Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bram Sanjaya menatap Devan dengan pandangan membunuh selama beberapa detik sebelum akhirnya pria tua itu tertawa keras.
Tawa yang menggema di seluruh ruangan itu terdengar sangat dipaksakan dan penuh dengan kelicikan.
"Bagus sekali, darah muda memang selalu penuh dengan semangat yang menggebu-gebu," ucap Bram sambil tersenyum sinis.
"Silakan duduk di meja utama, Nona Clarissa dan Tuan Devan." lanjutnya sambil menunjuk ke arah meja bundar paling besar di tengah ruangan.
Clarissa menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sebelum melangkah anggun menuju meja tersebut.
Devan berjalan santai mengikuti istrinya dan duduk tepat di sebelahnya layaknya seorang pengawal pribadi yang setia.
Tring. Tring.
Suara dentingan garpu dan pisau mulai terdengar saat para pelayan menghidangkan hidangan pembuka yang sangat mewah.
Namun suasana di meja utama itu terasa sangat kaku dan dingin layaknya berada di dalam kamar mayat.
Leo Sanjaya duduk di seberang Devan sambil terus memegangi tangan kanannya yang masih berdenyut nyeri di bawah meja.
Tatapan mata Leo mengisyaratkan dendam kesumat yang seolah siap menguliti Devan hidup-hidup saat itu juga.
Bram Sanjaya menyesap pelan anggur merah di gelasnya sebelum meletakkannya kembali dengan suara dentingan pelan.
"Nona Clarissa, kudengar Grup Rajawali sedang mengalami masalah besar dengan proyek apartemen di pusat kota," buka Bram memulai serangan utamanya malam itu.
Semua tamu penting di ruangan itu otomatis menghentikan kegiatan makan mereka dan menajamkan telinga.
"Banyak vendor material yang menarik diri, dan saham perusahaanmu turun dua persen pagi ini," tambah Bram dengan nada simpati yang sangat palsu.
Clarissa meletakkan alat makannya dan menatap lurus ke arah pria tua bangka di depannya itu.
"Itu hanya masalah internal kecil yang sudah berhasil kami atasi hari ini, Tuan Bram," jawab Clarissa dengan sangat tenang.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan dapur perusahaan orang lain."
Bram tertawa meremehkan mendengar jawaban keras kepala dari CEO muda tersebut.
"Masalah kecil? Aku punya laporan yang mengatakan kalau kalian baru saja memecat Manajer Pemasaran kalian karena korupsi," sindir Bram sengaja mengeraskan suaranya.
Para tamu undangan mulai berbisik-bisik satu sama lain menertawakan krisis yang sedang dialami oleh Grup Rajawali.
"Sebagai rekan bisnis lama mendiang kakekmu, aku merasa kasihan melihat perusahaan itu hancur di tangan seorang wanita muda," ucap Bram memasang wajah sedih.
"Aku bersedia membeli enam puluh persen saham Grup Rajawali malam ini juga untuk menyelamatkanmu dari kebangkrutan, Clarissa."
Brak.
Leo memukul meja pelan dengan tangan kirinya yang masih sehat.
"Terimalah tawaran ayahku itu Clarissa, dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tetap membelimu sebagai wanita simpananku," hina Leo secara terang-terangan.
Wajah Clarissa seketika memucat mendengar penghinaan luar biasa kotor di depan ratusan tamu elit kota ini.
Dia ingin membalas ucapan mereka tapi tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa marah dan tekanan mental yang sangat berat.
Tepat pada saat Clarissa merasa benar-benar terpojok, sebuah tangan yang hangat menggenggam tangan kirinya di bawah meja.
Itu adalah tangan Devan.
Pria itu masih sibuk mengunyah sepotong daging sapi panggang di mulutnya dengan wajah tanpa dosa.
"Daging ini lumayan enak, tapi sayangnya tuan rumah acara ini mulutnya sangat bau sampah," ucap Devan dengan suara santai yang memecah keheningan ruangan.
Uhuk.
Beberapa tamu langsung tersedak minuman mereka mendengar ucapan gila dari mulut pesuruh miskin itu.
Bram Sanjaya menyipitkan matanya menatap Devan dengan aura membunuh yang semakin pekat.