**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Kutemui Dia, dan Kubilang Aku Hamil
"Ada yang cari saya?"
Kirana mengangkat kepala.
Bagas berdiri di ambang pintu dengan seragam latihan yang masih berdebu. Lengan bajunya digulung sampai siku. Keringat membasahi rambut di pelipis, sedangkan sepasang sepatu lapangannya meninggalkan tanah tipis pada lantai.
Tatapannya melewati koper, berhenti pada Kirana, lalu berubah waspada.
"Anda siapa?"
Kirana sudah membayangkan banyak kemungkinan selama perjalanan. Bagas mungkin marah. Ia mungkin menyuruhnya pulang. Namun Kirana tidak pernah membayangkan laki-laki itu bahkan tidak mengenalinya.
"Mas Bagas," kata Gunawan dari koridor. "Dia mengaku mantan istrimu."
Bagas menatap lagi. Kali ini lebih lama.
Kirana menyentuh kerudung kusutnya. Wajahnya tanpa riasan, pucat setelah perjalanan hampir sehari. Tunik pudar membuatnya tampak seperti perempuan lain dibandingkan pengantin berkebaya putih yang terakhir dilihat Bagas di Surabaya.
"Kirana?"
Satu kata itu membuat dadanya sesak.
Gunawan memandang mereka bergantian. "Perlu saya tunggu?"
"Tidak," jawab Bagas. "Tutup pintunya."
Begitu pintu menutup, kesunyian menelan ruangan. Bagas tetap berdiri. Ia tidak menawarkan tangan, tidak pula mendekat.
"Kenapa kamu datang?"
"Aku perlu bicara."
"Aku bisa melihatnya. Tentang apa?"
Kirana meremas ujung tas. Semua kalimat yang disusunnya di bus lenyap. Yang tersisa hanya kebenaran paling telanjang.
"Aku hamil."
Bagas tidak bergerak.
Kirana memaksa dirinya menatap lurus ke mata laki-laki itu. "Anak ini anakmu. Aku datang supaya kamu bertanggung jawab."
Untuk pertama kalinya, wajah Bagas benar-benar kehilangan kendali. Matanya melebar tipis. Tangan yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal.
"Ulangi."
"Aku hamil sekitar tujuh minggu."
"Tujuh minggu?"
"Waktunya sesuai dengan malam di vila."
Bagas melangkah masuk dan menutup jarak, lalu berhenti dua langkah di depannya. Aroma matahari, keringat, dan tanah melekat pada seragamnya. Aneh, Kirana langsung mengenali aroma tubuh yang dahulu membuatnya ketakutan di kamar asing itu.
Ingatan mereka seperti bertabrakan di tengah ruangan. Gelas buah persik. Kopi pahit. Pintu terkunci. Cahaya kamera. Akad yang dingin. Kata-kata Kirana tentang perwira desa yang mencari jalan pintas.
"Dari mana kamu yakin itu anakku?" tanya Bagas.
Pertanyaan tersebut menampar lebih keras daripada yang Kirana perkirakan.
"Karena tidak ada laki-laki lain."
"Aku tidak tahu kehidupanmu setelah kita berpisah."
Kirana berdiri begitu cepat hingga pandangannya menghitam. Tangannya mencengkeram tepi meja sampai keseimbangan kembali.
"Kamu boleh membenciku karena aku meminta cerai. Kamu boleh mengingat semua hinaanku. Tapi jangan rendahkan aku seperti itu."
Bagas hendak meraih lengannya, tetapi urung sebelum menyentuh. "Duduk. Wajahmu pucat."
"Aku tidak butuh belas kasihan."
"Aku juga tidak sedang memberikannya. Aku perlu kepastian."
Kirana mengeluarkan testpack yang telah dimasukkan ke kantong bening. Ia meletakkannya di meja bersama catatan tanggal haid terakhir dari aplikasi ponsel.
"Aku belum sempat ke dokter. Rumah kami disita pada hari aku melakukan tes. Kalau kamu ingin kepastian medis, bawa aku periksa."
Tatapan Bagas jatuh pada dua garis merah. "Rumahmu disita?"
"Perusahaan Papa runtuh. Rekening dibekukan. Mama dan aku pindah ke rumah kontrakan. Bukankah kabar buruk keluarga Prawira sudah beredar di mana-mana?"
Kini kecurigaan lain muncul di wajah Bagas. "Jadi kamu datang setelah keluargamu jatuh."
"Ya."
Jawaban jujur itu membuat Bagas mengerutkan kening.
Kirana menelan rasa malu. "Aku tidak akan berpura-pura datang karena cinta. Aku datang karena sedang mengandung anakmu dan hidupku tidak lagi seperti dulu. Aku perlu ayah dari anak ini mengakui tanggung jawabnya."
"Kamu yang memintaku pergi."
"Aku tahu."
"Kamu juga yang mengatakan aku menikahimu demi uang keluargamu."
"Aku tahu."
"Lalu seseorang mengirim pengaduan memakai namamu dan mengulang tuduhan yang sama."
Kirana mengeluarkan napas perlahan. "Aku baru mendengarnya dari Gunawan. Aku tidak mengirim surat itu."
"Siapa lagi yang tahu apa yang kamu katakan kepadaku?"
"Aku tidak tahu." Kirana berhenti, lalu teringat wajah Melati di vila. "Mungkin seseorang yang sejak awal ingin kita saling membenci."
Mata Bagas menyipit. "Maksudmu Melati?"
"Aku hanya minum jus yang dia berikan malam itu. Dia juga orang yang paling diuntungkan setelah aku menikah denganmu."
"Tuduhan bukan bukti."
"Apa hasil pemeriksaan CCTV?"
Bagas terdiam sejenak. "Rekaman koridor lantai dua hilang selama empat puluh menit. Pihak vila bilang sistemnya bermasalah."
"Kebetulan sekali."
"Pelayan yang membawa kopi kepadaku tidak tercatat sebagai pegawai. Seragamnya asli, kartu namanya palsu. Tidak ada yang mengaku mengenalnya."
Kirana merasa kulit lengannya meremang. "Bagaimana kamu bisa sampai ke kamarku?"
"Aku menerima pesan dari nomor tak dikenal. Katanya salah satu putri keluarga Prawira pingsan dan Bu Ratna meminta bantuan karena staf perempuan sedang dipanggil." Bagas menatapnya tajam. "Pesannya menyebut nomor kamar, bukan namamu."
"Melati yang menyuruhku naik." Kirana menekan jemari ke pelipis, memaksa potongan malam itu kembali. "Dia bilang kamar 207 kosong dan aku bisa berbaring sebentar. Dia sendiri yang mengantarku sampai tangga, lalu memberikan gelas terakhir."
"Kamar kita 207."
"Aku tahu."
Untuk beberapa detik, mereka tidak lagi tampak seperti mantan suami istri yang saling melukai. Mereka menjadi dua orang yang berdiri di sisi berbeda sebuah perangkap, akhirnya membandingkan jejak orang yang mendorong keduanya masuk.
Bagas mengambil ponselnya. "Nomor yang mengirim pesan sudah tidak aktif. Tapi aku masih menyimpan tangkapan layarnya."
Ia memperlihatkan pesan tersebut. Kalimatnya singkat, memakai sapaan formal, dan diakhiri inisial R. Inisial yang bisa berarti Ratna, tetapi juga bisa sengaja dipilih agar Bagas membuat kesimpulan itu.
"Mama tidak pernah menghubungimu malam itu," kata Kirana. "Dia bahkan baru tahu aku hilang menjelang pagi."
"Aku sudah menanyakannya kepada Bu Ratna setelah akad."
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Setiap kali aku mendekat, kamu memandangku seolah aku bagian dari jebakan. Lalu kamu meminta cerai."
Kirana tidak mampu membantah. Rasa bersalah menekan lidahnya, tetapi permintaan maaf terasa terlalu kecil untuk luka yang telah dibuatnya.
"Kirim tangkapan layar itu kepadaku."
"Untuk apa?"
"Karena kalau Melati benar pelakunya, aku ingin punya bukti saat waktunya tiba."
Bagas mempelajarinya sejenak, lalu mengirim berkas tersebut ke nomor Kirana. Bunyi notifikasi kecil terdengar seperti perjanjian pertama di antara mereka.
"Aku tahu. Karena itu aku tidak datang untuk meminta kamu menangkapnya. Aku datang membawa kabar tentang anak kita."
Bagas berjalan ke jendela. Di luar, suara aba-aba latihan terdengar jauh. Punggungnya tetap tegak, tetapi bahunya menyimpan ketegangan yang tidak ada saat ia pertama masuk.
"Kalau benar anakku, aku tidak akan lari," katanya.
"Kalau benar?"
"Kita periksa ke dokter. Hitung usia kehamilan. Pastikan kondisimu. Setelah itu kita bicara tentang tanggung jawab."
"Dan kalau dokter mengatakan waktunya sesuai?"
Bagas berbalik. "Aku belum memberi jawaban yang tidak bisa kutarik kembali."
"Aku tidak meminta jawaban tentang cinta." Kirana mengangkat dagu. "Aku meminta kepastian bahwa anak ini tidak akan tumbuh sebagai rahasia yang kamu sembunyikan karena takut kariermu rusak."
"Jangan bicara seolah aku sudah meninggalkan anak yang bahkan baru kuketahui lima menit lalu."
"Aku perlu tahu apa yang akan kuhadapi."
"Dan aku perlu tahu fakta medisnya."
"Setelah itu?"
"Setelah itu kita bicara tentang pengakuan sebagai ayah, biaya pemeriksaan, tempat tinggalmu, dan bentuk hubungan yang bisa melindungi anak tanpa mengulangi kesalahan sebelumnya."
Kirana menangkap satu hal yang sengaja tidak disebutkannya. "Kamu tidak mengatakan rujuk."
"Karena itu bukan keputusan yang dibuat dalam satu percakapan."
"Kamu takut pada surat pengaduan itu?"
"Aku takut membuat keputusan karena tekanan, lalu kita saling menghancurkan lagi." Bagas menatap langsung kepadanya. "Karier bisa kuhadapi. Tapi aku tidak akan masuk ke pernikahan kedua kalau kamu masih menganggapku laki-laki kampung yang pantas dibuang setelah keadaanmu membaik."
Kata-kata itu tepat mengenai tempat yang paling ingin Kirana sembunyikan. Ia datang membawa kebutuhan, tetapi Bagas membawa harga diri yang pernah diinjaknya.
"Mama tinggal di mana sekarang?" tanya Bagas.
"Rumah kontrakan di Surabaya."
"Kamu punya uang untuk perjalanan pulang?"
"Aku tidak datang untuk meminta sedekah."
"Aku bertanya apakah kamu aman, bukan apakah kamu miskin."
Kirana memeluk tas lebih erat. Ia teringat pesan Ratna agar tidak membuka semua kartu. "Aku punya cukup untuk sementara. Itu saja yang perlu kamu tahu."
Bagas tidak mendesak, tetapi matanya mencatat jawaban tersebut. "Malam ini kamu tinggal di mana?"
Pertanyaan itu membuat Kirana kembali diam. Ia terlalu sibuk memikirkan cara menemukan Bagas sampai belum memesan penginapan.
"Belum tahu," akunya.
Bagas menekan ujung lidah ke pipi, jelas menahan komentar.
Kirana tertawa pendek. "Masih sama. Semua harus seperti perintah latihan."
"Setidaknya perintah punya dasar."
"Sedangkan aku tidak?"
"Kamu datang mendadak setelah menghancurkan pernikahan kita sendiri. Kamu bilang hamil, lalu meminta aku percaya tanpa pemeriksaan. Menurutmu aku harus bagaimana? Langsung menggelar akad kedua malam ini?"
Kirana terdiam. Di balik ketajaman kata-katanya, Bagas tidak sepenuhnya salah.
"Aku hanya minta satu kesempatan untuk membuktikannya."
"Baik. Besok kita ke dokter."
Jawaban itu baru saja memberi ruang pada napas Kirana ketika bunyi panjang terdengar dari perutnya.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Panas merayap dari leher ke wajah Kirana. Ia buru-buru duduk dan menekan tas ke perut, seolah itu bisa menghapus suara tadi.
Bagas menatapnya. "Terakhir makan kapan?"
"Di perjalanan."
"Kapan?"
"Pagi. Dua keping biskuit."
"Sekarang hampir jam tujuh malam."
"Aku mual kalau makan banyak."
Bagas mengembuskan napas kasar, lalu meraih topinya dari meja. "Ikut aku. Makan dulu."
"Aku belum selesai bicara."
"Kita tidak akan menyelesaikan apa pun kalau kamu pingsan."
Ia membuka pintu, tetapi Kirana teringat sesuatu. "Bagas, tunggu."
Dari saku dalam tas, ia mengeluarkan gelang bayi yang dibawa sepanjang perjalanan. Logam kusam itu terbaring kecil di atas telapak tangannya.
"Ini tertinggal waktu itu. Aku hendak mengembalikannya sebelum kamu pergi, tapi baru kulihat ukirannya."
Tatapan Bagas terkunci pada gelang tersebut.
"Kenapa ada nama Rangga di dalamnya?"
Bagas mengambil gelang itu. Ujung jari mereka nyaris bersentuhan, tetapi tangannya mendadak tertarik kembali seperti baru menyentuh bara.
"Barang lama," jawabnya.
"Barang lama milik siapa?"
Bagas memasukkannya ke saku celana. Wajahnya kembali datar, tetapi selama satu detik, Kirana melihat sesuatu yang tidak dapat disembunyikannya.
Bukan sekadar enggan menjawab.
Laki-laki itu takut pada jawaban dari gelang tersebut.