CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TES DNA
Para dosen akhirnya meninggalkan Awen dan Alu yang masih tampak kebingungan di dalam ruangan. Mereka berkumpul di ruangan lain untuk membahas dua persoalan yang sulit diterima akal sehat: kehadiran kembali Awen yang sudah meninggal dan Alu yang beberapa hari terakhir tidak masuk kuliah.
Dosen 1 membuka pembicaraan.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, menurut saya, kita sebaiknya memberitahukan kejadian ini kepada orang tua mereka.”
Dosen 2 menggeleng pelan.
“Masalahnya, pihak kampus tidak memiliki kontak kedua orang tua mereka. Apalagi, orang tua mereka tinggal di luar negeri.”
“Namun, kalau saya perhatikan, sepertinya Awen dan Alu tidak berbohong,” sahut Dosen 3. “Tadi kita sudah menanyai mereka secara bergantian. Anehnya, penjelasan yang mereka berikan tetap sama.”
Dosen 1 mengangguk, lalu mengemukakan pendapatnya.
“Kalau begitu, sebaiknya kita melakukan tes DNA. Kita perlu memastikan apakah wanita itu benar-benar Awen atau orang lain yang menyamar sebagai dirinya.”
“Berarti kita membutuhkan bantuan pihak kepolisian,” ujar Dosen 2.
Dosen 3 ikut mengangguk. “Saya setuju. Setidaknya, kita bisa mendapatkan penjelasan berdasarkan bukti yang jelas.”
“Baiklah. Kalau begitu, kita sepakat menghubungi kepolisian,” putus Dosen 1.
Tidak lama kemudian, dua orang petugas polisi tiba di kampus. Setelah dipersilakan duduk, keduanya mendengarkan penjelasan para dosen mengenai kejadian yang membuat seluruh kampus gempar.
“Maaf, Pak. Hari ini kampus kami menghadapi permasalahan yang sangat rumit,” ujar salah seorang dosen.
“Bisa diceritakan secara detail dan perlahan, Bu?” tanya salah satu petugas. “Kami akan mencatat keterangannya.”
Dosen itu menarik napas sebelum melanjutkan.
“Seorang mahasiswi yang sudah meninggal beberapa waktu lalu tiba-tiba muncul kembali di kampus. Namun, dia mengaku sebagai orang lain.”
Polisi tersebut mengangguk. “Silakan dilanjutkan, Bu.”
“Mahasiswi itu bernama Awen. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan. Akan tetapi, hari ini dia datang ke kampus dan mengaku sebagai Alu, mahasiswa yang sudah beberapa hari tidak masuk kuliah.”
Kedua petugas saling berpandangan. Mereka kemudian meminta keterangan lebih lanjut mengenai Awen, Alu, dan Afu sebelum memutuskan untuk memeriksa ketiganya.
Setelah mendengar penjelasan para dosen, polisi segera memanggil Awen dan Afu untuk dimintai keterangan.
Pemeriksaan berlangsung cukup lama. Namun, jawaban yang diberikan keduanya tetap sama seperti ketika mereka menjelaskan kejadian tersebut kepada para dosen.
“Itulah kejadian yang sebenarnya kami alami, Pak,” kata Afu. “Kami tidak mengurangi atau menambahkan apa pun.”
Awen mengangguk mantap. “Benar, Pak. Saya ini Alu. Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi.”
Salah seorang petugas menghela napas. Penjelasan mereka terdengar tidak masuk akal, tetapi keduanya terus mempertahankan cerita yang sama.
“Baiklah. Untuk memastikan identitas wanita ini, kami akan melakukan pemeriksaan DNA. Kami akan membandingkan sampel DNA-nya dengan data milik Awen yang tersimpan di kepolisian.”
Afu tidak keberatan.
“Silakan, Pak. Kalau itu bisa membantu menjelaskan kekacauan yang sedang terjadi, kami bersedia.”
Petugas kemudian mengambil sampel rambut Awen untuk dibawa ke laboratorium kepolisian.
Begitu petugas selesai mengambil sampel, Awen langsung memeluk Afu dengan wajah ketakutan.
“Afu, bagaimana kalau hasilnya nanti malah membuat semua orang semakin bingung?” bisiknya.
Afu terdiam sesaat sebelum mengusap bahunya.
“Tenanglah. Kita tunggu saja hasilnya.”
Beberapa dosen yang menyaksikan adegan itu saling berpandangan.
Dosen 1 berbisik kepada rekan-rekannya, “Kalau yang dikatakan Alu itu benar, berarti dia memang berada di tubuh Awen. Tapi, coba lihat mereka. Adegan ini lebih mirip sepasang kekasih yang sedang saling menguatkan daripada saudara kembar.”
Dosen 2 mengangguk. “Saya juga berpikir begitu.”
Dosen 3 hanya menghela napas. “Apa pun yang sebenarnya terjadi, kita tunggu hasil pemeriksaan dulu.”
Sementara itu, di dalam pelukan Afu, Alu justru sedang memikirkan nasibnya sendiri.
Gue harus bagaimana, nih? Kalau gue benar-benar Alu, bagaimana dengan tubuh gue yang sekarang? Tapi kalau gue benar-benar Awen, bagaimana dengan predikat gue sebagai cowok terganteng di kampus ini?
Alu mengembuskan napas panjang.
Gue belum siap kehilangan semua itu!
Namun, saat merasakan Afu terus mengusap punggungnya, pikiran lain muncul di kepalanya.
Sebentar. Kalau gue benar-benar Alu, mana mungkin gue secengeng ini? Tapi kalau gue memang Awen, lalu Alu yang asli sekarang ada di mana?
Alu membalas pelukan Afu, meskipun pikirannya semakin kacau.
Di sisi lain, Afu justru merasakan sesuatu yang berbeda. Memeluk Alu yang berada dalam tubuh Awen membuatnya kembali teringat pada sosok wanita yang pernah dia sayangi. Ada perasaan lega karena bisa kembali berada sedekat ini dengan Awen, tetapi juga ada kebingungan karena dia tahu orang yang dipeluknya mengaku sebagai saudara kembarnya sendiri.
Afu sendiri belum memahami perasaannya.
Dari luar ruangan, beberapa mahasiswa diam-diam mengintip melalui jendela. Salah satunya adalah Clara.
Melihat Awen dan Afu berpelukan, Clara tersenyum kecil.
Kalau yang dikatakan Alu itu benar, gue lebih mendukung kalau yang ada di sana memang Awen yang mendapatkan kesempatan untuk menemukan cintanya kembali bersama Afu.
Namun, senyumnya perlahan menghilang ketika memikirkan kemungkinan lainnya.
Tapi kalau itu benar-benar Alu, berarti gue harus patah hati. Cowok idola gue tiba-tiba berubah menjadi sahabat gue sendiri yang biasanya sembunyi di ketek gue!
Clara langsung menggelengkan kepala, lalu menepuk-nepuk keningnya.
“Ya ampun, Clara! Kenapa malah mikirin cowok di tengah situasi kayak begini?” gumamnya pelan.
Dia kembali mengintip ke dalam ruangan, mencoba mencari petunjuk dari sikap kedua orang tersebut.
Sayangnya, yang dia lihat justru membuat pikirannya semakin kacau.
Beberapa jam kemudian, kedua petugas polisi kembali ke kampus. Kali ini, mereka membawa hasil pemeriksaan laboratorium.
Para dosen segera berkumpul untuk mendengarkan penjelasan tersebut.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan DNA dari sampel rambut yang diambil dari wanita yang mengaku sebagai Alu,” ujar salah seorang petugas.
Para dosen saling berpandangan. Mereka sudah tidak sabar mengetahui hasilnya.
Petugas itu kemudian melanjutkan, “Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa DNA tersebut cocok Dengan data DNA milik Awen yang tersimpan di kepolisian saat kecelakaan terjadi.”
“Jadi, kesimpulannya, Awen benar-benar kembali ke kampus?” tanya Dosen 1 dengan wajah tak percaya.
Polisi itu menggeleng pelan.
“Kami tidak bisa menyimpulkan bahwa seseorang yang sudah meninggal hidup kembali. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, tubuh wanita tersebut memang cocok dengan identitas biologis Awen. Mengenai pengakuannya sebagai Alu, pemeriksaan DNA tidak bisa membuktikan hal itu.”
Dosen 2 mengangkat tangan, meminta izin untuk bertanya.
“Lalu, bagaimana dengan Alu, Pak? Apakah ada kemungkinan ditemukan tanda-tanda bahwa tubuh tersebut sebenarnya milik Alu?”
“Kami tidak menemukan bukti yang menunjukkan bahwa tubuh itu milik Alu. Hasil pemeriksaan justru cocok dengan data Awen.”
Para dosen kembali terdiam.
“Jadi, kami harus bagaimana dengan Alu?” tanya Dosen 3. “Kalau wanita itu memang Awen, lalu Alu yang asli sekarang berada di mana?”
Petugas tersebut menjelaskan dengan hati-hati.
“Pada dasarnya, kepolisian memiliki wewenang untuk menindaklanjuti dugaan tindak pidana berdasarkan informasi dan bukti yang tersedia. Namun, sampai saat ini, kami belum menerima laporan dari pihak keluarga mengenai hilangnya Alu. Kami juga belum menemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi tindak pidana terkait persoalan ini.”
Dosen 1 mengangguk perlahan.
“Apakah itu berarti untuk sementara kami boleh menggunakan keterangan Afu dan Awen sebagai dasar untuk menangani masalah ini?”
“Untuk sementara, pihak kampus bisa mencatat keterangan mereka dan menentukan langkah administratif yang diperlukan. Jika nanti muncul bukti baru atau ada laporan yang perlu ditindaklanjuti, kami bisa memeriksanya kembali.”
“Baik, Pak. Kalau begitu, untuk sementara kami akan mengakui bahwa wanita itu adalah Awen berdasarkan hasil pemeriksaan. Sementara persoalan mengenai Alu akan kami bicarakan lebih lanjut dengan mereka.”
Kedua petugas mengangguk sebelum berpamitan meninggalkan kampus.
Setelah itu, pihak kampus mengumpulkan para mahasiswa untuk menyampaikan keputusan mereka.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, tubuh wanita yang hadir di kampus memang cocok dengan identitas biologis Awen,” jelas salah seorang dosen. “Karena itu, kami tidak akan lagi menganggapnya sebagai penyamar atau hantu. Untuk sementara, pihak kampus akan mengikuti keterangan yang diberikan Awen dan Afu sambil menunggu perkembangan selanjutnya.”
Para mahasiswa mulai berbisik-bisik. Sebagian masih sulit menerima penjelasan tersebut, tetapi setidaknya mereka tidak lagi perlu berteriak ketakutan setiap kali melihat Awen.
Begitu mendengar keputusan kampus, Afu langsung berlari menghampiri Awen.
“Awen!”
Dia memeluk wanita itu erat-erat, lalu menciumi pipinya berkali-kali karena terlalu bahagia.
Namun, Alu segera mendorong tubuh Afu menjauh.
“Hei! Ngapain lo cium-cium gue?” protesnya.
Afu tertegun.
Alu menunjuk wajahnya sendiri. “Lo pikir gue siapa? Gue ini Alu!”
Afu terdiam, lalu mengusap wajahnya dengan canggung.
“Maaf. Gue terlalu senang.”
Alu mendengus. Baginya, keputusan kampus itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, keadaan justru semakin buruk karena sekarang semua orang memiliki alasan untuk menganggap dirinya sebagai Awen.
Hari itu, Alu dan Afu akhirnya pulang ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, Afu tampak lebih lega. Setidaknya, hasil pemeriksaan telah memberikan jawaban mengenai identitas tubuh yang sekarang ditempati Alu. Meski begitu, dia masih belum tahu bagaimana harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang bersamanya setiap hari adalah saudara kembarnya sendiri, bukan Awen yang dahulu dia kenal.
Sementara itu, Alu masih belum bisa menerima keputusan kampus.
Gue tetap Alu! Kenapa semua orang malah menganggap gue Awen?
Dia melirik rambut panjangnya, lalu menghela napas kesal.
Gue masih cowok terganteng di kampus. Gue punya banyak penggemar, banyak yang ngejar gue. Masa sekarang gue harus menerima kenyataan kalau semua orang menganggap gue cewek yang sudah meninggal?
Alu menyandarkan kepala ke kursi, frustrasi.
Dia belum tahu bagaimana cara kembali ke tubuhnya sendiri. Yang jelas, satu hal masih tertanam kuat di pikirannya: dia tidak akan menyerah begitu saja pada keadaan.
Namun, semakin keras Alu menyangkal kenyataan itu, semakin sulit pula dia mengabaikan satu pertanyaan yang terus menghantuinya.
Kalau dirinya benar-benar Alu, lalu di mana tubuh Alu yang sebenarnya?