelat yang mengalir perlahan di atasnya. Di sampingnya, ada tumpukan mashed potato yang lembut dan berwarna kuning pucat, dihiasi dengan sedikit peterseli cincang.
"Wah! Kelihatannya enak banget!" teriak Alex dengan penuh semangat.
Liora tertawa kecil. "Tunggu sebentar, Alex. Ada yang lebih spesial lagi."
Ia berjalan ke arah oven, mengambil loyang berisi pai apel yang sudah matang sempurna. Kulitnya berwarna keemasan, dan aroma kayu manis yang harum langsung memenuhi ruangan.
Alex membelalak. "Apa itu, Liora?"
"Pai apel, Alex. Aku membuatnya dari apel yang kamu petik tadi pagi," jawab Liora dengan lembut.
Mata Alex berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia. Ia menatap pai apel itu, lalu menatap Liora, lalu kembali menatap pai apel.
"Apel yang Alex petik?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Iya, apel itu yang kamu petik sendiri," jawab Liora. "Kamu memetiknya, dan Liora mengubahnya menjadi pai yang enak. Jadi, ini adalah pai apel buatan kita berdua."
Alex tersenyum lebar. Senyuman yang sangat tulus dan bahagia. "Liora... Liora hebat. Alex suka Liora."
Liora tersenyum. Hatinya terasa hangat mendengar pujian itu. "Terima kasih, Alex. Sekarang, mari kita makan malam."
Mereka berdua duduk di meja makan. Alex mulai menyantap steak dan mashed potato dengan lahap. Ia memotong dagingnya dengan hati-hati, lalu mencelupkannya ke dalam saus cokelat sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak banget! Dagingnya lembut!" puji Alex.
Liora tersenyum. "Makan yang banyak, Alex. Nanti malam kita akan makan pai apelnya."
Setelah makan malam selesai, Liora membereskan piring dan meletakkan pai apel di atas meja ruang keluarga. Pai itu sudah dipotong menjadi beberapa bagian, dan uap hangat masih mengepul dari permukaannya.
Liora membawa dua piring kecil berisi pai apel ke ruang keluarga. Alex sudah duduk di sofa, menunggu dengan sabar. Di layar televisi, film Mickey Mouse sudah diputar—film yang Alex minta untuk ditonton malam ini.
Mereka berdua duduk di sofa. Liora memberikan satu piring pai apel pada Alex, dan satu piring untuk dirinya sendiri.
Alex mengambil sendok, lalu menyendok sedikit pai apel. Ia memasukkannya ke dalam mulut, dan matanya langsung membulat sempurna.
"Ini... ini enak banget, Liora!" serunya. "Apelnya manis, kulitnya renyah!"
Liora tersenyum puas. Ia juga mengambil satu sendok pai apel, dan rasa manis serta hangat itu langsung memenuhi mulutnya. Rasanya persis seperti yang ia ingat. Seperti pai apel buatan ibunya.
Mereka menonton film Mickey Mouse sambil menikmati pai apel. Di luar, langit semakin gelap. Awan kelabu semakin tebal, dan angin malam mulai berembus lebih kencang.
Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Dan tak lama kemudian, hujan mulai turun.
Bruk-bruk-bruk-bruk.
Air hujan mulai membasahi atap rumah, menciptakan suara yang menenangkan. Liora menatap ke arah jendela, melihat air hujan yang mengalir di kaca. Suasana malam itu terasa begitu hangat dan damai.
"Liora," panggil Alex pelan.
Liora menoleh. "Ya, Alex?"
Alex menatap Liora, lalu tersenyum. "Alex senang bisa makan pai apel bareng Liora. Alex senang hujan turun, karena kita bisa berada di dalam rumah. Bersama."
Liora tersenyum. Ia merasakan kehangatan di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, hidup di desa ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
"Liora juga senang, Alex," jawabnya pelan.
Hujan terus turun di luar, tetapi di dalam rumah, mereka berdua menikmati malam yang tenang, ditemani oleh film Mickey Mouse, pai apel yang manis, dan kehangatan yang perlahan tumbuh di antara mereka.
saling support sabi kali😉