NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Tak Terduga

Sera Kane tidak pernah datang ke kantor tanpa pemberitahuan, dan itu sebabnya Elias langsung berdiri dari kursinya begitu melihat sosok wanita berusia enam puluhan itu keluar dari lift lantai eksekutif Rabu siang, mengenakan setelan krem yang selalu terlihat sempurna tanpa lipatan sedikit pun.

"Bu Sera," katanya, menyapa dengan sopan tapi sedikit panik dalam hati, karena jadwal Madoc sore itu sudah cukup padat, dan tidak ada satu pun slot yang dia sisakan untuk kunjungan mendadak dari ibu bosnya sendiri. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Anak saya ada?" tanya Sera, nadanya tenang tapi tegas, jenis suara yang sudah terbiasa didengarkan tanpa perlu dipertanyakan.

"Ada, Bu. Lagi rapat sebentar lagi, tapi bisa saya cek dulu."

"Gak usah dicek. Saya tunggu aja di sini."

Elias mengangguk, buru-buru masuk ke ruangan Madoc untuk memberitahu, dan menemukan bosnya sedang menyelesaikan panggilan telepon dengan salah satu vendor untuk Meridian.

"Pak," katanya, begitu telepon selesai, "Ibu Bapak ada di luar."

Madoc menoleh cepat, matanya melebar. "Sekarang? Gak bilang-bilang dulu?"

"Katanya mau nunggu di sini aja."

Madoc menghela napas panjang, berdiri, merapikan dasinya, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang mencoba terlihat tenang meski dadanya sudah mulai berdebar dengan cara yang berbeda dari biasanya—kunjungan mendadak ibunya selalu berarti satu dari dua hal: urusan bisnis keluarga yang mendesak, atau topik personal yang lebih rumit yang biasanya dia coba hindari sebisa mungkin.

---

"Ibu," katanya, begitu melihat Sera duduk di area tunggu, "kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini?"

"Ibu lagi di sekitar sini, mampir aja urusan tanda tangan dokumen yayasan," kata Sera, berdiri, menatap anaknya dengan seksama—cara khas yang selalu membuat Madoc merasa seperti sedang dinilai, meski umurnya sekarang sudah tiga puluh empat tahun. "Kamu ada waktu sebentar?"

"Ada, tapi cuma sepuluh menit. Ada rapat lagi jam dua."

"Cukup," kata Sera, mengikuti Madoc masuk ke ruangannya.

Mereka membahas dokumen yayasan yang perlu ditandatangani, urusan singkat yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat email tapi Sera lebih suka mengurus secara langsung, kebiasaan lama yang tidak pernah berubah sejak Madoc kecil. Percakapan berjalan formal, efisien, seperti biasa antara mereka berdua—bukan hubungan yang buruk, tapi hubungan yang selalu terasa lebih seperti pertemuan bisnis daripada obrolan ibu dan anak.

"Udah, itu aja," kata Sera, setelah dokumen terakhir ditandatangani. "Ibu pulang dulu."

"Saya anter ke lift," kata Madoc, berdiri.

---

Mereka berjalan bersama menuju lift, dan di sepanjang lorong lantai eksekutif itu, Sera memperhatikan setiap detail kecil dengan mata yang sudah terlatih puluhan tahun membaca gestur anaknya—cara Madoc berjalan, cara dia menyapa staf yang lewat, semuanya dia amati tanpa berkata apa-apa.

Ketika mereka melewati area kerja terbuka dekat lift, ponsel Madoc bergetar. Dia mengecek layarnya, dan raut wajahnya berubah—bukan berubah drastis, tapi cukup terlihat bagi mata setajam Sera.

GWEN: Pak, ada update kecil soal timeline lokasi ketiga. Boleh saya jelasin sebentar sekarang, atau nanti aja pas rapat?

Madoc mengetik balasan cepat, jarinya bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih santai dari cara dia biasa merespons pesan kerja lain.

Sekarang aja, saya lagi jalan ke lift. Bentar lagi sampai.

Dia mengangkat kepala, dan tepat di depan mereka, di dekat area lift, berdiri seorang wanita muda dengan blazer netral, laptop di tangan, menunggu dengan sabar.

"Pak," kata Gwen, begitu melihat mereka mendekat, tersenyum sopan. "Maaf ganggu, cuma mau update cepet soal—"

Dia berhenti, matanya berpindah ke Sera yang berdiri di samping Madoc, dan segera menyesuaikan sikapnya jadi lebih formal.

"Maaf, Bu," katanya, membungkuk sedikit sopan. "Saya gak sadar Bapak lagi sama tamu."

---

"Gak apa-apa," kata Madoc, cepat, tapi ada sesuatu di nadanya yang berubah—lebih hangat, lebih santai, dibandingkan cara dia biasa bicara ke karyawan lain di depan orang lain. "Ini Gwen, manajer operasional yang pegang Meridian. Gwen, ini ibu saya."

"Selamat siang, Bu," kata Gwen, sopan, mengulurkan tangan. "Gwen Aditya."

Sera menjabat tangannya, matanya menyapu cepat—cara berpakaian Gwen yang sederhana tapi rapi, cara dia berdiri dengan percaya diri tanpa terlihat berlebihan, cara dia berbicara dengan jelas dan langsung tanpa basa-basi yang tidak perlu.

"Sera Kane," katanya, formal. "Kamu yang pegang proyek yang tadi Madoc bilang sukses di rapat board?"

"Iya, Bu. Proyek Sintesis sama Meridian."

"Bagus," kata Sera, singkat, tapi matanya sekarang berpindah ke arah anaknya, memperhatikan cara Madoc berdiri—sedikit lebih dekat dari jarak formal yang biasa, cara dia menoleh ke Gwen dengan ekspresi yang, tanpa dia sadari sendiri, jauh lebih lembut dari ekspresi yang biasa Sera lihat di wajahnya.

"Ada apa soal lokasi ketiga?" tanya Madoc, kembali ke Gwen, nadanya berubah lagi menjadi lebih fokus kerja, tapi masih ada kehangatan yang tersisa yang tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan.

"Approval izin udah keluar lebih cepat," kata Gwen, membuka laptopnya sedikit untuk menunjukkan email konfirmasi. "Konstruksi bisa mulai minggu depan, dua minggu lebih cepat dari timeline awal."

"Bagus banget," kata Madoc, tersenyum, kali ini senyum yang lebih lebar dari yang biasa dia berikan untuk kabar kerja sederhana seperti itu. "Kirim update lengkapnya ke saya nanti sore."

"Siap, Pak."

---

Gwen berpamitan sopan, kembali ke lantai bawah, meninggalkan Madoc dan Sera berdiri berdua di dekat lift.

Madoc menekan tombol lift, mencoba mengembalikan fokusnya ke percakapan awal dengan ibunya, tapi menemukan Sera masih diam, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dia baca.

"Kenapa, Bu?" tanyanya, agak canggung dengan keheningan itu.

"Gak apa-apa," kata Sera, meski nadanya menunjukkan sebaliknya. "Cuma... kamu tadi kelihatan beda."

"Beda gimana?"

"Cara kamu ngomong sama dia," kata Sera, langsung, tidak berbasa-basi seperti biasa. "Lebih... semangat. Ibu jarang liat kamu seantusias itu ngobrolin soal kerjaan, bahkan buat proyek yang paling besar sekalipun."

Madoc merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya, campuran antara kaget dan panik yang coba dia kontrol secepat mungkin. "Itu emang proyek penting, Bu. Wajar kalau saya excited."

"Excited beda sama yang tadi ibu liat," kata Sera, matanya masih menatap tajam, mencoba membaca lebih dalam dari yang berhasil ditunjukkan Madoc di permukaan. "Tapi ya udah, itu bukan urusan ibu kalau kamu belum mau cerita."

Pintu lift terbuka, dan Sera masuk, memberi jeda sebelum menoleh sekali lagi.

"Manajer operasional yang bagus," katanya, singkat, sebelum pintu lift menutup. "Semoga kariernya lancar."

---

Madoc berdiri diam beberapa saat setelah pintu lift tertutup sepenuhnya, mencerna kalimat terakhir ibunya yang, meski terdengar sederhana, terasa seperti sindiran halus yang sengaja dia lontarkan untuk melihat reaksinya.

Dia berjalan kembali ke ruangannya, pikirannya berkecamuk—bukan karena takut ibunya tahu, tapi karena kesadaran bahwa kalau ibunya saja bisa menangkap perubahan itu dari satu interaksi singkat di lorong kantor, mungkin dia sudah jauh kurang berhasil menyembunyikan perasaannya dari yang selama ini dia kira.

Di lantai bawah, Gwen sudah kembali ke mejanya, sepenuhnya tidak menyadari percakapan yang baru saja terjadi di dekat lift setelah kepergiannya, atau betapa satu kunjungan singkat itu baru saja membuka pintu bagi sesuatu yang akan menjadi jauh lebih rumit dari sekadar rutinitas kerja dan strategi bisnis yang selama ini menjadi fokus utamanya.

Bagi Gwen, hari itu cuma hari kerja biasa lain—satu update kecil yang berhasil disampaikan, satu pertemuan singkat dengan tamu penting perusahaan yang dia hadapi dengan profesionalisme seperti biasa.

Tapi bagi Madoc, dan bagi Sera yang sekarang duduk di dalam mobilnya, memikirkan ulang setiap detail dari interaksi singkat yang baru saja dia saksikan, hari itu jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar—benih kecurigaan yang, cepat atau lambat, akan tumbuh menjadi pertanyaan yang tidak bisa lagi dihindari dalam keluarga Kane.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!