NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi ini, Ji-eun menemukan secangkir kopi hangat sudah bertengger di atas meja kerjanya. Americano tanpa gula, persis seperti racikan kesukaannya. Ia memandangi cangkir itu beberapa detik sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis. Tidak ada catatan maupun nama pengirim, tetapi ia sangat tahu siapa pemilik perhatian kecil itu.

Beberapa menit kemudian, Tae-jun melintas di area kantor manajemen. Mata mereka bertabrakan sesaat. Tae-jun tak menghentikan langkahnya, dan Ji-eun pun tak memanggilnya. Namun, sebelum pria itu berbelok di ujung koridor, Tae-jun sempat menangkap senyum tipis yang terukir di wajah Ji-eun. Dan entah mengapa, pemandangan sederhana itu cukup untuk membuat suasana hatinya terasa jauh lebih menyenangkan sepanjang hari.

Hari kerja berakhir lebih lambat dari biasanya. Hujan deras mengguyur kota ketika Ji-eun melangkah keluar dari gedung hotel. Ia berdiri di diluar gedung pintu utama, memperhatikan jalanan yang basah.

Tae-jun yang baru saja keluar dari pintu lobby menghentikan langkahnya saat melihat sosok Ji-eun.

"Belum pulang?" tanya Tae-jun pelan seraya mendekat.

"Menunggu hujan sedikit reda," sahut Ji-eun tanpa menoleh.

Tae-jun melirik payung kecil yang dipegang perempuan itu. "Payungmu kecil sekali."

Ji-eun mengangkat payungnya tinggi-tinggi. "Masih cukup kok."

"Hanya untuk satu orang."

"Cuma payung ini yang aku punya."

Tae-jun hampir terkekeh mendengarnya. Ia lalu membuka payung hitam besar miliknya. "Pakai ini. Ayo jalan ke parkiran, aku antar kau pulang."

Ji-eun menatap payung itu ragu. Melihat ke sekeliling yang sudah sepi. "Kita bisa jalan sendiri-sendiri."

"Aku tidak mengatakan kita harus memakai payung yang sama," balas Tae-jun datar lalu menyodorkan payung hitamnya kepada Ji-eun. "Pakai ini."

"Lalu kau?"

"Aku akan pakai milikmu."

Ji-eun tertawa kecil. "Kau benar-benar aneh."

"Aku tahu." Tae-jun membiarkan Ji-eun memakai payung besarnya, sementara ia memakai payung kecil Ji-eun. Mereka berjalan menerobos rintik hujan menuju area parkir VIP. Ji-eun menyusul dari belakang dengan perasaan hangat yang perlahan mengaliri dadanya.

Di dalam mobil, suasananya terasa jauh lebih tenang dan akrab, diiringi irama konstan air hujan yang menepuk kaca jendela. Ji-eun memandangi deretan lampu kota di luar.

"Tae-jun-ssi."

"Hm?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Payungnya."

"Itu cuma payung."

Ji-eun tersenyum tipis. "Bukan cuma soal itu."

Tae-jun meliriknya sejenak melalui kaca spion tengah. "Kalau begitu, jangan berterima kasih."

"Kenapa?"

"Karena aku akan terus melakukannya."

Ji-eun tertegun. Ada ketulusan yang begitu dalam dari cara Tae-jun mengatakannya. Pria itu memang tidak pandai mengumbar kata-kata manis atau merayu, tetapi setiap kali Tae-jun mengutarakan sesuatu, ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Mobil akhirnya berhenti tepat di area lobi apartemen Ji-eun. Hujan di luar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Tae-jun melepas sabuk pengamannya. "Sampai ketemu besok."

Ji-eun tidak langsung membuka pintu mobil. Jemarinya meremas tali tas, menggigit bibir bawahnya ragu seraya mempertimbangkan sesuatu.

"Tae-jun-ssi?"

"Ya?"

"Kau... sedang tidak terburu-buru, kan?"

Tae-jun menoleh sepenuhnya, menatap Ji-eun lekat. "Tidak."

"Kalau begitu..." Ji-eun menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, "...mau mampir sebentar?"

Tae-jun bergeming. Ji-eun seketika merasa pipinya membakar panas.

"Maksudku... untuk minum teh hangat," tambah Ji-eun cepat.

"Aku tahu."

"Aku cuma..."

"Aku mengerti." Tae-jun menatapnya beberapa detik, lalu bertanya dengan suara yang sedikit lebih rendah, "Kau yakin?"

Ji-eun mengangguk mantap. "Aku cuma menawarkan teh."

Tae-jun tertawa kecil.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak."

"Aku tidak berpikir apa-apa."

"Benarkah?"

"Tidak." Tae-jun akhirnya menyunggingkan senyum tipis.

Untuk pertama kalinya Ji-eun menyadari betapa berbahayanya senyuman pria tersebut. Setiap kali Tae-jun tersenyum seperti itu, debar di dadanya selalu berpacu tak terkendali.

"Kalau begitu... ayo," ujar Ji-eun cepat seraya membuka pintu mobil.

Apartemen Ji-eun tergolong sederhana. Tidak terlalu luas, tetapi ditata dengan hangat dan rapi. Tae-jun berdiri di dekat pintu masuk, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan.

"Jangan melihat-lihat seperti itu," gumam Ji-eun canggung.

"Aku cuma melihat."

"Tatapanmu seperti sedang melakukan inspeksi harian."

Ji-eun melepas sepatu hak tingginya lalu melangkah menuju dapur. "Duduklah dulu."

Tae-jun menurut dan menduduki sofa di ruang tengah. Beberapa menit kemudian, Ji-eun kembali membawa dua cangkir teh yang masih berasap tipis. Ia meletakkan salah satunya di hadapan Tae-jun.

"Teh chamomile."

Tae-jun memandangi cangkir tersebut. "Kau ingat aku suka teh ini?"

"Aku pernah tidak sengaja mendengarmu memesannya."

"Berarti kau memperhatikanku."

Ji-eun mendaratkan tubuhnya di sofa seberang Tae-jun. "Jangan terlalu percaya diri."

Tae-jun menatapnya hangat. "Sayangnya, aku sudah telanjur percaya diri sejak kau mengizinkanku masuk ke sini."

Ji-eun terkekeh pelan. Untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati keheningan diiringi aroma teh yang menenangkan. Tidak ada pembahasan mengenai pekerjaan, jabatan, ataupun urusan hotel. Hanya ada mereka berdua. Dan anehnya, keheningan itu terasa sangat nyaman.

Tae-jun memandangi Ji-eun yang duduk santai di hadapannya. Rambut perempuan itu sedikit berantakan akibat rintik hujan, dan wajahnya tampak jauh lebih lembut tanpa raut formal yang biasa ia pasang di kantor. Tae-jun mendadak menyadari satu hal, ia sangat menyukai sisi Ji-eun yang seperti ini. Sederhana, tenang, dan tampil apa adanya.

"Kenapa memperhatikanku seperti itu?" tanya Ji-eun menyadari tatapan lekatnya.

Tae-jun tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Aku sedang berpikir."

"Tentang apa?"

"Seharusnya aku lebih sering datang ke sini."

Ji-eun seketika membeku, menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Tae-jun-ssi..."

"Hm?"

"Jangan membuatku menyesal karena sudah mengundangmu masuk."

Tae-jun tersenyum tipis. "Aku tidak akan melakukannya."

Ji-eun menunduk, tak sanggup menahan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Untuk pertama kalinya, apartemen kecil itu terasa berbeda. Bukan sekadar karena ada tamu yang berkunjung, melainkan karena sosok itu adalah Tae-jun. Dan malam itu, tanpa mereka sadari, jarak yang selama ini terbentang di antara keduanya telah terkikis habis.

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!