Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ENAM
## Bab 6: Angka-Angka yang Tak Pernah Kucermati
Sebagai orang yang bekerja di bidang keuangan, ironisnya aku justru jarang benar-benar teliti soal keuangan rumah tanggaku sendiri. Setiap hari di kantor, aku menghabiskan waktu berjam-jam memeriksa laporan, mencocokkan angka, memastikan tidak ada selisih sekecil apa pun dalam pembukuan perusahaan. Tapi untuk urusan rumah tangga, aku selalu mempercayakan sepenuhnya pada sistem yang sudah kami sepakati sejak awal menikah: rekening bersama, ke mana gaji kami berdua masuk setiap bulan, dan dari situlah semua kebutuhan rumah tangga dibayar.
Sabtu pagi itu, saat sedang santai membuka aplikasi mobile banking untuk memastikan tagihan bulanan sudah terbayar semua, aku sempat memperhatikan mutasi rekening yang cukup panjang—hasil kebiasaan kecilku sebagai orang keuangan, selalu ingin memastikan semuanya tercatat rapi, meski sebenarnya bukan tanggung jawabku secara personal untuk mengaudit rekening bersama sedetail itu.
Ada beberapa transaksi keluar dengan nominal yang cukup bervariasi, tercatat hanya dengan keterangan umum seperti "transfer" atau "tarik tunai", tanpa detail lebih lanjut. Aku sempat berhenti sejenak, mengernyitkan dahi melihat salah satu transaksi yang jumlahnya lumayan besar, tertanggal seminggu lalu.
"Mas, ini transaksi tanggal dua belas kemarin buat apa ya? Kok lumayan gede," tanyaku, menunjukkan layar ponsel ke arah Bayu yang sedang duduk di sampingku sambil membaca berita di ponselnya sendiri.
Bayu melirik sekilas, lalu menjawab santai, "Oh, itu buat bayar DP material proyek, Yu. Kadang perusahaan minta aku talangin dulu, nanti direimburse belakangan."
"Oh gitu," aku mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa banyak bertanya lebih lanjut. Toh, sistem semacam itu memang lumrah di beberapa perusahaan, dan aku tidak punya alasan untuk meragukan penjelasan sesederhana itu.
"Lagian kamu ngapain sih ngecek-ngecek mutasi segala? Kayak lagi audit kantor aja," Bayu tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
"Kebiasaan aja, Mas. Habit orang keuangan," aku ikut tertawa, menutup aplikasi itu dan melanjutkan aktivitas lain.
Sebenarnya, kalau saja aku sedikit lebih teliti waktu itu—memeriksa ke mana persisnya transfer itu mengalir, atau menanyakan lebih detail soal sistem reimbursement yang disebutkan Bayu—mungkin aku sudah bisa menemukan kejanggalan jauh lebih awal. Tapi kepercayaan penuh yang sudah kubangun selama bertahun-tahun membuatku tidak pernah benar-benar merasa perlu melakukan itu. Bagiku, mempertanyakan detail sekecil itu terasa seperti tidak menghargai kepercayaan yang seharusnya menjadi dasar sebuah pernikahan.
---
Siang harinya, kami memutuskan untuk makan siang di luar, sebuah restoran keluarga yang cukup ramai di akhir pekan. Sambil menunggu pesanan datang, Bayu tampak sedikit gelisah, sesekali melirik ponselnya yang bergetar beberapa kali namun tidak langsung ia buka.
"Kenapa, Mas? Kok kayak nggak tenang gitu?" tanyaku, memperhatikan gerak-geriknya yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Nggak apa-apa, Yu. Cuma kepikiran kerjaan aja," jawabnya, mencoba tersenyum meyakinkan.
Aku mengangguk, tidak terlalu memikirkannya lebih jauh. Wajar saja, pikirku, semua orang punya hari-hari di mana pikiran mereka terbagi antara pekerjaan dan waktu santai bersama keluarga. Aku sendiri sering mengalami hal serupa, terutama menjelang tutup buku bulanan di kantor.
Pesanan kami datang tidak lama kemudian, dan percakapan kami kembali mengalir ke topik-topik ringan—rencana liburan akhir tahun yang sudah lama ingin kami wujudkan, keinginan untuk mulai menabung khusus dana pendidikan anak meski kami belum juga dikaruniai momongan setelah empat tahun menikah, sampai obrolan santai soal film yang sedang ramai dibicarakan orang-orang di media sosial.
"Yu, kamu masih pengen punya anak kan?" tanya Bayu tiba-tiba, di sela makan siang kami.
Pertanyaan itu sedikit mengejutkanku, mengingat topik ini jarang sekali kami bahas secara langsung, lebih sering muncul dari komentar orang tua atau kerabat yang bertanya kapan kami akan punya momongan.
"Ya pengen lah, Mas. Kenapa emangnya?" jawabku, sedikit penasaran dengan arah pertanyaannya.
"Nggak, cuma kepikiran aja. Udah empat tahun, mungkin kita perlu coba program lagi, atau konsultasi ke dokter," jawabnya, meski nada suaranya terdengar sedikit aneh—bukan nada penuh harap seperti biasanya ketika membicarakan topik ini, melainkan lebih terdengar seperti... entahlah, sesuatu yang sulit kujelaskan waktu itu.
"Iya, nanti kita coba jadwalin konsultasi lagi ya, Mas," jawabku, menganggap keanehan kecil dalam nada suaranya hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif.
Aku tidak tahu, pertanyaan itu muncul bukan semata-mata dari keinginan tulus untuk segera memiliki momongan bersamaku, melainkan juga dari rasa bersalah yang terus tumbuh setiap kali Bayu melihat Raka, anaknya dengan Wulan, tumbuh semakin besar—seorang anak yang, meski lahir dari hubungan yang salah, tetap saja membuat Bayu merasakan kehangatan menjadi seorang ayah, kehangatan yang belum pernah ia rasakan bersamaku, dan yang diam-diam membuatnya merasa semakin terjebak di antara dua dunia yang terus ia jaga agar tidak pernah saling bersinggungan.
---
Malam harinya, setelah pulang dari restoran, kami menghabiskan waktu menonton film di rumah, sesuatu yang jarang bisa kami lakukan mengingat kesibukan kami masing-masing di hari kerja. Bayu tampak lebih rileks dibandingkan siang tadi, tertawa lepas menonton adegan-adegan lucu dalam film yang kami pilih, sesekali melontarkan komentar yang membuatku ikut tertawa.
"Untung ya, Yu, kita masih sempet punya waktu kayak gini," katanya di tengah film, memelukku dari samping.
"Iya, Mas. Kadang aku juga mikir, hidup kita udah lumayan lengkap. Kerjaan stabil, rumah udah punya sendiri, tinggal nunggu momongan aja," jawabku sambil menyandarkan kepala ke bahunya.
"Iya," ia mengangguk pelan, meski matanya menatap layar televisi dengan pandangan yang, kalau saja aku sedikit lebih peka, mungkin sudah bisa kubaca sebagai pandangan kosong—pikirannya melayang jauh ke tempat lain, ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota yang tidak pernah kuketahui keberadaannya, ke seorang anak kecil yang tumbuh tanpa pernah bisa ia akui secara terbuka sebagai anaknya sendiri.
Malam itu berakhir dengan tenang, seperti biasa. Aku tertidur dengan perasaan puas, merasa hidupku sudah cukup lengkap meski belum sempurna. Tidak ada firasat apa pun yang mengganggu tidurku malam itu, tidak ada kecurigaan yang mulai tumbuh, hanya rasa syukur sederhana atas apa yang telah kumiliki—sebuah rasa syukur yang, tanpa kusadari, dibangun di atas fondasi yang jauh lebih rapuh dari yang pernah kubayangkan.
---
*Bersambung ke Bab 7*