NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Satu Lilin di Tengah Kegelapan dan Tangisan Tanpa Suara Sang Tiran

​Sinar mentari pagi menyusup malu-malu dari balik kaca jendela anti-peluru yang baru dipasang sehari sebelumnya. Cahayanya jatuh tepat di atas wajah Arga Danendra yang sudah terjaga sejak subuh. Pria itu tengah duduk bersandar di dinding, mengamati sosok Senja Kirana yang sedang sibuk merapikan seragam kerjanya di depan cermin retak.

​Suasana pagi ini terasa jauh lebih ringan. Hilangnya ancaman Bang Jali—meski Senja tidak tahu bahwa preman itu telah dibuat cacat oleh Arga—membuat senyum cerah kembali menghiasi wajah bidadari kecil tersebut.

​"Kak Arga," panggil Senja tiba-tiba, memutar tubuhnya menghadap pria itu sambil menyisir rambut panjangnya. "Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu."

​"Kepikiran apa?" sahut Arga santai, suaranya terdengar serak memabukkan di telinga siapa pun yang mendengarnya.

​"Kakak kan amnesia, tidak ingat siapa nama panjang Kakak, dari mana asal Kakak, bahkan tidak ingat siapa keluarga Kakak..." Senja menunduk sedikit, menatap ujung sepatunya yang sudah usang. "Berarti, Kakak juga tidak ingat kapan hari ulang tahun Kakak, kan?"

​Pertanyaan itu membuat Arga terdiam sesaat. Tentu saja ia ingat. Ia lahir pada tanggal 12 November, sebuah tanggal yang biasanya dirayakan oleh Danendra Group dengan pesta gala dinner super mewah di hotel bintang tujuh, mengundang para menteri, duta besar, dan konglomerat dari seluruh Asia. Sebuah pesta di mana sampanye seharga ratusan juta dituangkan layaknya air putih biasa, dan kado-kado berupa kunci mobil sport atau jam tangan Richard Mille bertumpuk di meja hadiah.

​Namun, untuk mempertahankan penyamarannya, Arga menggelengkan kepala perlahan. Ia memasang raut wajah melankolis yang sempurna. "Tidak. Aku tidak mengingatnya, Senja."

​Mendengar jawaban itu, Senja terkesiap pelan. Matanya memancarkan rasa iba yang begitu dalam. Bagi Senja, hari ulang tahun adalah hari yang sangat sakral, satu-satunya hari di mana seseorang diakui keberadaannya di dunia. Mengetahui bahwa pria di depannya ini kehilangan tanggal lahirnya, membuat Senja merasa sangat sedih.

​Namun, hanya dalam hitungan detik, kesedihan itu menguap, digantikan oleh binar antusiasme yang luar biasa.

​"Kalau begitu, aku yang akan menentukannya!" seru Senja, melangkah maju mendekati Arga dengan senyum yang mengalahkan terangnya matahari pagi.

​Arga menaikkan sebelah alisnya. "Menentukannya?"

​"Iya! Karena Kakak tidak ingat masa lalu Kakak, berarti Kakak sudah memulai kehidupan yang baru, kan? Hari di mana Kakak terbangun dari demam tinggi itu... anggap saja itu hari di mana Kakak lahir kembali menjadi manusia yang baru!" Senja bertepuk tangan sekali, wajahnya berbinar penuh kebanggaan atas ide briliannya. "Dan kebetulan, hari ini adalah tanggal di mana luka Kakak sudah mulai mengering! Jadi... selamat ulang tahun yang pertama di kehidupan barumu, Kak Arga!"

​Arga terpaku. Otaknya yang jenius dan biasa memproses algoritma bisnis yang rumit, tiba-tiba mengalami kemacetan total. Ia menatap gadis yang sedang tersenyum riang di depannya ini dengan dada bergemuruh hebat.

​Gadis ini... gadis miskin yang rumahnya baru saja dihancurkan, yang masih berutang kasbon pada bosnya, justru repot-repot memikirkan hari ulang tahun seorang pria asing, dan memberikannya sebuah 'kelahiran kembali'.

​"Terima kasih, Senja," gumam Arga pelan, suaranya nyaris tercekat oleh emosi yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya.

​"Sama-sama! Nah, karena ini hari ulang tahun Kakak, hari ini Kakak benar-benar tidak boleh melakukan apa pun. Cukup duduk manis, jaga rumah kita yang pintunya baru ini, dan tunggu aku pulang kerja malam nanti, oke?" perintah Senja dengan gaya bos kecil yang sangat menggemaskan.

​"Baiklah, Nona."

​Setelah Senja melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu kayu jati yang tebal itu, senyum di bibir Arga perlahan memudar. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, lalu merogoh ponsel satelit rahasianya dari balik lipatan tas.

​Sang CEO Iblis kembali bekerja dari balik bayang-bayang.

​Ia menekan nomor asistennya. "Ya, Bos?" jawab Raka seketika.

​"Raka, bagaimana perkembangan pergerakan saham Wijaya Group?" tanya Arga, matanya berkilat dingin dan penuh perhitungan.

​"Sesuai instruksimu kemarin, Bos. Mereka mulai panik karena kau menghilang. Wijaya tua itu mengira anak buahnya berhasil membunuhmu di malam badai itu. Dia mulai memborong saham perusahaan farmasi kita karena mengira Danendra Group sedang kehilangan nakhoda," lapor Raka, nada suaranya terdengar licik dan puas. "Dia tidak tahu kalau kita sengaja membiarkan harga saham itu turun untuk menjebaknya. Apa langkah selanjutnya?"

​"Biarkan dia memakan umpan itu sedikit lebih dalam. Saat seluruh kas perusahaannya tersedot ke saham farmasi kita, aku ingin kau mempublikasikan skandal penggelapan pajak anak perusahaannya di sektor properti. Buat perusahaannya lumpuh total dalam satu malam," perintah Arga tanpa belas kasihan.

​"Siap laksanakan, Bos. Ah, ngomong-ngomong, aku sudah mengecek riwayat rentenir bernama Jali itu. Dia dan anak buahnya masuk ICU rumah sakit daerah dengan luka patah tulang rusuk dan gegar otak parah. Kudengar dari informan polisi, mereka ketakutan setengah mati, terus-menerus mengigau tentang 'iblis berkemeja putih'. Kau benar-benar meremukkan mereka, ya?"

​Arga tidak merespons tentang Jali. Baginya, preman itu sudah tidak eksis lagi di dunia ini. "Satu hal lagi, Raka."

​"Apa itu?"

​"Cari tahu siapa pemilik Kedai Roti 'Harum Manis' di persimpangan jalan distrik selatan. Beli kedai itu, bayar tiga kali lipat dari harga pasarnya jika perlu. Tapi lakukan secara rahasia menggunakan perusahaan cangkang. Jangan sampai ada yang tahu bahwa Danendra Group yang membelinya, dan pastikan tidak ada perubahan manajemen di sana. Biarkan pemilik lamanya tetap merasa dia yang memimpin."

​Terdengar suara Raka tersedak ludahnya sendiri di ujung telepon. "Uhk! K-Kedai roti pinggiran? Bos, kita ini perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi, properti, dan farmasi! Buat apa kau membeli kedai roti kumuh?!"

​"Lakukan saja apa yang kuperintahkan, Raka. Atau kau mau posisimu kugantikan dengan robot AI?" ancam Arga dingin.

​"B-Baik, baik! Ya Tuhan, bosku yang gila kerja sekarang berubah jadi tuan tanah kedai roti. Pesananmu akan selesai sebelum jam makan siang, Tuan Besar."

​Arga memutuskan panggilan. Ia meletakkan ponselnya, menyandarkan kepalanya ke dinding, dan menatap langit-langit ruangan yang bocor. Ia membeli kedai itu bukan tanpa alasan. Senja bekerja di sana. Mimpi gadis itu adalah menjadi pembuat roti utama. Arga tidak akan membiarkan tempat Senja mencari nafkah berada di bawah kendali orang lain yang mungkin bisa menyakitinya suatu saat nanti. Dengan membeli kedai itu secara rahasia, Arga bisa melindungi Senja dari jarak dekat, dan memastikan gaji serta fasilitas gadis itu terjamin, tanpa melukai harga diri Senja yang sangat mandiri.

​"Tunggu aku sedikit lagi, Senja," bisik Arga pada ruangan yang sepi. "Begitu anjing-anjing Wijaya itu musnah... aku akan membawamu keluar dari tempat ini."

​Di Kedai Roti Harum Manis, aroma mentega dan gula karamel menguar manis, menghangatkan udara sore yang mulai mendung.

​Senja Kirana baru saja selesai mengepel lantai depan kedai. Peluh membasahi seragam cokelatnya, namun senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Pikirannya terus melayang pada pria besar yang menunggunya di rumah. Hari ini adalah hari ulang tahun Kak Arga. Ia harus membawa sesuatu yang istimewa.

​Senja menghampiri Pak Yanto, bosnya yang berwajah ramah dan bertubuh tambun, yang sedang menghitung uang di mesin kasir.

​"Pak Yanto..." panggil Senja pelan, meremas ujung celemeknya dengan ragu. "Bolehkah... bolehkah saya meminjam sisa adonan bolu yang gagal mengembang tadi pagi? Dan sedikit krim mentega sisa pesanan Ibu RT kemarin?"

​Pak Yanto menoleh, mengernyitkan dahi di balik kacamata bacanya. "Adonan bantat itu? Mau kau buat apa, Senja? Itu sudah tidak layak jual. Buat pakan ayam saja."

​"Bukan untuk dijual, Pak," Senja tersenyum malu-malu. "Saya mau mengolahnya lagi... untuk dimakan sendiri. Hari ini... hari ini ulang tahun seseorang yang sangat penting bagi saya. Saya tidak punya uang lebih untuk membeli kue ulang tahun yang bagus di etalase, jadi... saya pikir saya bisa membuatnya sendiri dari sisa bahan."

​Mendengar ketulusan dalam suara gadis yatim piatu yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu, hati Pak Yanto tersentuh.

​"Seseorang yang penting, eh?" goda Pak Yanto sambil tersenyum penuh arti. Pria tua itu menepuk bahu Senja. "Jangan pakai adonan bantat, Nak. Ambil bahan yang baru di dapur. Tepung, telur, cokelat, krim... pakai semuanya secukupnya. Anggap saja itu hadiah dari Bapak untuk orang pentingmu itu. Bapak tahu kau anak yang rajin dan tidak pernah mencuri, jadi buatlah kue yang paling enak."

​Mata Senja berkaca-kaca seketika. "P-Pak Yanto... sungguh? Boleh saya pakai bahannya? Saya akan potong dari gaji saya bulan depan, Pak! Saya janji!"

​"Hush, tidak usah potong gaji. Sana pergi ke dapur, sebelum Bapak berubah pikiran dan menyuruhmu mengaduk adonan roti tawar lagi!" usir Pak Yanto bercanda. (Tanpa Pak Yanto sadari, kebaikannya hari ini padahal baru saja menyelamatkan posisinya, karena beberapa jam yang lalu, kedainya baru saja dibeli secara rahasia oleh pria 'penting' yang dimaksud Senja).

​Dengan kebahagiaan yang meluap-luap, Senja berlari ke dapur. Ia mengenakan sarung tangan ovennya, menimbang tepung, mengocok telur, dan melelehkan cokelat murahan. Hatinya bernyanyi riang. Setiap adukan yang ia lakukan dipenuhi oleh doa dan harapan baik untuk pria yang telah mengubah hidupnya yang sepi menjadi penuh warna.

​Satu jam kemudian, sebuah kue bolu berukuran kecil—hanya sebesar telapak tangan orang dewasa—selesai dipanggang. Senja melapisinya dengan krim mentega putih tipis, lalu dengan hati-hati, ia menggunakan sisa lelehan cokelat untuk menuliskan sebuah kalimat di atasnya. Tulisan itu tidak terlalu rapi, bentuknya sedikit miring, namun sangat jelas terbaca:

​Selamat Ulang Tahun, Kak Arga!

​Senja tersenyum puas menatap mahakarya sederhananya itu. Ia memasukkannya ke dalam kotak karton kecil, tak lupa mengambil satu batang lilin bekas berwarna merah dari laci dapur kedai.

​Malam ini akan menjadi malam yang sempurna.

​Hujan gerimis mulai turun membasahi aspal kota saat Senja tiba di depan rumah kontrakannya. Ia melindungi kotak kue kecil itu di balik tas kainnya agar tidak terkena air.

​Saat Senja mendorong pintu kayu jati itu, ia mendapati ruangan kontrakannya gelap gulita. Tidak ada cahaya sekecil apa pun.

​"Kak Arga?" panggil Senja dengan suara bergetar panik. Apakah sesuatu terjadi? Apakah Bang Jali kembali?

​Namun dari sudut ruangan, di atas kasur, terdengar dehaman berat yang sangat familier. "Aku di sini, Senja."

​Senja menghela napas lega hingga kakinya lemas. "Astaga, Kak! Kenapa lampunya dimatikan? Aku kaget setengah mati!"

​"Aku hanya ingin menghemat token listrikmu," jawab Arga jujur. Ia memang sengaja mematikan lampu agar sisa pulsa listrik Senja tidak cepat habis. Ia tahu gadis itu baru saja menguras tabungannya, dan Arga tidak ingin Senja memikirkan tagihan listrik. "Lagi pula, mataku sudah terbiasa dengan kegelapan."

​Senja tersenyum penuh arti dalam kegelapan. "Baguslah kalau lampunya mati. Kak Arga, tutup mata Kakak sekarang juga! Jangan ngintip sebelum aku suruh buka, ya!"

​"Ada apa ini?" Arga menaikkan alisnya, meski gadis itu tidak bisa melihatnya. Namun ia menurut, memejamkan mata elangnya dan duduk bersila di atas kasur.

​Terdengar suara kresek plastik dibuka, lalu suara gesekan korek api kayu.

​Ckrek. Syuhh.

​Sebuah cahaya kecil kekuningan tiba-tiba berpendar, mengusir kegelapan mutlak di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter tersebut.

​"Sekarang buka mata Kakak," bisik Senja lembut.

​Arga perlahan membuka matanya. Dan pemandangan di depannya sukses membuat jantung sang CEO berhenti berdetak selama satu tarikan napas penuh.

​Senja Kirana sedang duduk berlutut di lantai, tepat di depan lutut Arga. Tangan gadis itu memegang sebuah kue bolu kecil yang bentuknya jauh dari kata mewah. Di tengah kue itu, tertancap satu buah lilin merah kecil yang menyala terang. Cahaya api dari lilin itu memantul di bola mata Senja, membuat mata gadis itu terlihat seperti menyimpan ribuan konstelasi bintang yang paling indah di alam semesta.

​Dengan suara yang merdu, pelan, dan sedikit gemetar karena rasa malu, Senja mulai bernyanyi.

​"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun Kak Arga... Selamat ulang tahun..."

​Lagu itu dinyanyikan tanpa iringan musik mewah. Tidak ada paduan suara. Tidak ada grand piano bernilai miliaran rupiah. Hanya suara seorang gadis yatim piatu di dalam gubuk reot yang diiringi oleh ritme rintik hujan dari luar jendela.

​Namun bagi Arga Danendra, itu adalah simfoni paling agung yang pernah diciptakan oleh Tuhan di dunia ini.

​"Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga..." Senja mengakhiri lagunya dengan senyum yang sangat lebar. Ia menyodorkan kue kecil itu lebih dekat ke wajah Arga. "Selamat ulang tahun yang pertama, Kak Arga! Ayo, buat permohonan dalam hati, lalu tiup lilinnya!"

​Arga tidak bergerak. Mata elangnya terpaku pada nyala api kecil di depannya, lalu beralih pada tulisan cokelat yang sedikit berantakan di atas kue bolu itu. Selamat Ulang Tahun, Kak Arga!

​Ingatan kelam tiba-tiba menyergap masuk, menghantam pertahanan emosinya tanpa ampun.

​Ia teringat pada hari ulang tahunnya enam tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum Natasha meninggalkannya. Saat itu, Arga baru saja di-PHK dari pekerjaannya sebagai kurir. Ia pulang dengan tubuh lelah dan dompet kosong. Ia berharap Natasha akan menyambutnya dengan senyuman dan memberinya pelukan hangat untuk merayakan ulang tahunnya.

​Namun apa yang ia dapatkan? Natasha mengamuk. Wanita itu membanting piring dan memaki Arga, marah besar karena Arga tidak mampu membawanya makan malam romantis di restoran Prancis seperti yang dilakukan pacar dari teman-teman sosialitanya. Natasha meninggalkannya sendirian di malam ulang tahunnya, di dalam kamar kos yang lembap, tanpa ucapan selamat, tanpa kue, tanpa setitik pun rasa peduli.

​Hari itu, Arga menangis dalam diam, merasa dirinya adalah manusia paling tidak berguna dan paling tidak dicintai di muka bumi. Sejak hari itu, Arga sangat membenci hari ulang tahun. Bahkan setelah ia sukses menjadi CEO yang ditakuti dan menggelar pesta raksasa setiap tahun, ia hanya melakukannya untuk pencitraan bisnis. Hatinya selalu kosong, mati, dan muak melihat senyum palsu para tamu yang hanya menginginkan hartanya.

​Tapi malam ini...

​Di depan matanya, ada seorang gadis yang nyaris tidak punya apa-apa, yang rumahnya hancur kemarin, yang bajunya basah oleh gerimis, namun memberikan satu-satunya kehangatan yang tak pernah Arga dapatkan seumur hidupnya.

​"Kak Arga?" panggil Senja pelan, membuyarkan lamunan pria itu. Senyum gadis itu sedikit memudar saat melihat mata Arga memerah. "Kak... kenapa? Apakah Kakak tidak suka kuenya? Maaf, ini cuma bolu sisa di kedai, aku tidak punya uang untuk membelikan kue yang ada buah cherry-nya..."

​"Bukan itu," suara Arga serak, begitu parau hingga nyaris pecah.

​Arga menatap Senja dengan pandangan yang membuat napas gadis itu tertahan. Itu adalah tatapan pria yang baru saja diselamatkan dari dasar palung laut terdalam.

​"Ini adalah... kue ulang tahun terbaik yang pernah kuterima seumur hidupku, Senja," bisik Arga dengan ketulusan yang mengoyak jiwa.

​Ia memejamkan matanya, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Jika di masa lalu Arga memohon kekuasaan dan kekayaan agar tidak direndahkan, malam ini, sang Iblis Korporat itu mengucapkan satu doa yang sangat sederhana kepada semesta:

​Tuhan, aku tidak butuh dunia. Aku tidak butuh kerajaanku. Jika Kau mengizinkan, biarkan aku menukar seluruh triliunan hartaku, asalkan Kau membiarkanku menyimpan senyum gadis ini untuk selamanya. Jangan biarkan lilin kecil ini padam dari hidupku.

​Arga membuka matanya perlahan, lalu mencondongkan tubuhnya dan meniup lilin merah tersebut.

​Fyuuh...

​Api padam, namun ruangan tidak menjadi gelap, karena Senja buru-buru menyalakan kembali lampu kuning lima watt di sudut ruangan.

Dunia modern sering kali menipu kita dengan ilusi bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan label harga. Kita diajarkan untuk menginginkan buket mawar raksasa, perhiasan berkilau, dan pesta kejutan di tempat mewah sebagai bukti bahwa kita dicintai. Namun, cinta yang sesungguhnya tidak pernah berbicara bahasa nominal.

​Nilai dari sebuah hadiah tidak terletak pada seberapa banyak uang yang dihabiskan sang pemberi, melainkan pada seberapa besar pengorbanan yang ia berikan di tengah keterbatasannya. Jika seorang miliarder membelikanmu berlian, itu hanyalah sisa dari kekayaannya. Namun jika seseorang yang hanya memiliki sepuluh ribu rupiah rela menghabiskan seluruh uangnya untuk membelikanmu sebungkus mi instan agar kau tidak kelaparan, maka dia baru saja memberikan seluruh dunianya untukmu. Ketulusan sejati, seperti kue bolu bantat Senja, akan selalu mengalahkan kemewahan paling gemerlap yang dibangun di atas kepalsuan.

​"Horeee!" Senja bertepuk tangan pelan, matanya kembali berbinar-binar. Ia mengambil sebuah pisau plastik kecil dari kotaknya. "Sekarang waktunya potong kue! Ah, sayangnya kita tidak punya piring kecil untuk tatakannya..."

​"Tidak perlu piring," potong Arga pelan. Pria itu mencondongkan tubuh besarnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka.

​Tanpa aba-aba, Arga mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pergelangan tangan Senja yang sedang memegang kue itu. Jari-jari besar Arga yang hangat menangkup tangan kecil Senja, membimbing tangan gadis itu untuk menyendok sedikit ujung kue bolu berlapis krim putih tersebut menggunakan pisau plastik.

​Senja menahan napas. Wajah Arga kini berada sangat dekat dengannya. Ia bisa mencium aroma maskulin alami dari pria itu, berpadu dengan udara sejuk sisa gerimis. Jantung Senja berdegup begitu kencang hingga ia takut Arga bisa mendengarnya.

​"Kak...?" cicit Senja, wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus.

​Arga menatap bibir Senja sejenak, lalu mengangkat pandangannya tepat ke dalam mata bulat gadis itu. Pandangan yang begitu dalam, posesif, dan penuh dengan lautan kasih sayang yang siap menenggelamkan Senja.

​"Orang yang sedang berulang tahun berhak mendapatkan suapan pertama dari orang yang memberikannya hadiah, bukan?" bisik Arga, suaranya mengalun seperti mantra yang menghipnotis.

​Senja terhipnotis. Ia tak mampu menolak. Dengan tangan gemetar yang masih dipegangi oleh Arga, ia mengarahkan potongan kecil kue bolu itu ke bibir sang pria.

​Arga membuka mulutnya, menerima suapan itu. Mata elangnya tak sedetik pun lepas dari wajah Senja yang bersemu merah. Rasa manis krim mentega murahan dan cokelat sisa itu lumer di lidahnya, namun rasa manis yang menyusup ke dalam hatinya jauh lebih memabukkan.

​"Enak?" bisik Senja gugup, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.

​"Sangat manis. Seperti yang membuatnya," jawab Arga tanpa ragu, melontarkan pujian langsung yang membuat pertahanan Senja hancur lebur. Gadis itu menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini terasa panas membara, namun bibirnya melengkung tak bisa menahan senyum kebahagiaan yang meluap-luap.

​Arga mengambil alih pisau plastik itu dari tangan Senja. Kali ini, ia yang memotong bagian kue yang sedikit lebih besar. Dengan kelembutan yang kontras dengan postur raksasanya, ia menyodorkan potongan kue itu ke bibir Senja.

​"Sekarang giliranmu. Buka mulutmu, bidadari kecil," perintah Arga halus.

​Senja menurut. Ia menerima suapan dari Arga, mengunyah kue buatannya sendiri sambil menatap mata pria yang telah mencuri hatinya tanpa ia sadari.

​Malam itu, di dalam kontrakan sempit yang jauh dari peradaban elit metropolitan, tidak ada sampanye mahal, tidak ada gaun desainer, dan tidak ada panggung pidato kemegahan. Yang ada hanyalah sebuah kue bolu kecil yang dibagi berdua, senyum tersipu malu, dan sepasang manusia yang saling menyembuhkan luka masa lalu melalui setiap suapan sederhana.

​Arga Danendra menyadari, mulai malam ini, ia tidak lagi merindukan kembalinya ingatan palsu yang ia karang. Ia hanya merindukan masa depan. Sebuah masa depan di mana ia akan membangun istana yang sesungguhnya untuk gadis ini, sebuah istana di mana tangisan Senja tak akan pernah terdengar lagi.

​Sementara bagi Senja, malam ini adalah bukti bahwa keajaiban itu nyata. Pria amnesia di depannya ini mungkin tidak memiliki masa lalu, tetapi Senja berjanji dalam hatinya, ia akan menjadi masa depan bagi pria ini, apa pun rintangan yang akan menghalangi mereka nanti.

​Tali takdir telah terikat mati. Dan tak ada satu pun kekuatan di dunia ini, bahkan Grup Wijaya sekali pun, yang mampu memutusnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!