Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sebelum melangkah keluar dari batas kabut yang telah mengurungnya selama delapan belas tahun, Wu Tian membawa ketiga kultivator muda itu ke sebuah tempat terbuka di dekat reruntuhan Altar Darah. Di sana terdapat sebuah goa batu sederhana yang selama ini ia gunakan untuk berteduh dari hujan hitam. Tiga kultivator Klan Wu itu duduk dengan canggung di atas batu-batu ceper, sementara Wu Tian berdiri bersandar pada dinding goa, mengamati mereka dengan tatapan ingin tahu yang datar.
Aura membunuh yang tadi mencekam kini telah sepenuhnya padam. Tanpa tekanan luar biasa itu, Wu Lin dan kedua rekannya mulai bisa bernapas lega. Mereka menyadari satu hal yang cukup aneh: pemuda di depan mereka ini memiliki kekuatan yang sanggup meratakan sebuah sekte kecil, namun tatapan matanya saat memperhatikan pakaian atau pedang mereka justru terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat mainan baru.
"Di luar sana..." Wu Tian membuka suara, memecah keheningan. Lidahnya kini terasa lebih luwes untuk berucap. "Apakah banyak orang yang memiliki pakaian seragam seperti kalian?"
Wu Lin mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan kepolosan pertanyaan itu. "T-Tenu saja. Di Sembilan Daratan, setiap klan dan sekte memiliki jubah identitas mereka sendiri. Klan Wu adalah salah satu yang terbesar di wilayah selatan Daratan Kesembilan. Murid kami berjumlah ribuan."
"Ribuan manusia..." Wu Tian bergumam pelan. Di kepalanya yang dipenuhi ingatan purba, konsep tentang peradaban manusia terpampang jelas, namun mengosolidasikannya dengan kenyataan bahwa ia akan segera menemui ribuan makhluk sejenisnya memicu rasa asing di hatinya. "Apakah mereka semua... selemah kalian?"
Pertanyaan jujur yang terlampau enteng itu sukses membuat dua kultivator laki-laki di belakang Wu Lin tersedak ludah sendiri. Wajah mereka memerah menahan malu, namun mereka tidak bisa membantah. Di depan monster yang bisa menghancurkan Serigala Bayangan dengan kibasan tangan, mereka memang tidak lebih dari semut.
Wu Lin berdeham pelan untuk mencairkan suasana. Ia memberanikan diri untuk berdiri dan membungkuk hormat, memperkenalkan diri secara resmi. "Nama saya Wu Lin. Saya adalah murid senior dari generasi muda klan utama." Ia kemudian menunjuk rekannya yang berwajah agak pucat. "Ini Wu Chen, adik seperguruan saya." Lalu menunjuk yang satunya lagi, "Dan ini Wu Ao."
Wu Tian hanya mengangguk sekali, menerima perkenalan itu tanpa membalasnya.
"Lalu... bagaimana dengan namamu?" tanya Wu Lin hati-hati. "Jika kamu adalah bagian dari Klan Wu yang tertinggal di sini, kamu pasti punya nama penanda."
"Aku tidak punya nama," jawab Wu Tian datar. "Di tempat ini, tidak ada yang perlu memanggilku."
Wu Lin terdiam sesaat, rasa iba mendadak menyelimuti hatinya dibalik rasa takut yang masih tersisa. Ia memandangi jimat hangus yang sempat diperlihatkan Wu Tian tadi. Di bagian tepi kertas jimat yang terbakar hitam, selain lambang lidah api, samar-samar ada satu karakter aksara kuno yang masih tersisa, berbunyi ‘Tian’.
"Di jimatmu... ada aksara yang berarti Langit," ucap Wu Lin dengan senyum tipis yang tulus. "Bagaimana kalau kami memanggilmu Wu Tian? Itu terdengar seperti nama yang agung di klan kami."
Pemuda berbaju kulit serigala itu terdiam beberapa detik, mengecap nama itu di dalam benaknya. Wu Tian. Menentang Langit. Nama itu terasa selaras dengan energi hitam keemasan yang bergolak di dalam dantiannya. "Terserah kalian. Mulai sekarang, aku Wu Tian."
Perjalanan menuju perbatasan luar Shenzhou memakan waktu beberapa jam. Sesuai janjinya, tidak ada satu pun binatang buas yang berani mendekat dalam radius seratus meter dari rombongan mereka. Insting monster-monster Shenzhou tahu betul bahwa Penguasa Lembah sedang berjalan melintas.
Hingga akhirnya, mereka tiba di batas terluar Daratan Kesepuluh. Di depan mereka, kabut hitam pembatas berputar-putar seperti dinding raksasa yang memisahkan Shenzhou dengan dunia luar. Di balik kabut itu, lamat-lamat terlihat pancaran cahaya matahari yang cerah dari Daratan Kesembilan.
"Ayo, Wu Tian. Setelah melewati kabut ini, kita akan tiba di wilayah perbatasan luar," ajak Wu Lin yang berjalan di depan bersama Wu Chen dan Wu Ao. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam kabut terlebih dahulu, membiarkan tubuh mereka ditelan oleh pusaran hawa dingin pembatas dunia.
Wu Tian tidak langsung mengikuti. Ia berdiri di tepi kabut, membalikkan badannya untuk menatap hamparan hutan belantara Shenzhou untuk terakhir kalinya. Tempat ini penuh dengan darah dan kekejaman, tetapi ini adalah rumahnya. Dan Wu Tian tidak suka jika ada orang asing yang datang dan mengotori rumahnya saat ia sedang pergi.
‘Ingatan purba... Formasi Pengunci Jiwa Sembilan Langit,’ batin Wu Tian, memanggil salah satu pengetahuan terlarang yang tersimpan di kepalanya.
Wu Tian mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya dengan lembut ke permukaan tanah.
TAP.
Hentakan itu tidak menimbulkan suara ledakan yang keras, melainkan sebuah getaran frekuensi rendah yang merambat cepat di bawah tanah ke seluruh penjuru Daratan Kesepuluh. Energi hitam keemasan miliknya mengalir keluar bagai sulur-sulur akar raksasa, menyalakan kembali garis-garis formasi kuno Shenzhou yang telah tertidur selama delapan belas tahun.
Secara rahasia, tanpa diketahui oleh Wu Lin dan yang lainnya yang sudah berada di dalam kabut, Wu Tian telah mengubah struktur energi daratan tersebut. Mulai detik ini, Shenzhou bukan lagi sekadar daratan terlarang yang terkunci oleh rumor, melainkan sebuah wilayah yang telah disegel total oleh gembok energi raksasa miliknya sendiri. Tidak ada satu pun Master Ranah Dewa dari sembilan daratan yang akan bisa menembus tempat ini, kecuali Wu Tian sendiri yang membukanya.
"Rumahku... akan tetap menjadi milikku," gumam Wu Tian enteng.
Dengan langkah santai, Wu Tian membalikkan badan dan berjalan menembus dinding kabut hitam. Begitu tubuhnya keluar dari sisi lain kabut, sepasang matanya langsung menyipit.
Cahaya matahari yang terik menghantam wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melihat langit berwarna biru bersih, bukan kelabu pekat. Angin yang berembus tidak lagi membawa bau anyir darah, melainkan aroma tanah basah dan vegetasi hijau yang segar.
Mereka kini berdiri di sebuah lembah hijau yang luas di perbatasan Daratan Kesembilan. Di kejauhan, terlihat jalan setapak tanah yang mulai ramai dilalui oleh karavan-karavan pedagang berkuda dan beberapa kelompok kultivator berpatroli yang mengenakan berbagai macam seragam klan.
"Selamat datang di Daratan Yunzhou , Wu Tian," ucap Wu Lin, mencoba menyambutnya dengan ramah.
Namun, kehadiran Wu Tian langsung memicu reaksi instan dari lingkungan sekitar. Penampilannya yang kontras—mengenakan pakaian kulit binatang kasar di tengah peradaban yang rapi, ditambah dengan sisa-sisa energi hitam keemasan yang samar-samar masih melingkupi tubuhnya—membuat beberapa kelompok kultivator patroli di kejauhan langsung menghentikan langkah mereka.
Beberapa mata mata-mata dari faksi lain yang sedang bersantai di kedai teh pinggir jalan perbatasan segera menajamkan pandangan. Mereka memandang Wu Tian dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam. Seorang pemuda asing yang keluar dari arah kabut terlarang Shenzhou bersama dengan murid-murid inti Klan Wu jelas bukan sebuah kebetulan biasa.
Wu Tian menyadari semua tatapan itu. Alih-alih merasa risih atau takut, ia justru menatap balik mereka semua dengan wajah datar tanpa ekspresi. Monster dari Shenzhou itu telah resmi menginjakkan kakinya di kolam politik yang penuh intrik, dan ia tidak berencana untuk bermain dengan aturan mereka.