NovelToon NovelToon
Manusia Vs Setan

Manusia Vs Setan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

"Assalamualaikum",

"Pak Prawiro",

"Pak Prawiro",

"Waalaikumsalam",

"Masuk sini",

"Ada apa malam-malam?",

"Dilihat dari perangainya kaya genting",

"Besok kampung kita kedatangan warga baru pak",

"Masalahnya apa?",

"Mereka pasangan suami istri yang baru satu tahun menikah",

"Masalahnya apa?",

"Istrinya sedang hamil besar",

"Kenapa mereka memilih tinggal di kampung dalam?",

"Mereka menyewa lahan di dekat hutan",

"Tolong ya pak Prawiro",

"Insya Allah",

"Sebagai manusia yang muhsin kita wajib berupaya bersama-sama",

"Kabari juga warga yang lain",

"Semuanya sudah diberitahu pak",

"Syukur-syukur",

Kenapa wanita hamil itu akan menimbulkan persoalan di kampung dalam?

Karena barang tentu bau kehadirannya akan mengundang para penghuni hutan belantara.

Terbitlah hari yang dinantikan.

Pasangan muda itu dari namanya saja sudah sangat berjodoh. Halan dan Helen.

Alasan mereka pindah kemari untuk memulai usaha baru di bidang perkebunan.

Rencananya mereka akan menanam seribu bibit bunga di lahan luas yang mereka sewa selama beberapa tahun.

Ini baru pertama kalinya ada. Warga kampung dalam pun baru tahu kalau tanaman bunga bisa menjadi objek bisnis yang menjanjikan.

Bahkan Halan sudah menawarkan kepada warga. Siapa yang mau bekerja kepadanya di ladang bunga.

Orang-orang kampung dalam pasti akan diterima dengan senang hati.

Dengan catatan performanya baik dan bertanggung jawab.

Sementara itu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Prawiro.

Helen mencari seorang perempuan yang masih tetangga untuk bekerja di rumah barunya.

Lentik lah yang akan menjadi pembantu rumah tangga mereka.

Sungguh kebetulan yang pas.

Prawiro tidak perlu khawatir dengan bayi yang beberapa minggu lagi akan lahir. Selama ada Lentik bersama mereka.

Rumah Sabdo

"Besok pagi bapak mau pergi menengok saudara-saudara mu di tempat sekolah",

"Besok malam kamu ikut ibu menginap di rumah Bu Helen ya",

"Iya pak",

Prawiro akan mengunjungi Unang dan Karyo di pondok yang baik.

Tidak hanya sekedar untuk menanyakan kabar dan melepas kangen. Tapi juga mengirim uang bulanan untuk bayar kebutuhan pendidikan.

Sudah dipastikan Prawiro akan pulang sampai larut malam seperti yang sudah-sudah. Karena tempatnya memang sejauh itu.

Untuk itulah besok Sabdo diminta untuk ikut Lentik yang sudah terlebih dahulu menginap di rumah tuan dan puan.

Tidak lama kampung dalam akan kelahiran bayi lagi.

Malam hari Sabdo menginap di rumah Helen

"Kamu belum ngantuk?",

"Sana mapan dulu",

"Nanti ibu susul",

Lentik menyuruh Sabdo tidur.

Mereka menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar utama tempat pemilik rumah.

Sesudah Sabdo masuk ke dalam kamar.

Lentik pergi keluar.

Ia mengelilingi rumah besar itu untuk memastikan situasinya aman dan terkendali.

Sejauh ini tidak ada makhluk hutan terlarang yang mengincar bayi Helen yang masih di dalam kandungan.

Baik siang hari semenjak kedatangan mereka beberapa hari yang lalu.

Atau malam harinya ketika Prawiro selalu memasang mata.

Karena malam ini Prawiro sedang pergi. Lentik diharuskan lebih waspada dan hati-hati.

Setelah berkeliling rumah dan memeriksa sekitaran.

Lentik yang juga sudah mengantuk masuk ke dalam.

Malam ini tidurnya akan lebih hangat dan sedikit berirama.

Karena ada Sabdo yang selalu minta dipeluk.

Dan anak bungsunya itu suka mengigau seperti bapaknya di jam-jam tertentu.

Namun baru beberapa detik ia mapan di tempat tidur.

Belum sempat menutup kedua kelopak bola mata.

Lentik mencium bau yang khas mendekat ke rumah majikannya.

Lentik bangun.

Dan baru selangkah keluar kamar.

Bau khas itu sudah berada di samping jendela kamar Helen yang umur kandungnya sudah mengetuk bulan ke sembilan.

Lentik membuka pintu dengan buru-buru.

Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi di kampung dalam.

Malam ini adalah tugasnya sebagai seorang istri penjaga.

Dan benar saja.

Seekor kuyang muda sedang mengintip melalui jendela kamar.

Lentik tanpa takut melabraknya tanpa menimbulkan suara gaduh.

"Kurang ajar",

"Mau apa kamu kemari?",

Bisik suara Lentik di telinga kuyang.

Kuyang yang berparas cantik itu terbang menjauh dari Lentik.

"Jangan mentang-mentang kamu cantik",

"Seenaknya saja jadi kuyang",

"Jangan ganggu jabang bayi di rumah ini",

Kuyang muda itu menantang.

"Memangnya kamu siapa?",

"Aku tidak ada urusan dengan babu seperti mu",

"Aku bekerja di rumah ini",

"Jadi urusanku juga",

Kuyang muda itu sebetulnya datang sembunyi-sembunyi hanya untuk mengambil bayi merah yang ada di dalam perut sang ibu.

Tanpa perlu berurusan dengan Lentik atau siapa pun.

Tapi karena sudah kepalang tanggung.

Kuyang yang beautiful itu akan melumpuhkan dulu perempuan yang sok jagoan di depannya.

Begitulah isi kepalanya yang keluar malam-malam tanpa tubuh.

Kuyang itu terbang menukik menyerang Lentik.

Dengan niat untuk menggigit wajah/pipi Lentik yang chubby.

Lentik berhasil mengelak.

Tapi kuyang itu berhasil meludahi Lentik tepat di mukanya.

"Kurang ajar",

"Dasar kuyang bajingan",

Lentik kehilangan kesabaran.

Kepalanya panas.

Ubun-ubun nya mendidih.

Ia membalas dengan melakukan serangan balik yang lebih menyeramkan.

Kuyang yang masih terbilang muda dan pemula itu kabur.

Takut setengah mati kepada Lentik yang juga berubah menjadi kuyang.

Mode kuyang Lentik berkali-kali lipat lebih sangar.

Warna merahnya menyala seperti letusan lahar gunung berapi.

Lentik adalah kuyang tangguh yang syarat jam terbang.

Lentik sempat mengejar sekedar untuk menakut-nakuti sambil memberikan peringatan.

"Bilang kepada kuyang-kuyang yang lain",

"Lentik yang menjaga rumah baru ini",

"Dasar masih muda",

"Tidak tahu sopan santun",

"Banyak gaya",

Lentik kembali ke tubuhnya.

Di samping badannya yang tanpa kepala sudah ada Sabdo yang ikut terbangun ketika ibunya membuka pintu dengan buru-buru.

"Ibu hebat",

Sabdo terkagum-kagum sekaligus bangga sambil bertepuk tangan.

"Kalau ibu mu ini masih muda",

"Pasti aku kejar sampai dapat",

"Aku makan mentah-mentah kuyang sok cantik itu",

Riwayat pembaharuan terakhir perjanjian damai yang berlangsung puluhan tahun yang lalu.

Pernikahan Prawiro dari darah seorang penjaga dengan Lentik perempuan asal pemukiman hutan belantara.

Merupakan salah satu wujud dan kesepakatan yang terlampir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!