Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi-pagi Buta.
"Kak Jiaqi, makasih ya dah mau mengantarkan aku sampai rumah," Jiaqi yang melihat Dimas mengatakan hal itu membuatnya tersenyum geli, "Apaan sih! Orang rumah kita juga bersebelahan." ucap Jiaqi.
"Oh iya, hehehe." Dimas malah terlihat cengengesan polos membuat Jiaqi geleng-geleng kepala, untung dia sahabat adiknya jika bukan, mungkin Jiaqi sudah menendangnya ke kolom keranda.
"Yaudah, masuk sana!!" ucap Jiaqi yang membuat pria di luar mobilnya mengangguk kecil. Jiaqi pun memasukkan mobilnya dalam pekarangan rumahnya.
Gelap yang Jiaqi tau, karena memang saat ini sudah larut malam. Jiaqi melirik jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul 01:30 am.
Jiaqi membuka pintu kamar Wati dan mendekati sang adik, Jiaqi tersenyum saat melihat wajah teduh Wati saat tidur. Jiaqi membenarkan selimut Wati hingga leher, mengusap rambutnya dan mengecup singkat kening sang adik yang di cintainya. Jiaqi pun segera keluar dari kamar itu dan menuju kamarnya sendiri.
Jiaqi meletakkan tas pada tempatnya, dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah 15 menit, Jiaqi pun akhirnya selesai dan langsung menidurkan dirinya pada ranjang dengan size besar itu.
'Jangan terlalu percaya diri dulu, aku memang sengaja mengalah karena aku kasian padamu'
Ucapan David masih terngiang-ngiang di kepala Jiaqi, apa maksudnya dari perkataan itu? Apa yang akan David lakukan padanya setelah ini? Jiaqi terlihat menghela nafas panjang. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya.
Tok... tok... tok...
Ceklek!!!
"Kak...?"
Jiaqi membuka matanya saat suara sang adik tengah memanggilnya, Jiaqi menoleh terlihat Wati sedang mengintip dari ambang pintu yang sudah terbuka karena sang adik, "Apa ada dek? Kenapa terbangun?" tanya Jiaqi saat dirinya menghampiri Wati yang masih berdiri di pintu kamarnya.
"Aku gak bisa tidur kak," Wati pun memasuki kamar Jiaqi dengan bantal yang dibawanya.
"Dek, kamu mau ngapain...?" tanya Jiaqi saat melihat Wati menaiki ranjangnya.
"Aku boleh tidur disini?" ucap Wati.
Jiaqi menarik nafas pelan lalu mengangguk, "Boleh, kalau gitu kakak tidur dikamar adek ya," Jiaqi berjalan ke arah ranjangnya untuk mengambil bantal. Namun Wati menahannya, "Kakak tidurnya disini aja gak usah kemana-mana," ucap Wati.
"A-apa...? B-baiklah," ucap Jiaqi gugup. Jiaqi pun menaiki ranjangnya dengan perasaan tak menentu.
***
"Aduh! Laparnya," Edwin yang telah tiba di rumahnya merasa lapar, ia melihat jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari karena tadi ia memilih untuk mampir sebentar ke rumah David sahabatnya. Edwin pun menuju kamar mandinya untuk mencuci muka setelah selesai, Edwin berniat keluar sebentar untuk mencari sesuatu yang dapat ia beli mengingat masih ada toko yang buka 24 jam di daerah rumahnya.
Setelah membayar semua yang ia beli Edwin pun segera keluar untuk pulang. Jalan terlihat sangat sepi mengingat ini masih jam 3 pagi mungkin kebanyakan orang masih tertidur pulas, sedangkan dirinya belum memejamkan matanya sama sekali. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang tadi siang ditemuinya, gadis yang tak sengaja ia tabrak sedang berada di taman seorang diri dengan jaket tebal berwajah putih yang ia kenakan, sedang apa gadis itu berada diluar saat pagi buta? mengingat udara dinginnya menusuk kulit, Edwin melihat gadis itu hanya menghela nafas yang menatap dengan pandangan kosong ke arah depan.
Edwin menghampiri gadis itu.
"Hai...." sapa Edwin saat dirinya tiba di samping gadis itu.
"......."
"Kita ketemu lagi."
"......"
Edwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus bagaimana memulai pembicaraan agar bisa menarik perhatian gadis itu kepadanya, "Kamu sedang apa disini pagi-pagi begini? Tidak bisa tidur ya?"
Dewi yang mulai kesal dengan pemuda di sampingnya mulai menoleh ke arah Edwin, "Bisa tidak!! Gak usah sok kenal!" Dewi pun berniat meninggalkan pria berkulit pucat itu.
"Tunggu!!" cegat Edwin. Ia memegang tangan gadis itu agar tak meninggalkannya, "Maaf, kalau aku membuatmu terganggu. Tapi aku ingin mengatakan kalau aku menyukaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu."
Dewi diam di tempat, mendengar kata-kata pria di belakangnya. Ini sungguh di luar dugaan Dewi bahwa pria itu menyukainya hanya sekali bertemu. Bagaimana bisa?
Mengingat gadis itu tak mengharapkan sebuah kata Cinta dari seseorang, karena dirinya tak ingin merasakan seperti yang ibunya rasakan.
Tak ingin mengenal kekerasan dalam cinta!
Tak ingin terluka hanya karena cinta!
Tak ingin menjadi bagian dari cinta!
Dan semua yang ada pada cinta ia gak ingin merasakannya.
Dewi menyentak tangan pria di dibelakangnya yang memegangi tangannya, "Aku tak butuh laki-laki sepertimu...! Jadi enyahlah dari hadapan ku!!"
Tangan Edwin terlepas dari tangan gadis itu. Laki-laki itu masih tidak mengerti ada apa di balik wajah dingin itu, terlihat sangat jelas bahwa gadis itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
....
Drrtt... drrtt... drrtt...
Jiaqi menggeliat saat ponselnya berdering, ia segera mengambilnya dan langsung mengangkatnya, "Halo."
"Kau masih tidur...?"
"Emm... Ada apa Ton?" tanya Jiaqi yang masih belum berniat membuka matanya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu! Temui aku di kafe Koleksi sekarang!!"
Tut... tut...
"Ton... T-tony! Haiiis anak itu," keluh Jiaqi. laki-laki itu menoleh ke sampingnya ternyata Wati masih tertidur pulas. Jiaqi pun membangunkan dirinya dengan pelan agar tak membangunkan sang adik, ia pun segera menuju kamar mandinya.
***
"Jiaqi disini...," Tony melambaikan tangannya saat melihat Jiaqi sudah berada di kafe yang di mintanya. Jiaqi menghampiri sahabatnya yang tengah menunggunya.
"Ada apa Ton? Kenapa kau pagi-pagi sekali menyuruhku datang kesini?" tanya Jiaqi yang sudah duduk di kursinya.
"Aku ingin meminta pendapatmu!" ucap Tony pada Jiaqi yang mengernyitkan dahinya bingung.
"Tentang apa...?"
"Aku ingin menikahi Sera!!"
"Hah??"
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan rate kalian ya!! Agar aku bisa lebih semangat lagi dalam membuat cerita ini, Terimakasih. 😍💗💗💗
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣