Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARUHAN
Setelah berpamitan dengan Rangga dan Kevin, Kristin dan Cintya berjalan meninggalkan gedung MAPALA. Di tangan mereka masing-masing tergenggam selembar formulir pendaftaran yang baru saja diberikan Kevin. Langkah kaki mereka beriringan menuju kantin kampus, berbicara pelan sepanjang jalan sambil sesekali melirik kertas yang mereka bawa.
Sesampainya di kantin yang mulai ramai oleh mahasiswa yang hendak makan siang, mereka memesan makanan dan minuman sesuai selera, lalu memilih tempat duduk di sebuah meja di sudut ruangan yang cukup sepi. Sambil menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya, Kristin meletakkan sendoknya perlahan, lalu menghela napas panjang. Wajahnya tampak masih menyimpan rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang.
"Aku benar-benar kesal melihat tingkah laku pemuda bernama Doni tadi," ucap Kristin tiba-tiba, suaranya terdengar jelas menunjukkan kekesalan hatinya. "Walaupun dia seorang senior, seharusnya dia menyampaikan perkataan dengan cara yang baik dan sopan. Bukan seenaknya berbicara tajam dan menyakiti hati orang lain begitu saja."
Cintya tersenyum mendengar keluhan sahabatnya itu. Ia menatap Kristin sambil menyesap minumannya pelan, lalu berkata dengan nada santai, "Kau tahu, menurutku Doni itu termasuk kategori pemuda tipe bad boy yang keren. Dan jujur saja... aku justru menyukai kesan seperti itu darinya."
Kristin membelalakkan matanya tak percaya. "Apa? Kau menyukainya?"
"Iya, kenapa?" Cintya tertawa kecil. "Doni itu tampan, lho. Kulitnya sawo matang yang bersih dan sehat, wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, senyumnya terlihat manis walau sering kali tampak dingin. Itu yang membuatnya terlihat menarik."
Mendengar penuturan itu, Kristin langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melanjutkan suapan makanannya. "Amit-amit... jauh-jauh saja aku ingin dekat dengan makhluk bernama Doni itu. Lebih baik aku menjauh."
Cintya kembali tertawa renyah mendengar ucapan Kristin yang begitu tegas. "Aku hanya menjelaskan gambaran yang kulihat darinya, Kristin. Bukan menyuruhmu untuk mendekat kepadanya. Tidak perlu menolak sejauh itu."
Namun tak lama kemudian, senyum Cintya berubah menjadi senyum penuh makna. Ia menatap Kristin dengan tatapan menggoda, lalu berkata, "Siapa yang tahu? Dunia ini begitu luas, namun tak jarang hal-hal yang tak terduga justru terjadi. Bisa saja suatu hari nanti dunia terbalik, dan kau justru jatuh cinta kepada Doni."
Kristin seketika mendengus pelan. "Itu mustahil! Hal itu tidak akan mungkin terjadi, walau sampai kapan pun."
Cintya tersenyum melihat penolakan tegas sahabatnya itu. Lalu ia kembali bertanya dengan nada yang lebih serius, "Baiklah, lupakan soal itu. Aku sudah bertekad untuk tetap mendaftar dan bergabung dengan organisasi MAPALA itu. Bagaimana denganmu, Kristin? Apakah kau juga akan ikut mendaftar?"
Kristin terdiam sejenak. Matanya menatap formulir yang tergeletak di meja, lalu teringat kembali perkataan tajam Doni tadi — bahwa ia tak punya kemauan sendiri dan hanya ikut-ikutan saja. Sesuatu dalam hatinya seakan bergejolak, menantang perkataan itu. Kristin pun mengangkat wajahnya, menatap Cintya dengan sorot mata yang penuh tekad.
"Aku juga akan ikut bergabung," ucapnya tegas. "Aku ingin membuktikan kepada Doni bahwa aku bukan perempuan lemah seperti yang ia pikirkan selama ini."
Belum sempat Cintya menjawab, terdengar langkah kaki seseorang mendekat ke arah meja mereka. Seorang pemuda berpenampilan rapi dan sopan berjalan menghampiri meja tempat mereka duduk. Pemuda itu tersenyum ramah kepada mereka berdua, lalu berkata dengan nada sopan, "Permisi... bolehkah aku ikut duduk di meja ini? Tempat lain sudah penuh."
Cintya segera mengangguk ramah. "Tentu saja, silakan."
Pemuda itu pun duduk di kursi yang tersedia di hadapan mereka. Ia lalu menyapakan tangan kanannya kepada Cintya dan Kristin secara bergantian. "Perkenalkan, namaku Ari."
"Aku Cintya."
"Dan aku Kristin."
Mereka pun bersalaman dengan sopan. Setelah memperkenalkan diri, Ari kembali berkata dengan senyum yang tetap ramah, "Kebetulan aku sekelas dengan kalian berdua. Aku melihat kalian duduk di barisan yang sama saat penyampaian pembukaan oleh dosen wanita tadi pagi."
Mendengar itu, Cintya dan Kristin saling berpandangan dengan senyum senang. Ternyata ada teman sekelas yang baru mereka kenal, dan itu terasa menyenangkan.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Ari," ucap Cintya tulus.
"Aku juga senang," sambung Ari. "Kebetulan sekali, aku sedang mencari informasi mengenai organisasi MAPALA. Kalian berdua tahu gedungnya, bukan?"
Cintya buru-buru menjawab, "Kami baru saja dari sana, Ari. Dan kami sudah diberi formulir pendaftaran untuk bergabung."
Wajah Ari seketika berseri-seri mendengar penuturan itu. "Benarkah? Kalau begitu, aku juga ingin sekali bergabung ke dalam organisasi itu."
"Kalau begitu, pergilah ke gedungnya setelah selesai makan di sini saja," saran Cintya dengan ramah.
Namun Kristin yang sedari tadi mendengarkan, tak sengaja bersuara, "Sebagai tambahan, organisasi itu sepertinya hanya berisi anak-anak yang nakal dan berpenampilan seperti preman."
Ari tertawa mendengar ucapan Kristin yang polos namun jujur itu. Ia menatap mereka berdua sambil tersenyum, lalu berkata, "Menurutku justru itu yang keren. MAPALA itu organisasi yang hebat dan patut dibanggakan. Baiklah, aku pamit dulu ya. Terima kasih atas informasinya."
Ari pun berpamitan dengan sopan, lalu melangkah meninggalkan kantin menuju gedung MAPALA.
Sementara itu, di dalam ruangan gedung MAPALA, terlihat Doni sedang bersantai. Ia berbaring di atas ayunan tali yang tergantung di sudut ruangan, satu kakinya menumpu lantai sesekali mengayunkan tubuhnya perlahan. Di tangan kirinya terbuka sebuah buku novel yang sedang dibacanya, sementara tangan kanannya memegang sebatang rokok yang sesekali didekatkan ke bibirnya. Asap putih perlahan mengepul membentuk lingkaran-lingkaran kecil sebelum akhirnya memudar terbawa udara ruangan.
Tak lama kemudian, Kevin dan Rangga melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat Doni yang bersantai begitu, keduanya tak kuasa menahan gelengan kepala.
Doni menurunkan novelnya sejenak, menatap kedua temannya itu dengan pandangan yang tenang, lalu bertanya, "Bagaimana? Cintya dan Kristin jadi bergabung atau tidak?"
Kevin menjawab sambil berdiri tak jauh dari ayunan itu, "Itu tergantung keputusan mereka. Jawabannya baru akan diketahui besok, saat formulir pendaftaran itu dikembalikan kepada kami."
Doni tersenyum miring, seakan sudah mengetahui jawabannya. "Kristin itu tidak mungkin mau bergabung. Gadis itu terlihat terbiasa dengan kenyamanan dan kerapian. Ia tak akan sanggup menghadapi suasana alam yang keras dan penuh tantangan."
Mendengar itu, Kevin tersenyum penuh arti lalu mengajak, "Bagaimana kalau kita bertaruh? Apakah mereka berdua akan benar-benar bergabung atau tidak?"
Namun Rangga yang sedari tadi diam, tiba-tiba bersuara dengan nada yang terdengar sedikit keberatan. "Doni... sampai kapan kau akan terus terlibat dalam pergaulan dan sikap yang seperti itu terus-menerus? Kapan kau akan berubah?"
Suasana seketika menjadi hening. Doni menatap tajam ke arah Rangga, pandangannya seakan menantang, lalu berkata dengan nada dingin dan tegas, "Jangan pernah kau urus hidupku."
Rangga terdiam seketika. Doni pun bangkit dari ayunannya, menyingkirkan puntung rokoknya, lalu melangkah mengambil tasnya. "Aku permisi pulang duluan," ucapnya singkat. "Mau tidur di rumah, soalnya jadwal kuliah hari ini tidak ada."
Kevin segera melangkah maju mencoba menahannya. "Tunggu dulu, Doni. Tetaplah di sini sebentar. Kita harus melihat berapa banyak mahasiswa baru yang datang mendaftar ke organisasi kita hari ini."
Doni berhenti sejenak, menoleh ke arah Kevin dengan wajah yang tetap datar. "Itu tugas kalian selaku panitia. Bukan tugasku."
Tanpa menunggu jawaban, Doni pun melangkah keluar meninggalkan gedung tersebut, meninggalkan Kevin dan Rangga yang saling berpandangan dalam diam.