Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Sebentar lagi, seluruh UNUSA akan melihat jawabannya datang dari gerbang depan.
Tapi sebelum hari itu tiba, Arka masih punya satu dunia lain yang tidak peduli pada Rolls-Royce, villa, atau saldo rekening.
Planet Biru.
Malamnya, ia tidak membawa Phantom keluar. Ia mengisi ulang ruang Dimensi dengan makanan, air, obat, baterai, dan beberapa pisau cadangan. Uang membuat semua itu mudah. Di dunia nyata, kasir hanya melihatnya sebagai pelanggan yang membeli terlalu banyak perlengkapan darurat.
Di Planet Biru, isi kardus itu bisa menjadi alasan orang membunuh atau bersumpah setia.
Pukul 21.30, kesadaran Arka kembali ditarik.
Ia bangun di kantor kecil yang sudah ia jadikan titik aman sementara. Barikade masih pada tempatnya. Di luar, gedung-gedung mati berdiri dalam kabut dingin. Tidak ada suara keras, hanya angin dan bunyi logam jauh yang sesekali berderit.
Arka memeriksa tubuhnya. Lebih ringan. Napas lebih stabil. Ia belum menjadi orang kuat sejati, tetapi tubuh 85 kilo dengan tenaga Evolvor tingkat dua jelas berbeda dari tubuh lamanya.
Ia mengambil ransel usang, memasukkan sedikit makanan yang sengaja ia biarkan terlihat, lalu menyembunyikan sisanya di ruang Dimensi.
Hari ini, targetnya bukan Kristal.
Targetnya manusia.
Dua bulan di Planet Biru mengajarinya bahwa penyintas lebih berbahaya daripada zombi biasa. Zombi lapar secara sederhana. Manusia lapar dengan rencana.
Menjelang siang, Arka menemukan jejak kelompok penyintas di kawasan ruko setengah roboh. Bekas api unggun dan kaleng kosong cukup memberi tahu bahwa wilayah itu sering dilewati manusia.
Ia baru hendak mundur ketika suara peluit pendek terdengar dari atap.
"Berhenti."
Arka mengangkat kedua tangan setinggi dada. Tidak terlalu tinggi sampai terlihat takut, tidak terlalu rendah sampai terlihat menantang.
Dari sisi kanan, sosok bergerak cepat. Seorang pria kurus dengan langkah nyaris tanpa suara muncul di dekat mobil rusak. Matanya tajam, wajahnya tenang, dan pisau kecil ada di tangannya.
Shadow.
Arka belum tahu namanya, tapi cara pria itu berdiri cukup untuk memberi kesan: cepat, sabar, tidak boros kata.
Dari kiri, pria berwajah keras keluar sambil membawa pipa besi. Bahunya lebar, wajahnya lebih terbuka, tetapi matanya menyimpan api yang mudah tersulut.
"Sendirian?" pria itu mendengus. "Berani juga. Atau bodoh."
Di belakang mereka, seorang pria lain berdiri di lantai dua ruko, memegang teropong dan senapan rakitan. Posisi kakinya stabil. Cara ia mengamati jalan menunjukkan latihan, disiplin, dan jam terbang.
Elang.
Arka mencatatnya dalam hati.
Cepat. Pemarah. Profesional.
Tiga orang ini justru aset.
Masalahnya datang terakhir.
Seorang pria bertubuh hampir dua meter melangkah keluar dari ruko utama. Tangannya memegang Gada Berduri, besi besar dengan tonjolan tajam yang lebih cocok untuk menakut-nakuti orang daripada berburu secara rapi. Jaket kulitnya tebal, lehernya besar, dan cara ia tersenyum membuat suasana langsung lebih sempit.
"Nah," katanya. "Lihat apa yang jalan sendiri masuk ke wilayahku."
Merah menoleh sedikit. "Bos Jagal, dia bawa ransel."
Jagal.
Nama itu cocok.
Arka menurunkan tangan perlahan. "Aku cuma lewat."
Jagal tertawa. "Di sini tidak ada orang cuma lewat. Semua orang mengambil sesuatu atau diambil sesuatu darinya. Buka ranselmu."
Arka bisa saja menyimpan ransel itu ke ruang Dimensi dan membuat mereka terkejut. Ia bisa saja mengambil pisau dari ruang kosong yang tidak bisa mereka lihat. Tetapi itu hanya akan memperlihatkan kartu terlalu cepat.
Ia membuka ransel.
Ada tiga botol air, beberapa biskuit, dua kaleng makanan, dan obat luka.
Mata beberapa anggota kelompok di belakang Jagal langsung berubah.
Masalahnya justru terletak pada jumlah yang kecil: nyata, dekat, bisa dibagi, bisa diperebutkan.
Jagal mengambil satu kaleng makanan tanpa izin, menimbangnya di tangan, lalu menyeringai.
"Lumayan."
Merah menatap kaleng itu, lalu menatap Arka. Rasa tidak suka di wajahnya tertuju pada cara Jagal mengambil barang orang seolah itu hukum alam.
Shadow tetap diam.
Elang turun dari lantai dua, senapannya tetap mengarah ke bawah, bukan langsung ke Arka. Hati-hati. Terlatih.
"Nama?" tanya Elang.
"Arka."
"Tingkat?"
Pertanyaan itu membuat Jagal menyipit.
Arka menjawab setelah jeda pendek. "Dua."
Ia tidak berbohong. Ia hanya tidak menjelaskan jenis Kekuatan Dimensi miliknya, ruang penyimpanan, atau fakta bahwa sebagian besar persediaannya berada di tempat yang tidak akan bisa disentuh Jagal.
"Tingkat dua?" Merah menaikkan alis. "Dengan badan begitu, kau bisa sampai tingkat dua?"
"Kristal tidak memilih wajah."
Merah tertawa sekali, keras dan singkat. "Jawaban bagus."
Jagal tidak ikut tertawa.
Ia berjalan mendekat sampai tubuhnya menutupi cahaya di depan Arka. Bau asap dan logam menempel di tubuhnya.
"Kau punya dua pilihan," kata Jagal. "Ikut kelompokku, serahkan setengah hasil buruan, dan hidup. Atau jalan sendiri, lalu mati di luar sana."
Arka menatap Gada Berduri di tangan Jagal.
Berat. Lambat. Menakutkan untuk orang biasa. Berbahaya jika kena sekali.
Tetap bisa dihitung.
"Kalau aku ikut," kata Arka, "aturannya apa?"
Jagal tampak puas. Orang seperti dia suka ketika orang baru bertanya tentang aturan. Itu membuatnya merasa sudah menang.
"Semua Kristal diserahkan padaku dulu. Makanan dibagi sesuai kontribusi. Aku makan pertama. Yang kuat dapat lebih banyak. Yang lemah bekerja lebih banyak. Kalau membantah..."
Ia mengetukkan Gada Berduri ke lantai beton.
DUM.
Tidak perlu melanjutkan kalimat.
Di belakangnya, beberapa anggota kelompok menundukkan mata. Shadow memandang ke samping. Merah menggerakkan rahang seolah menahan komentar. Elang hanya memperhatikan Arka.
Arka melihat semuanya.
Ini belum pantas disebut kelompok.
Ini kandang dengan satu orang memegang kunci.
"Baik," kata Arka. "Aku ikut sementara."
"Sementara?" Jagal mendekat lagi.
"Selama aturanmu masuk akal."
Udara membeku sesaat.
Merah hampir tertawa lagi, tapi menahannya. Shadow untuk pertama kalinya menatap Arka lebih lama. Elang sedikit menurunkan senapannya. Rasa tertarik mulai mengalahkan curiga.
Jagal menyeringai lebar.
"Aku suka nyali. Tapi jangan salah paham. Di sini, nyali tanpa kekuatan cuma cara cepat mati."
"Aku akan ingat."
Jagal melempar kembali ransel Arka setelah mengambil satu kaleng makanan. "Merah, bawa dia. Shadow, awasi. Elang, kalau dia kabur, tembak kakinya."
"Siap," kata Elang singkat.
Shadow hanya mengangguk.
Merah mendekati Arka dan berjalan di sampingnya. Suaranya lebih pelan ketika berkata, "Nasihat gratis. Jangan terlalu sering menatap Bos Jagal seperti sedang menghitung harga barang. Dia tidak suka."
Arka meliriknya. "Kelihatan?"
"Banget."
"Aku akan latihan."
Merah tertawa pendek. Kali ini benar-benar tertawa.
Mereka masuk ke ruko utama yang dijadikan markas. Di sana, aturan Jagal terlihat jelas: makanan dan Kristal berada dekat kursinya, sementara anggota lain menerima sisa dengan wajah tertahan.
Arka tidak perlu mendengar keluhan untuk memahami struktur tempat ini.
Shadow duduk paling dekat pintu keluar. Orang yang selalu siap bergerak.
Merah duduk dekat anggota yang lebih lemah, membagi sedikit biskuit dari jatahnya sendiri sambil pura-pura menggerutu.
Elang membersihkan senapan rakitannya dengan teliti, mata sesekali melihat jendela dan atap seberang.
Jagal duduk di kursi terbaik, memakan kaleng makanan milik Arka seolah itu rampasan perang.
Satu kelompok.
Empat pusat kekuatan.
Satu pemimpin yang ditakuti.
Tiga orang yang mungkin bisa dipindahkan posisinya.
Arka duduk di sudut, wajahnya tenang. Ia menampilkan diri sebagai Evolvor tingkat dua biasa yang masih butuh perlindungan. Ruang Dimensi, persediaan sebenarnya, uang di dunia lain, Villa WD8, Phantom, semua ia kunci jauh di balik ekspresi datar.
Jagal mengira ia baru mendapatkan anggota baru.
Shadow mungkin curiga ada sesuatu yang tidak cocok.
Merah menganggapnya nekat.
Elang masih menilai.
Arka tidak bicara.
Ia hanya mengamati.
Dalam hati, rencana sudah terbentuk.