NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Penolong di saat Genting

Pria itu adalah Elvan. Om muda dari Gisel sahabat karibnya. Elvan adalah seorang pengusaha muda yang sukses yang tak banyak orang tua bahkan keluarga besaranya, sosok yang baru dua hari ini dikenal Zahira sebagai pribadi yang berwibawa, bijaksana, dan selalu bersikap sangat sopan kepada siapa pun.

Elvan menatap kondisi Zahira dari atas sampai bawah dengan kening sedikit berkerut. Ia melihat kerudung abu-abu gadis itu yang basah oleh keringat, wajahnya yang agak pucat, dan sepeda motor matik merah yang terparkir merana di sampingnya.

Sebenarnya, Evan sedang dalam perjalanan menuju kantornya. Namun saat berkendara pelan di jalanan ini, matanya yang jeli menangkap postur tubuh seorang gadis di seberang jalan yang berjalan memutar arah sambil mendorong motor.

Evan sangat mengenali postur tubuh Zahira—jangkung, langsing, dan sedikit membongkok karena menahan beban motor. Rasa penasaran dan kepedulian membuat Evan memutar balik kendaraannya di u-turn depan dan memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

"Kamu kenapa, Ra? Motor kamu mogok?" tanya Evan langsung, rasa empatinya yang tinggi terpancar jelas dari nada suaranya yang penuh perhatian.

Ia tak tega melihat seorang gadis muda terkulai kelelahan di pinggir jalanan yang berdebu.

Zahira dengan sifat dasarnya yang pemalu dan tidak ingin merepotkan orang lain, merapikan sedikit kerudungnya dan berusaha mengukir senyum tipis, meski napasnya masih agak terengah.

"Eh... iya, mas Elvan. Tiba-tiba mesinnya mati di jalan dan tidak bisa dinyalakan lagi. Ini... ini saya lagi nyari bengkel, tapi sepertinya belum pada buka,"

Jawab Zahira canggung, menundukkan pandangannya sedikit karena merasa sungkan berdiri di dekat pria sedewasa dan sekeren Elvan dengan kondisinya yang berantakan dan berkeringat.

"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini? Ke kampus atau ke tempat kerja?" tanya Elvan lagi, mengikis jarak berdiri mereka.

"Mau ke Kafe 55, mas. Kerja shift pagi. Harusnya jam tujuh tiga puluh tadi sudah sampai," aku Zahira jujur.

Elvan melirik jam tangan mewahnya. 07.45 WIB.

"Ini sudah mau jam delapan, Zahira. Kalau kamu cari bengkel jalan kaki sambil dorong motor begini, bisa-bisa jam sembilan kamu baru sampai. Sudah, motornya ditinggal dulu di sini, kamu ikut saya. Saya antarkan ke Kafe 55," tawar Elvan tegas namun lembut.

Zahira mendongak kaget, dengan cepat menggelengkan kepalanya. Rasa sungkan membuncah tinggi di dalam dirinya.

"Eh! Jangan, mas! Jangan... tidak usah. Nanti malah merepotkan mas Elvan. Mas pasti mau berangkat kerja juga, kan? Saya tidak apa-apa kok, nanti saya tunggu bengkel sekitar sini buka saja."

"Mbak Zahira..." suara Elvan terdengar lebih dalam, menatap mata Zahira dengan penuh keseriusan.

"Eh maksud saya Zahira, ... Kamu itu sudah kelihatan capek sekali. Keringat kamu sampai seperti ini. Saya tidak mungkin membiarkan keponakan dari sahabat Gisel terbengkalai di pinggir jalan seperti ini. Tidak ada yang direpotkan sama sekali."

Tepat saat Zahira hendak membuka mulutnya untuk menolak kembali secara halus, ponsel di dalam tas kainnya berdering nyaring.

Ngeeeet... ngeeeet...

Zahira meminta izin dengan gestur tangan, lalu terburu-buru mengambil ponselnya. Nama 'Hanum - Kafe 55' tertera di layar. Zahira menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Hanum..."

"Zahira! Kamu di mana sih, Ra?!" Suara Hanum di seberang telepon terdengar sangat panik dan tertahan.

"Ini sudah jam delapan kurang seperempat! Mbak Gisel juga dari tadi sudah nanya-nanya keberadaan kamu karena barisan pelanggan pagi untuk pesan kopi sudah mulai antre. Kamu tidak apa-apa, kan? Tidak biasanya kamu telat tanpa kabar begini!"

Zahira menggigit bibir bawahnya, merasa sangat bersalah. "Maaf banget, Num... Maafkan aku. Motor matikku mendadak mogok total di tengah jalan tadi. Aku sudah berusaha dorong cari bengkel tapi belum ada yang buka. Ini aku masih di jalan..."

"Ya ampun, Ra! Jadi kamu dorong motor?!" seru Hanum khawatir. "Trus sekarang gimana? Kamu bisa sampai kafe jam berapa? Kalau terlalu lama."

Elvan yang berdiri cukup dekat bisa mendengar samar-samar kepanikan dari suara di seberang telepon Zahira.

Tanpa ragu, Elvan memberi isyarat dengan tangannya agar Zahira menyerahkan ponsel itu kepadanya atau segera menyetujui tawaran tumpangannya.

Zahira menarik napas panjang, sadar bahwa situasi pekerjaannya sedang dalam bahaya jika ia terus keras kepala.

"Num, aku... aku ini dapat tumpangan. Aku akan segera ke kafe secepatnya. Tolong sampaikan ke Gisel ya, sebentar lagi aku sampai."

"Oh, alhamdulillah kalau ada tumpangan! Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Ra! Aku tunggu di kafe!"

Panggilan terputus. Zahira menurunkan ponselnya, menatap Evan dengan perasaan serba salah.

"Gimana? Masih mau menolak?" goda Elvan dengan senyum tipis di bibirnya, mencoba mencairkan suasana canggung. "Ayo, masuk ke mobil!. Saya antarkan."

"Tapi... mas," ujar Zahira pelan, matanya beralih menatap sepeda motor merahnya yang berdiri kesepian di tepi jalan.

"Kalau saya ikut mas Elvan, nasib motor saya bagaimana? Tidak mungkin saya tinggalkan begitu saja di pinggir jalan raya begini. Nanti kalau hilang atau diangkut Satpol PP gimana?"

Elvan terkekeh pelan melihat kepolosan dan kekhawatiran Zahira. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel canggihnya.

"Tunggu sebentar? Saya telepon anak buah saya dulu, saya punya usaha bengkel mobil dan motor kecil-kecian. Salah satu cabang bengkel saya ada di dekat daerah sini," jelas Elvan menenangkan.

Zahira membelalakkan matanya pelan. Ia baru ingat jika om dari sahabatnya ini memang seorang pengusaha seperti yang pernah Gisel ceritakan kepadanya kemarin.

Evan menekan tombol panggilan cepat di ponselnya, menempelkannya ke telinga. Hanya dalam hitungan detik, panggilan itu terhubung.

["Halo, Budi? Ini Evan. Kamu minta dua anak buah kamu bawa mobil pikap servis dari bengkel cabang tiga ke Jalan Raya Merdeka, tepatnya di depan mulut Gang Kancil dekat toko sembako. Ada motor matik merah bernomor polisi B 4521... milik kenalan saya mogok di sini. Angkut ke bengkel, lakukan pengecekan total pada mesin dan kelistrikannya. Faham? Ya, sekarang."]

Elvan mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali menatap Zahira yang terpaku mendengar perintah cepat dan efisien itu.

"Sudah beres," kata Elvan santai. "Anak buah saya akan sampai di sini sekitar sepuluh menit lagi untuk mengangkut motor kamu ke bengkel saya. Nanti kalau servisnya sudah selesai, motornya bisa diantar langsung ke rumah kamu atau ke kafe. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi."

Rasa haru dan tidak percaya menyergap dada Zahira. Kebaikan Elvan yang begitu cepat dan tanpa pamrih membuat tenggorokannya terasa tersumbat.

"Mas Elvan... terima kasih banyak. Tapi masalah biaya servisnya, nanti biar saya bayar sendiri ya, mas. Jangan dimasukkan ke akun mas Evan," pinta Zahira dengan nada memohon.

"Soal itu kita bahas nanti. Yang penting sekarang kamu sampai ke tempat kerja kamu dulu sebelum manajer kamu makin marah. Ayo,"

Potong Elvan lembut namun tak tertolak, seraya membukakan pintu penumpang depan untuk Zahira.

Mau tak mau, Zahira akhirnya mengangguk. "Baik, mas. Terima kasih banyak..."

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!