NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Pembantaian di Bawah Kubah Emas

​Kubah energi berwarna emas gelap yang mengurung Desa Tambang Besi Hitam memancarkan cahaya redup, memutus segala akses dengan dunia luar. Di dalam kurungan itu, udara terasa sangat kental, dipenuhi oleh bau darah dan debu yang mengambang dari reruntuhan bangunan.

​Tiga belas elit pembunuh dari Sekte Dalam berdiri menyebar, mengepung Awan dalam formasi setengah lingkaran. Di balik topeng dan cadar hitam mereka, mata para kultivator Puncak Tingkat Sembilan itu memancarkan campuran antara kewaspadaan dan amarah.

​Manusia fana di depan mereka baru saja menepis sihir angin mematikan hanya dengan lehernya.

​"Jangan gentar! Dia hanya mengandalkan ketahanan fisik! Pasti ada batasnya!" teriak pemimpin pembunuh itu, memecah ketegangan. Ia menarik sepasang pedang pendek melengkung. "Bentuk Formasi Jaring Badai Baja! Jaga jarak sepuluh meter! Serang titik buta dan persendiannya secara terus-menerus hingga ototnya robek!"

​"Baik!"

​Tiga belas kultivator itu bergerak serentak. Kerja sama mereka sangat sempurna, hasil dari pelatihan mematikan selama bertahun-tahun di dalam bayang-bayang faksi Tetua Wu dan Zhao.

​WUSSS! BZZT!

​Ratusan bilah angin yang sangat tajam dan jarum-jarum logam spiritual ditembakkan secara bersamaan dari berbagai arah. Serangan itu membentuk jaring kematian yang tidak menyisakan satu jengkal pun ruang untuk menghindar. Serangan udara dan logam saling melengkapi; angin mempercepat laju jarum logam, sementara logam memberikan daya tembus mematikan pada angin.

​Awan berdiri di tengah-tengah badai serangan itu. Ia tidak merunduk. Ia tidak melompat mundur.

​Ia memejamkan mata dan menghela napas pendek. Zirah Niat.

​Kehendak membunuhnya yang pekat ditarik ke dalam, memadat dan membentuk cangkang hampa setipis helai rambut yang menyelimuti seluruh kulit perunggunya.

​TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!

​Suara benturan nyaring bergema bertubi-tubi di alun-alun, bagaikan ribuan paku besi yang dilemparkan ke permukaan lonceng kuil raksasa. Ratusan sihir angin dan jarum logam itu terdistorsi, bengkok, dan hancur lebur hanya beberapa milimeter sebelum menyentuh kulit Awan. Percikan bunga api dari Qi yang hancur menerangi wajah datar pemuda fana tersebut.

​"Gila! Pertahanan sihir apa itu?! Dia bahkan tidak memakai zirah!" seorang pembunuh berteriak panik, melihat serangan terkuatnya menguap begitu saja.

​Di tengah hujan sihir yang tak berkesudahan itu, Awan membuka matanya.

​"Zirah Niatku sangat menguras energi mental," gumam Awan mengevaluasi dirinya sendiri. Kepalanya berdenyut ringan. "Berdiri menahan serangan seperti ini hanya membuang-buang waktu."

​Awan menurunkan titik berat tubuhnya. Pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram digenggam erat di tangan kanannya, ujungnya menggores tanah batu.

​"Giliran bumi."

​Langkah Besi Jatuh!

​BHOOOM!

​Batu di bawah kaki Awan hancur berkeping-keping. Dengan hilangnya beban delapan ton yang mengikatnya selama enam bulan terakhir, ledakan daya tolak kaki Awan menciptakan kecepatan hipersonik dalam jarak dekat.

​Sosok Awan benar-benar lenyap dari pandangan ketiga belas kultivator tersebut. Angin dari ledakan larinya menyapu kabut berdarah di alun-alun hingga bersih.

​"Di mana dia?!" pemimpin pembunuh itu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik.

​"Di atasmu!" teriak salah satu rekannya.

​Pemimpin itu mendongak. Awan telah melompat setinggi sepuluh meter ke udara, persis di atas formasi mereka, menghalangi cahaya rembulan dengan tubuh besarnya. Awan memegang pedang besi berkarat itu dengan kedua tangan dan mengayunkannya ke bawah, murni memanfaatkan gaya gravitasi dan massa pedangnya.

​"Pencar!" teriak si pemimpin.

​Ketiga belas orang itu langsung melompat mundur ke segala arah menggunakan sihir meringankan tubuh.

​DHUUUUUARRR!

​Pedang Bumi Pijar menghantam posisi tengah tempat mereka berdiri sebelumnya. Ledakan kinetik yang terjadi benar-benar menghancurkan nalar. Gelombang kejut fisik meledak seperti bom raksasa, mengoyak alun-alun batu itu hingga membentuk kawah sedalam tiga meter. Ubin-ubin batu dan bongkahan tanah terlempar ke segala arah seperti pecahan peluru shrapnel.

​Para pembunuh yang sedang berada di udara terhempas oleh gelombang kejut tersebut. Perisai Qi mereka berkedip-kedip menahan puing-puing batu yang melesat dengan kecepatan mematikan.

​Di tengah awan debu yang mengepul tebal, suara langkah kaki berat kembali terdengar.

​Tanpa menunggu debu mereda, Awan menerjang keluar dari kawah. Ia mengincar tiga pembunuh yang terlempar paling dekat dengannya.

​"Tahan dia!" salah satu dari ketiganya merapal dinding perisai baja setebal setengah meter menggunakan elemen tanah dan logam.

​Awan tidak mengurangi kecepatannya. Ia tidak menggunakan tebasan pedang. Ia membalikkan genggamannya, dan menggunakan ujung gagang pedang Bumi Pijar yang tumpul untuk menumbuk dinding perisai baja itu layaknya martil godam.

​KRAAAASSH!

​Perisai spiritual tingkat tinggi itu hancur berkeping-keping seolah terbuat dari biskuit kering. Tumbukan itu menembus perisai dan menghantam langsung dada kultivator di baliknya. Sang kultivator hancur berkeping-keping menjadi kabut darah, bahkan tidak sempat menjerit.

​Dua rekan di sebelahnya memucat pasi. Mereka mencoba menusukkan pedang mereka ke pinggang Awan.

​Namun, Zirah Niat Awan menolak pedang mereka, membuat bilah pedang spiritual itu terpeleset meleset. Sebagai balasan, Awan memutar pinggulnya dan mengayunkan tebasan horizontal dengan Bumi Pijar.

​Tebasan itu sangat kasar. Tidak tajam, melainkan murni daya hancur massal.

​BAM!

​Dua tubuh kultivator Puncak Tingkat Sembilan itu terlipat menjadi dua dengan sudut yang mustahil. Tulang belakang mereka putus seketika. Tubuh mereka terpental menghantam pilar energi kubah emas hingga hancur.

​Hanya dalam waktu sepuluh detik sejak Awan bergerak, tiga elit Sekte Dalam telah tewas terbunuh dengan cara yang paling brutal.

​"J-Jangan bertarung jarak dekat! Naik ke atap! Serang dari udara!" pemimpin pembunuh itu menyadari kesalahan fatal mereka. Fisik pemuda fana ini setara dengan Siluman Tingkat Fondasi Roh!

​Sisa sepuluh pembunuh melompat naik ke atap reruntuhan bangunan dua lantai di sekeliling alun-alun, berusaha menciptakan jarak vertikal.

​Melihat mangsanya lari ke tempat tinggi, Awan hanya mendengus pelan. Ia menyarungkan Bumi Pijar ke punggungnya.

​"Kalian pikir, berada di atas berarti aman?"

​Awan berlari menuju salah satu bangunan batu tempat tiga pembunuh berdiri. Ia tidak memanjat dindingnya. Ia menghentakkan kakinya ke dasar dinding bangunan tersebut, memusatkan kekuatan ototnya.

​BHOOM!

​Pondasi bangunan batu berlantai dua itu hancur berantakan akibat tendangan Awan. Struktur bangunannya runtuh seketika! Ketiga pembunuh yang berada di atas atap kehilangan pijakan dan jatuh berteriak di tengah reruntuhan batu.

​Awan melompat ke tengah reruntuhan yang sedang jatuh itu, menyambar kepala dua pembunuh yang sedang melayang di udara dengan kedua tangannya, lalu membenturkan tengkorak mereka satu sama lain dengan kekuatan mengerikan.

​PRAK!

​Keduanya tewas seketika. Pembunuh ketiga mencoba bangkit dari puing-puing, namun Awan menginjak dadanya hingga amblas menembus tanah.

​Kini, hanya tersisa tujuh orang.

​Mental para elit pembunuh itu benar-benar hancur. Mereka adalah eksekutor kejam yang biasa membantai kultivator nakal dalam diam. Namun hari ini, mereka merasa seperti domba yang dikurung di dalam kandang bersama seekor beruang purba raksasa yang kebal terhadap segala jenis sihir.

​"I-Iblis! Buka formasinya! Kita harus lari!" teriak salah seorang dari mereka dengan histeris.

​"Tidak bisa!" balas si pemimpin dengan suara bergetar. "Formasi Pengunci Langit dan Bumi ini hanya bisa dibuka dari luar, atau butuh waktu satu batang dupa untuk menyedot kembali Qi-nya! Kita terjebak!"

​Pemimpin itu menatap Awan yang kini berdiri di tengah puing-puing, berlumuran darah musuh-musuhnya. Pemuda fana itu bahkan tidak terlihat lelah. Napasnya teratur, matanya memancarkan ketenangan yang mencekam.

​"Gabungkan Qi kita!" raung sang pemimpin, putus asa. "Gunakan esensi darah kalian! Jika kita tidak membunuhnya, kita semua akan dibantai seperti anjing!"

​Tujuh kultivator yang tersisa menggigit lidah mereka, menyemburkan esensi darah mereka yang sangat berharga. Qi elemen angin dan logam bercampur dengan darah merah pekat, menciptakan pusaran energi di udara yang menekan ruang hampa.

​Sebuah tombak raksasa berwarna merah darah dan emas terbentuk di atas mereka. Ujung tombak itu berputar sangat cepat, memancarkan daya tembus yang cukup untuk melubangi gunung.

​"Seni Terlarang: Tombak Penghancur Bintang Darah!"

​Mereka mendorong kedua tangan mereka ke depan. Tombak raksasa itu melesat membelah udara, langsung menuju dada Awan, membawa kekuatan penghancur gabungan dari tujuh ahli Puncak Tingkat Sembilan yang membakar nyawa mereka.

​Awan berdiri diam. Ia tahu, Zirah Niatnya yang tipis tidak akan mampu menahan serangan tusukan berpusar yang memusatkan kekuatan tujuh orang pada satu titik terkecil. Jika ia menahannya dengan tubuh telanjang, dadanya akan berlubang.

​Maka, Awan tidak menahannya.

​Ia mencabut kembali Bumi Pijar. Ia merendahkan tubuhnya, memegang gagang pedang dengan kedua tangan, lalu menarik pedangnya ke belakang bahu kirinya.

​Jika Niatku tidak cukup kuat untuk bertahan, maka akan kugunakan untuk menghancurkan!

​Awan menyalurkan seluruh fokus Niat Pedangnya, bukan sebagai zirah pelindung, melainkan dikompresi ke seluruh bilah Bumi Pijar. Otot perunggunya berkontraksi hingga batas tertinggi. Pembuluh darah di lengannya menonjol hitam.

​Ia menyambut tombak energi raksasa itu dengan tebasan dari bawah ke atas.

​Niat Pedang Semu: Belahan Hampa!

​ZRAAAAAAAAANG!

​Bilah udara fisik yang terbentuk dari kompresi atmosfer ekstrem bertabrakan langsung dengan mata Tombak Darah Emas tersebut.

​Bumi bergetar. Udara di dalam kubah emas itu seolah terbelah menjadi dua warna: merah-emas dari sihir spiritual, dan ruang hampa abu-abu dari tekanan fisik murni.

​Dua kekuatan itu bertabrakan selama sedetik, menghasilkan suara lengkingan yang merobek telinga.

​Lalu, fisika murni menang atas ilusi sihir. Massa absolut pedang besi tiga ratus kilogram yang diayunkan dengan kecepatan hipersonik, meremukkan ujung tombak spiritual itu inci demi inci.

​PRANGGG!

​Tombak gabungan itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya. Gelombang kejut balik dari kehancuran sihir mereka menghantam ketujuh pembunuh tersebut. Mereka semua memuntahkan darah, organ dalam mereka hancur akibat serangan balik (backlash) dari sihir terlarang mereka sendiri.

​Awan tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia melesat menembus sisa-sisa energi yang berhamburan.

​Dalam lima ayunan kasar yang cepat, lima kepala terpisah dari tubuh mereka, menyemburkan air mancur darah yang mewarnai tanah alun-alun.

​Kini, hanya tersisa si pemimpin dan satu anak buahnya yang jatuh terduduk, tubuh mereka gemetar hebat karena kehabisan Qi dan teror absolut.

​Awan melangkah perlahan menghampiri mereka. Ujung pedang Bumi Pijar terseret di atas batu, menghasilkan suara decitan panjang yang mengiris nyali.

​"K-Kau... Tetua Wu tidak akan melepaskanmu..." sang pemimpin menatap Awan dengan mata melotot, tubuhnya merangkak mundur. "Kau akan mati membusuk di sekte..."

​Awan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

​"Beritahu Tetua Wu di neraka," ucap Awan dingin. "Aku akan segera menyusulnya, bukan untuk mati, melainkan untuk menebas lehernya."

​CRAAAASSH!

​Satu ayunan terakhir mengakhiri sisa nyawa dari elit Sekte Dalam tersebut.

​Pertarungan yang sepenuhnya tidak adil ini berakhir. Ketiga belas ahli Puncak Pengumpul Qi dari sekte ortodoks, dan tiga kultivator iblis... semuanya dibantai habis oleh satu manusia fana dalam waktu kurang dari satu batang dupa.

​Awan menarik napas panjang. Ia melepaskan Zirah Niatnya, membiarkan pikirannya beristirahat. Rasa pusing yang ringan menghantam kepalanya, tapi itu jauh lebih baik ketimbang saat ia pertama kali mencoba Niat Pedang.

​Ia menyarungkan Bumi Pijar, lalu berjalan menghampiri penduduk desa yang masih terikat di tengah formasi darah. Tanpa fluktuasi Qi untuk diserap, Awan dengan mudah mencabut pasak-pasak berdarah yang mengunci rantai mereka menggunakan kekuatan fisiknya, menghancurkan formasi itu dari akarnya.

​"Kalian aman," kata Awan kepada warga desa yang menatapnya dengan penuh ketakutan dan rasa syukur yang bercampur aduk. Sebagian dari mereka langsung sujud berterima kasih sambil menangis tersedu-sedu. "Menjauhlah dari alun-alun ini."

​Setelah memastikan warga desa mundur, Awan berbalik menuju sudut alun-alun, tempat di mana pemimpin kultivator iblis itu tergeletak lumpuh.

​Pria pucat itu tidak bisa menggerakkan kaki atau tangannya, tetapi matanya menatap Awan seolah sedang melihat malaikat maut.

​"Kau membunuh mereka semua..." bisik kultivator iblis itu, suaranya parau. "Manusia tanpa Qi... membunuh elit sekte... Hahaha... Ironis sekali."

​Awan berjongkok di sampingnya. Ia tidak tertarik pada obrolan kosong.

​"Gulungan misiku mengatakan, ada hadiah lima ribu poin kontribusi dan sebuah Batu Jantung Naga Tanah," Awan menatap tepat di bola mata pria pucat itu. "Tetua sekte menggunakan batu itu sebagai umpan agar aku mengambil misi bunuh diri ini. Berarti, batu itu benar-benar ada di desa ini."

​Awan menekan jari telunjuknya ke atas luka di bahu iblis tersebut.

​"Di mana kalian menyembunyikannya?"

​Pemimpin iblis itu meringis kesakitan, tapi ia memaksakan tawa yang pahit. "Kau pikir... kami menangkap puluhan warga desa ini hanya untuk membuat Pil Darah? Tidak... Desa Tambang Besi Hitam ini... menyimpan sesuatu di kedalaman tambangnya yang terdalam."

​Pria itu terbatuk, darah keluar dari mulutnya.

​"Kami menggunakan darah warga desa... untuk menetralisir segel kuno di kedalaman tambang itu. Batu Jantung Naga Tanah memang ada di sana... Tapi batu itu... bukan hadiah. Itu adalah sumber kekuatan bagi sesuatu yang tidur di bawah sana..."

​Mata Awan sedikit melebar.

​"Jika kau menginginkannya... masuklah ke lubang tambang utama," bisik kultivator iblis itu sebelum akhirnya racun mematikan dari sihirnya sendiri menelan sisa nyawanya, membunuhnya perlahan.

​Awan berdiri perlahan, menatap ke arah gunung batu di belakang desa. Di sana, terdapat sebuah lorong gelap menganga raksasa—pintu masuk menuju Tambang Besi Hitam yang telah ditinggalkan.

​"Batu Jantung Naga Tanah yang dijaga oleh sesuatu," Awan bergumam. Ia mengepalkan tangannya, merasakan energi liar dari Esensi Darah Fana Purba di dalam nadinya berdesir penuh antisipasi.

​"Sempurna. Pemanasan telah selesai. Mari kita lihat monster apa yang bersembunyi di dalam sana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!