Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Pagi itu, Serina berdiri cukup lama di depan cermin kecil di kamar kontrakannya. Wajahnya masih terlihat lelah. Sejak kepergian Riki, banyak hal yang harus ia pikirkan seorang diri. Tagihan rumah, kebutuhan sehari-hari, biaya sekolahnya Farel kelak.
Dan yang paling membuatnya cemas adalah bagaimana ia bisa mencukupi kebutuhan putranya setelah ini. Serina menghela napas.
"Mas Riki... aku harus kuat." Ia menatap foto pernikahannya yang terletak di atas meja. "Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa menjalani semuanya sendiri." Serina mengusap air matanya. "Tapi aku janji akan menjaga Farel." Setelah itu, ia mengambil beberapa berkas dan memasukkannya ke dalam tas.
Hari ini ia akan mencari pekerjaan. Tidak jauh dari rumah kontrakannya terdapat sebuah kawasan industri kecil. Serina mendapatkan informasi bahwa salah satu pabrik garmen sedang membutuhkan sepuluh karyawan baru untuk bagian menjahit.
Kesempatan itu membuatnya langsung tertarik. Apalagi ia pernah mengikuti kursus menjahit selama satu tahun sebelum menikah dengan Riki. Meskipun sudah cukup lama tidak menggunakannya, keterampilan itu masih ia ingat.
Sesampainya di pabrik, Serina melihat beberapa perempuan sedang mengantri di depan ruangan administrasi. Ia ikut mengambil nomor antrean.
Tak lama kemudian, seorang perempuan yang tampak sebagai staf HR memanggilnya.
"Nomor dua puluh tiga."
Serina berdiri. "Ya, Bu."
"Silakan masuk."
Serina masuk ke dalam ruangan.
"Nama?"
"Serina Nirmala."
"Usia?"
Serina menyebutkan usianya.
"Pengalaman kerja sebelumnya?"
Serina terdiam sesaat.
"Saya belum pernah bekerja di pabrik, Bu. Tapi saya pernah mengikuti kursus menjahit selama satu tahun."
Staf tersebut mengangkat wajah. "Benarkah?"
"Iya."
"Masih bisa menjahit?"
"masih bisa, Bu."
Staf itu tersenyum. "Kebetulan sekali. Kami memang sedang membutuhkan sepuluh orang untuk bagian produksi jahit."
Serina merasa sedikit lega.
"Kalau begitu saya bersedia mengikuti tes."
"Baik. Nanti ada tes keterampilan."
Serina mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Beberapa jam kemudian, Serina mengikuti tes menjahit. Tangannya sempat sedikit gemetar ketika pertama kali memegang mesin. Sudah lama sekali ia tidak berada di depan mesin jahit. Namun setelah beberapa menit, ingatannya kembali. Gerakan tangannya menjadi lebih luwes. Jarum bergerak mengikuti pola kain. Staf yang mengawasi sesekali memperhatikan hasil jahitannya. Setelah selesai, Serina berdiri.
"Sudah, Bu."
Staf tersebut memeriksa jahitan. "Rapi."
Serina tersenyum lega. "Kapan saya bisa tahu hasilnya?"
"Kalau tidak ada perubahan, besok kami hubungi. Kami membutuhkan sepuluh orang dan kemungkinan Anda termasuk kandidat yang kami pertimbangkan."
"Terima kasih banyak, Bu."Serina keluar dari pabrik dengan hati sedikit lebih ringan.
Setidaknya hari ini ia mendapatkan harapan. Namun ada satu persoalan yang masih mengganjal. Yakni Farel. Ia tidak mungkin membawa anaknya bekerja.
Ketika sampai di rumah, Serina langsung menemui tetangganya.
"Bu Aida..."
Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumahnya.
"Eh, Serina. Kenapa?"
Serina tersenyum malu.n"Saya mau meminta tolong."
"Tolong apa?"
"Saya tadi melamar kerja di pabrik dekat sini."
Bu Aida langsung tersenyum. "Alhamdulillah. Bagus dong."
"Mereka sedang membutuhkan karyawan bagian menjahit."
"Wah, cocok dengan kemampuanmu."
Serina mengangguk. "Tapi saya bingung kalau nanti diterima, Farel harus saya titipkan kepada siapa?"
Bu Aida langsung menepuk bahu Serina. "Titipkan saja sama Ibu."
Serina terkejut. "Serius, Bu?"
"Kenapa tidak?"
"Tapi saya takut merepotkan."
Bu Aida tersenyum hangat. "Serina, jangan pernah merasa merepotkan Ibu. Kamu sudah seperti anak Ibu sendiri."
Mata Serina langsung berkaca-kaca.
"Bu Aida..."
"Kalau kamu kerja, Farel bisa bermain di rumah Ibu. Biar Ibu yang menjaganya."
"Tapi saya..."
"Sudah."
Bu Aida menggeleng. "Kamu sekarang harus memikirkan masa depanmu dan Farel."
Air mata Serina akhirnya jatuh.
"Terima kasih, Bu."
Bu Aida memeluknya. "Jangan menangis. Kamu masih muda. Kamu masih punya masa depan."
Serina mengangguk di dalam pelukan wanita itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak benar-benar sendirian.
*
*
Sementara itu, di kediaman keluarga Narendra.
Jovan duduk di ruang keluarga. Tangannya memainkan ponsel, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana. Ketika Darren masuk, Jovan langsung menoleh.
"Kak."
Darren duduk di sofa berseberangan dengannya.
"Aku sudah menemui Serina."
Jovan langsung meletakkan ponselnya.
"Kakak sudah menjelaskan semuanya?"
Darren mengangguk.n"Sudah."
"Terus?"
"Awalnya dia tidak percaya."
Jovan menundukkan kepala.
"Gue bisa mengerti."
"Dia bahkan mengira aku dan kamu bekerja sama supaya kamu lolos dari hukum."
Jovan tersenyum pahit. "Ya... gue juga nggak bisa menyalahkan dia."
Darren menatap adiknya. "Tapi setelah aku menunjukkan bukti, dia mulai memahami bahwa kamu juga menjadi korban dari rencana tersebut."
Jovan mengangkat wajah. "Dia percaya?"
"Setidaknya dia mulai mempertimbangkannya."
Jovan menghela napas lega. "Syukurlah."
Darren memperhatikan ekspresi adiknya. "Kamu masih memikirkan Serina?"
Jovan terdiam.
"Farel juga."
Darren tersenyum tipis.
"Aku tahu."
Jovan menunduk. "Gue nggak tahu kenapa, Kak."
"Kenapa apa?"
"Setiap kali melihat Farel, gue merasa ingin memastikan dia baik-baik saja."
Darren diam.
"Padahal gue tahu gue bukan siapa-siapa buat dia."
Jovan mengusap wajahnya. "Dia kehilangan ayahnya. Gue cuma..."
"Kamu merasa bersalah."
Jovan mengangguk.
"Iya."
Darren bersandar. "Jovan, jangan sampai rasa bersalah membuatmu mengambil keputusan yang justru akan merusak hidupmu."
"Gue tahu."
"Kalau kamu benar-benar ingin membantu Serina dan Farel, lakukan dengan cara yang tidak memaksa."
Jovan mengangguk. "Gue cuma ingin mereka punya kehidupan yang layak."
Darren menatap adiknya cukup lama.Kemudian ia berkata,
"Serina sekarang sedang berusaha mencari pekerjaan."
Jovan langsung menatapnya. "Kerja?"
"Iya."
"Dia sudah dapat?"
"Belum tahu. Katanya sedang melamar di pabrik dekat rumahnya."
Jovan terdiam.
Ia kemudian tersenyum tipis. "Bagus."
Darren mengerutkan keningnya. "Bagus?"
"Artinya dia berusaha bangkit." Jovan menatap kosong ke depan. "Dia kuat."
Darren tersenyum kecil.
"Memang."bUntuk sesaat, dadanya Darren kembali terasa berdebar ketika membicarakan Serina. Ia segera mengalihkan pandangan.
Namun Jovan justru memperhatikan perubahan kecil pada wajah kakaknya.
"Kak Darren."
"Hm?"
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
Jovan menyeringai. "Lo kelihatan aneh kalau ngomongin Serina."
Darren langsung menatapnya. "Jangan mulai."
Jovan tertawa kecil. "Gue cuma bilang."
Darren menggeleng. "Yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah kesembuhanmu dan masalah hukum yang masih berjalan."
"Iya, Kak."
Jovan kembali diam. Namun dalam hatinya, ia merasa sedikit lega. Setidaknya Serina telah mengetahui kebenaran. Dan kini wanita itu mulai berusaha membangun kehidupannya kembali bersama Farel.
Jovan menatap ke arah jendela. "Semoga dia berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Semoga Farel selalu baik-baik saja."
Dan tanpa ia sadari, satu perasaan baru mulai tumbuh di dalam dirinya.
Bukan lagi sekadar rasa bersalah. Melainkan keinginan untuk benar-benar memastikan Serina dan Farel tidak menghadapi kehidupan ini seorang diri.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭