NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Divonis Olehku

Damon

Aku keluar dari restoran sialan itu dengan kepala mendidih dan amarah membakar dari dalam. Aku berjalan menuju Mahkamah Agung, langkahku kujaga tetap mantap sambil mencoba menata kekacauan pikiran yang menyiksaku. Namun sekeras apa pun aku berusaha fokus pada apa yang harus dilakukan, mata Felipa yang terluka terus saja mengejarku.

Perempuan terkutuk! Dia masih berani mencoba menjelaskan, seolah beberapa kata cukup untuk menghapus apa yang kulihat dengan mataku sendiri.

Selama enam bulan terakhir, Felipa ada di ranjangku, mengenal bagian-bagian diriku yang tak pernah sempat dikenal perempuan lain, dan meraih kedekatan yang tak pernah kubayangkan akan kuizinkan pada siapa pun. Dan sekarang aku tahu dia menipuku selama ini.

Beberapa minggu terakhir, Mahkamah Agung menghadapi kebocoran data rahasia. Begitu masalahnya muncul, aku memerintahkan penyelidikan internal. Kami menelusuri catatan, memeriksa akses, dan memeriksa para pegawai, tapi pelakunya pandai menghapus jejaknya sendiri. Sampai hari ini, kami tak punya bukti cukup untuk menunjuk seorang pun, dan kasusnya tak terpecahkan.

Kini, setelah apa yang kulihat di restoran itu, aku tak ragu lagi bahwa Felipa terlibat. Perempuan terkutuk yang berbagi ranjang denganku selama enam bulan terakhir mungkin mendekatiku dengan tujuan yang sangat berbeda dari yang membuatku percaya.

Dominic berjalan di sampingku, diam saja saat kami menyeberangi trotoar menuju Mahkamah Agung. Aku tak berminat bicara, apalagi mendengar upaya apa pun untuk membenarkan perilaku Felipa. Kepalaku terlalu sibuk dengan langkah-langkah yang hendak kuambil.

Begitu kami masuk lift, Dominic menekan tombol lantai kami dan menoleh padaku.

"Apa yang akan kamu lakukan, Damon?"

Mataku tetap terpaku pada angka-angka yang menunjukkan kenaikan kami.

"Aku akan menuntut Felipa secara hukum. Aku mau perempuan itu mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Aku baru akan berhenti setelah melihatnya di balik jeruji."

Dominic mengembuskan napas pelan, mengusap wajah sebelum bicara lagi.

"Jangan lakukan itu."

Kuputar kepalaku perlahan ke arahnya.

"Ulangi."

"Kamu dengar jelas. Bertemu dengan Vittorio Lombardi tidak otomatis membuatnya bersalah, Damon. Kamu tak punya bukti Felipa ikut dalam kebocoran itu, apalagi bahwa dia mencuri informasi apa pun dari Mahkamah Agung."

Aku tertawa hambar.

"Lucu, kamu tampak begitu bersemangat membelanya."

"Aku tidak membela siapa pun. Aku berusaha membuatmu melihat situasi ini dengan kepala seorang hakim, bukan seorang pria yang murka karena mengetahui perempuan yang dekat dengannya mungkin menyembunyikan sesuatu."

Rahangku mengatup. Dominic sudah melampaui batas kesabaranku, tapi aku tak bisa mengabaikan bahwa dia cukup mengenal wataku untuk tahu kapan aku nyaris kehilangan kendali.

"Keluargamu hanya ingin tahu apa yang kamu rencanakan," lanjutnya.

"Itu bisa berarti banyak hal, termasuk bahwa mereka memakai Felipa tanpa dia tahu seluruh detailnya. Kamu tak bisa mengubah kecurigaan jadi hukuman hanya karena dia bertemu Vittorio."

"Kamu tidak ada di restoran itu."

"Aku ada di sana, tapi aku mengenalmu. Dan aku tahu kapan kamu hampir berbuat bodoh karena tak bisa memisahkan apa yang kamu rasakan dari apa yang harus kamu buktikan."

Begitu pintu terbuka, aku maju satu langkah ke arahnya dan menatapnya dingin.

"Hati-hati dengan ucapanmu, Dominic."

Dia membalas tatapanku tanpa tampak gentar.

"Kamu yang hati-hati, Damon. Jangan buta karena amarah. Kalau Felipa bersalah, cari buktinya dan buat dia bertanggung jawab sesuai hukum. Tapi kalau dia tak bersalah, kamu akan menghancurkan hidupnya karena sesuatu yang mungkin bahkan tak dia lakukan. Dan kali ini kamu tak bisa menyalahkan siapa pun selain dirimu sendiri."

Aku keluar lift tanpa menjawab, menyusuri koridor menuju ruang kerjaku. Kata-kata Dominic mengikutiku, menjengkelkan dan tak diundang.

Tetap saja, aku tak bisa mengusir ingatan akan pertemuan itu, apalagi perasaan telah dibodohi oleh perempuan yang berbaring di ranjangku selama enam bulan.

Kalau dia tak bersalah, dia akan punya kesempatan membuktikannya.

Tapi kalau dia mengkhianatiku, dia akan tahu tak ada tempat di dunia ini yang bisa dipakainya bersembunyi dariku.

Begitu meja Felipa tertangkap mataku, gelombang amarah baru naik ke dadaku. Tempat yang dulu dipakai perempuan itu menghabiskan sore, dengan senyum nakal dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, kini terasa seperti provokasi. Aku masih bisa membayangkannya duduk di sana, rambut jatuh ke bahunya sementara dia berkonsentrasi pada dokumen yang kuberikan, sama sekali tak sadar bahwa mungkin dia sedang memakai kedekatannya denganku untuk menyuapi kepentingan Vittorio yang terkutuk itu.

Kukatupkan rahangku dan kupalingkan pandangan, menolak membuang satu detik lagi untuk kenangan yang tak layak mendapat perhatianku.

Aku langsung menuju ruangan Mirtes. Kubuka pintu tanpa mengetuk, membuat sekretaris umum itu mengangkat mata dari dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya.

"Singkirkan meja peserta magang itu beserta seluruh barangnya. Felipa Bianchi dipecat. Aku tak butuh peserta magang lain."

Mirtes mengerjap beberapa kali, tampak berusaha mencerna ucapanku. Dia menggeser kursi dan berdiri, wajahnya terkejut lalu cepat berubah cemas.

"Tapi, Pak..."

"Aku akan menuntut Felipa secara hukum," tambahku, memotong segala upaya bertanya. "Jadi aku tak mau ada lagi yang menjadi milik perempuan itu di Mahkamah ini."

Mirtes membuka mulut, tapi tampaknya mengurungkan niatnya. Aku sudah cukup lama mengenal Mirtes untuk tahu dia tak mudah gentar, meski dia juga tahu kapan kesabaranku sudah habis.

"Lakukan yang kuminta, Mirtes."

Suaraku keluar rendah dan tajam. Aku tak perlu berteriak untuk menegaskan bahwa aku tak berniat membahas keputusanku.

Dia mengangguk, masih jelas ketakutan, dan aku berbalik, meninggalkan ruangannya untuk kembali ke ruang kerjaku.

Kututup pintu di belakangku, melintasi ruangan, dan duduk di kursi. Kubuka perkara pertama yang kutemukan di meja, kuambil pena dan mulai bekerja, bertekad menyibukkan pikiran dengan sesuatu yang benar-benar penting.

Setidaknya itulah niatnya.

Kudengar hilir mudik pegawai, bunyi perabot diseret di ruangan itu dan di koridor, serta suara-suara pelan orang-orang yang tak diragukan sudah mulai bergosip soal dipecatnya peserta magang itu.

Kuabaikan semuanya.

Kulanjutkan membaca dokumen, menganalisis tiap baris dan mencatat pengamatanku, seperti yang kulakukan setiap hari. Rutinitasku tak akan berubah gara-gara seorang perempuan, apalagi seseorang yang mungkin mendekatiku dengan maksud terselubung.

Meski begitu, saat kudengar suara meja diseret menjauh, tanganku berhenti di atas kertas.

Kupandang ke arah pintu.

Ini konyol. Meja itu sama sekali tak berarti bagiku. Hanya sebuah perabot, seperti semua yang lain di tempat ini. Namun pemindahannya memberiku kepuasan yang getir, seakan menyingkirkan jejak keberadaan Felipa cukup untuk menghapus enam bulan terakhir.

Kualihkan mata ke perkara itu dan kembali membaca.

Felipa Bianchi tak lagi bekerja untukku. Dia tak akan lagi punya akses ke ruanganku, ke dokumen-dokumenku, atau ke hidupku.

Soal penyelidikan, aku akan memastikan seluruh kebenaran terungkap.

Dan kalau terbukti dia membocorkan informasi itu, aku tak akan membiarkan mata berkaca-kacanya atau upayanya menjelaskan mengganggu keadilan yang begitu kujunjung.

Sebab sebelum menjadi pria yang membawanya ke ranjangnya sendiri, aku adalah hakim yang seharusnya dia pikir dua kali sebelum mencoba menipu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!