Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Ranjau di Atas Meja Makan
Setelah Olivia datang menyusul, mereka bertiga langsung bergerak membelah malam menuju sebuah kafe modern yang baru buka beberapa hari lalu tak jauh dari area GOR.
Pukul tujuh malam lewat sedikit, mereka sudah duduk mengitari meja kayu di sudut kafe. Alunan musik jazz yang mengalun lembut dari pengeras suara di sudut ruangan berpadu dengan aroma pekat biji kopi yang sedang digiling, menciptakan atmosfer yang nyaman. Desain interior yang rapi dan suhu ruangan yang sejuk, tipikal tempat yang sesuai dengan selera Marcella yang cukup high-class.
Namun tidak bagi Doni, kursi yang didudukinya saat ini terasa sepanas bara api. Kebisingan di sekelilingnya seolah teredam oleh debar jantungnya sendiri. Dia sengaja memilih posisi duduk di samping Marcella, menjadikan kekasihnya itu sebagai tameng pembatas antara dirinya dan Olivia yang duduk sendirian di seberang meja.
“Yang tadi keren banget, Liv! Aku udah lama nggak nonton kamu, kamu makin jago aja kayaknya”, Marcella membuka obrolan dengan mata berbinar. Belum sempat Olivia menjawab, tiba-tiba seorang pramusaji wanita datang ke meja mereka.
“Silahkan, Kak. Ini menunya. Nanti dicatat aja pesanannya, trus diserahkan ke kasir ya, Kak”, sela pramusaji itu memberikan buku menu dan lembar catatan. Marcella mengangguk manis dan memberikan senyuman indahnya kepada pramusaji itu sebelum dia berlalu.
“Kamu mau pesan apa, Don?” tanya Marcella sambil membolak-balik lembar menu dengan dahi berkerut tipis. Gadis itu mengetukkan pulpen ke dagu, terlihat sangat pemilih. "Aku kayaknya mau cheesecake ini aja deh, sama lemon tea hangat tanpa gula. Aku lagi mau ngurangin kalori dulu minggu ini."
Akhirnya Marcella memutuskan pilihannya setelah hampir lima menit berpikir. Sifat perfeksionis Marcella yang selalu mendetail bahkan untuk urusan makanan biasanya membuat Doni gemas. Namun malam ini, Doni hanya bisa mengangguk kaku.
“S-samain kayak kamu aja, Cell”, jawab Doni pelan. Dia sedikit tersentak karena memang sejak tadi tidak bisa fokus. Situasi makan malam bertiga ini masih sulit untuk dia cerna. Otaknya mendadak buntu untuk memilih menu yang ada di daftar. “Kebetulan perutku juga lagi agak kurang enak”, bohong Doni, sekedar mencari alasan agar Marcella tidak mempertanyakan keputusannya.
“Kalau kamu, Liv? Mau pesan apa?” Marcella beralih menatap adiknya.
“Mi goreng spesial yang jumbo, pakai telor ceplok setengah matang dua, kentang goreng yang besar, sama beefburger. Minumnya milkshake cokelat”, sahut Olivia lancar tanpa perlu melihat menu. Porsi makan khas atlet yang baru saja menguras habis energinya di lapangan.
Marcella mendengus pelan sambil mulai menulis pesanan di kertas. “Laper banget nih, bro? Emang muat semua di perut kamu yang kecil itu? Nanti kolesterolnya naik, loh”, omel Marcella.
“Bodo amat!” Olivia menjulurkan lidahnya kepada kakaknya. Dia terkekeh kecil, lalu perlahan menurunkan tangannya untuk menopang dagunya di atas meja dengan satu tangan. Sisa-sisa keringat di pelipisnya memantulkan cahaya lampu kafe, memberikan kesan tegas pada wajah remajanya. Sepasang matanya yang tajam kembali bergerak lurus, tidak beralih sedikitpun dari Doni yang sejak tadi berpura-pura sibuk merapikan letak sendok dan garpu di depannya.
“Ngomong-ngomong, Kak Doni”, Olivia membuka suara, memecah keheningan sepihak di antara mereka berdua. Nada suaranya terdengar santai, namun sanggup membuat punggung Doni mendadak menegak. “Tadi Kak Doni nonton di tribun sebelah mana? Kok aku nggak ngelihat, ya?”
Doni menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa serak. “Ah... itu. Di tribun barat, agak ke atas. Rame banget soalnya”, jawab Doni gugup.
“Oh, di atas...” Olivia manggut-manggut lambat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. “Soalnya minggu lalu, waktu tim aku tanding persahabatan di GOR itu juga, aku kayak lihat orang yang mirip banget sama Kak Doni nonton aku, dan dia duduk di tribun atas juga. Malah kayaknya sempat turun ke bagian bawah tribun, deket pagar pembatas... eh, tapi kata Kak Cella, Kak Doni kemarin cuma neduh bentar di luar, trus ngintip dari luar pagar doang, ya?”
Uhuk!
Doni refleks tersedak air liurnya sendiri. Dia buru-buru meraih segelas air putih yang sudah tersedia di meja dan meminumnya dengan rakus untuk menyembunyikan kepanikannya. Wajahnya memerah padam. Olivia sengaja memancingnya di depan Marcella.
“Ih, kamu salah lihat kali, Liv”, sahut Marcella polos, tangannya masih sibuk mencatat pesanan Olivia yang banyak itu di kertas pesanan.
“Iya kali, ya? Mungkin… aku yang salah lihat, ya? Soalnya udah capek banget”, ucap Olivia lambat-lambat, tatapannya menyipit menatap Doni dengan intensitas yang kian mengintimidasi. “Tapi mukanya kayak mirip banget, loh. Gaya pakaiannya juga sama. Pakai hoodie hitam juga waktu itu.”
Doni meremas jemarinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sindiran halus Olivia terasa seperti jarum yang menusuk kulitnya perlahan. Gadis SMA itu tahu Doni berbohong, dan dia sengaja menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari wajah Doni.
“Doni kan emang belum pernah masuk ke GOR itu sebelum malam ini. Palingan cuma ngelewatin dari luar doang. Oh iya, Liv…” Marcella tiba-tiba menghentikan gerakan pulpennya yang sedang dia pakai menulis. “Gimana nasibnya tumbler kamu? Udah ketemu, belum? Waktu itu yang kamu nelpon aku sambil panik, aku udah nanya ke Doni…”
Jantung Doni rasanya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Ranjau yang dia takuti akhirnya meledak karena kepolosan pacarnya sendiri. Dia melirik Marcella dengan panik, lalu beralih menatap Olivia.
“Oh ya?” potong Olivia sebelum Marcella menyelesaikan kalimatnya. Dia menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat misterius, bahkan cenderung mengejek. “Terus... kata Kak Doni gimana, Kak?”
“Ya, kata Doni nggak ada. Menurut aku juga nggak mungkin sih, tumbler kamu bisa ada di tasnya. Dia kan cuma neduh bentar di luar, nggak sampai masuk. Kecuali, kamu tinggalin tumbler kamu di luar GOR. Tapi, kalau dia nyimpen juga pasti dia bilang, kan”, sambung Marcella tanpa curiga sedikit pun, lalu kembali sibuk menulis pesanan di kertas. Dia sangat percaya kepada kekasihnya. “Jadi, sampai sekarang belum ketemu?”
Olivia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, sengaja menyiksa batin Doni yang kini sudah mulai berkeringat dingin di seberangnya.
“Iya, Kak. Belum ketemu… sampai sekarang”, ucap Olivia lambat-lambat, sengaja menekan setiap kata. “Tapi aneh aja menurutku. Kok bisa ya... ada orang yang tega NYIMPEN barang orang lain lama-lama, padahal dia tahu jelas kalau barang itu bukan punya dia. Kenapa nggak dikembaliin aja gitu?” Olivia sengaja meninggikan suaranya di beberapa kata, memang bertujuan untuk menyindir pria yang duduk di seberangnya.
Pria itu kini meremas tangannya di bawah meja. Sindiran Olivia tampaknya sukses menancap telak di ulu hatinya. Olivia tidak hanya menyindir soal tumbler, tapi Olivia sekarang tahu 100% bahwa Doni telah berbohong kepada Marcella tentang kejadian di GOR minggu lalu.
“Iya ya, aneh banget. Mungkin orangnya lupa, atau emang jahat aja mau ngambil”, timpal Marcella polos sambil terkekeh, sama sekali tidak sadar kalau 'orang jahat' yang dia maksud sedang duduk pucat di sampingnya. “Nah, karena pesenannya udah beres, aku pergi ke kasir depan dulu ya, buat naruh ini. Sekalian mau cuci tangan juga. Kalian aku tinggal bentar ya, jangan berantem.”
Marcella berdiri dari kursinya, memberikan tepukan ringan di bahu Doni sebelum melangkah pergi meninggalkan meja makan.
Begitu sosok Marcella hilang di balik kerumunan pengunjung kafe, suasana di meja itu mendadak berubah total. Mencekam, bagaikan langit mendung yang gelap menjelang badai. Bagi Doni, kepergian Marcella rasanya seperti mencabut satu-satunya perisai pelindung yang dia miliki. Riuh suara musik dan tawa pengunjung kafe di sekeliling mereka seolah mendadak lenyap, menyisakan keheningan yang mencekik di antara mereka berdua.
Doni buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya, mencoba membuka pola kunci layarnya berkali-kali dengan tangan gemetar, namun gagal. Pada akhirnya, dia hanya berpura-pura menatap layar yang mati demi menghindari kontak mata dengan adik pacarnya di seberang meja.
Namun, Olivia tidak membiarkan Doni melarikan diri begitu saja.
Gadis remaja itu perlahan menurunkan tangannya dari dagu, memajukan tubuhnya ke arah meja, memangkas jarak di antara mereka. Rambutnya yang masih agak lembab mengeluarkan wangi sampo yang membuat fokus Doni buyar. Matanya yang tajam menatap Doni tanpa keraguan sedikit pun, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan pria kuliahan di depannya itu.
Dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan, namun terdengar begitu menuntut dan mengintimidasi di telinga Doni, Olivia berbisik:
“Jadi... sampai kapan Kak Doni mau nyimpen tumbler aku?”
Doni membeku. Lidahnya mendadak kelu, mati kutu di bawah tatapan si gadis SMA.