Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Malam telah larut, kota Seradam sudah separuhnya sunyi. Walau kota itu hidup dua puluh empat jam. Tetapi sebagian makhluk kota itu kini sudah terlelap di pembaringan yang hangat bersama keluarga mereka.
Raph keluar dari penthouse mewah milik pribadinya sendiri. Sebuah investasi yang ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri. Bangunan berlantai dua puluh. Menjulang tinggi di kota Seradam. Salah satu bangunan yang bukan atas nama Romanov.
Raphael Angelo keluar dari lift dengan satu rantang besar. Wajahnya hangat dan penuh senyuman. Walau begitu, semua pekerja dan staf gedung tak ada yang berani menyapanya. Mereka hanya membungkuk hormat ketika berpapasan dengan pria dengan tinggi 187cm itu.
Ketampanan Raphael juga tak main-main. Matanya hitam pekat nan tajam, hidung mancung dengan rahang kokoh. Dada bidang dan berotot disertakan perut rata yang berpetak. Rambut hitamnya tebal disisir klimis.
"Tuan, mobil anda sudah siap," seorang vallet membungkuk sambil menyerahkan kunci mobil Maserati ke arahnya.
"Ya!" sahut Raph singkat.
Ia berjalan diikuti petugas valet dan membukakan pintu untuknya. Raphael naik dan pintu tertutup pelan, ia meletakkan rantang di jok sebelahnya dan mengikatnya dengan sabuk pengaman. Mengelus rantang itu sebentar. Lalu menyalakan mobil dan meninggalkan bangunan mewah miliknya.
Dua puluh menit perjalanan dalam kesunyian abadi. Raph menikmati perjalanannya dengan kecepatan sedang. Hatinya sungguh sedang senang hari ini.
Hingga ia sampai di bangunan besar dengan luas tanah dua ribu meter persegi dan luas bangunan seribu meter.
Ia turun dan tak lupa membawa rantang makanan yang tadi ia bawa.
Raph berjalan di selosor serba warna putih. Jendela-jendela ruangan tertutup tirai. Bau desinfektan tercium dan beberapa perawat lalu-lalang di sana mengangguk hormat padanya.
Di tangannya sebuah rantang berisi ayam saus jamur buatannya sendiri. Langkah Raph berhenti di sebuah pintu kamar, ia merapikan jaket kulitnya dan mempersiapkan mentalnya.
"Mama, aku datang!" Seru Raph sambil membuka pintu.
Seorang wanita bertubuh sedikit gemuk duduk di sofa sambil menyisir rambut. Dua perawat menoleh dan mengangguk lalu menjauhi sang wanita.
Raphael mendekat, "Mama ... Aku pulang. Mama sudah makan?" air mata Raph berlinang seketika saat menatap mata ibunya yang kosong.
Seketika kehampaan menyeruak di dalam kamar bernuansa putih itu. Mata wanita tua itu menatap lurus ke depan, tak ada binar pengenalan, tak ada kehangatan yang biasanya menyambut kepulangan sang putra. Penyakit kehilangan memori dan gangguan saraf yang dideritanya telah merenggut sosok ibu yang dulu selalu memeluk Raphael hangat.
Dua perawat berdiri dengan raut wajah iba, memberi ruang untuk pria tegap berbalut jaket kulit yang kini tampak begitu rapuh.
"Tuan Raphael... Nyonya sudah minum obatnya sejam yang lalu. Beliau seharian ini hanya duduk di sofa," bisik salah satu perawat pelan sebelum melangkah keluar kamar dengan sopan, menutup pintu rapat-rapat.
Raphael meletakkan rantangnya di meja kecil, lalu berlutut di lantai dingin tepat di depan ibunya. Pria yang beberapa jam lalu menembak mati pejabat korup tanpa berkedip sedikit pun, kini menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di atas pangkuan sang ibu. Bahunya gemetar pelan, menahan isak tangis yang akhirnya pecah dalam keheningan.
"Mama... ini Raphael," bisiknya dengan suara serak, amat penuh kerinduan. "Lihat, Ma... Raphael bawakan ayam saus jamur kesukaan Mama. Raphael yang masak sendiri..."
Ia mengangkat kepalanya, membuka susunan rantang stainless itu dengan jemari yang gemetar. Aroma harum mentega, daging ayam gurih, dan saus jamur yang menggiurkan menyeruak memenuhi ruangan steril tersebut. Raphael mengambil sendok, menyodorkan sedikit potongan ayam hangat ke dekat bibir ibunya.
Wanita tua itu berkedip lambat. Tangannya yang keriput perlahan terangkat dari sisir yang dipegangnya, bergerak canggung menyentuh garis wajah Raphael yang kokoh.
"Pria... tampan..." gumam ibunya liris, suaranya sangat pelan. "Siapa... namamu, Anak Tampan? Kenapa... kau menangis?"
Pertanyaan sederhana itu bagaikan sembilu yang menghujam dada Raphael. Air matanya menetes jatuh menimpa punggung tangan sang ibu. Namun Raphael memaksakan sebuah senyuman—senyuman paling tulus dan hangat yang pernah ia miliki.
"Aku... Raphael, Ma. Anakmu," jawabnya lembut, mengusap tangan ibunya yang gemetar dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak menangis... Aku hanya sangat bahagia dan merindukan Mama."
Di balik kemewahan penthouse dua puluh lantai, mobil Maserati, jutaan dolar bonus dari Alexander, serta posisinya sebagai tangan kanan penguasa Romanov yang ditakuti semua orang, inilah alasan Raphael bertahan: seluruh harta dan kekuasaannya ia persembahkan demi memberikan perawatan terbaik bagi ibunya, satu-satunya tempat ia melepaskan seluruh topeng dinginnya.
Jika Raphael sedang berusaha mengobati ibunya. Ada sebuah keluarga berusaha melukai saudaranya sendiri.
Grace menatap kamar Char yang tertutup rapat. Baru saja dua hari lalu, Char menikah. Ia langsung diboyong Alexander, suaminya.
"Paman tidak mau membuka pintu itu," gumamnya penuh dengan rasa iri.
Grace sangat ingat ketika Gorgio menolak keinginannya untuk kembali menempati kamar itu.
"Paman, kan Char sudah tidak tinggal di sini lagi. Kamar itu lebih baik aku yang tempati!' bujuknya pagi tadi.
Namun Gorgio hanya menatapnya tajam.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Itu kamar Char."
"Char sudah menjadi istri Alexander Romanov!" Grace meninggi. "Dia bahkan sudah punya rumah sendiri! Untuk apa kamar sebesar itu dibiarkan kosong?"
"Siapa bilang itu kosong. Masih ada barang-barang Char di dalam," sahut Lotta yang tidak lagi mengiyakan keinginan keponakan suaminya.
"Aku tak akan menyentuhnya ... Untuk apa! Aku nggak butuh barang-barang itu!" sahut Grace angkuh.
"Kau tak butuh barang-barangnya, tapi kamu ingin menempati kamarnya?" timpal Gorgio.
"Paman ... Maksud aku ...."
"Kenapa sih Kak. Biarkan Grace menempati kamar itu lagi. Banyak kenangan Grace di kamar itu!" seru Gina.
"Sekali tidak, tetap tidak!" sahut Gorgio tak peduli.
"Bekerjalah Grace. Agar kau bisa punya kamar senyaman kamar Char!" lanjutnya lagi pedas.
Grace sangat kesal mengingat kejadian tadi pagi. Bukan hanya kamar sepupunya yang tak bisa ia tempati. Tetapi mobil biru Aston Martin, masih terparkir rapi di halaman villa, lengkap dengan pitanya. Tak ada satupun yang boleh menyentuhnya, bahkan Don membujuk Robert, ayahnya agar meminta Gorgio meminjamkan kendaraan mewah itu.
"Kuncinya tidak ada padaku. Char membawanya!"
Jawaban Gorgio membuat Don kesal dan marah. Pemuda itu sampai mengamuk dan menyumpahi pamannya sendiri.
"Semoga kau kena stroke dan Char hanya melihatmu merangkak seperti anjing lumpuh!"
Grace mengeratkan kepalan tangannya. Menatap nyalang handel pintu smartkey yang berulang kali ia coba buka tapi tetap nihil.
Sementara di kamar lain, di sebuah rumah yang lebih besar dan mewah di banding rumah Keluarga Torrer.
Char menatap ponsel di mana ada beberapa kotak tayangan. Sebuah kamera pengawas ia pasang untuk berjaga-jaga. Ternyata benar dugaannya selama ini. Grace berusaha keras ingin membuka pintu itu.
Alexander belum pulang, pria itu masih mengerjakan beberapa berkas di kantornya. Karena memberikan Raph cuti, maka ia harus membereskan semua berkas itu sendiri.
Char meluruskan pinggangnya, matanya masih menatap ponsel di mana empat kotak layar menayangkan selosor villa terutama depan kamarnya.
"Grace Xanders. Apa sih yang membuatmu selalu iri denganku?" tanyanya begitu penasaran.
"Padahal jika kau baik saja dan tak pernah menghasut. Layak seperti keluarga normal. Jangankan berbagi kamar. Berbagi barang apapun, pasti kuberikan secara cuma-cuma," gumamnya penuh sesal.
"Tapi kamu memilih memusuhiku. Jadi ... Aku akan selalu jadi musuhmu," lanjutnya lagi lalu ia mematikan ponselnya. Memejamkan mata dan tertidur lelap.
bersambung.
Grace ... Grace ... Itu lagi si Don. Ngapain nyumpahi orang tua kayak gitu.
next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung