NovelToon NovelToon
Bukan Drama Pernikahan 2

Bukan Drama Pernikahan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shann29

Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.

Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.

Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.

Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.

Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.

“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”

“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”

Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Perjodohan Bisnis?

Sementara itu, di perusahaan Alva Corp, Arman tengah membahas sebuah proyek bersama Nicholas.

“Jadi, proyek kota di Bandung masih bekerja sama dengan Dewantara Group?” tanya Nic sambil melihat beberapa berkas di tangannya.

Arman mengangguk. “Kamu tahu sendiri, Dewantara Group itu perusahaan besar. Kehadiran mereka akan menarik banyak investor yang nantinya menanamkan sahamnya pada proyek kita.”

“Ya, Papa benar.” Nic menjeda kalimatnya sejenak. “Apa putri Uncle Alaska yang memegang proyek kita, Pa?”

Arman menggeleng.

“Bukan. Jonathan yang memegangnya, Wakil Direktur Utama.” Arman menyesap kopinya sejenak sebelum kembali berkata, “Padahal Papa ingin sekali bekerja sama dengan Jovelyn. Meskipun dia seorang wanita, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.”

Nicholas tidak memberikan komentar apa pun. Ia memang tidak terlalu suka membahas seorang wanita, terlebih jika pembicaraan itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

“Nic,” panggil Arman, mencoba mengarahkan pembicaraan ke hal lain.

Nic menatap sang ayah.

“Usiamu sudah tidak muda lagi. Mau sampai kapan kamu sendiri?” tanya Arman.

“Pa, aku tidak ingin membahas soal pernikahan.”

Arman menghela napas.

“Come on, Nic. Mau sampai kapan kamu terus melajang? Anak Papa dan Mama hanya kamu seorang. Papa dan Mama juga sudah tidak muda lagi. Kami ingin memiliki penerus, dan nantinya anak-anakmu yang akan meneruskan keluarga ini.”

Nic hanya diam dan tidak menjawab.

Sebagai pria dewasa, tentu saja ia memiliki kebutuhan dan keinginan untuk memiliki pasangan. Namun, setiap kali memikirkan hubungan dan pernikahan, ingatannya selalu kembali pada pengkhianatan yang pernah dilakukan tunangan dan sahabatnya sendiri.

Pengalaman itu membuat Nic kehilangan kepercayaan terhadap cinta.

Bahkan, ia memutuskan hubungan dengan teman-temannya dahulu. Baginya, tidak ada lagi yang bisa benar-benar dipercaya.

Namun, sedetik kemudian, Nic mulai mencurigai sesuatu.

Arah pembicaraan ini sepertinya bukan sekadar mengenai pernikahan. Ada seorang wanita yang sudah disiapkan oleh ayahnya.

“Pa…” panggil Nic dengan tatapan curiga. “Kita sedang membahas proyek di Bandung, lalu pembicaraannya beralih ke putri Dewantara, dan sekarang tentang pernikahan.”

Nic menjeda kalimatnya sejenak.

“Ini tidak saling berkaitan, kan?” tanyanya penuh selidik.

Arman tertawa kecil. Putranya memang selalu peka.

Dulu, Nic adalah anak yang begitu manis. Bahkan kepada mantan kekasihnya, Nic dikenal sebagai pria yang sangat perhatian. Namun, pengkhianatan yang dialaminya telah mengubahnya menjadi pria datar yang penuh kecurigaan.

“Mamamu menyukai putri Dewantara,” kata Arman pada akhirnya.

Nic memijat pelipisnya. Pikirannya kembali mengingat sikap dingin Jove saat pesta beberapa waktu lalu.

“Apa ini perjodohan bisnis, Pa?” tanya Nic. “Apa proyek di Bandung ini ada kaitannya?”

Arman langsung menepis dugaan itu.

“Tentu saja tidak.” Arman menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Keluarga Dewantara begitu terhormat. Mana mungkin mereka menyodorkan putri kesayangannya untuk dijodohkan demi urusan bisnis? Apalagi perusahaan dan kekayaan mereka sepuluh kali lipat dari kita.”

“Lalu untuk apa Papa membahas putri Dewantara? Belum tentu mereka mau dengan kita,” kata Nic kembali.

“Alaska Dewantara adalah teman lama Papa. Meskipun kami tidak terlalu dekat, kami cukup akrab dan tidak pernah memiliki masalah.” Arman menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Papa ingin mencoba melamar Alarice Jovelyn Dav Dewantara.”

Mendengar nama lengkap Jove disebut, Nic langsung menatap sang ayah.

“Nama yang bagus, bukan?” tanya Arman.

Nic hanya diam. Ia tidak memberikan tanggapan.

“Nic, cobalah dekati Jove. Siapa tahu kalian memang berjodoh.” Arman menatap putranya penuh harap. “Ini murni bukan soal bisnis. Papa begitu mengagumi putri Dewantara. Dia nona muda yang pintar dan elegan, tidak seperti beberapa nona muda dari keluarga lain yang manja dan merepotkan. Terlebih lagi, Mamamu juga menyukainya.”

Arman berharap putranya mau mempertimbangkan keinginannya.

Namun, Nic masih terdiam.

Pikirannya kembali tertuju pada satu sosok yang baru beberapa kali ia lihat.

Jove.

Wanita dingin yang bahkan tidak banyak bicara kepadanya malam itu.

Arman berdiri dari duduknya, merapihkan jas nya yang sedikit kusut, lalu kembali menatap putra semata wayangnya. “Nic, asalkan kamu setuju, Papa akan atur semuanya. Jalani saja dulu, berkenalan dengan dekat, jika memang tidak cocok, Papa tidak akan lagi memaksa.” Kata Arman lalu pergi meninggalkan Nic di ruangannya.

Waktu terasa berjalan lambat bagi Jove. Padahal, ia sudah sering menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan, tetapi entah mengapa dirinya masih saja merasa berada di tempat yang sama. Sesekali Jove memikirkan perkataan sang ayah tentang pernikahan, tetapi sering kali pula ia berusaha menepisnya.

Jove memutar kursi kerjanya hingga menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung lain, seolah berlomba untuk mencakar langit. Tangannya memainkan sebuah bolpoin.

“Menikah…” gumamnya, lalu tersenyum pahit.

Hingga suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar.

Jonathan datang menemui sang kakak. Jove pun kembali memutar kursinya dan mengalihkan perhatian pada berkas yang ada di tangannya.

Jonathan bisa melihat Jove yang baru saja melamun. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja, meskipun sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada sang kakak.

“Kak, boleh aku masuk?” tanyanya.

“Masuklah, Jo.”

Jonathan masuk dan kemudian duduk di hadapan kakaknya.

“Kak, aku mau minta tolong sama Kakak,” kata Jo.

“Apa yang bisa Kakak lakukan untukmu?”

“Proyek di Bandung, seharusnya besok aku ke sana untuk meninjau proyeknya. Tetapi, besok aku juga harus melihat proyek di Kalimantan. Ada masalah di sana dan aku harus datang langsung.”

Jove terdiam sejenak.

Mungkin dirinya bisa memanfaatkan kesempatan ini. Meninjau proyek sekaligus berlibur seorang diri.

“Baiklah,” jawab Jove tanpa berpikir panjang.

“Aku akan menyuruh Riri mendampingi Kakak.” Riri merupakan salah satu anggota tim asisten Jonathan.

“Suruh saja Riri langsung kesana.”

“Kak…” panggil Jonathan kembali.

Jove meletakkan berkas yang tadi dipegangnya. “Hm? Ada lagi?”

Jonathan menggelengkan kepalanya.

“Aku sedih melihat Kakak seperti ini,” ucapnya.

“Jangan kasihani aku, Jo,” kata Jove pelan.

“Aku tidak mengasihani Kakak. Aku dan Jordi menyayangi Kakak,” balas Jonathan cepat. “Andai aku tahu Kakak akan menjadi seperti ini, lebih baik dua tahun lalu aku tidak pernah membuka kebusukan pria itu.”

“Jadi, kamu lebih memilih Kakak dipermainkan oleh dia?” tanya Jove dengan tetap tenang.

“Tidak begitu, Kak.” Jonathan terdiam sejenak. Sama seperti Alaska, ia harus berhati-hati ketika berbicara dengan Jove. “Hanya saja, aku seperti kehilangan Kakak yang selalu aku banggakan.”

Jonathan menatap kakaknya dengan tatapan penuh sayang.

“Aku rindu Kakak yang dulu. Kakak yang selalu punya positive vibes. Bukan seperti sekarang. Kakak yang menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan menjaga jarak dengan dunia luar.”

Ucapan Jonathan membuat Jove terdiam.

Untuk sesaat, ia membiarkan kata-kata adiknya memenuhi pikirannya.

Sebenarnya, Jove sendiri lelah dengan dirinya yang seperti ini. Ia lelah terus bekerja, lelah berpura-pura baik-baik saja, dan lelah menjaga jarak dari banyak hal.

Namun, kejadian dua tahun lalu benar-benar meninggalkan luka yang begitu dalam.

Luka yang membuat Jove takut untuk kembali percaya.

1
Warningsih Ningsih
absen dulu ✌️✌️✌️
Miss. Shann (IG: miss.shann29): Hai Kak🤏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!