Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14. Sesakit Itu
Kinanti perlahan melepaskan pelukannya.
Yudha menatap wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Ada ketakutan yang begitu jelas terpancar dari sorot matanya, tetapi dia berusaha menyembunyikannya di balik wajah yang tetap terlihat tenang.
Sementara itu, Naufal dan Naura memegangi kedua tangan orang tua mereka.
Naufal tersenyum polos, sama sekali tidak mengetahui badai yang sedang terjadi di dalam hati kedua orang tuanya.
“Mama, Papa, saatnya potong kue,” ucap Naufal penuh semangat.
Naura ikut tersenyum sambil menatap kedua orang tuanya.
“Mama, Papa, kita berdoa dulu, ya, sebelum memotong kuenya,” pinta Naura, gadis kecil berusia delapan tahun itu.
Mendengar ucapan kedua anaknya, senyum Kinanti semakin tipis. Dia menundukkan wajah sejenak untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Yudha justru mengusap kepala kedua anaknya sambil tersenyum. Namun, senyum itu tampak dipaksakan.
Di sisi lain, Khalid dan Kanaya yang sudah mengetahui bahwa Kinanti telah menyiapkan berkas gugatan cerai hanya bisa terdiam. Keduanya memilih menghormati dan mendukung keputusan kakak mereka.
Khalid menatap Kinanti dengan wajah penuh rasa bersalah. Tatapannya tampak sendu, sementara bibirnya terkatup rapat.
“Mbak Kinanti... sebenarnya, di dalam hati, aku nggak setuju kalian bercerai,” batinnya.
Kanaya menghela nafas panjang. Tatapannya kemudian beralih kepada Yudha yang masih terlihat seperti orang kehilangan arah.
“Mas Yudha... andaikan kamu berubah beberapa tahun lalu, mungkin Mbak Kinanti nggak akan sampai meminta cerai,” batinnya.
Kanaya menundukkan wajah. Ada rasa iba kepada keduanya, tetapi dia sadar bahwa keputusan Kinanti bukanlah sesuatu yang bisa diganggu gugat.
Berbeda dengan mereka, Kinasih justru menunjukkan ekspresi yang membuat adiknya, Kanaya, merasa tidak nyaman.
Kinasih menatap adiknya dengan wajah jengah. Kedua alisnya terangkat, sedangkan sudut bibirnya menyunggingkan senyum penuh percaya diri.
“Kapan mereka cerai, ya? Kalau mereka benar-benar cerai, aku akan menggantikan Kinanti karena sejak awal aku adalah calon istri Yudha. Kinanti hanya menggantikanku. Kalau mereka bercerai, aku juga akan meminta cerai dari Mas Haris. Sayangnya, pernikahan mereka selama ini awet dan bahagia,” batinnya, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah.
Kanaya hanya melirik Kinasih dengan tatapan tidak percaya. Dia menggeleng pelan, seolah tidak habis pikir dengan pemikiran kakaknya.
Di sisi lain, Khalid dan Kanaya yang sudah mengetahui bahwa Kinanti telah menyiapkan berkas gugatan cerai hanya bisa terdiam. Keduanya memilih menghormati keputusan kakak mereka, meskipun jauh di dalam hati, mereka masih berharap ada jalan lain yang bisa menyelamatkan rumah tangga Kinanti dan Yudha.
Khalid menatap Kinanti dengan wajah penuh rasa bersalah. Tatapannya tampak sendu, sementara bibirnya terkatup rapat.
“Mbak Kinanti... sebenarnya, aku nggak ingin melihat Mbak menyerah. Tapi aku juga tahu, hanya Mbak yang benar-benar tahu seberapa berat semua yang sudah Mbak lewati selama ini,” batinnya.
Khalid menarik napas panjang.
Dia tidak ingin memaksakan keinginannya kepada sang kakak. Namun, sebagai adik, dia tetap berharap rumah tangga Kinanti dan Yudha masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki.
“Ya Allah... kalau memang Mas Yudha benar-benar sudah berubah, berikanlah kesempatan kepada mereka untuk memulai semuanya dari awal. Lembutkan hati Mbak Kinanti dan berikan mereka kekuatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah terjadi.”
Tatapan Khalid beralih kepada Yudha.
“Dan kalau memang perceraian adalah jalan terbaik untuk Mbak Kinanti, aku juga memohon kepada-Mu agar keputusan itu menjadi jalan menuju kebahagiaan Mbak. Aku hanya ingin Mbak bahagia, bukan terus terluka.”
Khalid mengepalkan tangannya perlahan.
Dia sadar, dirinya tidak berhak menentukan masa depan rumah tangga sang kakak. Namun, satu hal yang diyakini, apapun keputusan Kinanti nanti, dia akan tetap berada di pihak kakaknya.
Di samping Khalid, Kanaya menghela nafas panjang.
Tatapannya kemudian beralih kepada Yudha yang masih terlihat seperti orang kehilangan arah.
“Mas Yudha... andaikan kamu berubah beberapa tahun lalu, mungkin Mbak Kinanti nggak akan sampai meminta cerai,” batinnya.
Kanaya menatap kakaknya yang kini berdiri tidak jauh dari Yudha.
Melihat senyum Kinanti yang begitu tipis dan mata yang berkaca-kaca, hati Kanaya terasa sesak.
“Ya Allah... aku tahu mungkin aku nggak berhak ikut campur dalam rumah tangga mereka. Tapi kalau masih ada sedikit saja kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tolong bukakan jalan untuk mereka.”
Kanaya menundukkan wajahnya. “Kalau Mas Yudha memang benar-benar mencintai Mbak Kinanti, berikan dia kesempatan untuk membuktikannya. Dan kalau Mbak Kinanti masih memiliki sedikit ruang di dalam hatinya untuk Mas Yudha, semoga luka yang selama ini dia simpan perlahan bisa sembuh.”
Namun, Kanaya juga tidak ingin egois.
“Kalau ternyata perceraian memang yang terbaik untuk Mbak Kinanti, Ya Allah, berikan dia kekuatan. Jangan biarkan Mbak kembali ke dalam kehidupan yang hanya membuatnya terluka.”
Kanaya menggigit bibir bawahnya.
Ada rasa iba kepada keduanya. Dia masih berharap pernikahan kakaknya dapat diselamatkan, tetapi dia juga tahu bahwa keputusan Kinanti bukanlah sesuatu yang bisa diganggu gugat.
Berbeda dengan Khalid dan Kanaya, Kinasih justru menunjukkan ekspresi yang membuat Kanaya merasa tidak nyaman.
Kinasih menatap Kinanti dari kejauhan dengan tatapan penuh harap. Kedua alisnya terangkat, sedangkan sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Dalam hati, justru ada kegembiraan yang diam-diam dia sembunyikan.
“Semoga saja kali ini benar-benar berakhir.”
Kinasih menahan senyum.
“Kalau Kinanti dan Yudha benar-benar bercerai, akhirnya aku bisa mendapatkan Mas Yudha kembali.”
Dia menatap Yudha cukup lama.
“Sejak awal, Mas Yudha itu seharusnya menjadi suamiku. Kinanti hanya menggantikanku karena waktu itu aku sudah menikah dengan Mas Haris.”
Kinasih merasa tidak pernah benar-benar menganggap pernikahan Kinanti dan Yudha sebagai sesuatu yang seharusnya berlangsung selamanya.
“Kalau mereka cepat bercerai, aku juga bisa segera mengurus perceraianku dengan Mas Haris. Setelah itu, mungkin aku masih punya kesempatan untuk menjadi istri Mas Yudha.”
Senyum Kinasih semakin melebar.
“Semoga malam ini menjadi awal dari berakhirnya pernikahan mereka. Aku sudah terlalu lama menunggu kesempatan ini.”
Tidak ada rasa bersalah sedikitpun dalam hatinya.
Baginya, perceraian Kinanti dan Yudha justru membuka jalan yang selama ini dia tunggu-tunggu.
Kanaya yang tanpa sengaja melihat ekspresi Kinasih hanya bisa melirik kakaknya dengan tatapan tidak percaya.
Dia menggeleng pelan.
“Kak Kinasih benar-benar berbeda dari kami. Di saat aku dan Khalid berharap pernikahan Mbak Kinanti masih bisa diselamatkan, dia justru berharap mereka segera berpisah,” batin Kanaya.
Namun, Kanaya memilih diam.
Dia tidak ingin malam yang seharusnya menjadi perayaan anniversary kesembilan itu berubah menjadi pertengkaran.
Sementara itu, Kinasih masih menyimpan harapannya sendiri.
“Cepatlah bercerai, Kinanti. Semakin cepat pernikahan kalian berakhir, semakin cepat pula aku mendapatkan kesempatan untuk kembali bersama Mas Yudha.”
Di wajahnya terukir senyum tipis.
Tak seorang pun mengetahui bahwa di tengah pesta yang seharusnya menjadi perayaan cinta dan kesetiaan, ada seseorang yang justru diam-diam menantikan berakhirnya sebuah pernikahan.
Sementara itu, acara terus berlanjut.
Satu per satu tamu memberikan doa dan ucapan selamat kepada Yudha dan Kinanti.
“Ya Allah... semoga pernikahan Tuan dan Nyonya Kinanti nggak sampai berakhir dengan perceraian,” batin Bi Mina.
Wanita itu tersenyum kepada majikannya, tetapi matanya tampak berkaca-kaca. Dia menggenggam kedua tangannya sendiri di depan dada, seakan berharap doanya benar-benar dikabulkan.
Di dekatnya, Mang Dede memperhatikan Kinanti dengan dahi berkerut.
“Kenapa saya merasa Nyonya Kinanti seperti nggak bahagia dengan pesta kejutan ini? Padahal, bukannya selama ini Nyonya Kinanti selalu berharap Tuan Yudha merayakan anniversary bersama mereka?” gumamnya pelan.
Mang Dede menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Sesekali matanya berpindah dari Kinanti kepada Yudha, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Omar kemudian melangkah ke depan sambil membawa sebuah kotak hadiah.
Dengan wajah ceria, dia menyerahkannya kepada Kinanti.
“Nyonya muda, semoga pernikahan kalian semakin langgeng, harmonis, sakinah, mawaddah, warahmah. Dan kalau bisa, berikan kami satu keponakan kecil lagi,” harap Omar sambil terkekeh.
Beberapa tamu yang mendengar ucapannya ikut tertawa kecil.
Namun, Kinanti hanya membalas dengan senyum tipis.
“Terima kasih, Om,” jawabnya singkat.
Senyum Omar perlahan memudar.
Keningnya berkerut. Dia menatap Kinanti dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Biasanya Nyonya muda akan tertawa kalau saya bercanda seperti itu. Kenapa sekarang reaksinya berbeda?” batinnya.
Omar kemudian teringat pada berkas yang tadi sempat dipungut Yudha.
“Apa hanya aku yang merasa Nyonya Kinanti bersikap aneh beberapa hari terakhir? Dan tadi... berkas apa yang dipungut Tuan Yudha? Reaksinya juga aneh. Bahkan kelihatannya seperti ketakutan,” batinnya semakin curiga.
Kinanti membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat dua hadiah. Sebuah kunci mobil dan kalung indah yang bertahtakan berlian.
Mata Kinanti seketika terpaku pada kedua hadiah tersebut. Kilauan berlian itu seharusnya membuat siapa pun merasa bahagia.
Namun, tidak dengan Kinanti.
Tatapannya justru terlihat nanar. Wajahnya datar tanpa ekspresi, sementara senyum yang sejak tadi dipaksakan perlahan menghilang.
Tidak ada ucapan terima kasih yang keluar dari bibirnya. Yudha yang berdiri tidak jauh darinya hanya bisa menatap wajah istrinya.
Ada rasa kecewa sekaligus takut yang bercampur menjadi satu di dalam tatapannya. Kinanti menggenggam kotak tersebut dengan kedua tangan, lalu menarik napas panjang.
“Terima kasih...” ucapnya akhirnya, tetapi suaranya terdengar hambar.
Yudha menundukkan wajah. Hatinya terasa semakin sakit melihat sikap istrinya.
Acara pesta kejutan itu tetap berlangsung meriah sesuai dengan rencana Yudha.
Musik terus mengalun, para tamu bercengkrama, dan beberapa orang sibuk mengabadikan momen tersebut.
Namun, dibalik kemeriahan itu, terdapat dua orang yang justru sedang berusaha menyembunyikan kehancuran rumah tangganya.
Di tengah pesta yang dipenuhi senyum dan tawa itu, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pertemuan sederhana antara Omar dan perempuan tersebut mungkin akan menjadi awal dari cerita baru.
Sementara di sisi lain, Kinanti hanya berdiri diam sambil menggenggam kotak hadiah dari Yudha.
“Maaf, aku menyerah,” lirih Kinanti.
Senyumnya kembali terukir di wajah, tetapi sorot matanya tetap menyimpan satu keputusan yang sudah bulat.
“Ya Allah… berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya yang sudah terlanjur rusak dan hancur karena kebodohan aku sendiri.”
Malam anniversary ke-9 ini mungkin menjadi malam terakhir dirinya berdiri sebagai istri Yudha.