NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kejanggalan di Restu Ibu

"Kalo dugaan kamu benar, berarti Fadel dan ibunya udah bohong," Rayven menatap Rhea

"Bukan cuma berbohong, mereka juga memanfaatkan kamu buat meloloskan kejahatan mereka," balas Rhea.

Rayven berdiri dari duduknya, merapikan kancing jasnya. Tatapannya kembali dingin dan fokus.

"Saya bakal batalin surat kuasanya besok," kata Rayven tegas.

"Jangan cuma dibatalin. Bantu Bima untuk mengambil haknya kembali," sela Rhea.

"Lebih dari itu. Saya bakal ngebongkar pembunuhan dan membalikkan nama waris ke Bima, tapi saya butuh bukti fisik yang kuat di mata hukum. Kita gak bisa pakai alasan mimpi atau penglihatan ghaib di depan hakim," jawab Rayven mantap beralih menatap Rhea dan Zora.

"Aku juga bakal coba cari tahu lebih tentang restoran Restu Ibu. Tapi kamu juga harus hati-hati Rayven. Fadel dan ibunya itu bukan cuma serakah, mereka berani berbuat nekat buat nutupin kejahatan mereka," timpal Rhea lagi.

"Oke, makasih," jawab Rayven singkat.

Setelah Rayven berpamitan dan dijemput oleh taksi daring karena mobilnya harus di derek malam itu, Rhea dan Zora akhirnya mengunci ruko rapat-rapat.

Mereka bertiga tidak menyadari bahwa di balik kegelapan trotoar di seberang jalan, sosok Rudi yang memegang pipa besi terus mengawasi gerak-gerik mereka dari balik bayang-bayang pohon sebelum akhirnya menghilang di telan malam.

Keesokan harinya sekitar pukul satu siang...

Suasana restoran Restu Ibu sedang lumayan ramai oleh pengunjung makan siang. Aroma bumbu khas nusantara menyeruak ke seluruh area makan yang bernuansa kayu klasik itu.

Rayven Mahesa melangkah masuk sendirian, mengenakan kemeja formal putih tanpa jas memberikan kesan santai namun tetap elegan. Ia memilih meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi namun memiliki sudut pandang luas ke arah kasir dan pintu area dapur belakang.

Seorang pelayan muda datang membawa menu. "Selamat siang, Mas. Mau pesan apa?"

"Nasi campur spesial satu, sama es teh manis ya," ujar Rayven santai.

"Baik, mohon ditunggu ya, Mas."

Sembari menunggu pesanan, mata tajam Rayven mulai memindai sekeliling ruangan. Pandangannya menyapu dinding restoran yang di pajang beberapa pigura foto. Ada satu foto tergantung dengan bingkai kayu besar yang menampilkan sosok pendiri restoran.

Rayven terpaku sejenak. Matanya menyipit menatap sosok pria tua bertubuh tambun yang tersenyum mengenakan baju koki di dalam foto itu.

"Oh... itu hantu yang kemarin aku lihat di mobil," gumam Rayven pelan dengan napas tercekat.

Melihat foto Pak Bambang dalam wujud manusia utuh dan bersih makin menegaskan ingatan ngeri Rayven saat sosok bercelemek darah itu mendadak muncul di jok belakang mobilnya kemarin malam.

Tak berapa lama, dari arah lorong samping yang menghubungkan area kantor dan dapur muncul Fadel dan ibunya. Fadel berjalan dengan gaya angkuh, sementara ibunya, Rika tampil mencolok dengan perhiasan emas di jemari dan lehernya.

Melalui celah pintu yang terbuka sedikit, Rayven melihat Fadel mendadak berhenti dan berbalik ke arah dalam dapur. Wajah Fadel berubah murka.

"Lelet banget sih lu ngerjainnya," bentak Fadel keras, walau diredam bisingnya suasana restoran.

"Kalau ada pecahan mangkok lagi, gaji kamu bulan ini saya potong habis. Sapu cepat, Bima," Rika yang berdiri di samping Fadel bukannya memisahkan, justru berkacak pinggang dan ikut memarahi Bima.

Bima hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengangguk pasrah tanpa berani membalas atau menatap mata Fadel maupun Ibu tirinya itu.

Rayven menyipitkan matanya tajam dari kejauhan. "Itu bukan tegas sama karyawan biasa. Itu penindasan," batin Rayven.

Tak lama kemudian, pesanan makanan Rayven tiba. Saat Rayven baru saja menyendok suapan pertamanya, Rika yang sedang menyapu pandangan ke area restoran mendadak menghentikan langkahnya. Mata wanita itu membelalak kaget saat mengenali sosok pengacara elit yang duduk di sudut ruangan.

Rika menyenggol lengan Fadel berbisik cepat. Seketika itu juga, raut wajahnya murka Rika dan Fadel menyusut berganti dengan senyuman ramah yang dipaksakan. Mereka merapikan pakaian masing-masing lalu bergegas menghampiri meja Rayven.

"Lho, Pak Rayven. Suatu kehormatan besar pengacara ternama seperti Pak Rayven mau datang ke restoran kami," sapa Rika dengan suara manis yang dibuat-buat.

"Iya nih, Pak Rayven. Kok gak kabarin dulu kalo mau berkunjung. Nanti bisa saya siapkan meja buat Bapak," Fadel mengangguk sopan dan ikut menimpal.

Rayven meletakkan sendoknya perlahan.

"Tidak usah repot-repot, Bu Rika, Mas Fadel," sahut Rayven dingin namun sopan. "Kebetulan saya ada urusan di daerah sekitar sini. Karena lapar, saya sekalian mampir ingin mencicipi masakan restoran Restu Ibu yang terkenal ini."

Rika tertawa canggung, mengusap gelang emasnya. " Oh... begitu. Gimana Pak makanannya? Enak kan? Resep restoran ini memang legendaris dari almarhum suami saya."

"Masakannya cukup otentik," jawab Rayven singkat. "Ngomong-ngomong soal berkas yang kemarin, ada beberapa dokumen perizinan lama yang perlu saya verifikasi ulang di kantor besok."

"Oh, siap Pak Rayven. Apapun yang dibutuhkan buat proses kelancaran balik nama aset itu, pasti kami siapkan secepatnya," jawab Fadel agak menegang namun ia berusaha tersenyum.

"Bagus kalau begitu," kata Rayven pelan.

Dari balik celah jendela kaca dapur yang membatasi area makan, sosok Rudi si juru masak bertato berdiri mematung sambil memegang pisau daging besar. Rudi memerhatikan interaksi Rayven dengan Bu Rika dan Fadel dari kejauhan dengan tatapan mata yang liar dan penuh kecurigaan. Feelingnya sebagai eksekutor kejahatan malam itu memberi tahu bahwa kedatangan Rayven ke restoran ini bukanlah sekadar untuk makan siang.

Rayven menghabiskan makanannya tanpa terburu-buru. Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, ia berjalan menuju pintu keluar restoran.

Namun, tepat saat Rayven hendak mendorong pintu kaca keluar...

BRUKKK!

Bima yang sedang terburu-buru membawa tumpukan kerdus bahan makanan menabrak keras dada bidang Rayven. Kardus-kardus itu terlepas dari pelukan Bima dan jatuh berserakan di atas ubin trotoar pintu.

"A-astaga. Maaf, maafkan saya, Mas. Saya nggak sengaja," jerit Bima panik luar biasa.

Bima langsung berlutut di lantai, jemarinya yang gemetaran dan di penuhi bekas luka goresan dengan tergesa-gesa memunguti bahan makanan yang berserakan.

Rayven mundur satu langkah, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Dia menunduk melihat Bima yang gemetaran di bawah kakinya.

"Maafkan saya, Mas... tolong jangan laporkan ke Bu Rika," bisik Bima parau. Tangannya gemetaran saat mengumpulkan kentang-kentang yang menggelinding dekat sepatu Rayven.

Rayven berlutut pelan, mengambil sebuah kentang di dekat kakinya lalu menyerahkannya pada Bima.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Rayven.

Bima mendongak sejenak menatap mata Rayven dengan pandangan takut sebelum kembali menunduk cepat. "Nggak apa-apa, Mas. Terima kasih."

Saat Bima berdiri dan terburu-buru masuk kembali ke dalam restoran membawa kardusnya, Rayven berdiri tegak di trotoar. Dia menoleh ke belakang, memandang pintu restoran lalu beralih menatap foto Pak Bambang di dinding dalam restoran yang terlihat dari luar.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!