Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Wajah Zhao Kui memerah sampai ke telinga, dan urat di lehernya menonjol seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
"Namaku Zhao Kui! Zhao Kui, bukan Zhui! Akan kupotong lidahmu dan kuberikan pada anjing!" Ia menerjang dengan pedang terangkat, tebasannya turun miring dari bahu kanan, membawa uap Qi yang berdesis di sepanjang bilah.
Yu Tian tidak mundur. Ia memiringkan badan setengah langkah, lalu menempelkan telapak tangannya di sisi datar pedang itu dan menekannya ke samping, seperti orang menepis ranting yang menghalangi jalan. Bilah itu berbelok, menyapu udara kosong, dan menancap sejengkal ke dalam tanah. Zhao Kui tertarik ke depan oleh bobot serangannya sendiri, dan lengan jubah Yu Tian bahkan tidak tergores.
Yu Tian menurunkan bahu, lalu melepaskan satu pukulan lurus ke bawah pusar pemuda itu, tepat di tempat Qi-nya berpusat. Qi yang tersisa di perutnya ikut bergetar mengikuti pukulan itu. Tubuh Zhao Kui menekuk dua, matanya membelalak, dan napasnya terputus seperti benang yang digunting. Ia terhuyung dua langkah, lalu jatuh berlutut dan akhirnya rebah dengan wajah menghantam tanah.
Sunyi turun di halaman itu. Yu Tian mengibaskan tangan yang memerah, dan dari sela buku-buku jarinya tinggal sisa panas yang pelan-pelan padam. 'Seperempat Qi yang tersisa. Boros untuk lawan selemah ini.'
Anak buah yang tersisa berebut maju, tetapi tidak satu pun berani menatap matanya. Dua orang menyeret tubuh Zhao Kui di bawah ketiak, yang lain memapah kawan-kawan yang patah tulang, dan mereka mundur ke jalan setapak dengan langkah terseok. Seorang di antaranya menoleh sekali dengan wajah pucat, lalu berlari mengikuti yang lain.
Yu Tian menyaksikan punggung mereka mengecil. Ia tidak melangkah untuk mengejar, dan tangannya tetap terjuntai di sisi tubuh. 'Biar saja. Anjing yang dilepas masih bisa membawa tuannya pulang.'
Di belakangnya, terdengar bunyi lutut yang menghantam tanah. Kakek Lao sudah berlutut lagi dengan kening menempel ke debu, dan bahunya yang kurus berguncang. "Anak muda, saya tidak tahu harus memberi apa. Rumah kami rusak, lumbung kami kosong, tapi apa pun yang tersisa akan saya bawa ke hadapanmu. Beras, pil, batu roh, apa saja..."
Yu Tian menoleh, dan tawa pendeknya memecah sunyi seperti batu dilempar ke kolam. "Kalian orang miskin mau memberiku hadiah? Jangan mimpi. Aku tidak butuh pemberian dari orang yang atapnya saja belum diperbaiki. Simpan semua sumber dayamu untuk musim dingin."
Kakek Lao mengangkat wajahnya perlahan. Darah di bibirnya sudah mengering, tetapi matanya tidak berkedip dan tidak ada sedikit pun amarah di dalamnya. Ia berdiri dengan bertumpu pada lututnya sendiri, lalu membungkuk dalam, lebih dalam dari yang pertama, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Yu Tian mengangkat sebelah alis. 'Dimaki, tapi tidak tersinggung. Orang tua yang aneh.'
Ia memutar badan, dan saat kakinya melangkah menuju jalan setapak, sebuah suara memanggil dari belakang, serak dan tertahan. "Yu Tian!"
Lin Yue berdiri di depan reruntuhan rumahnya, bersandar pada tiang kayu yang miring. Lengan kirinya dibebat kain yang sudah merah, napasnya pendek-pendek dan hati-hati. Ia melangkah mendekat satu langkah demi satu, dagunya tetap terangkat. "Bawa aku. Aku ingin jadi kuat sepertimu."
Yu Tian menatapnya dari ujung rambut hingga sandal yang berlumur darah. Tidak ada ejekan di wajahnya kali ini, hanya kelelahan yang cepat ia sembunyikan. "Tidak. Aku bukan guru, dan orang yang kuajari biasanya berakhir di dinding yang sama denganku."
Lin Yue menunduk. Jarinya meremas ujung kain bebatannya, dan bibirnya terkatup rapat seperti sedang menelan sesuatu yang pahit. Ia tidak membantah, tetapi bahunya turun sedikit, dan sabit yang tergeletak di dekat kakinya tidak ia pungut.
Yu Tian mendengus pelan.
'Gadis ini memang keras kepala.' Ia mengusap tengkuknya, menatap langit yang sudah mulai jingga, lalu berkata tanpa menoleh. "Ambilkan pena dan buku kosong. Cepat, sebelum aku berubah pikiran."
Lin Yue mengangkat wajah dengan mata yang membelalak, lalu berlari kecil ke dalam sisa rumahnya sambil memegangi rusuk. Ia kembali dengan buku usang yang separuh halamannya masih bersih dan sebatang pena bulu yang ujungnya sudah patah. Yu Tian mengambilnya dan duduk di atas batu tempat Zhao Kui tadi menghantam, lalu mulai menulis.
Pena itu bergerak cepat, nyaris tanpa jeda, dan setiap huruf yang ia goreskan rapi seperti dipahat. Ia menulis cara mengatur napas, urutan melatih otot dan tulang, bahaya melompati tahapan, hingga cara mengenali kapan tubuh siap menyerap Qi. Lin Yue berdiri di samping bahunya dan membaca sambil menahan napas. Beberapa baris ia ulangi tanpa suara, bibirnya bergerak mengikuti, dan matanya semakin lebar.
Yu Tian menutup buku itu dan menyodorkannya. "Itu lebih lengkap daripada buku apa pun yang ada di desa ini, dan mungkin di kota yang kalian kenal. Jangan lewati satu halaman pun. Kalau kau sudah menembus Pengumpulan Qi, baru boleh kau masuk sekte."
Lin Yue menerima buku itu dengan dua tangan, seolah takut halamannya akan terbang bila ia memegangnya terlalu erat. Senyum merekah di wajahnya yang masih berdebu, dan ia mengangguk berkali-kali tanpa suara.
Yu Tian berdiri dan menepuk debu dari jubahnya. Ia melangkah meninggalkan desa tanpa menoleh lagi, dan di belakangnya asap tipis masih naik dari atap yang hangus.
'Murid yang gagal sebelum mulai. Itulah yang paling kutakutkan dari mengajar.' Ia mempercepat langkahnya ke arah jalan yang menurun.