NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 13

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika lampu-lampu di lantai atas kediaman mereka meredup, menyisakan pijar temaram dari lampu tidur di sisi kiri ranjang king size.

Di dalam kamar utama, suasana terasa begitu sunyi. Reyden bersandar di kepala ranjang dengan bantal empuk menopang punggungnya. Sebuah laptop menyala di pangkuannya, menampilkan layar penuh deretan angka laporan keuangan dan draf kontrak proyek baru yang harus ia periksa kembali. Kerutan halus tampak jelas di keningnya, menunjukkan bahwa pikirannya belum sepenuhnya lepas dari urusan kantor.

Sebenarnya Reyden memang memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan di banding pikiranya harus berisik.

Ceklek.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Misya keluar dengan mengenakan piyama tidur terusan selutut berenda lembut. Rambut panjangnya yang setengah basah dibiarkan tergerai alami, menguar aroma sabun mandi beraroma lavender yang menenangkan.

Melihat suaminya yang baru saja selesai makan malam kini malah kembali berkutat dengan pekerjaan, langkah Misya terhenti sejenak di dekat meja rias. Misya naik ke atas tempat tidur, merangkak pelan mendekati Reyden, lalu duduk bersila di samping suaminya.

Reyden tersentak kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari layar laptop, mendongak menatap istrinya yang tersenyum simpul.

"Mas..." panggil Misya lembut, jemarinya bergerak lembut di kepala Reyden.

"Udah malam banget. Kenapa laptopnya dibuka lagi? Katanya tadi cape, harusnya istirahat."

Reyden menghela napas berat, menutup layar laptop di pangkuannya setengah jalan lalu meletakkannya di nakas sebelah tempat tidur. Ia memijat batang hidungnya sejenak.

"Ada beberapa revisi dokumen penting dari klien yang harus saya pastikan beres malam ini, Misya. Biar besok pagi di kantor tidak keteteran," jawab Reyden, suaranya terdengar lelah.

"Pekerjaan kantor Mas Rey akhir-akhir ini kelihatan berat banget ya?" tanya Misya pelan, ada nada cemas di balik suaranya.

"Sejak kemarin sore pas pulang, wajah Mas kelihatan kusut terus. Beneran nggak ada masalah lain selain dokumen itu? Atau butuh bantuan aku?"

Pertanyaan telak itu membuat Reyden tertegun sejenak. Untuk sesaat, ia nyaris tergoda untuk menceritakan pertemuannya dengan Aurelia, sekadar untuk membuang beban di kepalanya. Namun, egonya menolak.

"Tidak ada apa-apa, Misya. Ini murni urusan pekerjaan perusahaan. Aku bisa handle sendiri. Kamu istirahatlah lebih dahulu," ucap Reyden meyakinkan, menatap manik mata istrinya dalam-dalam.

Misya tersenyum teduh, merasa hangat dengan genggaman tangan suaminya. Ia tahu Reyden bukan tipe pria yang suka mengumbar keluh kesah, dan ia menghormati batasan itu.

"Iya, Mas... aku ngerti kok. Namanya juga CEO muda, tanggung jawabnya pasti besar," ujar Misya maklum.

Ia bergeser semakin mendekat, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Rey yang masih duduk bersandar. Reyden yang kadang masih kaget dengan kebiasaan Misya yang selalu memeluk dia kalau tidur menahan napas. Sentuhan fisik yang ditunjukkan Misya, terutama pelukan hangat tanpa jarak ini, selalu berhasil menciptakan debar asing di dadanya. Ada rasa canggung yang perlahan melebur menjadi kenyamanan dan kebiasaan.

Pria itu mengembuskan napas perlahan, mencoba menetralisir detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Tangannya yang bebas terangkat ragu-ragu, lalu mendarat di punggung Misya, mengusapnya pelan.

"Misya..." panggil Reyden dengan suara baritonnya yang rendah, terdengar sedikit serak karena kelelahan.

"Kamu... tidak perlu memeluk erat begini kalau mau tidur. Nanti kamu tidak nyaman."

Misya mendongak, memperlihatkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa jengkal dari dada Reyden. Bibirnya mengerucut tipis, menunjukkan protes kecil yang justru terlihat menggemaskan di mata sang suami.

"Kenapa harus tidak nyaman?" sanggah Misya lembut, manik matanya menatap lurus manik mata hitam Reyden dengan penuh ketulusan.

"Aku kan istri kamu, Mas. Udah kewajiban sekaligus kesenangan aku buat meluk suami aku sendiri. Lagian, dari dulu sebelum kita nikah pun... aku emang pengen punya suami yang bisa dipeluk pas tidur."

Ucapan polos itu membuat Reyden tertegun. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tulus.

"Dulu?" ulang Reyden menaikkan sebelah alisnya, menatap istrinya dengan tatapan menyelidik bercampur geli.

"Emangnya kamu sudah merencanakan mau punya suami seperti apa dari dulu?"

Misya terkekeh pelan, tawa kecilnya menguar lembut di keheningan kamar. Ia merapatkan lagi posisinya, membenamkan kepalanya di pinggang Reyden.

"Dulu, aku cuma pengen nikah sama pria yang mencintai aku, dan hidup berumah tangga harmonis dan romantis seperti Mami dan Papi..."

"Tapi akhirnya malah di jodohkan dengan aku!" potong Rey membuat mereka terkekeh.

"Iya bener juga. Namanya juga takdir kan? Seperti yang kamu bilang kita jalani saja hubungan pernikahan ini. Walau pernikahan ini di mulai tanpa cinta, tapi kita bisa belajar saling mengenal dan mungkin setelahnya terbiasa dengan pernikahan ini. Dan kita sekarang sudah hampir dua tahun menikah, walau ..."

"Misya, Maaf..."

"Ah aku kayaknya udah ngantuk banget, Mas. Kamu jangan terlalu malam beresin kerjaannya, jangan hiraukan aku yang tidur di sini. Aku cuma pengen peluk suamiku..." Misya kembali mengeratkan pelukannya di pinggang Reyden dan membenamkan wajahnya di sebelah pinggang Rey.

Suara napas teratur Misya yang mulai memberat perlahan menguar di antara keheningan kamar. Wanita itu tampak benar-benar lelah, namun rasa nyamannya berada di sisi Reyden membuatnya cepat terlelap dalam posisi duduk bersandar, memeluk pinggang suaminya erat-erat.

Reyden terpaku sejenak. Kalimat terakhir Misya tadi, yang sempat terpotong oleh rasa mengantuk sang istri mengingatkannya pada realitas hubungan mereka.

'Walau pernikahan ini dimulai tanpa cinta... walau kita sekarang sudah hampir dua tahun menikah, walau...'

Ada jeda yang menyisakan tanda tanya di benak Reyden, seolah istrinya menyimpan ketakutan kecil bahwa kehangatan ini sewaktu-waktu bisa berubah.

"Maaf, Misya. Mungkin yang kamu maksud adalah aku belum mencintai kamu... Dan bahkan selama ini hubungan kita selama dua tahun peling jauh adalah tidur dengan kamu yang selalu memeluk aku... Aku hanya takut, takut akan menyakiti kamu kalau nyatanya aku..."

Reyden menghela napas panjang. Ia meraih laptop yang tadi sempat diletakkan di nakas, lalu menutupnya rapat-rapat tanpa berniat membukanya kembali. Urusan pekerjaan malam ini sudah cukup sampai di sini. Tidak ada yang lebih penting dibanding menenangkan perempuan yang kini tengah memeluknya dengan begitu tulus.

Dengan gerakan hati-hati agar tidak mengusik tidur istrinya, Reyden melepaskan sandaran punggungnya dari kepala ranjang. Ia meraih tubuh Misya pelan, membantu melepaskan posisi duduknya, lalu merebahkan tubuh mereka berdua secara berdampingan di atas kasur king size.

Misya sempat bergumam kecil dalam tidurnya, mengerjap pelan karena pergerakan tersebut. Namun, begitu ia merasakan lengan kokoh suaminya melingkar posesif di pinggangnya dan menariknya semakin dekat ke dalam dekapan hangat, bibir Misya kembali melengkung membentuk senyuman damai. Wanita itu secara otomatis menyusupkan wajahnya ke dada bidang Reyden, mencari posisi paling nyaman.

Reyden merapatkan selimut tebal hingga menutupi pundak mereka berdua. Ia membelai lembut rambut Misya, membiarkan helainya bergesekan di jemarinya.

Pria itu menatap langit-langit kamar yang temaram, lalu menunduk untuk mengecup singkat puncak kepala istrinya.

"Maaf, Misya..." bisik Reyden lirih, suaranya nyaris tertelan sepi malam.

1
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
falea sezi
lemah amay sya🤣🤣 kayak elu gk ada harga diri aja suami gt buang mending dpet cowok biasa tp di cintai wong suami mu aja dr awal. liat aurelia. ketara bgt dia g move on🤣
Susan Paulina: Lanjut lagi Thor hari ini, ceritanya seru banget
total 1 replies
nely_48
syukurlah reyden msh membela misya , berarti otak reyden msh waras
nely_48
idih km knp misya,, sampe segitu hancurnya km nangisin suami n mantan nya ketemuan
nely_48
semoga misya aman² az d dlm kamar tamu, jgn menyiksa diri sendiri misya
nely_48
reyden km belajar tegas pd hati n diri mu sendiri ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!