OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
“Pak Raka, rapat dengan komisaris dimajukan menjadi besok pagi. Mereka meminta Anda hadir secara langsung.”
Raka Adhitama membaca pesan di ponselnya tanpa menunjukkan ekspresi berarti.
Di layar, nama sekretaris pribadi ayahnya muncul di atas sederet jadwal yang tidak pernah ia minta.
Rapat direksi. Evaluasi kuartal. Pertemuan investor.
Lalu, di antara semua itu, satu agenda yang selalu berhasil merusak suasana hatinya.
Pembahasan suksesi Adhitama Global.
Ia mengunci layar ponselnya.
“Kapten, kalau kamu terus menatap ponsel seperti itu, layarnya bisa merasa bersalah,” komentar Bima dari kursi sebelah.
Raka meletakkan ponselnya di meja.
“Bukannya kamu harusnya sedang latihan?”
“Sedang istirahat.”
“Bukannya tadi kamu juga istirahat?”
“Itu istirahat pertama. Ini istirahat kedua.”
“Kalau begitu, istirahat ketigamu bisa dilakukan sambil lari keliling gedung.”
Bima langsung duduk tegak.
“Wah, mendadak aku merasa sangat bugar.”
Raka menggeleng kecil. Setidaknya, ancaman latihan tambahan masih efektif untuk mengendalikan rekan setimnya.
Namun, ketika Bima kembali fokus pada permainan, pikirannya beralih pada nama yang baru saja muncul di layar.
Adhitama Global.
Perusahaan itu bukan sekadar bisnis keluarga. Konglomerasi tersebut memiliki kepentingan di berbagai sektor, mulai dari teknologi dan properti hingga media dan hiburan digital. Nama keluarganya terpampang di gedung-gedung tinggi Jakarta, laporan ekonomi, serta berita yang dibaca jutaan orang.
Dan suatu hari nanti, seluruh perusahaan itu diharapkan menjadi miliknya.
Masalahnya, Raka tidak pernah menginginkan kehidupan tersebut.
Ia ingin menjadi pemain profesional karena menyukai permainan itu, bukan karena membutuhkan panggung untuk membangun citra keluarga.
Ketika ia memutuskan bergabung dengan ASTRAL, ayahnya menganggap keputusan itu sebagai fase pemberontakan yang akan segera berakhir.
Tiga tahun kemudian, Raka masih berada di sini.
Dan ayahnya masih belum bisa menerima kenyataan itu.
Ponselnya bergetar lagi.
Sebuah pesan masuk.
Jangan mempermalukan keluarga kita dengan terus menunda tanggung jawabmu.
Raka membaca kalimat tersebut, lalu meletakkan ponselnya dalam posisi terbalik.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia berharap ada pertandingan besar yang bisa mengalihkan pikirannya.
Sayangnya, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan memenangkan pertandingan.
Di sisi lain kota, sebuah artikel baru sedang disiapkan untuk halaman utama portal berita tempat Nadira bekerja.
“Menurutmu, apa yang paling menarik dari ASTRAL?” tanya Dimas, redaktur pelaksana, sambil memeriksa draf di monitornya.
Nadira menarik kursi di hadapannya.
“Kerja sama tim mereka berkembang cukup pesat. Ada perubahan komunikasi yang terlihat jelas dalam sesi latihan terakhir.”
“Bagus. Itu bisa jadi fokus artikelmu.”
“Memang itu rencananya.”
Dimas mengangkat pandangan. “Lalu, kenapa judul sementara yang kamu kirim justru menonjolkan Vex?”
Nadira terdiam.
Di layar, judul drafnya terbaca:
DI BALIK SIKAP DOMINAN VEX, ADA KAPTEN YANG BELAJAR MENDENGARKAN
Ia sebenarnya menyukai judul tersebut. Bukan hanya karena terdengar menarik, tetapi karena itulah kesimpulan yang ia dapatkan setelah mengamati latihan ASTRAL.
Namun, Dimas benar tentang satu hal.
Nama Vex kembali menjadi pusat perhatian.
“Karena perubahan gaya kepemimpinannya memang relevan dengan performa tim,” jawabnya. “Aku tidak menulis tentang kehidupan pribadinya.”
“Bagus. Pertahankan batas itu.”
Dimas memutar monitor sedikit ke arahnya.
“Dan satu lagi. Ada rumor yang beredar bahwa keluarga Adhitama sedang menyiapkan salah satu ahli warisnya untuk masuk ke jajaran direksi. Kabarnya, orang itu cukup dekat dengan industri teknologi.”
Nadira membaca catatan yang ditunjukkan kepadanya.
Nama Adhitama tidak asing. Siapa pun yang mengikuti perkembangan bisnis Indonesia pasti pernah mendengar perusahaan tersebut.
“Apakah ada kaitannya dengan esports?”
“Belum tahu. Tapi kalau ada hubungan antara investasi keluarga Adhitama dan perkembangan industri ini, kita perlu menyelidikinya.”
Nadira mengangguk pelan.
Ia tahu banyak perusahaan besar mulai melirik esports. Namun, ia tidak pernah berpikir untuk menghubungkan hal itu dengan Raka.
Nama Adhitama memang cukup umum untuk tidak langsung menimbulkan kecurigaan.
Lagi pula, Raka tidak pernah menunjukkan tanda-tanda seseorang yang sedang bersiap mengambil alih konglomerasi bisnis.
Pria itu lebih sering terlihat mengeluhkan jadwal latihan daripada membicarakan investasi.
“Aku akan memeriksa datanya,” katanya.
“Jangan membuat kesimpulan sebelum punya bukti. Kita tidak sedang mencari sensasi.”
“Tenang. Aku masih tahu bedanya berita dan gosip.”
Dimas tersenyum tipis.
“Bagus. Pertahankan prinsip itu, terutama kalau narasumbermu mulai terasa menarik.”
Nadira menatapnya tajam.
“Pak, saya bekerja di sini untuk menulis berita, bukan mengikuti sesi konseling.”
“Kalau begitu, berhenti tersinggung setiap kali aku mengingatkanmu.”
Ia mengambil kembali laptopnya.
Hari itu, ada dua hal yang belum diketahui Nadira.
Pertama, rumor yang dibicarakan redakturnya jauh lebih dekat dengan kehidupan Raka daripada yang ia bayangkan.
Kedua, jika ia mulai menyelidikinya, hubungan mereka mungkin tidak akan pernah kembali sesederhana dua orang yang gemar berdebat.
Mobil hitam yang berhenti di depan markas ASTRAL langsung menarik perhatian beberapa staf.
Seorang pria berjas turun dari kursi penumpang dan menghampiri resepsionis.
“Saya ingin bertemu Raka Adhitama.”
Staf resepsionis memeriksa jadwal kunjungan.
“Apakah sudah ada janji sebelumnya, Pak?”
“Tidak perlu. Sampaikan saja bahwa saya datang atas permintaan keluarganya.”
Pria itu menyerahkan kartu nama.
Ketika nama pada kartu tersebut terbaca, ekspresi resepsionis berubah.
Ia segera menghubungi lantai tempat Raka berada.
Beberapa menit kemudian, Arman memasuki ruang latihan dengan wajah serius.
“Raka, ada tamu yang ingin bertemu.”
Raka bahkan tidak perlu bertanya siapa.
“Siapa yang mengirimnya?”
“Pak Surya. Katanya, dia membawa pesan dari ayahmu.”
Raka melepas headset.
Bima yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Perlu aku ikut?” tanya Arman.
“Tidak.”
“Raka—”
“Aku bisa mengurusnya.”
Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang rapat kecil di lantai yang sama.
Pria bernama Surya sudah menunggu di sana dengan sebuah map di atas meja.
“Sudah lama tidak bertemu, Tuan Muda.”
“Jangan panggil aku begitu di tempat kerja.”
Surya mengangguk sopan. “Tentu.”
“Apa yang Ayah inginkan?”
“Beliau meminta saya mengingatkan Anda bahwa pertemuan besok bukan sesuatu yang bisa diabaikan.”
“Aku sudah menerima pesannya.”
“Beliau juga berharap Anda mempertimbangkan kembali posisi Anda di ASTRAL.”
Raka menarik kursi, tetapi tidak duduk.
“Kalau hanya itu, kamu bisa menyampaikan bahwa jawabanku tetap sama.”
Surya membuka mapnya.
“Ada satu hal lagi. Beliau ingin Anda berhenti menarik perhatian media dengan cara yang tidak perlu. Terutama jika hal tersebut berpotensi memengaruhi citra keluarga.”
Raka menyipitkan mata.
“Maksudmu?”
“Artikel-artikel terbaru tentang Anda. Foto bersama jurnalis yang sedang ramai dibicarakan. Beliau tidak ingin urusan pribadi Anda menjadi bahan spekulasi publik.”
Raka terdiam sesaat.
Jadi, ayahnya sudah mengetahui soal Nadira.
Ia seharusnya tidak terkejut. Keluarganya memiliki akses ke begitu banyak informasi sehingga sesuatu yang viral hampir mustahil luput dari perhatian mereka.
Namun, ada yang mengganggunya dari cara Surya menyebut Nadira seolah-olah perempuan itu sekadar potensi masalah bagi reputasi keluarga.
“Pekerjaan saya di ASTRAL tidak ada hubungannya dengan perusahaan keluarga,” kata Raka dingin. “Dan kehidupan pribadi saya bukan urusan direksi.”
“Dengan segala hormat, Tuan Raka, bagi keluarga Anda, kedua hal itu tidak pernah benar-benar terpisah.”
Raka menatapnya tajam.
“Kalau begitu, mungkin sudah waktunya mereka belajar membedakannya.”
Ia berbalik dan meninggalkan ruangan sebelum percakapan itu berubah menjadi pertengkaran yang tidak menghasilkan apa-apa.
Namun, ketika kembali ke ruang latihan, satu pikiran terus mengganggunya.
Jika keluarganya sudah mulai memperhatikan Nadira, cepat atau lambat perempuan itu mungkin akan menemukan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Dan Raka belum tahu mana yang lebih ia khawatirkan: rahasianya terbongkar atau Nadira mengetahui bahwa ia telah menyembunyikan kebenaran darinya.
Sore itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Nadira.
Pengirimnya adalah Raka.
Raka: Besok kamu sibuk?
Nadira mengernyit.
Ia membaca pesan tersebut sekali lagi, memastikan bahwa ia tidak salah melihat nama pengirimnya.
Nadira: Tergantung. Kamu mau mengajukan keberatan atas artikelku yang belum terbit?
Raka: Aku bahkan belum membacanya.
Nadira: Bagus. Berarti kamu masih punya kesempatan untuk tidur nyenyak.
Raka: Aku ingin mengajakmu makan.
Nadira berhenti mengetik.
Lalu ia meletakkan ponselnya di meja.
Mengambilnya kembali.
Membaca pesan itu sekali lagi.
Nadira: Maaf, aku perlu memastikan. Kamu baru saja mengajakku makan?
Raka: Kemampuan membacamu mulai mengkhawatirkan.
Nadira: Aku hanya memastikan kamu tidak sedang mengalami demam.
Raka: Kalau aku bilang ini untuk membahas turnamen, kamu akan percaya?
Nadira: Tidak.
Raka: Bagus. Setidaknya kita masih sepakat soal sesuatu.
Nadira menggigit bibirnya, menahan senyum yang muncul tanpa izin.
Ia belum tahu apa yang mendorong Raka mengajaknya makan. Mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Mungkin ia hanya ingin melanjutkan perdebatan mereka di tempat yang menyediakan makanan lebih baik daripada kopi ruang pers.
Apa pun alasannya, Nadira tahu ia seharusnya mempertimbangkannya dengan kepala dingin.
Sayangnya, ia juga tahu satu hal lain.
Ia ingin menerima ajakan itu.
Nadira: Baik. Tapi kalau kamu mencoba membahas artikelku sepanjang makan malam, aku akan pergi.
Raka: Kalau kamu mengkritik cara makanku, aku akan membatalkan pesan penyesalanku.
Nadira: Kamu bahkan belum meminta maaf.
Raka: Berarti aku masih punya banyak waktu.
Nadira tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
Di tempat lain, Raka menatap layar ponselnya dengan senyum tipis yang segera ia sembunyikan ketika Arman lewat.
Untuk sesaat, ia berhasil melupakan rapat direksi, tuntutan ayahnya, dan nama keluarga yang terus membayanginya.
Namun, ketenangan itu mungkin tidak akan bertahan lama.
Sebab, tanpa sepengetahuan keduanya, dua dunia yang selama ini Raka pisahkan mulai bergerak menuju satu titik pertemuan.
Dan ketika rahasia di balik nama Adhitama akhirnya terbuka, satu makan malam sederhana mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.