Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Separuh Aku
Sampai di rumah suasana sudah sepi.
Tak kulihat adanya tanda-tanda kehidupan. Mungkin mereka sudah terbuai dengan mimpi indahnya. Tapi aku bersyukur.
Tak ada yang melihatku dengan muka kusut. Tentunya sangat buruk, dengan mood buruk seperti ini bila berjumpa dengan orang terdekat setelah sekian lama tak jumpa.
Aku melangkahkan kakiku menuju kamar yang dulu aku tempati.
Sebelum masuk, Hasan sudah memberi tahuku di mana aku harus beristirahat.
Dan aku hanya memberikan simbol O dengan jari telunjuk dan ibu jari disatukan.
Enggan sekali rasanya aku membuka mulut.
ku langkahkan kaki dengan lebar, Tujuanku hanya satu, mandi. Ya, agar semua kegundahan hatiku ikut terbawa air yang mengguyur tubuh yang sudah lelah ini.
Ku letakan tas ransel dibawah tempat tidur. ku lepas baju dan sepatuku sekenanya.
Kamarku masih sama seperti dulu saat ku tinggal pergi. Hanya beberapa poster sudah tak ada lagi di tempatnya. Aku
masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ku nyalakan shower dan aku melepaskan segala gundahku dibawahnya.
Aku tak hentinya menyalahkan diriku sendiri, Bagaimana bisa aku melepaskan Rena. Kebodohanku yang tak pernah mencoba menghubunginya.
Pengecut
Kenangan masa lalu begitu nyata di pikiranku. Bagaimana dahulu kita berjanji untuk bertahan. Bertahan dari segala hal yang memang ada saja untuk memisahkan kami berdua. Dan aku sama sekali tak pernah mengira bahwa kepergian ku menghancurkan semuanya.
Apalagi yang bisa aku lakukan sekarang?
Sungguh, aku merasa menjadi lelaki tak berguna. Sungguh aku seperti ditelanjangi oleh diriku sendiri, ahh
Dia, adalah separuh aku.
Aku akui ini kesalahanku, aku yang tak pernah membuat komitmen apapun, aku yang seakan tak mengikat dia dengan komitmen yang harusnya kita berdua buat. Mungkin, jika itu dilakukan sejak dulu, sekarang tidak akan seperti ini jadinya.
Aku bertekad esok harus menemuinya. Bagaimana pun caranya. Aku harus bertemu Rena. Meminta kepastian hati.
Karena bagiku aku dan dia belum berakhir, dan takan pernah berakhir. Sampai kapanpun. Tak perduli dia sudah bersuami.
sungguh aku tak peduli.
**************
Matahari bersinar cukup cerah pagi ini, sinarnya menerobos ventilasi jendela kamar, Lampu tidur masih menyala. Ku matikan AC dan lampu tidur kemudian beranjak untuk masuk ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Agar lebih terlihat segar saat keluar kamar nanti.
Setelah bebersih aku keluar kamar, menuju ruang makan yang sudah ramai dengan anggota keluargaku.
"Masya Allah Sholehnya Mami sudah bangun? Jam berapa sampai? " Mamiku mendekat sambil merentangkan tangan untuk memelukku, usapan lembut terasa dipunggungku.
Aku mengecup pipinya, kemudian berganti ke arah kakakku yang sedang sibuk mengolesi roti dengan selai coklat.
"Sekitar jam 10, Mi," jawabku sambil menarik kursi. "Papi, mana?" tanyaku.
"Papimu biasa lah, Ahad pagi jadwal gowes bareng temen-temennya," Mamih menjawab sambil mengulurkan piring berisi roti. "Rencana hari ini mau kemana? " memandangku sesaat.
"Ahad gini enaknya buat tiduran, Mi," jawabku sambil melahap roti.
"Jadi? masih asyik ngejomblo saja nih? Gak laku juga di Kalimantan? gak ada perawan kalimantan yang tertarik sama kamu gitu? " Kakaku, Ratna menimpali.
"Mulai deh bahas gituan," kuraih gelas berisi air putih, ku teguk isinya tak bersisa tanda aku sudah selesai sarapan.
"Gak nambah lagi nih?" Mami menawariku.
"Kenyang, Mi, mau mandi dulu ya biar agak cakepan, mau nyari jodoh, siapa tau dapet janda desa," aku pun berlalu
"Woyyy kalo ngomong di atur ya,! Kak Ratna melempar lap yang ada di depannya kepada ku, dan hanya ku balas dengan lunjuran lidah.
...----------------...
Aku berdiri di depan rumah yang tak asing bagiku. Banyak yang berubah dari rumah ini. Banyaknya tanaman bunga, cat rumah yang sudah berganti, dan ditambahkannya bangunan di samping rumah.
Mungkin sebagai kamar mandi atau dapur.
Ini adalah rumah Rena. Aku sengaja datang kesini. Setelah berdebat dengan Hasan tentunya. Dia bilang untuk apa aku masih memikirkan Rena yang telah bersuami.
Aku memaklumi pikirannya, ya karena dia tak berada di posisiku.
Rumahnya terlihat sepi. Sepertinya Rena sedang keluar. Iseng, ku langkahkan kakiku, ku ketuk pintu rumahnya, ku ucapkan salam, daaaan...
"Walaikumsalam "
Terdengar suara yang sangat aku rindukan menjawab salam ku, Hingga pintu pun terbuka
"Mas Sholeh? a.. aa.. ada apa, Mas? em.. e ada
yang bisa dibantu? " Rena memegangi pintu dengan erat. Mungkin dia bingung akan kedatangan ku. Akh rasanya aku ingin memeluknya.
"Hanya ingin main, Re," jawabku sambil tersenyum.
Dia terdiam, bingung antara ingin mengajak aku masuk atau berdiri saja di depan pintu, Hingga akhirnya suara yang menyuruhku untuk masuk tertangkap telingaku.
"Terimakasih, Re".
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, kami terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing
"Eem, Mas Sholeh ingat rumahku? "
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya "Kamu bercanda, Re?"
Aku tertawa terbahak tanpa dosa
"Aku selalu mengingat rumah ini dan pemiliknya," lanjutku.
"Emm.. Sendirian aja, Mas? "
Rena begitu kaku.
"Masih sendiri Re, niatku menjemput separuh jiwaku yang tertinggal." Sorot mataku memandang Rena dengan tajam.
"Lah kok bisa mas? Tertinggal dimana?" dengan polosnya dan tak tahu dirinya Rena menjawab.
"Disini!" aku meletakan telapak tanganku didepan dada.
Dan kembali hening, mungkin dia terlalu kaget dan masih bingung dengan segala apa yang aku katakan. Tapi aku percaya, jauh di lubuk hatinya dia mengerti arah pembicaraan ini.
" Tadi malam siapa, Re? " aku membuka percakapan lagi
"Waktu di pasar itu?" dia menanyakan dan hanya ku jawab dengan anggukan kepala
"Dia suami dan anakku, Mas," jawab Rena.
"Semudah itu, Re?" aku langsung to the point
"Apa?" Rena hanya melihat datar kearah ku
"Semudah itu kau melupakanku?"
aku memaksanya untuk menjawab pertanyaan ku.
"Emm, sebaiknya, Mas Sholeh pulang deh, gak enak kalau berdua begini di dalam rumah apa lagi bukan mukhrim, apa kata orang nanti?" Rena beranjak dari duduknya dan berdiri.
Secepat kilat ku meraih tangannya dan seketika tubuh mungilnya direngkuh kedalam pelukan.
kami terbuai akan situasi.
"Mas, kamu sudah gila ya!!" Rena meronta berusaha melepaskan pelukanku.
"Sebentar Re, Sebentar plisss!" ucapku sembari terisak.
"Mas! lepas, Mas! ini salah. Sudah selesai semuanya, Mas. Sudah berakhir! " Rena mencoba melepaskan pelukanku, dan mau tak mau aku berangsur-angsur mengendurkan pelukanku.
"Lanjutkan hidupmu, Mas. Aku sudah bahagia, tolong mengertilah aku dan keadaanku," air matanya tak bisa dibendung lagi.
"Bahkan kita belum selesai, Re" aku memegang kedua bahunya erat,
Masih ada sorot cinta di sana,
"Aku akan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku!" lanjutku kemudian sambil kembali memeluknya.
"Hahahah, apa kamu sudah gila, Mas? Apa lagi yang akan kau perjuangkan? kemana kamu selama ini? dan hari ini kamu masih bilang memperjuangkan? omong kosong!!"
doa melepaskan pelukanku, mendorongku cukup kuat.
"Sadar diri siapa aku sekarang, aku istri orang. Dimana rasa malumu mencintai istri orang? sudah tak waraskah kamu? "
"Semua sudah berakhir. Sejak aku menikah. Mungkin sejak dulu, sejak kau pergi tanpa pernah memberiku kepastian!! Semuanya telah selesai. Mengertilah, Mas!"
Rena terus saja melepaskan amarahnya, aku tak marah dengan segala tuturannya, karena memang itu semua benar.
Dia menangis tergugu.
"Pergilah, Mas. Aku mohon biarkan aku bahagia," suaranya terdengar pilu
Aku berdiri, melangkah kan kakiku menuju pintu keluar.
"Apapun yang terjadi aku akan menunggumu. Bila aku tak dapat perawanmu, akan ku tunggu jandamu. Ini sumpahku Re!"
Ku ambil tangannya dan ku kecup punggung tangannya.
"Aku pergi, Re," ku terus melangkahkan kakiku, meninggalkan cintaku. Berusaha tak menoleh dengan sekuat hati..
Separuh jiwaku hilang
Raga seperti tak bertulang
Hanya bisa menyesali
Tanpa bisa membarui
Semua salahku
Tak cukup berani kala itu
Tapi aku tak pernah mengira
akan seperti ini jadinya
Nestapa diujung hati
Merana mengusik diri
Entah bagaimana lagi
Dan harus berapa lama lagi aku mengobati
Rindu sedan
Tawa riang
Hanya khayal belaka
Mencoba mengobati luka
Tapi apa?? aku tak bisa
🍂🍂🍂🍂🍂
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor