NovelToon NovelToon
Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:69.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aysha Siti Akmal Ali

Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...


Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.

Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.

Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.

Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Jangan berkata seperti itu lagi ya, Mah. Mamah harus bertahan untuk Marissa. Kalau perlu kita berobat ke Luar Negeri supaya Mamah bisa sembuh total!" lirih Marissa dengan mata berkaca-kaca menatap wajah pucat Melinda.

Melinda tertunduk. Hatinya sangat sakit ketika mendengar penuturan Marissa. Melinda menarik napas panjang kemudian menghembuskannya sambil mengangkat kapalanya lagi.

"Marissa sayang, jika nanti Mama dipanggil oleh-Nya, Marissa harus kuat ya! Mama yakin kamu pasti bisa!" tutur Melinda dengan suara terbata-bata.

Marissa tidak mampu lagi membendung air matanya dan akhirnya tngisnya pun pecah saat itu juga. Begitupula Melinda, ia memeluk erat tubuh Marissa. "Mama sayang kamu, Marissa!" ucap Melinda.

. . .

Keesokan harinya,

Marissa ingin berangkat ke Butiknya, tetapi ia ragu untuk meninggalkan Melinda saat itu. Wajah Melinda sangat pucat bahkan melebihi hari biasanya.

"Ma, beneran tidak apa-apa jika Marissa tinggal sendiri?" tanya Marissa kepada Melinda yang masih berselonjoran di atas tempat tidur sembari menyandarkan tubuhnya yang kurus di sandaran tempat tidurnya.

Melinda tersenyum kemudian membelai pipi Marissa dengan lembut. "Kamu berangkat saja, tidak usah mengkhawatirkan Mama. Mama baik-baik saja, kok. Lagipula 'kan masih ada Bi Ani yang jagain Mama," tutur Melinda.

Marissa menghembuskan napas berat kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Marissa berangkat dulu." Marissa mencium puncak kepala Melinda kemudian bergegas pergi menuju Butik sederhananya dengan menggunakan motor kesayangannya.

Karena biaya pengobatan Melinda yang mahal, perlahan-lahan harta berharga milik Melinda habis. Sedangkan pemasukan yang mereka harapkan hanya berasal dari Butik yang kini dikelola oleh Marissa.

"Ani, kemarilah ..." ucap Melinda sembari menepuk tepian tempat tidurnya.

Ani, Babysitter yang rela mengabdikan dirinya untuk keluarga kecil Melinda. Ia berjalan menghampiri Melinda kemudian duduk di tepian tempat tidur Majikannya itu.

"Ya, Bu." Ani menatap wajah Melinda yang memucat dengan tatapan sendu. Ia pun tahu bagaimana keadaannya Melinda saat ini, berjuang keras melawan penyakit Kanker rahim yang dideritanya.

"Ani, apa kamu menyimpan nomor terbaru EL?" tanya Melinda.

Ani menganggukkan kepalanya perlahan kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok yang ia kenakan.

"Sini, ada yang ingin aku bicarakan kepadanya." Melinda meraih ponsel yang ada ditangan Ani kemudian mencari nomor ponsel mantan suaminya itu.

Sebenarnya sampai saat ini mantan Suami Melinda selalu menghubungi Ani untuk mengetahui kabar Melinda dan anaknya. Namun, Melinda hanya mengijinkan Ani memberitahukan kabar mereka tanpa memberikan informasi lain yang diminta oleh EL kepadanya.

Melinda mencoba menghubungi nomor mantan Suaminya itu dan segera di terima oleh lelaki itu.

"Ya, Ani. Ada apa?" tanya Lelaki itu.

"Ini aku Melinda."

"Melinda?! Ehm, ya Melinda ada apa?" tanya EL yang begitu antusias setelah tau siapa yang sedang berbicara dengannya.

"EL, aku ingin meminta maaf padamu untuk semua kesalahan ku selama ini. Apalagi ketika aku masih menjadi istrimu ..."

Melinda terisak ketika ingat masa lalunya bersama Suaminya. EL adalah lelaki yang baik walaupun ia pernah melakukan perselingkuhan bersama Bella saat itu.

"Tidak, Melinda! Tidak! Seharusnya akulah yang meminta maaf kepadamu bukan malah sebaliknya. Kamu tidak pernah salah, tetapi akulah yang salah!" sahut EL dari seberang telepon.

Mata Melinda kembali berkaca-kaca, ia menghembuskan napas berat kemudian kembali fokus pada ponsel itu. "EL, jika nanti aku kembali kepada-Nya, aku harap kamu bisa meluangkan waktumu untuk menjenguk Marissa. Gadis itu tidak memiliki siapa-siapa lagi selain aku. Dia masih butuh seseorang untuk membimbingnya, EL," lirih Melinda dengan suara terbata-bata.

"Kenapa kamu bicara seperti itu, Melinda?! Kamu tidak boleh bicara seperti itu, itu tidak baik!"

"EL, berjanjilah padaku bahwa kamu akan menjenguk Marissa jika aku sudah tiada nanti,"

"Baiklah, aku berjanji," sahut EL.

"Aku hanya ingin menyampaikan hal itu, EL. Terima kasih atas waktumu."

Melinda memutuskan panggilannya sambil menghembuskan napas lega.

"Semoga saja EL dapat menjaga Marissa dengan baik. Aku sudah tidak punya pilihan lain lagi, Ani. Hanya EL satu-satunya harapanku," lirih Melinda sembari menyerahkan kembali ponsel itu kepada Ani. 

Ani pun segera meraih ponselnya kembali sambil tersenyum kecut. "Seharusnya Ibu harus tetap semangat. Jangan putus asa seperti ini," ucap Ani.

"Tapi, penyakit ku sudah semakin parah, Ani. Dokter sudah menyerah dan angkat tangan. Saat ini aku hanya tinggal menghitung setiap detikku, sebelum malaikat maut benar-benar menjemputku," sahut Melinda sambil menitikkan air matanya.

Ani segera memeluk tubuh Melinda dan tangisnya pun pecah. Baginya Melinda sudah seperti Kakaknya sendiri dan keluarga kecil Melinda adalah keluarganya juga.

"Bu, jangan katakan hal itu! Semangat lah, Bu," lirih Ani disela isak tangisnya.

Sore Menjelang,

Marissa bersiap-siap kembali ke rumahnya dengan motor yang ia beli setelah mendapatkan uang dari menjual mobilnya untuk biaya pengobatan Melinda. Marissa nampak semringah karena hari ini Butiknya laris manis.

Setibanya di halaman depan rumahnya, ia bergegas masuk dan orang pertama yang ingin ia temui adalah Ibunya.

"Mah, Mamah dimana?" teriak Marissa sambil mencari keberadaan Sang Ibu.

"Non, Mama Nona Marissa ada di kamarnya," lirih Ani sambil terisak.

Marissa mengernyitkan dahinya ketika melihat ekspresi Ani saat itu. Marissa segera berlari menuju kamar Melinda.

"Mama?!"

...***...

1
vincuu
thor kalau bisa maharnya jangan ada pakai kata seperangkat alat sholat karena itu berat kalau tidak di jalankan dengan benar. kalau sholatnya bolong" maka dosa 2 kali lipat
Rustan Sinaga
bawa pasukan Dylan, jgn gegabah menghadapi si Kenneth
Rustan Sinaga
sptnya Dylan ada rencana terselubung ya
Rustan Sinaga
satukan Dian dan Riyadh thor, buat mereka bahagia
Rustan Sinaga
jangan buat Dian celaka thor
Rustan Sinaga
jangan² Zaidpun bukan anak Riyadh
Rustan Sinaga
sll lupa komen, saking pengen cepet buka bsn baru
Rustan Sinaga
tunjukkan status Marisa yg sesungguhnya thor, biar si Sarah gigit jari
safrah ricky
Luar biasa
Mariana Frutty
16/06/1977
Luar biasa
aryuu
rameee
Yusi Maulanaa
Luar biasa
Nani Maulani
mau dong obat nya marisa/Ok/
bee
Lumayan
bee
Luar biasa
Capricorn 🦄
k
egata_syla
Luar biasa
LaLa Pho
ada yang kembar 6 kok
si pembaca
saking banyak nya sampai lupa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!