Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di tengah malam
Suara deru mesin mobil yang memasuki pelataran rumah terdengar amat samar di tengah keheningan malam yang telah menunjuk angka dua dini hari.
Hujan gerimis yang menyisa dari sore tadi meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang, melingkupi seluruh sudut rumah megah berarsitektur modern tersebut.
Alfa melangkah masuk melalui pintu utama dengan tubuh yang terasa begitu berat. Langkah kakinya lesu, bahunya terkulai, dan raut wajahnya memancarkan kelelahan emosional yang teramat sangat.
Jas hitam yang tadinya melekat rapi kini sudah terlepas dan tersampir sembarangan di lengan kirinya. Dasi yang membelit lehernya pun telah dilonggarkan sejak ia masih berada di dalam mobil.
Dua jam berada di apartemen Dila, menyaksikan wanita itu menangis terisak karena putus asa, menolak menelan obat, dan terus-menerus menyuarakan keinginan untuk menyerah pada takdir, betul-betul menguras seluruh energi jiwa Alfa. Pria itu merasa seperti baru saja melewati medan pertempuran tanpa pemenang.
Alfa memutar arah langkahnya menuju tangga lantai dua, berniat langsung membersihkan diri dan berbaring di sofa untuk meredakan kepalanya yang berdenyut hebat. Namun, saat baru tiba di ruang tengah lantai dua, langkah kakinya terhenti.
Pintu ruang kerja berornamen kayu jati di sudut ruang tengah itu terbuka perlahan. Senja melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut. Wanita itu masih mengenakan pakaian rumahannya yang rapi, membawa satu map berkas di tangannya.
Langkah Senja terhenti sewaktu matanya menangkap sosok Alfa yang berdiri mematung di dekat tangga. Senja memperhatikan setiap detail dari penampilan suaminya, wajahnya yang pucat, lingkaran hitam di bawah matanya, dan bayangan kelelahan yang teramat pekat di balik binar matanya.
Senja tahu persis dari mana pria itu baru saja kembali. Bau antiseptik samar dan wangi parfum yang bukan miliknya masih melekat tipis di sekitar tubuh Alfa. Ada denyut nyeri yang halus di dalam dada Senja, namun wanita itu memilih untuk menguburnya dalam-dalam di balik keagungan sikapnya.
"Baru pulang, Mas?" Panggil Senja lembut, suaranya memecah keheningan lantai dua.
Alfa tersentak pelan, mengalihkan pandangannya pada Senja. Pria itu berusaha memaksakan sebuah senyum tipis, namun garis-garis kelelahan di wajahnya tak mampu menyembunyikan kenyataan.
"Iya, Senja. Kamu... belum tidur?"
"Baru saja selesai meninjau draf revisi anggaran" Jawab Senja tenang seraya meletakkan map yang dibawanya ke atas meja kecil. Ia menatap Alfa lurus-lurus, membaca gestur tubuh pria itu yang tampak begitu rapuh.
"Mas Alfa kelihatan sangat lelah. Mau aku buatkan teh hangat?"
Alfa menatap Senja beberapa saat. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyeruak di tengah dadanya yang semula terasa hampa dan sesak. Pria itu mengangguk pelan.
"Boleh... terima kasih banyak, Senja."
"Tunggu sebentar di ruang tengah ya, Mas. Duduklah dulu!" Ujar Senja seraya berbalik melangkah menuju pantry lantai dua.
Alfa menuruti perkataan Senja. Pria itu membuang jasnya ke tepi sofa, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang bernuansa krem tersebut. Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa yang empuk, melempar pandangannya pada langit-langit sebelum akhirnya memejamkan mata erat-erat.
Dini hari itu, Alfa merasa kepalanya berputar. Bayangan wajah Dila yang pucat dan penuh keputusasaan terus menari-nari di balik kelopak matanya yang terpejam, beradu dengan rasa bersalah yang terus menggerogoti jiwanya.
Tak butuh waktu lama, bunyi gesekan halus cangkir yang diletakkan di atas meja kaca memotong kesunyian. Bau harum teh kamomil yang menyegarkan menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Alfa.
Alfa membuka matanya perlahan. Senja sudah duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sampingnya, menyilangkan kaki dengan anggun seraya menatapnya penuh perhatian.
"Minum dulu, Mas. Mumpung masih hangat" Tutur Senja pelan seraya menyodorkan cangkir keramik itu.
Alfa menegakkan posisi duduknya, meraih cangkir tersebut dan menghirup uap hangatnya sebelum menyesapnya sedikit demi sedikit.
Kehangatan cairan itu merambat perlahan menembus tenggorokannya, memberi sedikit kelegaan pada otot-otot tubuhnya yang tegang.
Setelah meletakkan cangkir itu kembali ke atas tatakan, Alfa kembali bersandar.
Hening sempat tercipta di antara mereka berdua selama beberapa saat, hening yang tidak lagi terasa kaku, melainkan sebuah ruang aman di mana mereka tak perlu berpura-pura.
Senja menatap wajah kuyu Alfa dari samping. Jemari tangannya terjalin rapi di atas pangkuannya.
"Ada masalah di kantor... atau ada hal lain yang membuat Mas Alfa seberat ini malam ini?" Tanya Senja dengan nada suara yang amat halus, tanpa ada kesan menghakimi atau menuntut.
Alfa tertegun. Pria itu melirik Senja. Ada keraguan yang melintas di matanya, haruskah ia menceritakan Dila pada istri sahnya sendiri?
Namun, melihat binar mata Senja yang teramat jernih, jujur, dan tidak memancarkan kecemburuan buta, pertahanan Alfa perlahan-lahan runtuh. Pria itu butuh tempat untuk mencurahkan beban yang teramat berat ini.
Alfa menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kedua telapak tangan.
"Dila..." Bisik Alfa seraya kembali memejamkan matanya, menyebut nama wanita itu di hadapan Senja.
"Kondisinya makin memburuk, Senja. Tapi yang paling membuatku frustrasi... dia sudah kehilangan semangat untuk berjuang."
Senja mendengarkan dengan seksama, tidak memotong ataupun menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Ia tetap menjadi pendengar yang tenang.
"Dia menolak minum obat siangnya tadi" Lanjut Alfa, suaranya terdengar serak dan penuh beban.
"Dia bilang dia capek. Dia merasa hanya menyiksa dirinya sendiri dengan puluhan obat setiap hari tanpa ada kepastian kapan donor ginjal itu akan datang. Dia... dia bilang dia ingin menyerah saja."
Alfa membuka matanya, menatap Senja dengan pandangan yang sarat akan rasa ketidakberdayaan.
"Aku sudah melakukan segalanya. Aku mendatangkan tim dokter terbaik, membeli obat-obatan paling mahal, menyediakan fasilitas terbaik... tapi kalau dia sendiri sudah tidak punya keinginan untuk sembuh, semua yang kulakukan terasa sia-sia."
Senja memandang pria di hadapannya. Di balik sosok eksekutif muda Arghantara yang selalu tegas, terstruktur, dan rasional di meja rapat, malam ini Senja melihat seorang pria biasa yang sedang dipukuli oleh rasa cemas dan ketakutan akan kehilangan.
Senja menarik napas pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan Alfa sebelum ia membuka suara.
"Mas..." panggil Senja lembut, menatap tepat pada manik mata Alfa.
"Yang dirasakan Mbak Dila itu... sangat wajar."
Alfa mengerutkan dahi tipis, sedikit terkejut mendengar respons Senja yang begitu berempati pada wanita lain di posisi Dila.
"Wajar bagaimana?" Tanya Alfa lirih.
"Yang sedang sakit dari Dila sekarang bukan cuma fisiknya, Mas. Tapi juga mentalnya" Jelas Senja dengan tutur kata yang amat teratur dan menenangkan.
"Menjadi seorang pasien yang harus menggantungkan hidup pada obat-obatan dan prosedur medis berulang-ulang itu sangat melelahkan jiwa. Dia merasa kehilangan kendali atas tubuh dan hidupnya sendiri. Jadi saat dia bilang ingin menyerah, itu adalah jeritan kelelahan mentalnya yang sudah tidak sanggup menampung rasa sakit."
Senja jeda sejenak, membiarkan kalimatnya dicerna oleh Alfa yang kini menatapnya tanpa kedip.
"Obat mahal dan fasilitas terbaik yang Mas Alfa berikan itu memang memenuhi kebutuhan fisiknya. Tapi semua itu tidak bisa mengobati jiwa yang sedang patah" Sambung Senja.
"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alfa, suaranya hampir terdengar seperti bisikan memohon petunjuk.
Tanpa sadar, Alfa menggantungkan harapannya pada sudut pandang wanita yang duduk di sampingnya ini.
Senja mengulas senyum tipis, sebuah senyuman hangat yang memancarkan kedewasaan dan kelapangan dada yang teramat luar biasa.
"Ajak dia keluar dari ruang isolasi kenyamanannya" Saran Senja.
"Bawa dia ke tempat yang bisa menumbuhkan kembali semangat hidupnya dari dalam."
"Tempat seperti apa?"
"Bawa dia berkunjung ke yayasan dialysis, atau pusat rehabilitasi dan panti perawatan pasien penyakit berat" Tutur Senja mantap.
"Tempat di mana ada banyak orang yang menderita penyakit yang sama dengannya, bahkan mungkin jauh lebih berat, dengan keterbatasan finansial yang memprihatinkan, namun orang-orang itu tetap berjuang setiap hari demi bisa bertahan hidup satu hari lagi."
Mata Alfa membelalak pelan mendengarkan penuturan itu.
"Dia butuh melihat bahwa dia tidak berjuang sendirian"Lanjut Senja dengan ketajaman analisisnya yang intuitif.
"Saat dia melihat orang-orang di luar sana yang dalam kondisi terbatas tapi memiliki tekad sekeras baja untuk sembuh demi keluarga mereka, perspektifnya bisa berubah. Keinginan untuk hidup itu tidak bisa dipaksakan dari luar melalui omelan atau paksaan minum obat, Mas. Keinginan itu harus tumbuh dari dalam dirinya sendiri karena dia melihat harapan."
Atmosfer di ruang tengah lantai dua itu mendadak menjadi amat pekat. Alfa membeku di tempatnya, menatap Senja dengan rasa terpesona dan haru yang tak terlukiskan.
Saran yang baru saja dilontarkan Senja begitu bijak, begitu manusiawi, dan sama sekali tak terpikirkan oleh Alfa maupun tim dokter yang selama ini hanya berfokus pada rekam medis teknis. Senja tidak melihat Dila sebagai saingan atau ancaman, Senja melihat Dila sebagai sesama manusia yang sedang terluka dan membutuhkan dorongan jiwa.
Alfa menghela napas panjang, kali ini helaan napas yang terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Rasa sesak yang membendung di dadanya perlahan-lahan terurai.
"Senja..." Panggil Alfa, suaranya bergetar halus oleh emosi yang tertahan.
"Terima kasih."
Senja mengangkat sebelah alisnya tipis, wajahnya benar-benar cantik dengan reaksi wajah seperti itu.
"Untuk apa, Mas?"
"Terima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku" Ucap Alfa tulus, matanya terkunci rapat pada Senja.
"Dan terima kasih untuk sarannya. Itu... sebuah pemikiran yang sangat luar biasa. Aku bahkan tidak pernah berpikir ke arah sana."
"Sama-sama, Mas" Balas Senja lembut.
"Aku hanya mencoba melihat dari sudut pandang seorang wanita."
Alfa meraih kembali cangkir teh kamomil di atas meja. Pria itu menyeruput teh hangat itu perlahan, menikmati rasa manis madu yang menyerap di lidahnya. Namun, matanya tak pernah lepas dari sosok wanita di hadapannya.
Di bawah pendar redup lampu ruang tengah, Alfa memandang Senja dengan tatapan yang sepenuhnya baru.
Di mata Alfa, Senja bukan lagi sekadar putri tunggal keluarga Anjasmara yang dijodohkan dengannya demi bisnis. Wanita di hadapannya ini adalah sosok yang begitu cerdas, memiliki ketajaman berpikir yang luar biasa, namun di saat yang sama... memiliki hati yang teramat sangat lapang.
Bagaimana bisa seorang wanita mendengarkan keluh kesah suaminya mengenai wanita lain, lalu memberikan jalan keluar yang begitu bijak tanpa menunjukkan rasa benci atau dendam sedikit pun?
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.