Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Di Balik Pesta
"Tapi dia sering ngadain pesta, ya?" Anjani mengusap dagu, pandangannya masih tertuju pada layar ponsel Eve yang kembali di letakkan di atas meja.
Eve tersenyum antusias, "Iya, satu tahun bahkan bisa empat kali acara pesta. Dan pesta kali ini, baru yang kedua tahun ini. Orang kaya emang beda, ya?"
Anjani mengerlingkan mata, bosan dengan Eve yang terus menerus mengatakan orang kaya kepada Abimanyu.
Keluarga Prawiroatmoedjo adalah generasi lama dalam dunia bisnis, menjadi konglomerat nomor satu di ibukota. Lalu disusul dengan keluarga pendatang dari luar negeri yaitu Barrington.
Sementara urutan ketiga masih tidak seimbang, terkadang diisi oleh keluarga Damanik, terkadang juga dari keluarga Notokoesoemo; keluarga Anjani.
Urutan terkaya dilihat dari kepemilikan saham, aset dan sumber kekayaan. Wibawa dan citra seorang dari keturunan empat orang terpandang selalu menjadi komentar netizen, terlalu menunjukkan kekayaan kadang dibilang nggak ingat ada masyarakat kecil, sebaliknya bila terlalu tidak menunjukkan struktur keluarga elit malah di bilang pencitraan.
Anjani lebih suka tidak ingin memusingkan bagaimana orang lain melihatnya, dan yang membuatnya heran adalah Eve masih saja memuja Abimanyu seperti patung dewa saja.
"Di lihat dari kekuasaannya, sepertinya memang Abimanyu ini sengaja ngumpulin orang-orang penting, mungkin karena berusaha merakit jaringan bisnis, atau memang sedang mencurigai sesuatu," jelas Anjani sambil memainkan sendok teh di pinggiran cangkir, menyeret permukaan sendok dan bergerak secara melingkar di bagian atas cangkir.
Eve mengerut tidak mengerti, "Bukannya untuk pencitraan?"
"Sekelas Abimanyu, dia tidak peduli soal pencitraan. Memangnya kamu lihat dia berpidato panjang lebar? Dia justru jarang sekali tampil di televisi, padahal dia orang yang hampir menguasai seluruh stasiun Tv," kata Anjani panjang lebar.
Eve mengangguk paham. "Lalu karena apa?"
Anjani menggelengkan kepala pelan, ia sendiri juga tidak tahu arah pergerakan Abimanyu seperti apa, karena pria itu sangat misterius dan seluruh pergerakannya selalu menjadi rahasia tingkat tinggi.
"Kekuasaan seseorang yang menguasai informasi tidak hanya merujuk pada citranya saja Eve, tapi siapa saja yang mampu dia jangkau melalui semua data yang sudah dikumpulkannya," bisik Anjani, ia melirik Eve sekilas.
"Oleh sebab itu, aku tidak bisa meminta bantuannya, karena mungkin saja dia akan mencuri semua dataku untuk kepentingan dia sendiri. Kamu harus ingat, seluruh Majesty selalu berwaspada padanya, karena kita tidak tahu seberapa licik dia di balik topengnya itu." Anjani melepas sendok dari pegangannya, lalu membuat denting sendok itu seperti irama dramatis dari sebuah film horor.
"Tapi keluarganya pernah membantumu, kan, waktu itu?" Eve mengingatkan Anjani tentang penyelamatan dari insiden dulu, vidio asusila yang menyebar ke seluruh pelosok ditangani oleh keluarga Abimanyu.
Wajah Anjani menjadi kaku, tatapannya bergetar sekilas, dan napasnya hampir tidak beraturan. Ucapan Eve membawanya kembali ke masa lalu.
"Tapi, sebagai transaksinya, Ayahku kehilangan tujuh puluh lima persen saham di beberapa perusahaan, hingga posisi dominan keluarga kami turun dan digantikan keluarga Damanik." Mata Anjani berubah menjadi tajam, menatap cangkir kopi seakan-akan hendak membunuhnya.
Eve terdiam. Ia bahkan tidak tahu alasan itu, baru sekarang ia tahu dari mulut Anjani.
"Kalau begitu, nggak perlu meminta bantuan dari dia," gumam Eve sambil menunduk dalam, ia berasa bersalah karena berkat ucapannya, Anjani jadi terlihat sangat tertekan.
"Karena memang mereka selicik itu," bisik Anjani.
"Tapi, kalau mereka sehebat itu, kenapa sampai sekarang adik Abimanyu belum ketemu? Berita-berita soal hilangnya adiknya dulu juga langsung dibungkam oleh Ayah Abimanyu. Setelah Ayah mereka meninggal, baru Abimanyu bergerak mencari adiknya lagi, dan pesta yang selalu dia gelar katanya untuk mencari adiknya. Apa nggak aneh?" Eve mengomel, ia menunjukkan foto tangkapan layar mengenai berita lama soal adik Abimanyu yang hilang.
Anjani menyipit, menatap remaja yang berada di foto berita, "Keluarga mereka tidak setenang itu ternyata. Namun, foto orang ini mirip Abbas, ya?"
Jari Anjani menunjuk foto remaja laki-laki memakai topi dan kemeja kotak-kotak.
Eve mendelik, menatap foto itu semakin lekat, "Masih ganteng ini dibandingkan Abbas. Ngawur banget kamu ini!"
Anjani hanya terkekeh, ia hanya mengatakan apa yang sekilas dirasakannya. Tangan Anjani hampir saja mengangkat cangkir kopi tatkala ponselnya berdering keras, Anjani langsung menoleh, menatap nama kontak di ponselnya.
"Mama?!"