“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Pasti Saja
Memakai dasi, menggunakan setelan jas, dirinya berlagak bagaikan bos besar. Semuanya berawal dari dirinya yang bekerja sebagai staf bagian marketing dari perusahaan wine heart.
Gaji yang lumayan, membuatnya bersedia meninggalkan keluarganya dan tinggal di luar kota. Baru bekerja beberapa bulan, Hendra menyadari bahwa perusahaan wine heart selalu mengambil wine dari desa Makmur.
Dari sanalah ide gilanya timbul. Dirinya yang terlalu jenuh akan pekerjaannya, dan tinggal jauh dari keluarga. Mungkin lebih baik mengambil ceperan dengan berpura-pura menjadi bos besar perusahaan wine tersebut.
Dan inilah yang terjadi…
Desa Makmur termasuk desa yang kaya, setelah pemuda bernama Tristan mendirikan rumah kaca dan mengajari para petani untuk menanam buah anggur. Mencari jalur distribusi yang terbaik memberikan harga tertinggi.
Dengan hanya sedikit provokasi darinya, para warga desa percaya. Apalagi dirinya sudah menjadi kekasih dari Junita anak kepala desa.
Siapa sangka hanya bermodalkan setelan jas dan dasi, dirinya sudah terlihat bagaikan bos besar.
Junita menyajikan kopi untuknya. Matanya melirik ke arah Junita yang menggunakan pakaian tidur super seksi.
“Yang…Jadi kapan kita nikah? Kalau perutku bertambah besar, nanti para warga akan membicarakannya. Tapi, tidak apa-apa juga sebenarnya…kamu kan orang yang paling berjasa di desa ini.” Ucap Junita bersandar pada tubuh tambun dari pria itu.
Mungkin roti sobek kotak-kotak milik Tristan, bukan seleranya. Mungkin saja sejatinya seleranya adalah gumpalan daging lembut ini. Mungkin saja…karena selama bertahun-tahun dirinya dan Tristan hanya berhubungan jarak jauh. Walaupun Tristan tinggal di desa, pria itu selalu menjaga diri agar tidak berhubungan sebelum menikah.
“Sabar, Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Mama dan papaku masih berada di luar negeri. Mereka ingin mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk kita. Nanti akan ada jet pribadi, dan honeymoon ke negara lain.” Janji palsu yang diucapkan oleh pria gemuk ini. Bukan hanya gemuk wajahnya juga dapat dikatakan standar.
“Tapi sayang…” Junita terlihat kesal.
“Kamu harus mengerti ya? Menjadi seorang nyonya keluarga kaya memang harus selalu menjaga etika dan pengertian. Terkadang ada urusan yang sulit kamu tangani, dan tidak kamu mengerti. Aku janji, setelah Mama dan papaku datang dari luar negeri, kita adakan upacara pernikahan yang besar. Kita undang artis dangdut, buat pesta 7 hari 7 malam. Nanti tamunya ada 2000 undangan.” Sebuah janji yang diucapkan oleh Hendra, mengelus-elus paha mulus wanita ini.
Benar-benar mulus dan licin, tangannya bergerak lebih ke atas. Mereka saat ini berada di sofa rumah Junita. Wanita itu menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, merasakan betapa nakal tangan itu di bawah sana.
Hingga pada akhirnya, Junita yang sudah tidak tahan lagi mencium bibir Hendra. Mencumbuinya dengan begitu rakus, Hendra membalasnya. Membalas ciuman wanita desa ini.
Pertama kali dirinya bertemu dengan Junita, wanita desa yang benar-benar lugu dan mudah dibodohi. Hanya dengan mengatakan dirinya bos besar, orang kantor, sesuatu yang disebut dengan CEO, wanita lugu desa ini percaya.
Bahkan rela memberikan kesuciannya di semak-semak. Itulah hubungan mereka dulu.
Padahal CEO perusahaan wine adalah Ryan. Bahkan Ryan sendiri pun hanya bertugas mengelola. Bos besar yang asli entah siapa dan ada di mana. Mungkin sedang bermain golf di lapangan.
“Sayang nanti nikahi aku ya…” permintaan manja dari Junita menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.
“Iya tidak mungkin aku menyia-nyiakan wanita yang begitu murni sepertimu. Tidak ada wanita yang lebih cantik dan murni dari Junitaku tersayang.” suara bisikan dari Hendra, melepaskan gaun tidur yang digunakan oleh wanita itu. Wanita yang bahkan tidak menggunakan pakaian dalam sama sekali.
Mereka melakukannya di ruang tamu. Sementara sang kepala desa bagaikan membiarkan hal yang dilakukan oleh putrinya. Pria itu hanya tidur di kamarnya bersama istrinya. Tidak peduli apa yang dilakukan oleh putrinya. Lagi pula calon menantunya adalah CEO yang berasal dari kota. Orang kota memang menganut pergaulan bebas bukan? Itulah yang ada di otaknya.
***
Keesokan harinya, suara sabit dan kapak terdengar. Para warga desa mengikuti perintah dari Hendra. Seluruh ladang anggur siap panen benar-benar dicabuti.
“Apa benar bisa untung?” Tanya Nining, salah satu pemilik lahan di tempat ini.
“Kamu percaya saja apa yang dikatakan oleh bos Hendra. Dia adalah pemilik dari pabrik anggur terbesar di kabupaten. Tidak mungkin dia salah…” Joko meyakinkan Nining. Mereka bahkan mempekerjakan orang-orang untuk membantu membersihkan lahan.
“Kalian sudah setor uang ke bos Hendra?” Pertanyaan yang diucapkan oleh Wicaksana.
“Belum, itulah…sebenarnya hasil panen tahun lalu masih aku simpan. Tapi berupa perhiasan, rencananya mau aku pakai untuk tabungan pendidikan anak-anak.” Nining menghela nafas.
“Untuk uang yang lebih banyak, memerlukan pengorbanan yang lebih banyak. Kalian harus berpikiran lebih luas itulah yang namanya investasi. Aku sendiri sudah mengambil pinjaman di Bank. Jaminannya sertifikat tanah, rencananya aku akan mengikuti program ini untuk 5 hektar lahanku.” Kalimat yang diucapkan oleh Joko penuh semangat.
Tiba-tiba saja truk pendingin milik perusahaan wine Heart melintasi jalan aspal desa mereka. Jalanan yang sebelumnya sudah direnovasi oleh pabrik tersebut. Kini hanya melintas di depan desa mereka, menuju desa lumbung emas.
“Anggur anggur ini terlalu berharga untuk dijadikan pupuk. Kenapa harus dijadikan pupuk? Kenapa bos Hendra tidak bersedia menjualnya ke pabrik saja malah mengambil dari desa lumbung emas.” Wicaksana menyayangkan.
Hingga seseorang melangkah mendekat. Wanita yang memang memiliki lahan di dekat sana. Ria membawa gerobak besar yang dipenuhi dengan anggur yang sudah dipanen.
“Kalian sedang apa? Sedang buang-buang duit ya?” Tanya Ria turun dari gerobaknya yang ditarik menggunakan sapi.
“Kamu kenapa memetik anggurmu? Kamu tidak ikut program dari bos Hendra?” Nining mengerutkan keningnya heran.
“Seharusnya cari duit yang pasti saja. Kita ini petani, panen juga tidak setiap bulan seperti pegawai kantoran. Kita ini panen musiman, belum harus keluar modal ini itu dan harus makan setiap hari. Aku tidak ikut program Bos Hendra. Sekarang aku mau menjual anggur-anggurku ini!” Wanita yang memukul-mukul keranjang anggurnya. Sebuah keranjang plastik yang diletakkan di atas gerobak.
Pada akhirnya Nining tertawa, benar-benar tertawa melihat kebodohan Ria.”Dasar bodoh, anggurnya paling laku 9000 per kg. Kalau kamu memangkas pohonnya sekarang, kemudian menyetor modal awal pada bos Hendra. Makan nanti bibit akan datang, rumah pohon besar akan didirikan untuk pembibitan. Setelahnya, bahkan anggur unggulan dapat bernilai 40.000 per kg. Kita tidak dibatasi menanam banyak atau sedikit. Harga tidak mungkin turun, varietas unggulan dari Perancis. Wanita desa sepertimu mana tahu hal itu.”
“Walaupun wanita desa tapi otakku kota, aku ini lulusan SMU. Bukannya Kak Nining bahkan SMP pun tidak lulus, karena kebelet kawin.” Ria mengedipkan sebelah matanya.
“Ria jangan menyesal nanti, jangan mengemis-ngemis pada bos Hendra untuk ikut bergabung dengan kelompok kami. Nanti setelah lahan kami ditumbuhi oleh anggur bahan baku wine kualitas premium. Harganya akan rp40.000 per kg, sementara kamu hanya akan menangis dengan harga rp9.000 per kg. Ada istilah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian.” Nining bagaikan mengejek Ria.
“Ada istilah tong kosong nyaring bunyinya. Aku pilih duit yang pasti, daripada duit yang tak pasti. Itu artinya dua setengah tahun ini cuma aku yang panen anggur lokal. Sedangkan kalian hanya mengandalkan buah dari hasil panen anggur red globe. Memangnya cukup untuk uang makan kalian? Kalian makan nasi garam, sedangkan aku makan ayam goreng. Bye…” Ria tersenyum mengejek, kembali naik ke gerobaknya. Sebuah gerobak yang kembali ditarik oleh sapi.
“Ria!” Teriak Nining geram setengah Mati.
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲
Sudah lebih baik kehidupan di Desa Makmur setelah Tristan datang, brati warga desa punya hp dong, ada jaringan internet masuk Desa Makmur kan? Kenapa warga Desa Makmur tetep dalam kebodohan? Tanpa mencari berita online soal penanaman anggur red globe dll😜