NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Peluk Sebentar Lagi

Naila kembali ke Menteng menjelang sore dengan mata yang masih bengkak.

Larasati menyambutnya di ruang keluarga dan langsung memegang kedua pipinya. "Ya ampun, Nai. Kamu habis menangis?"

"Nonton film sedih."

"Film apa?"

"Film lama. Tentang anak kecil yang ditinggal."

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Larasati masih ingin bertanya, tetapi Naila mengaku mengantuk dan masuk ke kamar.

Begitu pintu tertutup, Larasati mengirim pesan kepada Radhika.

Naila pulang dengan mata bengkak. Katanya karena film. Kamu sebagai kakak gimana, sih?

Belum puas, ia menelepon. Radhika menjawab di tengah suara mesin kendaraan.

"Bunda bilang mungkin dia habis patah hati," kata Larasati sengaja. "Kamu nggak khawatir?"

"Iya, Bunda. Aku tahu."

"Kamu tahu apa?"

"Nanti aku urus."

Panggilan berakhir sebelum Larasati sempat memperoleh jawaban lain.

Naila tidak tahu percakapan itu terjadi. Ia menempelkan masker uap hangat ke mata, lalu berbaring dengan niat tidur tiga puluh menit.

Saat terbangun, kamar sudah gelap. Angka pada jam meja menunjukkan pukul delapan lewat empat menit.

Masker matanya telah dilepas dan diletakkan rapi di nakas.

Naila menoleh.

Di kursi tunggal dekat kepala ranjang, Radhika tertidur dengan kepala sedikit miring. Ia masih mengenakan kemeja dari perjalanan. Ada bayangan lelah di bawah matanya, dan rambut yang biasanya rapi jatuh ke dahi.

Naila duduk perlahan. Lelaki itu seharusnya berada di Singapura selama satu minggu. Namun, ia benar-benar ada di sini, hanya beberapa langkah dari ranjangnya.

Ia memperhatikan koper kabin kecil di dekat kursi, lalu kartu naik pesawat yang menyembul dari saku luarnya. Bukan mimpi. Radhika benar-benar menyeberangi negara, pulang, dan memilih tidur di kursi sempit agar tidak membangunkannya.

Naila menurunkan kaki ke lantai. Ujung jarinya sempat terulur, ingin memastikan wajah itu nyata, tetapi berhenti beberapa sentimeter dari pipi Radhika.

Seolah merasakan gerakan, Radhika membuka mata.

"Bangun?" Suaranya serak. Ia mengusap wajah, lalu mencoba tersenyum ringan. "Nangis lagi? Cengeng banget."

Air mata Naila langsung jatuh.

Senyum Radhika lenyap. Ia baru berdiri ketika Naila turun dari ranjang dan berlari memeluknya.

Tubuh Radhika mundur setengah langkah menerima benturan itu. Kedua lengannya kemudian menutup punggung Naila dengan erat.

"Mas Radhika jahat," isak Naila di dadanya. "Kakak jelek."

"Iya. Mas jahat. Mas jelek."

"Mas buang aku."

"Iya. Salah Mas."

"Kenapa waktu itu bilang bukan kakakku?"

Radhika menelan napas. "Karena kamu terus mengejar mobil dan memukul pintu sampai tanganmu merah. Mas pikir kalau kamu marah, kamu akan lebih mudah pergi. Mas baru sepuluh tahun dan merasa itu keputusan paling masuk akal."

"Nggak masuk akal."

"Iya. Bodoh sekali."

"Mas juga bilang nggak mau aku."

"Padahal setelah mobilmu pergi, Mas lari sampai jatuh di jalan." Telapak tangan Radhika mengusap rambutnya. "Mas pulang sambil nangis dan dimarahi Bunda karena berbohong sama kamu."

Tangis Naila pecah lebih keras. "Kenapa baru bilang sekarang?"

"Mas takut. Waktu kita ketemu lagi dan kamu benar-benar nggak kenal, Mas sakit hati. Mas malah menghukummu karena sesuatu yang bukan salahmu."

Setiap tuduhan diterima tanpa satu bantahan. Radhika mengusap punggungnya dengan satu tangan, sementara tangan lain menahan bagian belakang kepala Naila. Ia membiarkan kemejanya basah oleh air mata.

Beberapa jam sebelumnya, saat pesawat dari Singapura baru mendarat, Wulan menelepon. Ia menceritakan seluruh hal yang dulu tidak diketahui Radhika: tangisan Naila sepanjang perjalanan, malam-malam ketika gadis kecil itu berjalan dalam tidur mencari Mas Aka, demam berulang, serta ingatan yang kemudian tertutup.

Wulan meminta satu hal sebagai seorang ibu.

Tolong jaga Naila. Jangan biarkan dia merasa dibuang lagi.

Radhika tidak membutuhkan permintaan itu untuk pulang. Ia sudah memerintahkan Reyhan menyiapkan pesawat sejak mendengar tangis Naila. Namun, penjelasan Wulan membuatnya mengerti seberapa dalam satu kalimat kejam dari anak sepuluh tahun melukai gadis kecil yang paling memercayainya.

"Dengar Mas," katanya ketika isak Naila mulai melemah. Ia mundur sedikit agar bisa melihat wajahnya. "Mas minta maaf. Mas nggak bisa mengubah yang dulu, tapi Mas akan ganti semuanya. Mas bakal lebih baik daripada waktu kita kecil. Mas nggak akan ninggalin kamu lagi."

Naila mengusap hidung dengan punggung tangan. "Janji?"

"Janji."

"Angkat tangan."

Radhika mengangkat tangan kanan tanpa bertanya.

"Pakai kelingking."

Ia menekuk jari lain dan menyodorkan kelingking. Naila mengaitkannya dengan jari kecilnya sendiri.

"Seratus tahun nggak boleh berubah," kata Naila.

"Seratus tahun."

"Kalau bohong?"

"Semua pohon lemon jadi milikmu."

"Memangnya sekarang bukan?"

Radhika terdiam, sadar telah membocorkan sesuatu. Naila hampir bertanya, tetapi lelaki itu menempelkan ibu jarinya ke ibu jari Naila untuk mengesahkan janji.

"Pokoknya nggak bohong."

Naila belum melepaskan kelingking. "Kalau Mas pergi kerja, harus bilang. Kalau sibuk, tetap balas pesan. Nggak boleh hapus aku lagi."

"Iya."

"Kalau aku marah, Mas nggak boleh langsung pergi."

"Iya."

"Kalau aku salah?"

"Mas tegur. Tapi Mas tetap di sini."

Barulah Naila melepas kaitan jari mereka. Janji sederhana itu tidak dapat mengembalikan empat belas tahun, tetapi untuk pertama kali, anak kecil dalam ingatannya tidak lagi berdiri sendirian di belakang kaca mobil.

Naila akhirnya tertawa kecil di sela sisa tangis. Radhika mengusap air di bawah matanya dengan ibu jari.

"Nah, begitu lebih bagus."

"Mas pulang cuma karena aku nangis?"

"Kamu nangis segitu, masa Mas diam saja?"

"Terus kerjaan Mas?"

"Reyhan pindahkan rapat pagi jadi daring. Sisanya dikerjakan tim."

"Mas sampai membuat semua orang repot."

"Mereka dibayar untuk mengatur jadwal."

"Aku nggak dibayar untuk merasa bersalah."

Radhika mencubit pelan ujung hidungnya. "Jangan merasa bersalah. Mas pulang karena Mas mau."

"Tapi perjalanannya jauh."

"Cuma sebentar."

"Berapa lama Mas di pesawat?"

"Nggak usah dihitung."

Naila memandang wajah lelah itu dan dadanya kembali sesak, kali ini oleh rasa yang lebih hangat. "Lima ratus jutanya aku transfer balik saja, ya. Aku cuma bercanda waktu minta."

"Nggak perlu. Pakai buat kebutuhanmu."

"Terlalu banyak."

"Gaji pokok Mas memang nggak besar. Tapi ada komisi, bonus, dividen. Uang Mas nggak kurang."

Naila mendengus. "Orang yang jual aplikasi puluhan miliar masih bilang gajinya kecil."

"Itu dua hal berbeda."

"Licik."

"Belajar dari kamu."

Mereka kembali tersenyum. Baru saat itu Radhika menyadari meja makan kecil di kamar masih kosong.

"Kamu sudah makan?"

Naila menggeleng.

"Dari siang?"

"Tadi minum teh."

Radhika melihat jam. "Duduk. Mas masak."

"Mas baru pulang. Istirahat saja."

"Mas punya waktu sampai jam sembilan."

"Jam sembilan kenapa?"

"Harus berangkat lagi. Pekerjaan Singapura sudah dipindah daring, tapi ada pertemuan luar negeri yang nggak bisa dibatalkan."

Wajah Naila langsung jatuh. Radhika menepuk kepalanya pelan.

"Bukan ninggalin. Mas kerja, lalu pulang lagi. Janjinya tetap berlaku."

Di dapur, Radhika menggulung lengan kemeja dan memasak mie kuah dengan telur, irisan ayam, sawi, serta sedikit bawang goreng. Naila duduk di bangku dekat meja persiapan, mengikuti setiap gerakannya.

"Mas benar-benar bisa masak."

"Waktu kamu kecil, makanan lembutmu sering Mas yang buat."

"Umur Mas waktu itu berapa?"

"Enam atau tujuh. Bunda yang menyalakan kompor dan mengawasi. Mas cuma mengaduk, memotong pakai pisau plastik, lalu merasa paling jago sedunia."

"Berarti dari dulu sombong."

"Dari dulu kamu juga banyak protes."

"Aku ingat kursi makanku warna kuning."

"Dan kamu selalu melempar kacang polong ke lantai."

"Aku nggak suka kacang."

"Bukan alergi. Kamu cuma nggak suka bentuknya. Setelah dilempar, kamu minta ayam dua kali."

Naila tertawa. Potongan ingatan itu muncul jelas: Radhika kecil memunguti sayur sambil cemberut, sementara Larasati di belakangnya mengingatkan agar tidak memanjakan Lemon.

Radhika menaruh semangkuk mie di depannya dan meniup kuah pada sendok pertama. Naila mengambil alih sendok itu sebelum disuapi.

"Aku sudah besar."

"Tadi nangis seperti umur empat."

Naila menendang ringan sisi sepatunya di bawah meja. Radhika membiarkan.

Suapan pertama membuat Naila berhenti. Kuahnya ringan, sedikit manis, dengan aroma bawang yang menenangkan. Sebuah ingatan kecil muncul: ia duduk di kursi tinggi, menunggu Mas Aka meniup sendok yang sama.

"Rasanya kayak waktu kecil," bisiknya.

Radhika tidak menjawab. Ia hanya duduk di seberang dan menunggu sampai Naila menghabiskan mie, telur, ayam, bahkan seluruh kuahnya.

Setelah mangkuk kosong, Naila mendorongnya ke depan dengan bangga. "Lihat. Aku nurut."

"Bagus. Besok juga begitu meski Mas nggak ada."

"Mas video call saat aku makan."

"Kalau zona waktunya memungkinkan."

"Tadi janji harus balas pesan."

Radhika mengangkat kedua tangan menyerah. "Baik. Video call."

Menjelang pukul sembilan, suara baling-baling terdengar dari belakang rumah. Sebuah helikopter menunggu di landasan, siap membawa Radhika ke Halim, tempat pesawat pribadinya telah disiapkan untuk penerbangan lanjutan.

Naila mengantarnya sampai batas aman landasan. Angin dari baling-baling menerbangkan rambutnya.

"Mas!"

Radhika yang sudah menaiki anak tangga menoleh.

"Cepat pulang!"

Ia mengangkat tangan kanan, menunjukkan kelingkingnya. "Mas ingat janji."

"Jangan lupa oleh-oleh!"

"Katanya cuma minta Mas pulang."

"Itu permintaan berbeda!"

Radhika akhirnya tertawa. Suaranya nyaris tenggelam oleh mesin, tetapi Naila melihat jelas senyum itu sebelum pintu helikopter ditutup.

Naila membalas dengan kelingking terangkat. Ia terus melambai sampai helikopter menjadi titik kecil di langit Jakarta.

Satu jam kemudian, setelah berpindah ke pesawat pribadi di Halim, Radhika baru membuka laptop ketika telepon dari Eyang Notohadi masuk.

"Kamu lanjut ke luar negeri malam ini?" tanya sang kakek.

"Iya, Eyang."

"Kalau begitu sekalian jenguk Anindya. Dia kuliah sendirian di sana. Kasihan kalau nggak ada keluarga yang datang."

Radhika memandang gelap malam di balik jendela pesawat.

Nama Anindya baru saja mengubah perjalanan bisnis biasa menjadi urusan keluarga yang tidak ia rencanakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!