Untuk pertama kalinya Laras belajar bekerja dengan orang lain dan jatuh cinta di rumah besar itu setelah menuruti kemauan kedua orang tuanya.
Di situ ia hanya akrab dengan Vano saja teman mainnya sedari kecil, sedangkan Vim adalah kakak lelaki Vano yang kelak memberi perubahan pada Laras.
Ujian cinta dan kehidupan membuat Laras menjadi wanita yang tidak mau pasrah dengan keadaan.
Nama, cerita dan tempat tidak berhubungan dengan siapapun.
Ini adalah karya kedua.
Jangan lupa baca novel receh yang pertama Semburat Jingga ya.
Sekali lagi senang bisa menyalurkan hobi di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Memilih Satu Dari Dua.
"Begitulah Harti dengan hadirnya kami di sini, berarti niat baik ini benar adanya." Itu kata-kata Ibu Maharani kepada Ibunya Laras.
Ibu Maharani datang dengan tiga orang yang dituakan dalam keluarga mereka dan satu lagi dari lingkungan tempat tinggal mereka.
"Kami menghargai niat baik Ibu tapi ijinkan kami bertanya pada Laras sebelumnya."
"Boleh saja. Semoga Laras lebih senang menjadi istri Vim."
Pembicaraan berakhir. Ibu Maharani beserta rombongan pulang. Ibu segera menelpon ayah Laras untuk memberitahu tentang pertemuan malam itu. Ayah sedang berada di rumah orang tuanya di luar kota.
"Bagaimana Laras. Tadi Ibu sengaja mengajakmu duduk bersama, sebab kau sudah terbiasa dengan Ibu Maharani.
Sekarang kau boleh memilih Rony atau Vim."
"Menurut Ibu bagaimana? Siapa yang harus kupilih?"
"Ibu serahkan padamu saja. Kemarin Ibu sudah setuju saran ayah agar kau mau menerima permintaan Ibu Maharani, agar kau tinggal di rumah beliau. Sekarang Ibu tidak memaksamu sayang."
"Rony, Vim." Laras mengulang nama itu beberapa kali.
Laras sendiri tidak pasti mau pilih yang mana. Kedua-duanya tidak ia cintai. Vim itu ganteng. Tetapi Laras baru tahap mengagumi saja.
"Bu bolehkah Laras.."
"Pilihlah Laras. Tentu ayahmu tidak mau malu dengan menolak keduanya. Pilih salah satu."
Bagaimana mau memilih. Aku hanya mengenal Vim saja.
"Keluarga Ibu Maharani sudah dekat dengan kita sejak dulu Laras. Mereka telah banyak memberikan bantuan. Sebenarnya Ibu kasihan padamu nak, jika bersama mereka apakah kau mencintai mereka."
Cinta? Sepertinya kata itu harus diabaikan saja demi nama baik keluarga. Laras tak memiliki informasi apapun tentang Rony. Tiba-tiba saja keluarga Rony datang melamar. Lalu keluarga Vim juga datang melamar, karena Vim tidak ingin Laras dinikahi Rony.
Lalu kata-kata Vim kemarin malam terngiang di telinga Laras. Pilih saja Vim. Vim tidak rela Laras dimiliki Rony.
"Ibu, aku setuju dengan Ibu. Aku memilih Vim."
"Apa Laras? Kau serius nak?"
"Iya bu. Aku lebih mengenalnya daripada Rony."
"Oh anakku." Ibu memeluk Laras dengan haru.
"Maafkan Ibu nak."
"Ibu tidak salah kok. Ini jalan hidup Laras."
"Ibu mendoakan kebahagiaanmu selalu Laras."
"Laras sayang Ibu."
Ibu dan anak saling berpelukan dengan berurai air mata. Tidak menyangka jodoh Laras akan secepat itu.
"Naluri Ibu mengatakan Vim orang yang bertanggung jawab dan akan melindungimu. Kau tahu, sewaktu kalian-kau dan Vano- masih kecil, Vim selalu menjaga kalian saat bermain bersama. Vim mengekori kemana pun kalian bermain di halaman. Jika kakimu tersandung atau tertusuk kayu, Vim selalu cepat memujukmu agar tidak menangis. Dia menyayangimu seperti adiknya sendiri."
Laras termangu mendengar cerita Ibu. Vim punya perhatian dan belas kasihan juga rupanya.
"Malam semakin larut. Sekarang tidurlah." Lanjut Ibu.
"Laras belum mengantuk bu."
"Tidur-tiduran saja. Lama kelamaan mengantuk dan tertidur."
Laras dan Ibu berjalan ke kamar masing-masing. Pintu dikunci oleh Laras dan ia merebahkan tubuh di atas pembaringan. Angannya sedang berandai-andai. Membayangkan menjadi istri Vim saja tidak pernah. Seandainya resmi menjadi istri Vim, apa yang harus ia lakukan. Mengurus semua keperluan Vim setiap hari dan bila malam seperti ini berada satu pembaringan dengannya. Sampai di sini Laras menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Ia malu sendiri.
"Hai mas."
Laras mendapatkan ide untuk mencari informasi dari Vim. Barangkali Vim mau memberikan bocoran tentang Tony sedikit saja.
Sepuluh menit berlalu belum ada jawaban.
"Hai. Kau belum tidur semalam ini?"
"Mau tidur mas."
"Ya sudah tidur sana."
"Aku mau bertanya sesuatu pada mas."
"Tentang? Besok kan bisa."
Chat terlihat lancar. Laras heran kenapa ia bisa selancar itu mengobrol dengan Vim.
"Buat bahan analisa."
"Analisa apa. Anak kecil, ini sudah larut malam, sebaiknya kau tidur."
"Anak kecil? Yeeey aku sudah dewasa, sebentar lagi jadi istri orang."
"Oya? Istri siapa?"
"Istri...istri..makanya aku perlu informasi untuk menentukan calon suami."
"Ingin tahu tentang apa?"
"Tentang Rony."
"Apa itu perlu??"
"Perlu dong. Katakan padaku mas siapa dia Rony."
Lama Laras menunggu balasan dari Vim. Tak jua Vim mengetik.
Laras memandangi ponsel berharap mendapat balasan.
"Yang harus kau ketahui dia itu jelmaan manusia dari negeri angin hingga sifatnya seperti angin. Kadang bertiup besar, kadang kecil dan yang pastinya dia siap menghempaskanmu di mana saja. Mengerti?"
"Tentu saja aku tidak mengerti."
Kalimat-kalimat Vim sulit dicerna oleh Laras.
"Yang perlu kau ketahui lagi. Aku akan jadi suami yang bertanggung jawab dan membahagiakanmu. Sampai di sini mengerti?"
Wajah Laras cemberut. Jawaban yang diinginkan tidak diterimanya dengan sempurna.
"Aku mengantuk." Balas Laras.
"Cuci kaki dan tidur."
"Uuuuhh."
"Satu pertanyaan, kapan jawaban akan diberikan?"
"Jawaban? Oh yang itu ya. Secepatnya."
"Bagus. Aku tunggu."
"Aku mengantuk sekali."
Laras menguap panjang. Percuma mencari jawaban pada Vim. Dia tidak mau menyebutkan perihal Rony beserta sisi baiknya.
"Tidurlah."
"Sampai jumpa besok mas."
Aku belum begitu rapat dengannya. Tuhan jika ini takdirmu, berikan aku cinta seutuhnya dari dia dan hadirkan cinta dalam hatiku.
...~~...
"Ibu Laras pergi dulu ya!"
"Laras sarapan dulu nak! Ini loh gurame terbang nya sudah matang. Kemari dulu!"
Laras menampakkan wajahnya di hadapan Ibu.
"Nanti sore saja bu. Laras kesiangan. Ibu sih nggak bangunkan Laras."
"Kau tidur pulas Laras. Ayo sarapan dulu. Duduk."
"Hemm baiklah tapi sedikit saja. Perut Laras belum bisa menerima banyak makanan sepagi ini bu."
"Ya, ya ini selagi hangat ikannya."
"Enak Bu."
"Ibu yang masak."
"Besok ajari Laras ya bu menggoreng gurame terbang."
"Kau mau belajar?"
"Iya bu."
"Ibu senang mendengarnya. Tambah nasinya?"
"Hehehh..tidak. Laras makan sisa ikannya saja."
"Kapan Ibu bisa memberikan jawaban kepada mereka?"
Laras berpikir sebentar.
" Kepada keluarga Rony, Ibu sudah boleh memberikan jawaban. Ibu dan ayah pasti lebih pintar bagaimana menjawabnya. Kan Ibu tahu siapa yang Laras pilih."
"Kau tidak menyesal kan nantinya."
Kepala Laras menggeleng.
"Laras harus memilih satu dari keduanya bu. Laras pilih Vim."
"Semoga Vim yang terbaik buatmu."
"Aamiin. Makasih Bu."
"Nah ini kau bawa buat Vim."
Apaan sih Ibu. Belum-belum sudah memberikan bingkisan untuk calon mantu.
"Ini apa bu tapi_.."
"Bawa saja. Ini kesukaan Vim. Waktu kecil kalau datang kemari sama Ibunya, dia bisa banyak menghabiskan kue ini."
"Ini kan cuma bolu bu."
"Iya bolu tapi kesukaan Vim."
"Di sana banyak kue yang lebih enak-enak."
Laras memandangi bolu-bolu kecil yang terbungkus plastik tersebut. Dua bungkus plastik satu kiloan.
"Entar dikira Laras yang perhatian membawakan bolu."
"Ya enggak apa sih Laras."
"Laras pergi dulu bu."
"Pergilah. Hati-hati ya."
Kebiasaan pagi yang tidak pernah membosankan buat Laras melangkahkan kakinya ke rumah Ibu Maharani. Ia menjalaninya dengan suka cita.
Hari ini bukan jadwal Vim berolah
raga pagi sehingga Laras tidak membuatkan sarapan pagi. Vim akan makan jam sepuluh nanti. Berarti saat ini Vim ada di kamarnya.
Laras mencari toples di lemari. Kue yang dibawa dimasukkan ke dalam toples. Sementara satu toples yang diisi dan dibiarkan di atas meja Laras dulu. Bila Vim telah keluar kamar, Laras akan memasukkan toples tersebut ke dalam kamar Vim.
"Ras minggir sedikit."
Laras menoleh ke arah suara. Ada Vim di situ.
"Lewat saja mas, masih lebar kok."
"Mengapa jongkok begitu?"
"Mencari kain yang sudah jadi."
"Duduk dong."
"Susah mencari ditumpukan."
Laras tetap mencari kain yang.dibutuhkan. Vim sudah berlalu ke ruang makan. Kembali lagi dengan segelas susu ditangan. Melewati meja Laras, Vim melihat toples beserta isinya.
Dia berhenti dan meraih toples.
"Aku minta ini." Ucap Vim.
"Ambil saja. Itu dari Ibu buat mas."
Vim memakannya beberapa biji.
"Nanti bawa ke kamarku ya."
"Bawa sekalian saja mas."
"Antar ke kamarku."
"Baiklah."
Tak perlu lama untuk Laras mengantarkan toples berisi kue itu. Laras takut jika kelamaan menunggu Vim akan mengeluar
kan suara besarnya pada Laras. Setelah selesai menghitung kain yang telah diberi plastik dan label, Laras menghantar kue ke kamar Vim.
"Mas aku masuk."
Meletakkan kue di atas meja dan membalikkan badan hendak keluar.
"Masuklah. Tunggu jangan keluar dulu."
Dah dig dug jantung Laras berdetak cepat.
Apa yang mau Vim lakukan atau katakan padaku.
Vim berjalan mendekati Laras.
Laras hanya diam menunggu. Masih di posisi yang sama berdiri dekat dinding. Semakin dekat, Vimsemakin mendekatkan jarak mereka. Setelah dekat ia meletak
kan kedua tangannya ke dinding sehingga Laras berada di antara kedua lengan Vim yang sejajar.
Laras salah tingkah bercampur takut. Dia pernah sekamar dengan Vim dan ketakutan itu muncul lagi kali ini
"Mas mau..a..apa?"
Laras tergagap didekati seperti itu. Jarak mereka sangat dekat.
"Mau kamu."
Laras menutup matanya menahan takut. Takut atas apa yang akan dilakukan oleh Vim padanya.
"Mas, menjauh."
"Kau cantik."
Wajah Vim telah menyentuh wajah Laras. Terutama hidung Vim. Nafasnya membara. Ingin yang lebih dari Laras. Vim menatap mata Laras, hidung lalu bibir. Ia akan mengecup bibir Laras.
"Mas ingat."
"Laras kau..hhhh.."
Vim membuang muka ke kanan. Bayangan Aurora berkelebat di pelupuk mata barusan. Mengganggu mood Vim sesaat. Hasrat Vim pada Laras menguap seketika padahal barusan rasa itu begitu menggelora. Seperti ingin menenggelamkan Laras dalam lautan cinta Vim. Mengajak Laras menjelajah manisnya cinta. Tapi itu tadi sebelum bayangan Aurora mantan kekasihnya menyusup di antara mereka.
Vim mengusap wajahnya. Berusaha mengusir bayangan Aurora. Akhirnya ia mundur beberapa langkah dari Laras.
"Maaf. Maafkan aku Laras."
"Minum air putih mas."
Vim minum segelas air putih yang Laras berikan.
"Hampir saja mas lupa diri."
"Aku selalu lupa diri saat berada di dekatmu."
Sudah hampir tiga kali ini ia bermaksud menyentuh Laras. Kesemuanya dorongan yang berasal dari dalam diri tanpa bisa ia tahan. Itu hanya dirasakan saat bersama Laras. Sayangnya bayangan Aurora sering muncul akhir-akhir ini. Merusak rasa yang hadir.
"Jangan lupa yaa tinggalkan jejak di sini.😊"
LIKE, FAV & COMMENT.
sukses
semangat
mksh