Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Langkah Awal
Pagi hari di kawasan lembah Universitas Gadjah Mada menyuguhkan ketenangan yang seolah membasuh sisa-sisa trauma masa lalu. Sinar matahari fajar menembus celah-celah daun pohon beringin yang rindang, menciptakan siluet cahaya keemasan di sepanjang jalan menuju gedung pascasarjana. Arunika melangkah perlahan dengan kepala tegak, menggenggam tali tas kuliah barunya dengan keanggunan yang murni. Hijab segi empat polos sewarna pastel yang ia kenakan bergerak lembut seiring embusan angin pagi kota Jogja yang sejuk.
Hari ini adalah hari pertama orientasi dan perkuliahan perdana untuk program Magister Ilmu Ekonomi. Bagi Arunika, atmosfer akademis yang intelek dan membumi di kampus ini terasa seperti sebuah validasi atas kemerdekaan hidupnya. Tugasnya memenuhi amanah almarhum sang ayah, Bagus Wiranata, untuk menyelesaikan strata satu telah lunas. Kini, di atas kakinya sendiri, ia melangkah maju untuk membangun takhtanya sendiri tanpa bayang-bayang status "istri pajangan" yang pernah disematkan Saka padanya di Jakarta.
Setelah menyelesaikan sesi pengenalan umum di aula utama bersama jajaran dekanat, Arunika berjalan menuju gedung perpustakaan pusat. Ia berniat mencari beberapa buku jurnal makroekonomi lanjutan yang menjadi referensi utama semester ini. Langkah sunyinya membimbingnya masuk ke dalam lorong-lorong rak buku yang hening dan beraroma kertas khas. Karena terlalu fokus membaca daftar referensi digital di layar ponselnya, Arunika tidak sengaja menyenggol lengan seseorang yang sedang berdiri mengambil buku di rak yang sama.
Brak.
Tumpukan berkas tebal dan sebuah buku jurnal internasional milik orang tersebut terlepas, jatuh berserakan di atas lantai selasar yang sunyi.
"Ah, maaf... maaf sekali, saya benar-benar kurang hati-hati," ujar Arunika panik. Dengan gerak refleks yang sopan, ia langsung ikut berjongkok, berniat membantu memungut lembaran-lembaran kertas yang terserak.
"Tidak apa-apa, santai saja," sebuah suara bariton yang ramah, matang, dan berwibawa menyahut dari hadapannya.
Arunika mendongak untuk menyerahkan tumpukan berkas tersebut, namun gerakannya mendadak terkunci saat tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai hitam tipis. Pria di hadapannya mengenakan kemeja katun polos dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura seorang akademisi yang sangat cerdas namun tetap membumi.
Pria itu menerima berkasnya, lalu pandangannya beralih menatap pin nama mahasiswa baru yang tersemat di blazer hitam longgar milik Arunika. Sorot matanya berbinar kecil, menyiratkan keterkejutan dan getaran emosi yang teramat sangat, yang coba ia tahan dengan sekuat tenaga agar tetap terlihat sopan.
"Arunika Wiranata?" tanya pria itu, membaca nama yang tertera di sana dengan intonasi yang begitu dalam, seolah nama itu sudah lama tertanam di benaknya.
Arunika tertegun sejenak. "Iya, benar. Maaf, Tuan..."
Pria itu perlahan berdiri, diikuti oleh Arunika yang merapikan blus batiknya. Pria itu tersenyum hangat, mengulurkan tangannya dengan gestur yang sangat terhormat. "Salam kenal, Arunika. Saya Mahendra. Saya salah satu dosen pengampu matakuliah ekonometrika dan makroekonomi di departemen ini, sekaligus sedang menyelesaikan riset disertasi S3 Doktoral saya di sini."
Arunika menyambut uluran tangan itu dengan anggukan sopan, terkejut menyadari bahwa pria di depannya ini ternyata adalah salah satu jajaran pengajar muda pascasarjana UGM. Namun, apa yang tidak Arunika ketahui saat itu adalah, Mahendra bukanlah sekadar dosen biasa dengan penampilan yang sederhana. Di luar koridor kampus, Mahendra adalah seorang pebisnis muda sukses yang memegang kendali atas perusahaan besar milik kakeknya. Keluarga besarnya merupakan garis ningrat terpandang yang sangat disegani, dan mereka masih memiliki ikatan kekerabatan jauh dengan Lina, ibu kandung Saka di Jakarta.
Bagi Mahendra, pertemuan di perpustakaan UGM ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan biasa. Ini adalah takdir yang telah lama ia kubur.
Jauh sebelum Arunika terjebak dalam sangkar emas milik Saka, Mahendra sudah lama jatuh cinta pada Arunika dari kejauhan. Waktu itu mereka masih di Jakarta, tempat keluarga besar Mahendra menetap. Mahendra pernah melihat Arunika sedang berjalan bersama ayahnya, Bagus Wiranata, dan almarhum Raditya Daniswara dalam sebuah pertemuan informal. Senyum bersahaja, tatapan mata yang cerdas, dan keanggunan Arunika malam itu langsung mengunci hati Mahendra.
Namun, sebelum Mahendra sempat mencari celah untuk mendekati dan menyatakan perasaannya, berita mengejutkan datang. Arunika mendadak dinikahkan dengan Saka karena wasiat perjodohan keluarga Daniswara. Kecewa dan patah hati, Mahendra memilih untuk melangkah mundur secara terhormat. Demi menjauh dari bayang-bayang patah hatinya di Jakarta, dia memutuskan pergi ke Yogyakarta, mengambil tawaran mengajar sebagai dosen di UGM sembari menempuh S3. Meski tinggal di Jogja, Mahendra tidak bisa melepaskan tanggung jawab besarnya terhadap bisnis dinasti keluarganya. Setiap beberapa waktu sekali, dia harus pulang ke Jakarta untuk membantu ayahnya mengurus operasional perusahaan raksasa milik kakeknya tersebut.
Dua minggu lalu, saat berada di Jakarta, Mahendra mendengar gemparnya skandal video perselingkuhan Saka dan Valerie di media sosial. Keluarga besar Lina mencaci-maki Arunika, namun Mahendra justru merasakan amarah yang membuncah kepada Saka yang telah menyia-nyiakan wanita seberharga Arunika. Dan kini, takdir mengantarkan wanita itu langsung ke hadapannya di Jogja, berdiri sebagai mahasiswi bimbingannya.
Mahendra menatap Arunika dengan tatapan penuh rasa kagum yang tertahan. Mengingat usia kandungan Arunika yang masih sangat muda, baru berjalan tiga bulan, bentuk perut wanita itu masih tampak sangat rata dan tersamarkan sempurna di balik blus batik longgar serta blazer hitamnya. Mahendra sama sekali belum menyadari bahwa di rahim Arunika telah tumbuh sebutir benih kehidupan dari malam kelam perempuan itu di Jakarta. Yang Mahendra tahu saat ini, Arunika adalah seorang wanita bebas yang baru saja lepas dari badai pernikahan yang buruk.
"Saya sudah membaca garis besar proposal riset yang Anda ajukan saat pendaftaran, Arunika," ucap Mahendra, memecah keheningan koridor perpustakaan dengan nada suara seorang profesional. "Analisis Anda mengenai kebijakan fiskal daerah sangat tajam. Anda memiliki potensi akademik yang luar biasa di sini."
Arunika tersenyum tulus, merasa sangat dihargai sebagai seorang manusia yang memiliki isi kepala. "Terima kasih banyak, Pak Mahendra. Mohon bimbingannya selama saya menempuh studi di sini."
"Panggil saja Kak Mahendra atau Mas Mahendra jika di luar jam kelas resmi, agar tidak terlalu kaku," sahut Mahendra dengan senyum tipis yang menenangkan.
Meskipun Mahendra belum tahu tentang rahasia kehamilan Arunika, insting protektifnya sebagai pria yang mencintai wanita itu langsung bekerja secara taktis. Dia tahu betul bagaimana tabiat serakah dan gila hormat dari lingkaran keluarga Lina dan Saka di Jakarta. Dia tidak ingin ketenangan Arunika diusik. Tanpa sepengetahuan Arunika, hari itu juga Mahendra langsung menempatkan beberapa orang pengawal rahasia berkaus kasual di sekitar area kampus dan rute pulang ke rumah Ibu Sandra untuk mengawasi keselamatan Arunika dari potensi mata-mata Jakarta.
"Jogja adalah kota yang tenang untuk belajar dan menata masa depan, Arunika," ujar Mahendra lembut, tatapannya menyiratkan janji perlindungan yang kokoh saat mereka berjalan beriringan keluar dari perpustakaan. "Fokuslah pada kuliahmu. Jika ada hal apa pun yang mengganggu studimu, jangan ragu untuk memberitahu saya. Pintu ruang kerja saya selalu terbuka untuk Anda."
Arunika mengangguk haru, merasakan sebuah ketenangan baru yang luar biasa mengalir di dadanya. Di Jakarta, Saka mungkin sedang didera kepanikan memikirkan warisan tanpa menyadari bahwa di Yogyakarta, langkah sunyi Arunika telah membimbingnya ke garis takdir yang baru, berada di bawah lindungan tak terlihat dari seorang dosen sekaligus pemilik perusahaan besar yang sudah lama menyimpan cinta murni untuknya, siap menjadi perisai kokoh yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh keangkuhan Saka yang mungkin saja akan runtuh.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍