NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Jarum jam dinding di Kedai Kopi "Senja" sudah menunjuk angka sepuluh malam. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan pendar temaram dari lampu gantung bernuansa warm white di atas meja kasir. Di luar, jalanan ibu kota mulai lengang, diselimuti kabut tipis dan hawa dingin sisa hujan sore tadi.

​Papan tanda di pintu kaca sudah dibalik menjadi CLOSED. Aroma kopi yang biasanya mendominasi kini tergantikan oleh bau segar cairan pembersih lantai beraroma pinus. Nadiva, dengan celemek cokelat yang sudah bernoda cipratan susu dan sarung tangan karet kuning tebal yang membalut tangannya hingga siku, tengah sibuk mengepel area sudut kedai. Otot-ototnya menjerit kelelahan, tapi bayangan menara-menara eksotis di Maroko membuatnya tetap mengayunkan kain pel itu dengan ritme konstan.

​BRAK!

​Pintu kaca kedai didorong dengan kasar dari luar. Lonceng kecil di atasnya bergemerincing heboh, nyaris terlepas dari pengaitnya.

​Nadiva menghentikan gerakannya. Ia membuang napas panjang. "Maaf, Kak, kedainya udah tu—"

​Kalimat Nadiva terpotong saat melihat siapa yang baru saja menerobos masuk bak penagih utang. Tiga sosok perempuan dengan riasan tebal, rok lipit super pendek, dan jaket crop top yang menempel ketat di tubuh mereka. Angela, Mia, dan Oly. Geng Chillideers itu melangkah masuk dengan angkuh, hak sepatu mereka berderap kasar menginjak lantai yang baru saja Nadiva pel dengan susah payah.

​Seketika, bau pinus dari lantai lenyap, kalah telak oleh aroma parfum floral bercampur musk menyengat yang langsung menusuk hidung.

​"Heh, Cewek Udik!" pekik Angela melengking, suaranya memantul di dinding kedai yang sepi. Gadis berambut curly itu bersedekap, menatap Nadiva dengan sorot mata merendahkan. "Gue peringatin sama lo, ya. Jangan pernah ngerasa di atas angin cuma gara-gara Dereen jadiin lo babu!"

​Mia maju selangkah, menunjuk-nunjuk wajah Nadiva dengan kuku palsunya yang dihias glitter mencolok. "Lo tuh sengaja, kan? Caper berkedok jadi babu, biar bisa terus nempel sama Dereen! Terus lo juga pakai pelet apa sampai Mex, cowok paling kalem di sekolah, rela turun kasta datang ke tempat kumuh ini buat nemuin lo?!"

​Nadiva memiringkan kepalanya. Ia bertumpu pada gagang alat pelnya, menatap ketiga teman kelasnya itu dengan raut luar biasa lelah. Bukannya takut, yang ada di kepalanya saat ini hanyalah rasa kesal karena lantai bersihnya kini tercetak jejak sepatu kotor mereka.

​"Wa'alaikumsalam, Kakak-kakak Pasukan Lapis Taro," sapa Nadiva dengan senyum fake yang sangat manis. "Maaf banget nih, kalau mau ngemis perhatian atau ngajak ribut, jam operasionalnya udah habis. Dan tolong, Kak, mundur selangkah. Lantainya baru aku pel. Kotor lagi kan tuh kena sepatu Kakak yang—maaf—kelihatan jarang dicuci itu."

​Wajah Angela langsung memerah padam. Urat di lehernya bermunculan. "Lo bener-bener nantangin gue, ya, Hah?! Lo pikir lo siapa?! Lo tuh cuma parasit berhijab yang kebetulan dapet beasiswa! Nggak usah sok kegatelan narik perhatian Mex dan Dereen dari kita!" bentaknya murka, bersiap melangkah maju untuk menjambak ujung jilbab Nadiva.

​Namun, belum sempat Angela melancarkan aksinya, ekor mata Nadiva menangkap sebuah pergerakan lincah di dekat tumpukan kardus stok susu di sudut ruangan. Seekor tikus got kecil—atau lebih tepatnya curut—yang tampaknya tersesat masuk untuk mencari kehangatan, tengah berlari zigzag dengan panik di sepanjang pinggiran tembok.

​Bagi gadis-gadis kota yang terbiasa hidup di perumahan elite, melihat binatang pengerat itu mungkin setara dengan melihat monster. Namun bagi Nadiva, gadis yang besar di kampung dan terbiasa mengejar ayam lepas di halaman rumah? Ini adalah kesempatan emas.

​Otak jahil Nadiva seketika bekerja. Senyum barbar-nya mengembang perlahan.

​"Oh, Kakak nyari perhatian, ya?" ucap Nadiva dengan nada santai yang mendadak berubah misterius. "Kebetulan banget. Di sini ada yang dari tadi pengin banget kenalan sama Kakak. Katanya dia fans berat Chillideers."

​Angela, Mia, dan Oly mengernyit bingung. "Ha? Ngomong apa sih lo, gila?!" sungut Oly.

​Tanpa banyak bicara, Nadiva meletakkan gagang pelnya. Berbekal sarung tangan karet kuning super tebal yang masih terpasang di tangannya, gadis mungil itu setengah berlari ke sudut ruangan. Dengan ketangkasan dan refleks luar biasa bak atlet ninja warrior, Nadiva menukik ke bawah, mengepung, dan... Hap!

​"Kena kau, Markucel!" pekik Nadiva girang.

​Ia berdiri, berbalik menghadap trio Chillideers sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di ujung sarung tangan karetnya, seekor curut berwarna abu-abu gelap meronta-ronta panik. Nadiva dengan santainya memegang bagian ekor tikus itu, membiarkan tubuhnya bergelantungan di udara, sementara kaki-kaki kecil hewan itu mengais-ngais hampa.

​Mata Angela, Mia, dan Oly membulat sempurna, nyaris melotot keluar dari rongganya. Wajah mereka yang semula dilapisi blush on merah kini berubah seputih kertas HVS.

​"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"

​Jeritan melengking tiga oktaf pecah secara bersamaan, nyaris memecahkan kaca jendela kedai.

​"Kak Angela, Kak Mia, Kak Oly, kenalin, ini Markucel!" Nadiva berjalan maju, menyodorkan tikus yang masih berontak itu tepat ke arah wajah Angela. "Dia cute banget lho, Kak! Bulunya lembut, hidungnya kembang-kempis. Katanya dia mau cium pipi Kak Angela yang dempulnya tebel ini! Ayo dong, peluk dulu sebentar!"

​"JAUHIN BINATANG JIJIK ITU DARI GUE, CEWEK GILA!!!" jerit Angela histeris. Gadis itu melompat mundur dengan panik, menabrak meja kayu di belakangnya.

​"MAMA! TOLONG MIA, MA! ADA TIKUS!" Mia meracau sambil menangis. Ia langsung membalikkan badan dan lari terbirit-birit ke arah pintu keluar.

​"Tungguin gue, woy!" Oly ikut berbalik. Saking paniknya, sebelah hak sepatunya tersangkut di keset pintu. Gadis itu tersandung, nyaris mencium lantai kaca, sebelum akhirnya bangkit dengan panik, meninggalkan sebelah sepatunya, lalu lari pincang menyusul teman-temannya menembus kabut malam.

​"Loh, kok lari, Kak?! Markucel belum minta tanda tangan lho!" seru Nadiva dari ambang pintu, sengaja mengayun-ayunkan tikus itu ke arah jalanan.

​Begitu siluet ketiga kakak kelasnya itu menghilang di belokan jalan dengan jeritan yang masih samar-samar terdengar, Nadiva akhirnya tak bisa menahannya lagi.

​"BWAHAHAHAHAHA!"

​Tawa Nadiva meledak seketika. Ia memegangi perutnya yang kram, tertawa terpingkal-pingkal hingga matanya berair. Mengingat wajah pucat pasi Angela dan gaya lari pincang Oly benar-benar menjadi hiburan gratis terbaik yang pernah ia dapatkan di tengah kepenatan kerja malam ini.

​"Aduh, Ya Allah... perutku sakit..." Nadiva berjongkok, menyandarkan punggungnya di ambang pintu, masih tertawa puas sambil menatap tikus kecil di tangannya. "Makasih ya, Cel. Jasamu hari ini luar biasa besar buat kesejahteraan batinku. Nanti aku kasih reward sepotong keju sebelum kamu aku lepasin ke selokan."

​Tikus itu hanya mencicit pelan, seolah setuju dengan negosiasi tersebut.

​Nadiva menghela napas panjang, meredakan sisa-sisa tawanya. Ia menatap jalanan yang sepi dengan senyum lebar yang belum luntur. Ternyata, menghadapi geng penguasa sekolah elite tidak butuh modal besar, koneksi orang dalam, atau kekuatan fisik. Cukup seekor curut, sarung tangan karet, dan urat malu yang sudah putus sejak lahir.

​Dereen Hilton, Angela, The Chillideers... siap-siap aja kalian, batin Nadiva dengan semangat pantang menyerah. Gadis barbar dari desa ini nggak akan pernah mundur satu langkah pun!

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!