Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Selama Ini Uang Siapa
Pagi setelah pulang dari Girisari, Laras datang ke dapur membawa dua keranjang sayur yang telah dicuci dan dibungkus menurut jenisnya.
“Labu siam dari kebun Pak Karto, daun singkong dari kelompok tani sebelah utara,” katanya kepada Parjo. “Berat, harga, dan ongkos semuanya ada di sini.”
Parjo menerima catatan itu dengan dahi berkerut. “Bu Guru baru semalam tidak tidur. Tidak perlu membuktikan perjalanan kemarin benar-benar tugas.”
“Bukan untuk membuktikan kepada Bapak.”
Ia memilih tiga labu terbaik dan membawanya ke kantor Bima sebagai sampel lomba. Iwan berada di dalam, sedang melaporkan kondisi jalan desa.
“Nala hampir tidak tertolong,” katanya sebelum sadar Laras berdiri di pintu. “Mbah Inah bilang semua uang dan makanan Bu Laras ditinggal. Baju Nala juga sudah banyak tambalan.”
Laras mengetuk kusen. Iwan langsung menutup mulut.
“Saya membawa sampel,” katanya.
Bima menerima keranjang, tetapi matanya tetap pada wajah Laras. “Bagaimana Nala?”
“Demam turun. Puskesmas akan memeriksa hari ini.”
“Dan kau punya uang untuk makan?”
“Honor pertama belum habis.”
“Belum dibayarkan.”
Laras terdiam.
Bima mengeluarkan beberapa lembar uang dari laci. “Ambil sebagai uang muka.”
“Tidak.”
“Kau butuh.”
“Kalau itu bagian kontrak, buat bukti. Kalau uang Komandan sendiri, saya tidak mau.”
Iwan menunduk pura-pura memeriksa sepatu.
Bima akhirnya memanggil staf keuangan. Uang muka honor dibuatkan tanda terima resmi. Laras menandatangani, mengambil jumlah yang menjadi haknya, lalu kembali ke dapur.
Setelah ia pergi, Bima menulis surat kepada pengurus keluarga prajurit gugur. Rumah tangga almarhum Sertu Wahyu berhak mendapat pemantauan rutin, tetapi pelaksanaannya selama ini tersendat karena lokasi.
Ia menetapkan paket bulanan berupa beras, minyak, telur, susu bayi, dan pemeriksaan puskesmas. Dana bantuan satuan dipakai sesuai batas. Kekurangannya diambil dari tunjangan pribadinya, tetapi dicatat sebagai sumbangan tanpa nama.
Staf keuangan mengingatkan bahwa bantuan pribadi tidak boleh dicampurkan dengan kas batalyon. Bima meminta dua kuitansi terpisah. Satu untuk bagian yang menjadi hak keluarga prajurit gugur, satu lagi untuk sumbangan sukarela yang disalurkan melalui koperasi.
“Penerima harus tahu berapa jumlahnya,” kata Bima. “Yang tidak perlu mereka tahu hanya nama pemberi.”
“Kalau kontrak Bu Laras sudah berjalan, bantuan makan untuk dia dihentikan?”
“Hentikan sesuai tanggal gaji pertama. Jangan sampai dia menerima dua kali dan nanti dituduh menyalahgunakan.”
Setiap celah ditutup sebelum orang lain sempat mengubahnya menjadi senjata. Iwan melihat tumpukan bukti tersebut dan baru memahami mengapa Sudibyo semakin sulit menyerang Bima secara langsung.
“Jangan tulis nama saya,” katanya.
Iwan menghela napas. “Kalau nanti saya keceplosan lagi?”
“Kau saya pindahkan ke gudang bahan bakar.”
“Siap tutup mulut.”
Di kantor sebelah, Bu Ratna sedang menunjukkan catatan waktu kepada Sudibyo.
“Dia meninggalkan dapur pada hari pertama kerja, memakai jip, dokter, dan pengemudi. Pulang baru sore berikutnya.”
Sudibyo membaca tanpa terburu-buru. “Surat izin ada. Tugas pemasok selesai. Catatan medis juga ada.”
“Orang tidak membaca semua kertas itu. Orang hanya melihat jip Komandan dipakai janda desa.”
Sudibyo mengangkat wajah. “Sebarkan pertanyaan, bukan tuduhan. Siapa yang membayar bensin? Kenapa staf baru mendapat kendaraan? Kenapa anaknya lebih penting daripada pekerjaan?”
Bu Ratna tersenyum. “Kalau begitu mereka akan menyimpulkan sendiri.”
“Dan jangan sebut namaku.”
Menjelang siang, bisik-bisik mulai terdengar di pasar kecil kompleks. Laras membeli tempe ketika dua perempuan di belakangnya membahas biaya bensin ke Girisari. Ia tidak berbalik. Semua bukti ada, tetapi ia tahu kebenaran sering berjalan lebih lambat daripada gunjingan.
“Kalau setiap anak staf sakit lalu dijemput jip, bensin batalyon habis,” kata salah satunya.
“Apalagi dia baru masuk kerja.”
Penjual tempe melirik Laras dengan canggung. Laras membayar, menerima kembalian, lalu baru berbalik.
“Jip itu membawa sampel sayur yang sedang saya letakkan di dapur,” katanya. “Dokter memeriksa keluarga prajurit gugur sesuai tugas klinik. Kalau Ibu ingin tahu biaya bensin, laporan terbuka di perbekalan.”
Kedua perempuan itu salah tingkah.
“Kami tidak menyebut nama siapa-siapa.”
“Karena Ibu ingin saya mendengarnya tanpa bisa menjawab.” Laras mengangkat kantong tempe. “Sekarang saya sudah menjawab.”
Ia berjalan pergi tanpa menunggu permintaan maaf. Meski punggungnya tegak, telapak tangannya berkeringat. Menantang bisik-bisik satu kali tidak berarti sumbernya berhenti bekerja.
Saat kembali, staf keuangan menunggunya dengan amplop dan pemberitahuan honor. Di dalamnya terdapat rincian penghasilan, potongan makan, dan catatan bantuan keluarga.
Satu baris membuat Laras berhenti.
`Penyesuaian bantuan pengasuh lama, telah ditanggung donatur internal.`
“Apa maksudnya?”
Staf itu mengira Laras sudah tahu. “Sebelum kontrak Ibu terbit, sebagian uang lauk dan susu tidak masuk anggaran. Ada perwira yang menutup kekurangannya.”
“Perwira siapa?”
“Saya tidak boleh menyebut nama.”
Laras menoleh kepada Iwan yang baru datang membawa kabar dari Girisari. Wajah laki-laki itu langsung bersalah.
“Selama ini uang siapa?” tanyanya.
“Bu Laras...”
“Susu Nala. Obat. Uang yang disebut sisa dana desa. Tambahan makan saya. Siapa yang membayar?”
Iwan melihat ke kanan dan kiri, lalu menurunkan suara.
“Pak Bima. Dari tunjangannya sendiri. Tapi semuanya dititipkan lewat RT atau catatan satuan supaya tidak membuat Ibu merasa berutang.”
Laras menggenggam amplop. Potongan-potongan bantuan yang selama ini datang tanpa nama akhirnya membentuk satu wajah.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Katanya almarhum Wahyu sudah memberi hidupnya untuk negara. Keluarganya tidak boleh kelaparan.” Iwan ragu, lalu menambahkan, “Tapi susu untuk Nala dia pilih sendiri setelah tanya dokter.”
Dada Laras terasa sesak.
Ia teringat susu hangat yang selalu tersedia ketika tubuhnya lelah, obat yang tiba di Girisari sebelum ia sempat mengirim uang, dan tambahan tempe yang dulu dianggapnya kebetulan dapur. Bahkan hak untuk pulang dua kali sebulan ternyata tidak muncul karena keberuntungan. Bima menyiapkan semua itu tanpa pernah berdiri di depannya untuk meminta terima kasih.
Sudibyo menawarkan satu lembar kosong dan langsung menagih kedekatan. Bima memberikan berbulan-bulan perlindungan sambil menyembunyikan tangannya sendiri.
Perbedaan itu membuat mata Laras panas.
Iwan buru-buru mengalihkan pandangan. “Ada satu hal lagi. Di luar sedang ramai soal jip kemarin. Bu Laras jangan pulang sendirian malam ini.”
“Apakah Komandan tahu?”
“Belum semua.”
Iwan menunjukkan secarik pesan dari puskesmas. Nala sudah bisa minum lebih banyak, demamnya terus turun, dan pemeriksaan berikut dijadwalkan dua hari lagi. Laras membaca kabar itu dua kali sebelum bahunya akhirnya mengendur.
Laras melipat pemberitahuan honor dan memasukkannya ke dompet kain. Di sana sudah ada surat tugas dan ikat rambut Nala.
Sekarang ada satu utang yang tidak pernah diminta untuk dibayar, tetapi terasa jauh lebih berat daripada semua jebakan Sudibyo.
Dan untuk pertama kalinya, Laras ingin menanyakan alasan itu langsung kepada Bima.