NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Teknik yang Diejek

Hari pertama pelatihan di Akademi Batu Langit dimulai dengan rapat umum di halaman utama. Ratusan murid baru berkumpul rapi, mendengarkan penjelasan Guru Gao tentang aturan dan kurikulum akademi.

"Di sini, kita mempelajari Jalan Inti Batu—teknik dasar yang diajarkan Sekte Akar Batu, yang mengajarkan cara menyerap energi bumi, memadatkannya menjadi inti, dan menggunakannya untuk memperkuat serangan maupun pertahanan," jelas Guru Gao dengan suara lantang. "Teknik ini telah teruji ribuan tahun. Siapa pun yang mengikuti jalan ini akan berkembang pesat. Dan ingat: jangan pernah mencoba teknik aneh buatan sendiri, itu hanya akan membuang waktu dan melukai dirimu sendiri!"

Saat ia berbicara, matanya sengaja melirik tajam ke arah Lin Mo. Semua murid pun ikut menoleh, banyak yang menyeringai meremehkan. Mereka sudah mendengar kabar bahwa murid baru ini masuk hanya karena kekuatan fisik kasar, dan tidak bisa berlatih teknik resmi.

Pelajaran dimulai. Guru Gao mengajarkan pola pernapasan pertama: menarik energi ke dada, memutarnya di sekitar inti, lalu menyalurkannya ke lengan. Murid-murid lain segera melakukannya dengan rapi—cahaya kekuningan samar mulai menyelimuti tubuh mereka.

Lin Mo mencoba menirunya sebentar, namun dadanya langsung terasa sesak dan perutnya mual. Ia tahu jalan ini tidak cocok. Ia diam-diam mengubah pola napasnya kembali ke teknik Jalan Akar: menurunkan kesadaran ke telapak kaki, menyatu dengan tanah, membiarkan kekuatan mengalir perlahan dari bawah ke atas.

Tubuhnya tidak memancarkan cahaya terang seperti murid lain. Bahkan sebaliknya, ia terlihat lebih tenang dan suram, seolah menyatu dengan bayangan di bawah kakinya.

"Lihat dia!" seru Zhang Hao dengan suara keras agar semua orang mendengar. "Bahkan tidak bisa mengeluarkan sedikit pun cahaya energi! Bukankah aku bilang dia cuma penipu?"

Tawa riuh terdengar di seluruh barisan.

"Benar! Berani masuk akademi tapi tidak bisa teknik dasar!"

"Mungkin dia mengira dengan berdiri diam saja energi akan datang sendiri?"

Guru Gao menyunggingkan senyum puas, lalu berjalan mendekati Lin Mo. "Kenapa tidak berlatih sesuai instruksi? Atau kau memang tidak punya kemampuan sedikit pun?"

"Aku sedang berlatih sesuai caraku sendiri," jawab Lin Mo tenang. "Cara ini tidak melukai tubuhku, dan kemajuannya cukup baik bagiku."

"Cara sendiri?" Guru Gao tertawa sinis. "Teknik yang tidak ada di buku resmi hanyalah sampah! Kau pikir ribuan tahun kebijaksanaan leluhur kalah dengan penemuan anak bodoh sepertimu? Jika kau terus seperti ini, jangan harap ikut latihan kelompok, jangan harap dapat sumber daya, dan jangan harap bertahan lebih dari tiga bulan di sini!"

Ia menoleh ke murid lain. "Ingat contoh ini! Jangan ada yang meniru kesalahannya! Siapa pun yang kedapatan berlatih teknik tidak resmi, akan langsung dikeluarkan!"

Sepanjang hari itu, Lin Mo menjadi bahan ejekan. Saat latihan gerak, ia tidak menggunakan energi untuk melompat tinggi atau memukul keras seperti yang diajarkan. Ia hanya bergerak dengan kestabilan sempurna, setiap langkah menancap kuat di tanah, setiap pukulan berat dan padat. Namun karena tidak ada kilauan energi, gerakannya terlihat kaku dan tidak berarti di mata mereka.

Saat istirahat siang, tidak ada satu pun yang mau duduk bersamanya. Bahkan murid yang ramah pun menjauh, takut dianggap teman penipu. Lin Mo tidak peduli. Ia duduk di bawah pohon tua di sudut halaman, memejamkan mata dan terus melatih kesatuannya dengan tanah.

Di sana, ia justru menemukan hal baru. Karena tidak membagi fokus pada kilauan energi, ia bisa merasakan getaran halus dari bebatuan di sekitarnya—arah angin, berat langkah kaki orang lain, bahkan aliran air di sumur di bawah halaman. Kesadarannya melebar jauh lebih luas daripada murid lain yang hanya fokus pada inti di dalam tubuh mereka sendiri.

Sore harinya, ada sesi latihan tanding bebas. Zhang Hao sengaja maju ke arahnya, wajahnya penuh tantangan.

"Hei sampah! Berani bertarung denganku? Biar aku tunjukkan betapa lemahnya teknik buatanmu itu!"

Lin Mo menggeleng pelan. "Kita sedang berlatih dasar. Tidak perlu saling melukai."

"Takut ya?" Zhang Hao menyeringai, lalu tanpa peringatan langsung melompat maju. Tinjunya diselimuti energi kuning pekat, membawa kekuatan yang cukup untuk melumpuhkan orang biasa. "Terima ini! Teknik Batu Pecah!"

Semua orang berteriak heboh. Mereka yakin Lin Mo pasti akan terpental jauh.

Namun saat tinju itu hampir menyentuh dadanya, Lin Mo tidak mundur. Ia sedikit memiringkan tubuh, membiarkan tenaga lawan meleset, lalu menempelkan telapak tangannya perlahan di lengan Zhang Hao. Ia tidak menolak dengan kekuatan berlebih—ia hanya menyalurkan rasa berat dan kestabilan bumi.

Zhang Hao merasa seolah-olah tinjunya menghantam tebing gunung yang tertanam ribuan tahun. Tenaganya terserap habis, kakinya kehilangan pijakan, dan ia terhuyung jatuh terguling ke tanah.

Keheningan kembali menyelimuti halaman.

"Kau... kau menggunakan tipu daya!" bentak Zhang Hao bangkit dengan wajah merah padam.

"Bukan tipu daya," jawab Lin Mo tenang. "Kau memukul dengan kekuatan yang ingin meledak keluar. Aku hanya berdiri dengan kekuatan yang ingin menetap di tempat. Batu yang ingin terlempar tidak akan pernah mengalahkan batu yang tertanam kuat."

Guru Gao melihat kejadian itu dari jauh, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa menyalahkan Lin Mo karena tidak menyerang duluan, tapi ia semakin yakin harus segera menyingkirkan anak ini.

Malam itu, saat Lin Mo kembali ke asrama yang sepi, ia mengeluarkan batu hitamnya.

"Mereka menertawakan akar karena tidak bersinar seperti bunga," suara samar terdengar lembut di benaknya. "Tapi bunga layu dalam satu musim. Akar lah yang membuat pohon tetap berdiri melewati seribu badai."

Lin Mo tersenyum lega. Ia tahu jalannya sepi, tidak dipahami siapa pun, dan penuh rintangan. Tapi ia tidak akan berhenti. Biarkan mereka mengejar kilauan sesaat. Ia akan terus menanam akarnya semakin dalam. Suatu hari nanti, mereka akan terkejut melihat seberapa tinggi pohon yang tumbuh dari tanah yang mereka remehkan.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!