Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sekarang bagaimana caranya mereka bisa masuk kesana?.
Ayah Bella menatap Gilang, “Karena Emma menghilang setelah diturunkan di Rumah Sakit Jayakarta, bukankah kemungkinan dia masih berada disana?”
Ujang mengatakan mereka akan sulit memasuki rumah sakit itu karena hanya khusus untuk pejabat, militer, polisi dan pemerintah Jepang.
“Astaga, tidak, tidak, tidak. Itu tidak masuk akal”, ujar Ujang sambil menggerakkan bahu, karena menurutnya ini tidak masuk akal.
“Apa yang tidak masuk akal?”, tanya Bella.
Ujang memberikan bahunya melihat ke arah Bella, “kau dengar ya, kau tau Rumah Sakit Jayakarta ‘kan? Hah? Jika bukan anggota militer jepang, polisi atau dari kantor pemerintahan, tidak bisa Masuk ke sana! Bagaimana wanita penghibur Jayakarta bisa melewati gerbang?Apa kau tahu bagaimana inspeksi keamanan di gerbangny?”ujar Ujang.
Gilang berpikir bahwa Maera yang telah mengatur semuanya ini, ia termenung sejenak, “Bagaimana jika Maera, sudah mengaturnya?”
“Kenapa dia lakukan itu? Kenapa repot bawa simpanan ke rumah sakit khusu Jepang? Untuk apa? “Sahut ujang, keningnya terlihat mengkerut, alisnya terangkat,tangannya masih berada di pinggang,ia sepertinya kesal.
“Kami akan tahu setelah kami memeriksanya sendiri,”jawab Bella.
“Astaga.. Ada apa denganmu? Hah? Sudah kubilang orang Nusantara bahkan tidak mau mendekati tempat itu”ujar Ujang.
“Aku dengar Mas Gilang punya koneksi yang hebat”, Jawab Bella,lalu ia memalingkan wajahnya ke arah Gilang, “Apakah masuk rumah sakit sesulit itu?”, tambahnya bertanya.
Gilang terkekeh dan menunjuk-nunjuk, Ia mengingat ada orang nusantara yang bisa masuk ke rumah sakit itu. “Iya, aku kenal dengan orang Nusantara yang bisa mengunjungi rumah sakit itu”
“Jadi kami bisa masuk atau tidak?”, tanya Bella.
Gilang menggelengkan kepalanya, “Itu masih harus aku pastikan dulu
Namun seperti Bella meragukan Gilang.”Lupakan saja. Kalau kau memang tidak sanggup, kami akan cari cara lain untuk masuk”, ucapnya seraya berdiri dan melangkah pergi.
Gilang tersinggung sebab ia menganggap Gilang tidak bisa masuk “Astaga, kau ini ternyata tidak sabaran, ya? Siapa bilang aku tidak sanggup. Aku hanya bilang, ayo kita buat rencana. Semuanya harus direncanakan dengan matang. Masa kau tidak tahu?”
Belle yang hendak pergi berbalik badan, menatap Gilang dan mengedipkan mata, sementara Ujan, Bibi Sinta, dan Ayah Bella menatap Gilang.
Seketika mereka semua terdiam, Gilang yang heran kenapa mereka semua terdiam memperhatikan mereka, pupil matanya bergerak gerak. “Ada apa di wajahku?”, tanya Gilang heran.
Beberapa saat kemudian Gilang membuka pintu brankas, ia memandang ke sekelilingnya ruangan yang penuh Barang-barang antik dan barang gadaiannya, lalu menghampiri dan memilih baju-baju yang menggantung disana. Rencana apakah yang akan dibuat Gilang?
Bibi Sinta datang mendekat, “ Sedang apa? “
Ia memilih gaun berwarna biru dan setelah jas berwarna coklat, “Oh, berikan ini pada orang diluar”ucapnya seraya memberikan baju itu ke Bibi Sinta.
“kau mau apa?” Tanya Bibi Sinta, Ia masih tidak tahu apa yang direncanakan Gilang.
“Beraninya mereka meragukanmu ku?Akan aku tunjukkan, aku cerdik dan teliti. Akan aku tunjukkan itu”ucap Gilang seraya mengambil uang didalam brankas hitam kecil berisi uang. Ia masih tidak menerima Bella meragukan dirinya.
“untuk apa uang itu? Apa rencanamu? “, tanya Bibi Sinta, Ia masih memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Gilang.
Gilang mengangkat segepok uang dan mengangkat nya, menunjukkannya ke Bibi Sinta.”Apa lagi? Yang tidak mungkin. Jadi mungkin. “, ucapnya sambil tersenyum.