Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Permainan di balik layar
Beberapa petugas mengambil alat pemadam. Namun sebelum api berhasil dikendalikan, Gunawan melihat sesuatu di lantai. Sebuah map cokelat, sebagian ujungnya sudah terbakar. Lalu ia segera mengambilnya.
Tulisan di bagian depan masih terlihat.
ADRIAN MAHENDRA — RAHASIA
Gunawan membuka map itu, beberapa halaman sudah hangus. Namun satu lembar masih utuh, Gunawan membacanya. Seketika wajahnya berubah.
"Ini..."
Pengacara yang berada di sampingnya mendekat. "Apa isinya?"
Gunawan menyerahkan dokumen itu, lalu pengacara membacanya. Beberapa detik kemudian, raut wajahnya ikut berubah.
"Pak... ini bukan rekam medis."
Gunawan mengangguk. "Ini surat pemindahan kepemilikan." Gunawan menatap tanggal pada dokumen. "Perushaan Mahendra Grup."
Semua orang terdiam saat mendengarnya.
"Dokumen ini menyatakan bahwa sebelum Adrian dibawa ke rumah sakit..." Gunawan berhenti. Matanya tertuju kepada Miranda. "Ada seseorang yang mencoba memindahkan sebagian besar saham Mahendra Grup."
Miranda langsung pucat, Markus pun terlihat terkejut. Namun yang lebih mengejutkan... nama penerima saham tersebut bukan Miranda ataupun Dimas.
Gunawan membaca nama itu sekali lagi. "Rendra Wijaya."
Semua mata langsung tertuju kepada administrator CCTV tersebut.
Rendra membeku. "Aku..." Ia mundur. "Aku bisa menjelaskannya."
Gunawan langsung menatapnya tajam. "Jadi kamu bukan sekadar administrator CCTV."
Rendra menggigit bibir.
Miranda tiba-tiba membentak. "Rendra! Diam!"
Terlambat, semua orang sudah mendengarnya.
Gunawan menatap Miranda. "Kenapa kamu menyuruhnya diam?"
Miranda tidak menjawab.
Penyidik langsung mendekati Rendra. "Anda ikut kami."
Rendra mencoba mundur, namun dua petugas segera menangkap kedua lengannya.
"Tunggu!" Rendra tiba-tiba berteriak. "Saya bukan orang yang menjebak Adrian!"
Semua orang terdiam.
Gunawan menatapnya. "Kalau begitu siapa?"
Rendra memandang Miranda, kemudian Markus. Wajahnya penuh ketakutan. "Saya hanya menjalankan perintah."
"Siapa yang memerintahmu?"
Rendra membuka mulut, namun sebelum satu kata keluar...
Dor!
Suara tembakan terdengar dari luar gedung, semua orang terkejut. Kaca jendela lobi pecah, para pengawal langsung bergerak melindungi Gunawan.
"Semua merunduk!"
Kepanikan pecah di seluruh ruangan, Miranda dan Markus segera berlindung di balik meja. Rendra memanfaatkan kekacauan itu. Ia melepaskan diri dari petugas dan berlari menuju pintu belakang.
"Kejar dia!" teriak Gunawan.
Dua pengawal langsung mengejar, namun Rendra sudah menghilang di lorong belakang. Gunawan berdiri perlahan. Matanya tertuju pada map yang masih berada di tangannya.
"Sepertinya memang ada yang memanipulasi semua ini, aku harus terus menyelidikinya," batinnya.
Suasana Rumah Sakit masih kacau. Beberapa petugas keamanan menyebar ke berbagai lorong untuk mencari Rendra. Pintu-pintu belakang diperiksa satu per satu, sementara penyidik berusaha mengamankan lokasi penembakan.
Namun Rendra seolah menghilang tanpa jejak. Gunawan berdiri di tengah lobi sambil memegang map cokelat yang sebagian ujungnya telah terbakar. Tatapannya tidak lepas dari dokumen tersebut. Ada sesuatu yang terasa salah.
"Tuan Gunawan." Salah satu pengawalnya menghampiri. "Rendra belum ditemukan."
Gunawan mengangguk pelan. "Jangan hentikan pencarian. Periksa seluruh pintu keluar dan kendaraan yang meninggalkan rumah sakit."
"Baik, Tuan." Pengawal itu segera pergi.
Gunawan kembali melihat dokumen di tangannya. Nama Rendra tercetak jelas sebagai penerima saham. Namun justru itulah yang membuat Gunawan curiga.
"Di balik ini semua pasti ada dalangnya..." gumamnya. Matanya menyipit. "Aku yakin, orang itu pasti sudah merencanakan ini semua."
"Pak?" Gunawan menyerahkan dokumen itu. "Tolong periksa keasliannya."
Pengacara di sampingnya menoleh. "Baik."
"Jangan hanya melihat tanda tangan. Periksa juga nomor dokumen, tanggal penerbitan, stempel notaris, sampai sumber registrasinya."
Pengacara itu mengangguk.
Gunawan kemudian melirik ke arah Miranda. Wanita itu berdiri beberapa meter bersama Markus. Keduanya tampak tenang untuk seseorang yang baru saja menyaksikan dokumen rahasia terbakar dan seorang karyawan melarikan diri.
Gunawan menyipitkan mata. "Miranda..." gumamnya pelan.
Di sisi lain lobi...
Miranda berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
Markus mendekat. "Sepertinya kita harus pergi dari sini."
Miranda menoleh. "Kenapa?"
"Semua ini hanya membuang waktu." Markus melirik ke arah Gunawan. "Dia belum memiliki bukti yang benar-benar menghubungkan kita dengan Adrian."
Miranda tersenyum tipis. "Kamu benar." Ia menatap map yang sedang diperiksa pengacara Gunawan. "Dokumen itu juga sudah cukup untuk mengalihkan perhatian mereka."
Markus mengangguk. "Rendra juga sudah pergi."
"Justru itu yang sangat menarik." Miranda menarik napas. "Biarkan mereka mencarinya."
Markus menatapnya. "Bagaimana kalau Rendra tertangkap?"
Miranda terdiam beberapa detik, kemudian tatapannya berubah dingin. "Dia tidak akan bicara."
"Apa anda yakin?"
"Sangat yakin." Miranda menatap Markus. "Rendra tahu terlalu banyak. Dia juga tahu apa yang akan terjadi jika dia membuka mulut."
Markus menelan ludah. "Kalau begitu..."
"Kita pergi." Miranda berjalan menuju pintu. "Untuk sementara, jangan lakukan apa pun terhadap Adrian."
Markus mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena sekarang mereka sedang mengawasinya." Miranda tersenyum tipis. "Kita tunggu sampai keadaan kembali tenang."
Namun Miranda tidak menyadari satu hal. Gunawan sejak tadi memperhatikan mereka. Ia melihat bagaimana Miranda dan Markus beberapa kali saling bertukar pandangan. Bukan pandangan dua orang yang kebingungan. Melainkan pandangan dua orang yang sedang menyusun rencana.
Gunawan langsung mengambil ponselnya. Ia berjalan menjauh dari kerumunan. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan dikirim.
Gunawan: Om menemukan sesuatu.
***
Di rumah persembunyian...
Adrian sedang duduk di meja makan ketika ponselnya bergetar. Ia mengambilnya, sebuah pesan dari Gunawan masuk.
Adrian membacanya, kemudian sebuah foto dikirim. Foto dokumen yang sebagian ujungnya terbakar. Adrian memperbesar gambar tersebut. Matanya langsung tertuju pada nama penerima saham... Rendra Wijaya.
Wajah Adrian berubah. "Nadira."
Nadira yang sedang membawa dua cangkir teh langsung menoleh. "Ada apa?"
Adrian menunjukkan layar ponselnya. "Coba lihat ini."
Nadira membaca dokumen tersebut. "Rendra Wijaya?"
Adrian mengangguk. "Aku mengenalnya."
"Siapa dia sebenarnya?"
Adrian terdiam sesaat... lalu berkata, "dia dulu salah satu orang yang paling dipercaya ayahku."
Nadira duduk di sampingnya. "Jadi mungkin dia memang yang membantu Miranda?"
Adrian menggeleng. "Justru itu yang membuatku tidak percaya."
Nadira mengerutkan kening. "Kenapa?"
Adrian menunjuk dokumen tersebut. "Kalau Rendra memang bekerja sama dengan Miranda, untuk apa Miranda memindahkan saham kepadanya?"
Nadira terdiam dan memperhatikan Adrian.
Adrian melanjutkan. "Miranda menginginkan Mahendra Grup. Dia tidak akan menyerahkan saham sebanyak itu kepada orang lain."
"Berarti..."
"Dokumen itu kemungkinan dibuat untuk membuat kita percaya bahwa Rendra adalah dalangnya," sambung Adrian.
Nadira menatap Adrian. "Jadi menurutmu..."
"Miranda menjadikan Rendra sebagai kambing hitam." Jawaban Adrian terdengar tegas. "Kali ini dia bermain terlalu rapi." Ia kembali memperhatikan foto itu. "Miranda sengaja meninggalkan jejak yang mengarah kepada Rendra."
Nadira mengangguk perlahan.
"Supaya semua orang mengejarnya. Dan selama kita mengejar Rendra..." Adrian menatap tajam. "Miranda bisa menghilangkan bukti yang sebenarnya."
***
Di rumah sakit...
Pengacara Gunawan tiba-tiba menghampiri. "Pak Gunawan."
"Bagaimana?"
Ia menyerahkan dokumen itu. "Dokumen ini palsu."
Gunawan tidak terkejut. "Tepat, seperti dugaanku."
"Nomor registrasinya tidak sesuai dengan database."
Gunawan mengangguk. "Dan tanda tangan notaris?"
"Ada Pak, tapi Palsu."
Gunawan mengembuskan napas. "Jadi memang ada seseorang yang sengaja menanam bukti palsu."
Pengacara itu menatapnya. "Apakah kita tetap mengejar Rendra?"
Gunawan berpikir sejenak. "Ya."
Pengacara itu tampak bingung. "Padahal dokumennya palsu?"
Gunawan tersenyum tipis. "Justru karena palsu." Ia menatap lorong tempat Rendra melarikan diri. "Rendra mungkin bukan dalangnya."
"Kalau begitu kenapa dia lari?"
"Karena dia takut." Gunawan kemudian menoleh ke arah Miranda yang sedang berjalan keluar bersama Markus. "Tapi saya ingin tahu... siapa yang membuat Rendra begitu ketakutan?"