Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengintai Yang Mulai Mengusik
Pagi masih sangat sepi di lantai eksekutif Al-Maktoum Group. Lampu-lampu koridor memantulkan pendar lembut di atas marmer yang bersih. Shanum melangkah beriringan dengan Aran menuju musholla VIP kantor. Di tangannya, Shanum membawa satu set sajadah polos, sementara Aran berjalan di sampingnya dengan kemejanya rapi yang digulung sebatas siku usai membasuh wajah dan tangannya di ruang wudhu.
Namun, sebelum jemari Shanum sempat mendorong pintu kayu musholla, suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah lift VIP.
Gus Azhar melangkah keluar dari dalam lift. Mengenakan jas koko gelap dan peci hitam yang terpasang rapi, wajahnya yang berwibawa menyunggingkan senyum yang terkesan ramah, walau matanya kilat menyimpan dingin saat menatap Aran.
"Assalamu’alaikum, Mbak Shanum," sapa Gus Azhar santun. "Saya kebetulan ada keperluan Bisnis Abah dan sengaja mampir kesini. Tidak menyangka bisa bertemu pagi-pagi begini."
"Wa'alaikumussalam, Gus Azhar," jawab Shanum terkejut namun tetap menjaga kesantunan. "Ada keperluan apa mampir kesini ?"
Pandangan Gus Azhar beralih menatap Aran yang berdiri tegap di samping Shanum, lalu menatap sajadah di tangan Shanum. "Sepertinya ada yang baru mau belajar ibadah?"
Aran menundukkan kepalanya sedikit. "Benar, Gus. Mbak Shanum baru saja mau mengajari saya tata cara sholat."
Gus Azhar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan maksud terselubung. Ia melangkah mendekati Aran, menepuk bahu pria kekar itu pelan. "Niat yang sangat mulia, Mas Aran. Tapi... kalau untuk urusan bimbingan sholat, bukankah lebih afdhol jika dipimpin oleh sesama laki-laki?"
Shanum sempat ragu, namun Gus Azhar sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam musholla, mengisyaratkan Aran untuk mengikutinya. Di dalam musholla yang hening dan bersuhu sejuk, Gus Azhar memimpin Aran mengambil posisi. Dengan sabar, Gus Azhar membimbing gerakan takbiratul ihram, ruku, hingga cara sujud yang benar. Aran menirukan setiap instruksi dengan kepasrahan dan ketulusan hati yang amat murni.
Saat mereka menyelesaikan gerakan sholat dua rakaat latihan dan Shanum sedang merapikan mukenanya di area pembatas wanita, Gus Azhar berbalik menatap Aran yang masih duduk bersila di atas sajadah.
"Mas Aran," bisik Gus Azhar dengan suara rendah, cukup pelan agar tak terdengar oleh Shanum. Matanya menatap Aran lurus-lurus, memancarkan jarak strata yang tajam. "Dalam ibadah... seorang imam haruslah orang yang jauh lebih paham agama, lebih tinggi ilmunya, dan lebih matang dibanding makmumnya."
Aran mendengarkan dengan raut wajah yang tetap tenang.
Gus Azhar menyunggingkan senyum sinis yang halus. "Begitu juga dalam kehidupan. Seorang pria yang pantas berdiri di depan untuk memimpin dan melindungi wanita sebagai pasangannya... haruslah orang yang sepadan. Baik derajatnya, ilmunya, maupun latar belakangnya. Pemimpin yang salah hanya akan membawa makmumnya ke jurang bahaya."
Kalimat itu terucap bukan sekadar nasihat agama, melainkan gertakan terbuka untuk menyadarkan Aran akan derajat posisinya sebagai mantan pembunuh bayaran yang tak pantas bersanding di sisi Shanum.
Namun, bukannya tersinggung atau tersulut emosi, Aran justru mendongakkan kepalanya, menatap Gus Azhar dengan pandangan mata yang teramat jernih dan lapang.
"Terima kasih atas bimbingannya, Gus Azhar," tutur Aran pelan, suaranya terdengar begitu jujur tanpa ada sisa kebencian. "Nasihat Anda sangat benar. Seperti halnya Ning Layla yang sudah sangat tepat memilih Mas Rayhan sebagai imamnya... karena beliau memiliki ilmu dan derajat yang sepadan untuk membimbing Ning Layla."
Gus Azhar membeku di tempatnya. Senyum sinis di wajahnya mendadak sirnah. Kalimat Aran yang membawa nama Ning Layla dan Rayhan terucap begitu tulus tanpa nada sindiran, namun justru telak menghantam pride Gus Azhar. Aran telah menerima takdirnya dengan kelapangan dada yang sempurna, membuat provokasi Gus Azhar menguap sia-sia di udara.
Aran berdiri, lalu melangkah keluar musholla mendahului Gus Azhar yang masih terpaku.
Satu jam kemudian, suasana di lantai eksekutif telah kembali penuh oleh kesibukan korporat. Shanum duduk di balik meja kerja utamanya yang megah, membolak-balik berkas proyek Senayan. Aran berdiri di sudut favoritnya di dekat jendela kaca besar, mengenakan kembali jas hitam resminya dengan raut wajah siaga yang proporsional.
Pintu ruang kerja berketuk pelan. Sekretaris Shanum melangkah masuk membawa tumpukan dokumen harian dan diletakkan di meja Shanum.
"Bu Shanum, ini ada dokumen surat masuk pagi ini. Dan... ada satu amplop tanpa nama pengirim yang dititipkan di meja resepsionis bawah tadi," ujar sang sekretaris sebelum memohon izin keluar.
Shanum mengernyitkan dahi. Sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar tergeletak di atas meja porselennya. Tidak ada cap pos, tidak ada nama pengirim, hanya ada tulisan cetak komputer tebal: PRIBADI - UNTUK SHANUM AL-MAKTOUM.
"Aran..." panggil Shanum ragu.
Aran yang menangkap keraguan pada intonasi suara Shanum langsung melangkah mendekat. Naluri taktisnya yang sempat tertidur mendadak menyengat hebat. "Jangan disentuh dulu, Mbak Shanum."
Aran merogoh saku jasnya, mengenakan sepasang sarung tangan kain tipis. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Aran menginspeksi ketebalan amplop, memastikan tidak ada kabel, detonator, atau zat berbahaya. Setelah merasa aman, Aran merobek segel amplop tersebut dan menumpahkan isinya ke atas meja.
Srett...
Puluhan lembar foto tercetak berukuran besar berhamburan di atas meja kaca.
Shanum membeku. Warna darah seolah terhisap habis dari wajah cantiknya. Napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat apa yang terekam dalam lembaran foto-foto itu.
Itu adalah foto-foto pengintaian yang mengambil objek dirinya secara amat tersembunyi. Foto saat Shanum panik di dalam mobil mengobati luka lengan Aran; foto Shanum dan Aran sedang tertawa bersama anak-anak di panti asuhan kemarin; foto saat mereka berdiri di bawah naungan lampu masjid agung; hingga foto paling baru yang diambil beberapa menit lalu: Shanum dan Aran yang sedang berjalan menuju musholla kantor pagi ini.
Setiap foto diambil dari sudut tembak jarak jauh menggunakan lensa tele berkekuatan tinggi, lengkap dengan garis bidik buatan yang dicetak tipis di atas wajah Shanum dan Aran.
Di balik lembaran foto paling atas, terdapat tulisan melingkar bercat merah yang ditulis secara manual:
“Kalian merasa sudah menang? Sentuhan dingin maut masih mengawasi setiap hela napasmu, Shanum. Kamu tidak pernah aman.”
Shanum menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya yang memegang tepi meja bergetar kencang. Teror yang ia kira sudah berakhir pasca-kemenangan tender Senayan kini membentang kembali di depan matanya dengan skala yang jauh lebih intim dan mengerikan.
"Mereka... mereka mengawasi kita sampai ke panti asuhan dan masjid..." bisik Shanum dengan suara bergetar menahan panik.
Aran tidak menjawab. Karakter pria itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Aura hangat dari musholla tadi menguap sepenuhnya, berganti dengan kilatan mata es yang mematikan—identitas Viper-1 kembali terbangun seketika.
Aran mengambil salah satu foto, mengamati grain, pencahayaan, serta elevasi sudut pengambilan gambar.
"Jarak pengambilan gambar foto di panti asuhan ini dari atas bukit vegetasi, sekitar empat ratus meter," analisis Aran dingin, suaranya pelan namun sarat akan kalkulasi militer yang amat tajam. "Pengintai menggunakan kamera perekam optik taktis berkecepatan tinggi. Ini bukan gertakan dari preman biasa suruhan Surya Wijaya."
"Lalu... siapa?" tanya Shanum dengan mata berkaca-kaca menatap pengawalnya.
Aran menatap foto saat ia dan Shanum berjalan ke musholla pagi ini. "Ini adalah faksi pemburu tersisa. Sisa-sisa eksekutor yang mungkin ingin membalas dendam atas tewasnya Hector, atau bagian dari jaring operasional lama saya yang disewa untuk meruntuhkan mental Anda sebelum eksekusi akhir."
Aran melangkah cepat menuju jendela kaca besar, menarik tirai tebal hingga menutup rapat pandangan dari luar, memotong sudut tembak potensial dari gedung-gedung seberang. Pria itu kemudian berbalik, berdiri kokoh di depan meja Shanum.
"Protokol keselamatan tingkat tertinggi diaktifkan mulai detik ini, Mbak Shanum," tegas Aran, suaranya bagai barikade baja yang tak tembus peluru. "Mulai sekarang, jarak dan pengawasan saya pada Anda tidak akan bisa ditawar lagi. Saya tidak akan membiarkan bayangan apa pun menyentuh Anda."
saling support sabi kali thor🤭