Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Wush!
Tiga ekor serigala langsung melompat menerjang ke arah barisan depan dengan kecepatan kilat. Mulut mereka terbuka lebar bersiap merobek leher para prajurit militer itu.
"Tebas kepala mereka!" teriak Kapten Liu sambil mengayunkan pedang besarnya.
Trang!
Bilah pedang Kapten Liu menghantam dahi serigala pertama, namun pedang itu memantul keras seolah baru saja menebas bongkahan baja murni. Serigala itu sama sekali tidak terluka dan justru membalas dengan cakaran mematikan.
Srak.
Cakaran serigala itu merobek pelindung lengan Kapten Liu hingga meneteskan darah segar.
"Tengkorak kepala mereka berlapis tulang keras alami." teriak Chen Fei yang juga kesulitan menembus pertahanan serigala kedua. "Mundur perlahan, pertahanan mereka terlalu kuat!"
Kepanikan mulai melanda rombongan elit tersebut. Senjata tajam mereka nyaris tidak berguna menghadapi kulit baja serigala-serigala yang ganas itu.
Wang Hao sudah memeluk tas raksasanya sambil memejamkan mata dan berkomat-kamit membaca doa.
Su Lin bersiap merapalkan sihir esnya, namun sebuah tangan yang hangat tiba-tiba menyentuh pundaknya. Ia menoleh dan melihat Yang Zhen menatapnya dengan senyum rubah yang menyebalkan.
"Jangan buang tenagamu untuk sihir skala besar, muridku." ucap Yang Zhen dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
"Lalu aku harus bagaimana? Menonton mereka dibantai?" protes Su Lin sedikit panik.
"Lihat dan belajarlah bagaimana menggunakan otakmu dalam pertarungan." Yang Zhen melangkah maju melewati barisan Su Lin.
"Tuan Muda Chen Fei, Kapten Liu!" panggil Yang Zhen dengan nada memerintah yang sangat dominan. "Telinga serigala ini sangat sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi."
"Pukul bilah pedang kalian sendiri menggunakan sarung besi sekarang juga!" instruksi Yang Zhen dengan lantang.
Chen Fei tidak berpikir panjang lagi dan langsung menuruti perintah tersebut. Ia menghantamkan sarung logamnya ke sisi bilah pedangnya dengan tenaga penuh.
Teng! Teng! Teng!
Suara dentingan logam yang sangat nyaring dan melengking bergema merobek keheningan hutan kabut.
Kaing!
Kawanan Serigala Taring Racun itu seketika menjerit kesakitan. Mereka menghentikan serangan mereka dan berguling-guling di tanah sambil menutupi telinga mereka dengan kedua kaki depan.
"Titik lemah mereka bukan di kepala atau perut." lanjut Yang Zhen memberikan komando layaknya seorang jenderal perang. "Tusukkan pedang kalian tepat di pangkal ekor mereka, di sana tidak ada pelindung tulang sama sekali!"
Mata Chen Fei berbinar terang menyadari peluang emas tersebut.
"Laksanakan perintahnya! Habisi mereka semua!" teriak Chen Fei memimpin serangan balik.
Para prajurit elit yang tadinya terdesak kini bergerak serentak dengan penuh semangat. Mereka dengan mudah menusuk pangkal ekor serigala-serigala yang sedang kesakitan itu.
Jleb! Jleb!
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, lima belas ekor Serigala Taring Racun tingkat menengah terkapar tak bernyawa di atas tanah berlumut. Genangan darah hitam membasahi area pertempuran tersebut.
Napas para prajurit tersengal-sengal, namun wajah mereka dipenuhi rasa takjub dan kekaguman yang luar biasa. Mereka semua menoleh ke arah Yang Zhen yang masih berdiri santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bocah ini... dia benar-benar tahu aap yang dia lakukan." batin Kapten Liu dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Kapten Liu langsung berjalan menghampiri Yang Zhen dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya minta maaf atas kelancangan saya sebelumnya, Tuan Muda Yang." ucap Kapten Liu dengan nada penuh rasa hormat. "Jika bukan karena instruksi Anda, kami pasti sudah menjadi makanan binatang buas itu."
"Tidak perlu sungkan, Kapten." Yang Zhen tersenyum tipis. "Aku hanya tidak ingin perjalananku terhambat karena ketidaktahuan kalian."
Chen Fei menepuk bahu Yang Zhen dengan keras, tawanya meledak memecah ketegangan sisa pertempuran.
"Kau benar-benar tidak bisa ditebak, Yang Zhen." puji Chen Fei tulus. "Mulai sekarang, kau adalah komandan ahli taktik dalam rombongan ini, dan tidak ada yang boleh membantah perintahmu."
"Sebuah kehormatan besar, Tuan Muda Chen." Yang Zhen menundukkan kepalanya sedikit dengan gaya dramatis yang dibuat-buat.
Su Lin memutar bola matanya melihat tingkah sombong Yang Zhen, namun jauh di dalam hatinya ia merasa sangat bangga. Pemuda itu membuktikan bahwa kekuatan sejati tidak selalu berasal dari besarnya otot atau sihir.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan, tempat relik itu masih cukup jauh." ajak Yang Zhen sambil kembali memimpin jalan.
Rombongan itu kembali bergerak masuk lebih dalam ke jantung hutan dengan moral yang sangat tinggi. Mereka merasa aman selama dipandu oleh ensiklopedia berjalan bernama Yang Zhen.
Namun, tanpa disadari oleh radar militer maupun insting tajam Chen Fei, tiga sosok bayangan sedang berjongkok di atas dahan pohon raksasa ratusan meter di belakang mereka.
Sosok-sosok itu mengenakan jubah abu-abu ketat yang menyatu sempurna dengan warna kabut kematian. Mereka adalah Tiga Iblis Bayangan, kelompok pembunuh bayaran paling mematikan di dunia bawah tanah.
"Informasi dari Patriark Zhao ternyata salah besar." bisik sosok pertama yang memegang belati melengkung. "Target kita bukanlah anak ingusan biasa, dia memiliki pengetahuan bertahan hidup seorang master veteran."
"Itu tidak masalah." sahut sosok kedua yang memiliki mata semerah darah. "Otak yang cerdas tidak akan bisa menghentikan panah beracun yang menembus jantung dari titik buta."
"Kita ikuti mereka sampai ke reruntuhan terdalam." perintah sosok ketiga yang merupakan pemimpin kelompok itu. "Saat rombongan militer itu lengah karena kelelahan, kita bunuh Yang Zhen dan penggal kepalanya untuk Tuan Zhao."
Ketiga sosok iblis itu perlahan melebur kembali menjadi bayangan dan melompat dari dahan ke dahan tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Jaring kematian yang sesungguhnya baru saja mulai dibentangkan di dalam hutan terlarang tersebut.