Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA DI BALIK DINDING KACA
Kehangatan dekapan Ammar dan manisnya janji yang terucap di atas keningku masih menyisa di celah-celah dadaku, menyebarkan rasa manis yang belum pernah kukenal seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti seorang pelarian. Aku merasa dimiliki, dijaga, dan diakui sepenuhnya di balik dekapan pria berwibawa ini.
Namun, kedamaian itu mendadak terinterupsi oleh getaran nyaring dari ponsel Ammar di atas meja rias.
Bzzzt... bzzzt...
Ammar melepaskan pelukannya perlahan, meski jemari tegapnya sempat mengusap pipiku sekali lagi sebelum melangkah mengambil ponselnya. Saat melihat nama yang tertera di layar digital itu, raut wajah tampannya yang baru saja mencair mendadak kembali berwujud kaku dan serius.
"Abah," bisik Ammar pelan pada dirinya sendiri.
Ia menggeser layar hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Assalamu'alaikum, Abah."
Aku memperhatikan gerak-gerik Ammar dari depan cermin. Suara Abah Syekh Ali samar-samar terdengar dari ujung telepon, bernada tegas dan penuh perintah.
"Wa'alaikumussalam. Ammar, kamu masih di rumah bersama Aisyah?" tanya Abah di seberang sana.
"Nggih, Abah. Ammar baru selesai sarapan bersama Ibu dan Aisyah."
"Bagus. Bersiaplah. Pukul sepuluh nanti, Pengacara Lukman, pihak KUA, dan pengurus yayasan pesantren akan datang ke rumahmu. Ada berkas penting yang harus kamu urus," Abah memberi jeda sejenak sebelum melanjutkannya dengan suara yang kian dalam. "Zahra dan ayahnya, Kyai Dahlan, juga akan hadir untuk menyelesaikan urusan administrasi kesepakatan yayasan."
Deg!
Nama itu kembali mencuat, menghantam kedamaian kecil yang baru saja kami bangun beberapa menit lalu. Aku bisa melihat bahu Ammar tegang seketika. Pria itu melirikku lewat cermin rias, matanya memancarkan rasa bersalah yang tak tersembunyi.
"Apakah... Kyai Dahlan dan Zahra harus ikut hadir, Abah?" tanya Ammar pelan, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang.
"Tentu saja," jawab Abah tegas. "Kyai Dahlan adalah saksi kunci yang memegang beberapa dokumen kerja sama pesantren, dan Zahra yang mengurus bagian administrasi. Kamu tidak bisa menghindar terus dari mereka, Ammar. Selesaikan segalanya secara dewasa dan terbuka."
Ammar menghembuskan napas panjang yang amat berat. "Baik, Abah. Ammar mengerti."
Panggilan berakhir. Suasana kamar yang baru saja hangat membeku kembali dalam hitungan detik.
Ammar berjalan mendekatiku, mematikan ponselnya lalu menyimpannya di saku kemeja. Ia menatapku penuh penyesalan sekaligus keteguhan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Kamu mendengar semuanya, Aisyah?" tanya Ammar pelan.
Aku mengangguk ragu, meremas jemariku yang mendadak dingin di atas kain gamis dusty rose. "Kak Zahra dan ayahnya mau datang ke sini? Ada pihak KUA juga... buat apa, Mas?"
Ammar meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan. "Saya yang meminta Abah untuk menghadirkan pihak KUA pagi ini, Aisyah. Saya berniat mengesahkan pernikahan siri kita secara hukum negara."
Mataku membelalak lebar. "M-mengesahkan secara negara? Tapi... Kak Zahra..."
"Tidak ada tapi lagi," potong Ammar mantap. "Saya sudah berjanji, kamu adalah istri sah saya lahir dan batin. Saya tidak mau kamu selamanya hidup di balik bayang-bayang rahasia, dianggap sepupu, atau dipandang sebelah mata. Pagi ini, di hadapan KUA, Abah, bahkan di hadapan Kyai Dahlan dan Zahra... saya akan mendaftarkan sidang isbat nikah dan meresmikan pernikahan kita secara legal hukum negara."
Mendengar penegasan yang begitu kuat itu, air mata haru tergenang di pelupuk mataku. "Mas Ammar serius?"
"Saya sangat serius," bisik Ammar seraya mengusap sudut mataku. "Percaya pada saya."
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, dua mobil sedan hitam mewah terparkir di halaman depan rumah.
Aku bersama Ibu yang sudah mengenakan pakaian rapi serta Awan duduk mendampingi Ammar di ruang tamu utama. Ruangan bernuansa marmer putih itu terasa begitu luas, namun atmosfernya mendadak sarat akan tekanan ketika pintu depan terbuka.
Syekh Ali masuk terlebih dahulu bersama Pengacara Lukman dan seorang petugas dari KUA, disusul oleh seorang pria paruh baya berwibawa mengenakan jubah putih dan sorban Kyai Dahlan. Dan tepat di belakang Kyai Dahlan, melangkah anggun Syarifah Zahra.
Zahra tampak begitu cantik dengan gamis syar'i berwarna krem pucat. Namun, begitu matanya menangkap sosokku yang duduk di samping Ammar mengenakan gamis premium lengkap dengan hijab rapi langkah kakinya sempat terhenti. Binar terkejut dan raut tak percaya melintas di wajah mulusnya. Gadis itu menatap perubahanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya berusaha menguasai diri dan menundukkan pandangannya.
"Assalamu'alaikum," sapa Kyai Dahlan dengan suara berat yang dipenuhi wibawa ulama senior.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab kami serempak.
Setelah saling berjabat tangan dan menyapa Ibu dengan santun, mereka semua duduk di sofa melingkar. Zahra duduk di samping ayahnya, tepat berhadapan langsung denganku dan Ammar. Petugas KUA dan Pengacara Lukman membuka beberapa map tebal di atas meja kaca.
Kyai Dahlan mengamati berkas-berkas di meja, lalu menatap Ammar lurus-lurus dengan kening berkerut.
"Ammar," panggil Kyai Dahlan dengan nada menuntut. "Abahmu bilang ada hal penting terkait administrasi pesantren dan berkas KUA yang perlu saya saksikan pagi ini. Sebenarnya ada urusan apa ini? Dan kenapa gadis ini... sepupumu ini... duduk mendampingimu?"
Zahra menggigit bibir bawahnya pelan, menatap Ammar dengan pandangan penuh harap berharap penjelasan yang masuk akal keluar dari mulut pria yang dicintainya.
Ammar menarik napas dalam-dalam. Jemari tangannya di atas meja kaca bergeser pelan, meraih jemariku dan mengaitkan jemarinya di sela-sela jemariku menggenggamnya sangat erat di depan mata mereka semua.
"Kyai Dahlan... Abah... dan Zahra," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang mantap dan menggema di seluruh ruangan. "Pertama-tama, saya ingin meluruskan satu hal. Aisyah bukan sepupu jauh saya."
Mata Kyai Dahlan memicing. Zahra tersentak kaku.
"Aisyah adalah wanita yang telah saya nikahi secara siri beberapa waktu lalu," lanjut Ammar tegas tanpa ragu sedikit pun. "Dan maksud saya mengumpulkan semua orang di sini, termasuk menghadirkan pihak KUA dan Pengacara Lukman, adalah untuk mendaftarkan proses isbat nikah agar pernikahan kami sah secara hukum negara dan tercatat resmi di lembaran KUA."
BOM!
Pengakuan terang-terangan dan keputusan besar itu meledak di tengah ruangan!
Kyai Dahlan membelalak kaget hingga tubuhnya menegak kaku, wajahnya memerah menahan amarah. Sementara itu, Zahra tampak seolah baru saja dihantam petir di siang bolong. Wajah anggunnya yang tadi tenang seketika pucat pasi. Air mata langsung menggenang di pelupuk mata cantiknya saat menyadari impian dan perjodohannya telah hancur lebur di depan mata.
"A-Ammar... kamu bilang apa?!" suara Kyai Dahlan meninggi, dadanya naik-turun memburu. "Kamu menikahi wanita ini secara siri dan sekarang mau meresmi-kannya di KUA?! Tanpa memberi tahu kami?! Lalu bagaimana dengan komitmen perjodohanmu dengan Zahra?!"
Zahra menatap Ammar dengan suara gemetar menahan tangis. "Habib... ini... ini tidak benar, kan? Habib tega melakukan ini pada Zahra?"
Ammar tidak melepaskan genggaman tangannya dariku sedikit pun, justru mempereratnya seolah menyalurkan seluruh kekuatannya padaku. Ia menatap Kyai Dahlan dan Zahra dengan sorot mata penuh penyesalan, namun sarat akan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kecewa yang saya torehkan di hati Kyai dan Zahra," tutur Ammar penuh hormat namun dingin dan lugas. "Namun takdir Allah telah menentukan jalan saya bersama Aisyah. Saya mencintai istri saya, dan adalah kewajiban saya sebagai suami untuk memberikannya hak hukum yang sah di mata negara. Saya tidak akan pernah menyembunyikan status Aisyah lagi."
Ibu di sampingku meneteskan air mata haru melihat ketegasan Ammar yang memasang badan membela statusku di depan ulama-ulama besar itu. Sedangkan aku, dadaku bergemuruh oleh rasa bangga, haru, dan cinta yang meluap-luap.
Petugas KUA menyerahkan lembaran formulir dan berkas isbat nikah ke hadapan Ammar. Dengan tangan yang mantap dan tanpa keraguan sedikit pun, Ammar membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, mengunci takdir kami sebagai pasangan suami istri yang siap melangkah menuju lembaran baru yang sah dan terbuka di bawah naungan hukum dan ridho-Nya.