Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Malam semakin larut di dalam kamar utama milik Alvarez Arran Danadiaksa, hawa dingin dari mesin penyejuk ruangan terasa begitu menusuk kulit. Namun, suasana di atas ranjang berukuran king size itu justru terasa sangat panas dan menegangkan bagi seorang Raelyn Elamora.
Setelah digendong masuk oleh Alvarez demi menghindari kecurigaan kedua orang tuanya yang menginap, Raelyn kini duduk kaku di sisi sebelah kiri kasur. Dia merapatkan selimut sutra tebal berwarna hitam itu hingga sebatas dadanya.
Matanya yang bulat menatap waspada ke arah Alvarez yang baru saja naik ke atas ranjang dari sisi sebelah kanan.
Pria itu tampak sangat santai dengan kaos hitam polos dan celana training panjangnya. Begitu Alvarez menarik ujung selimut yang sama untuk menutupi bagian kakinya, Raelyn langsung bergeser menjauh hingga tubuhnya nyaris mepet ke pinggiran kasur.
"Heh! Jangan dekat-dekat ya! Awas lo kalau berani ambil kesempatan dalam kesempitan!" ancam Raelyn galak, meskipun suaranya sedikit bergetar karena gugup yang luar biasa.
Alvarez menghentikan gerakannya yang hendak membenarkan posisi bantal. Dia menoleh perlahan, menatap Raelyn dengan tatapan matanya yang tajam namun kini tersorot kilatan jahil.
Melihat garis wajah istrinya yang tampak luar biasa tegang seperti mau maju ke medan perang, jiwa jahil Alvarez yang selama tiga bulan ini tersembunyi mendadak bangkit sepenuhnya.
Alvarez sengaja memajukan tubuhnya satu jengkal mendekati posisi Raelyn.
"Ambil kesempatan? Memangnya kenapa?" tanya Alvarez, suaranya berat dan bariton, menggema rendah di keheningan kamar.
"Secara hukum dan agama, kita kan sudah sah jadi suami istri. Jadi... mau aku ngapain kamu sekarang juga sebenarnya gak apa-apa, kan?"
Mata Raelyn langsung membelalak sempurna mendengar kalimat frontal yang keluar dari mulut kulkas berjalan itu. Kalimat kasual dengan nada 'aku-kamu' yang diucapkan Alvarez dengan begitu tenang justru terdengar berkali-kali lipat lebih berbahaya di telinga Raelyn. Rasa takut yang nyata langsung menyergap sistem pertahanan dirinya.
"Lo... lo jangan macam-macam ya, Al! Gue lagi sakit begini, tega lo?!" seru Raelyn panik, tangannya bergerak cepat memeluk dadanya sendiri.
Melihat reaksi Raelyn yang sudah seperti kelinci yang terpojok oleh serigala, Alvarez menahan senyumnya agar tidak pecah. Pria itu kembali memundurkan tubuhnya dan berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan santai.
"Aku tidak tertarik dengan wanita yang sedang terluka. Sudahlah, cepat tidur."
Raelyn mendengus kesal, namun rasa waswasnya belum hilang. Otak cerdiknya langsung mencari solusi darurat. Dengan gerakan canggung karena kaki kirinya tidak boleh ditekuk sembarangan, Raelyn meraih sebuah guling besar yang berada di dekat kepalanya.
Dengan sentakan kasar, dia meletakkan guling putih empuk itu tepat di tengah-tengah kasur, membelah area tidur mereka menjadi dua bagian yang sama besar.
"Ini batas suci! Lo gak boleh ngelewatin guling ini seinci pun! Kalau lo sampai lewat... gue tendang lo sampai jatuh dari kasur!" ancam Raelyn tegas, menepuk-nepuk guling tersebut sebagai penekanan.
Alvarez hanya melirik guling pembatas itu sekilas melalui sudut matanya.
"Terserah kamu," jawabnya pendek, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Raelyn dan mulai memejamkan mata.
Satu jam berlalu sejak lampu utama kamar dipadamkan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Kamar itu sangat senyap, namun bagi Raelyn, keheningan ini terasa sangat bising. Dia tidak bisa tidur sama sekali.
Raelyn berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya berputar-putar tidak karuan. Aroma maskulin khas Alvarez yang menguar dari sprei dan selimut tebal itu terus-menerus mengacaukan indera penciumannya.
Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan ketampanan Alvarez mendadak melintas di kepalanya. Belum lagi debaran aneh di dadanya yang sejak tadi sore berdegup dengan ritme yang terlalu cepat.
Raelyn menoleh ke arah kanan. Di balik guling pembatas, punggung tegap Alvarez tampak diam tak bergerak. Pria itu terlihat sangat tenang, seolah-olah tidur satu ranjang dengan seorang wanita asing bukanlah masalah besar baginya.
Raelyn mendecak pelan. Dia merasa tidak adil jika hanya dirinya yang tersiksa oleh insomnia malam ini.
"Al..." panggil Raelyn dengan suara berbisik, memecah kesunyian malam.
Tidak ada jawaban. Punggung Alvarez tetap bergeming.
Raelyn mengernyitkan dahi. Dia mengulurkan tangan kirinya, lalu menggunakan ujung jarinya untuk mencolek-colek guling pembatas di tengah mereka.
"Al... Alvarez Arran! Lo udah tidur ya?" panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras.
"Hmm," terdengar gumaman rendah dari balik guling.
Alvarez perlahan membalikkan tubuhnya kembali telentang. Matanya yang setajam elang itu perlahan terbuka di kegelapan, menatap ke arah langit-langit. Sebenarnya, Alvarez juga belum tidur sama sekali. Pria itu sejak tadi hanya mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya yang ikut berantakan. Kehadiran Raelyn yang hanya berjarak satu guling darinya benar-benar merusak konsentrasi seorang CEO yang biasanya selalu fokus itu.
"Gue gak bisa tidur," ucap Raelyn jujur, nada suaranya berubah agak manja tanpa dia sadari.
"Tinggal merem," jawab Alvarez pendek, memberikan solusi paling tidak berguna di dunia bagi orang yang sedang insomnia.
"Gak bisa! Mata gue seger banget, pikiran gue juga ke mana-mana. Ini semua gara-gara lo yang maksa gue pindah kamar tahu!" omel Raelyn, langsung melemparkan kesalahan pada suaminya.
Alvarez menghela napas pendek. "Aku tidak memaksamu, Raelyn. Situasi yang memaksa kita. Kalau kamu mau menyalahkan seseorang, salahkan kakimu yang ceroboh itu."
"Ihh, lo mah malah bahas itu lagi!" kesal Raelyn, membalikkan tubuhnya membelakangi Alvarez dengan gerakan menyentak.
bersambung.....